My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Masalah? Apa maksudmu?



Tony Huo dan Zelene Liang telah sampai di kediaman Xue Garden. Sama seperti tadi, Tony Huo membantu Zelene Liang keluar dari mobil dengan menggendongnya bak putri. Lantas mendudukkannya di atas kursi roda dengan lembut.


Sejenak mereka lupa akan kematian Maureen Lee setelah tiba di Xue Garden lantaran di adakan penyambutan kepulangan Zelene Liang oleh butler Kim dan Qin Zhuo An.


Para pelayan nampak sangat bahagia karena Nyonya Muda mereka telah pulang setelah dirawat selama dua Minggu di rumah sakit. Namun lain halnya dengan Sarah Wu yang sama sekali tidak senang dengan kepulangan Zelene Liang karena wanita itu terlalu muak melihat wajah Nyonya Muda keluarga Huo.


Semua pelayan telah berdiri membuat pagar betis di depan pintu mansion, kedua orang tua mereka juga berdiri di depan pintu bersama Chairman Lee yang saat ini sedang mnegulas senyum.


Chairman Lee belum mengetahui kalau cucunya telah menjadi mayat dan terbaring di rumah sakit saat ini.


Zelene Liang melihat wajah orang tua itu, nampak polos tak seperti waktu pertama mereka bertemu di depan kamar mandi wanita. Orang tua itu benar-benar angkuh dan selalu membanggakan cucunya yang kini telah tiada.


“Selamat datang, Nyonya Muda.” Ucap para pelayan secara serentak.


Zelene Liang hanya mengangguk seraya melemparkan senyum pada mereka.


“Tony Huo.” Panggilnya dengan nada pelan.


Tony Huo berhenti mendengar Zelene Liang memanggil namanya ketika dia mendorong kursi roda tersebut. Ia melangkah ke depan lantas membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Zelene Liang. “Ada apa?”


“Aku merasa kasihan pada Chairman Lee, bagaimana cara kita memberitahunya?”


Tony Huo melangkah ke depan, bersimpuh di depan Zelene Liang dengan satu kaki bertumpu di atas lantai ubin. Kedua tangan besarnya meraih kedua sisi kepala Zelene Liang. Ia memberikan kecupan hangat pada dahi wanita itu, dan kecupan itu cukup lama untuk menenangkan Zelene Liang.


Seluruh pasang mata yang melihat ke arah mereka seperti sedang menghisap permen karamel karena adegan di depan mereka bak adegan yang sudah disetting oleh sutradara film.


Mereka tidak menyangka kalau Tuan Muda Huo akan menjadi semanis itu pada istrinya hanya setelah Zelene Liang mengalami cedera. Bahkan kedua orang tua mereka sampai menutup mulut melihat betapa manisnya perlakuan Tony Huo pada Zelene Liang.


“Wah, Tuan Muda ternyata tipe suami yang hangat.”


“Nyonya Muda pasti akan sangat dimanjakan.”


Tak masalah bagi Tony Huo ketika mendengar sindiran tersebut karena semua itu memanglah salahnya. Jadi untuk kedepannya ia akan memperbaiki semua kesalahannya pada Zelene Liang, dan sekali lagi perasaan mereka belumlah jelas satu sama lain.


“Tenang saja, polisi akan datang sebentar lagi. Biarkan mereka yang urus dan kita juga perlu mencari informasi mengenai si pelaku.” Setelah berkata demikian, Tony Huo mengusap pucuk kepala Zelene Liang.


Bangkit dari posisinya saat ini, Tony Huo kembali mendorong kursi roda Zelene Liang sampai ke dalam mansion.


“Aku sungguh tidak menyangka kalau putraku bisa menjadi romantis. Tidak sia-sia aku membesarkanmu, Tony Huo.” Nan Si Yue menepuk keras punggung Tony Huo, merasa bangga karena putranya telah membuang egonya dan bisa menjadi begitu romantis bahkan di depan banyak orang seperti barusan.


“Aku memang putramu, Bu.” Ucapnya datar seraya tetap berjalan menuju ruang depan.


“CEO Huo, bukankah kau mengatakan kalau Maureen juga akan ikut kemari? Ngomong-ngomong di mana dia saat ini?” Chairman Lee sedari tadi mengedarkan pandangannya, namun tak dapat menemukan cucunya.


“Duduklah dulu.” Pinta Tony Huo seraya membawa Zelene Liang ke dalam pelukannya dan mencarikan tempat duduk yang nyaman untuk wanita itu di sofa, dan tentunya di sebelah Tony Huo pasti akan menjadi tempat duduk bagi Zelene Liang.


Semua orang telah duduk, namun Tony Huo belum juga berucap. Ia tetap bungkam, bukan karena tidak tahu harus berkata apa, tapi dia menunggu Duan Che bersama polisi memberitahu Chairman Lee mengenai kematian cucunya. Akan terlalu repot jika Tony Huo memberitahunya sendiri, meskipun dalam hatinya, ia juga merasa sedikit iba dengan kematian gadis itu yang begitu tiba-tiba.


“CEO Huo, mengapa kau hanya diam saja?” Sekali lagi Chairman Lee bertanya dengan tidak sabar.


“Tony, ada apa sebenarnya?” bahkan Huo Tian juga ikut bertanya karena merasa ada yang aneh dengan situasi saat ini.


“Tunggulah sampai Duan Che bersama polisi yang menjelaskan pada kalian masalah ini dengan lebih terperinci.” Akhirnya Tony Huo mengeluarkan suaranya, namun malah membuat semua orang menjadi bingung.


“Masalah? Apa maksudmu?”


“Polisi?”


Mereka semua nampak kebingungan dan Chairman Lee mendapatkan telepon saat itu juga.


🍁Bersambung🍁