My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Apalagi yang kamu tunggu? Cepat masuk!



"Kalian berdua hati-hati di jalan."


"Hm, kamu cepatlah turun dan masuk ke dalam mansion. Di luar sangat dingin, siapa yang tahu sampai di dalam nanti kamu akan mendapatkan dekapan hangat." Ucap Hanna Gu sembari berandai-andai dan memeluk dirinya sendiri.


Xu Mo tergelak melihat tingkah Hanna Gu. "Kak Hanna, ada-ada saja."


Tatapan sengit dari Zelene Liang membuat mereka terdiam. "Kalian berdua tidak ingin bonus lagi bulan ini?" tanyanya dengan nada seram. "Heheh," bahkan tawa Zelene makin membuat atmosfer dalam mobil mencekam.


"Xu Mo, aku sangat mengantuk dan malam ini juga menyeramkan. Aku ingin segera pulang." Kata Hanna Gu, mengabaikan Zelene Liang.


"Huh," Zelene Liang turun dari van, kemudian melambaikan tangannya sembari menyeringai seram.


Tanpa berlama-lama mobil yang dikendarai oleh Xu Mo melesat meninggalkan kediaman Xue Garden.


Udara di luar cukup dingin, sementara Zelene Liang hanya mengenakan mini dress hitam tanpa sweater. Dia melihat ke sekeliling mansion. Gelap. Semua lampu padam. Dia baru sadar setelah mobil berlalu meninggalkannya. Yang lebih aneh lagi, mansion tersebut tiba-tiba saja sepi seolah dirinya sedang berada di sebuah villa horor.


Dia melirik ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapa pun yang menyambut kedatangannya. Biasanya jika dia pulang larut sekalipun seperti saat ini, butler Kim pasti akan membukakan pintu untuknya, bahkan sebelum dia turun dari mobil. Namun hari ini, mansion Xue Garden nampak sangat mencekam lantaran tak ada satu lampu pun yang menyala dan tak ada suara manusia yang terdengar, hanya desis angin menghampiri telinga Zelene.


Mengambil smartphone dan menyalakan flashlight pada layar pipih itu, langkah Zelene Liang santai menuju ke arah pintu mansion. Dia menekan sandi pada pintu tersebut, namun pintu tidak terbuka. Dua kali, tiga kali hingga empat kali Zelene mencoba tetap saja sandi yang dimasukkannya salah. Jika biasanya tiga kali salah memasukkan sandi, maka alarm pada kediaman tersebut akan menyala, tetapi kali ini tidak terjadi apa pun.


"Rupanya sandi telah diganti? Aku yakin Tony Huo sengaja melakukan hal ini. Bahkan tidak ada satu penjaga pun yang menjaga mansion ini. Ke mana mereka semua?!" gerutu Zelene. Dia berdecak kesal, kemudian menekan nomor telepon kediaman tersebut.


Panggilan tersambung, akan tetapi tidak ada yang menjawab. Tubuh Zelene sudah bergetar karena kekesalannya berhasil mencapai ubun-ubun. Dia mengambil ancang-ancang, bukan untuk mendobrak pintu, melainkan menarik napas dalam-dalam lantas menghembuskannya perlahan. Zelene Liang membuka mulutnya dan berteriak kencang, "Tony Huo!!!"


Sementara itu di dalam mansion—tepatnya di depan pintu yang mana Tony Huo sengaja berdiri di sana menunggu kedatangan Zelene Liang. Ia tergelak puas mendengar teriakan kesal dari Zelene Liang. Sedangkan, butler Kim hanya bisa menggeleng tidak percaya akan kelakuan kekanak-kanakan dari Tony Huo. Pria itu memegang senter kecil di tangannya agar dapat menerangi di sekitar pintu tersebut lantaran lampu di dalam mansion juga sengaja dimatikan.


"Dia lucu sekali. Aku ingin sekali melihat ekspresi wajahnya saat ini. Hahaha~" Tony Huo terbahak.


Butler Kim memutar bola mata malas sekilas. Dia mengarahkan senter ke dagunya, lalu berkata dengan nada datar, "Tuan Muda, apakah Anda sudah cukup bermain? Udara di luar cukup dingin, saya khawatir Nyonya Muda akan terkena flu."


Tony Huo mengalihkan pandangannya dari pintu ke butler Kim yang berdiri di belakangnya. Sontak ia terkejut layaknya melihat penampakan dalam gelap. Tony Huo mundur dua langkah ke kebelakang. "Butler Kim, kau ingin menakutiku atau membalas dendam untuk Zelene Liang?"


"Saya tidak ingin menakuti ataupun membalaskan dendam untuk Nyonya—"


Dengan helaan napas kecil sembari menurunkan senter, lantas memberikan senter tersebut ke tangan Tony Huo, bulter Kim kembali melanjutkan ucapannya, "Tuan Muda, silahkan Anda lanjutan permainan Anda. Saya akan menyuruh pelayan untuk membuatkan makanan untuk Nyonya." Butler Kim melangkahkan kakinya, walaupun gelap dia tetap mampu menemukan jalan tanpa menabrak furnitur dalam mansion. Dia berhenti setelah beberapa langkah tidak terlalu jauh dari Tony Huo. Tanpa menengok ke belakang dia berkata, "sepertinya Nyonya sedang lapar saat ini, saya bisa mendengar dari nadanya." Dia melanjutkan langkahnya.


Tawa Tony Huo sudah lenyap saat senter itu berada di tangannya. Sudah lewat dari jam 12 malam dan agaknya dari apa yang dikatakan oleh butler Kim menyiratkan bahwa, Zelene Liang belum makan malam. Hatinya seperti merosot begitu saja. Awalnya ia sangat senang bisa mengerjai Zelene Liang lantaran pulang begitu larut, namun ia tidak menyangka bahkan istrinya belum makan malam. "Hidupkan lampunya dan buka pintu untuk Zelene Liang!" perintahnya.


Seketika itu juga lampu di seluruh mansion tersebut menyala dan seorang pelayan bergegas membukakan pintu untuk Zelene Liang. Tony Huo masih berdiri di sana dengan senter yang masih menyala di tangannya. Ketika pintu terbuka, ia mendapati wajah kesal Zelene Liang. Udara dingin tanpa permisi menyeruak masuk ke dalam mansion. Tubuh Zelene Liang nampak agak bergetar dan sorot mata wanita itu amat tajam di arahkan pada dirinya.


Tony Huo sama sekali tidak terkejut, ia tahu Zelene Liang akan kesal dan marah padanya. Tapi, ia tetap ingin memberikan pelajaran agar Zelene Liang tidak pulang terlambat lagi.


"Apalagi yang kamu tunggu? Cepat masuk!"


Salah satu pelayan membawakan sebuah jaket dan diberikan pada Tony Huo.


Zelene Liang tanpa berucap menundukkan kepala dan melangkah masuk mendekat ke arah Tony Huo, lantas berhenti di depannya. Tony Huo perlahan membungkus tubuh ramping Zelene Liang dengan jaket yang diberikan oleh pelayan tadi.


Setelah beberapa saat mendudukkan kepala, Zelene Liang tiba-tiba mendongak sembari mendelik pada Tony Huo.


"Tony Huo, apa maksud dari semua ini? Aku lelah bekerja seharian dan sampai di mansion kamu malah dengan asyiknya mengerjaiku?! Apakah kamu senang sekarang?" tanya Zelene tanpa berbasa-basi. Zelene Liang ingin sekali meluapkan kekesalannya, tetapi suara dalam perutnya tidak mendukung. Dia baru saja bangun dan perutnya juga lapar, kini dia semakin lapar harus mendapatkan sedikit asupan agar bisa tidur kembali. Tindakan Tony Huo hanya menambah rasa laparnya.


Zelene Liang mendengus kesal.


"Sudah larut malam dan kamu masih belum pulang. Tidak salah bukan jika memberimu sedikit pelajaran agar kamu pulang tepat waktu?" balik bertanya, Tony Huo mengangkat kedua alisnya sembari memperhatikan wajah manis penuh kesal itu. Setelah melihat Zelene Liang, hatinya yang muram seperti mendapat sinar, walaupun ia merasa agak bersalah karena membiarkan Zelene kedinginan di luar sana. "Butler Kim sudah menyiapkan makanan untukmu. Pergilah ke ruang makan. Sesaat yang lalu kamu nampak seperti orang kelaparan yang berteriak-teriak mengatakan 'aku lapar' hahaha~" ledeknya sambil terbahak.


Zelene Liang merasa geram. "Tony Huo!" dia mengangkat kaki kanannya dan dengan sengaja menginjak kaki Tony Huo—yang hanya memakai slipper—dengan hak tingginya.


"Akh—"


"Hahahaha~" kini giliran Zelene Liang tertawa membalas permainan kekanakan Tony Huo. Dia berlalu meninggalkan Tony Huo yang sedang kesakitan.


🍁 Bersambung🍁