My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Kak Tony



Suara itu amat asing di telinga Zelene Liang, mengerutkan keningnya sejenak serta melihat pada gaunnya yang terkena noda makanan tadi, sebelum dia memutuskan untuk berbalik guna melihat si pemilik suara.


Mata Zelene Liang terbelalak ketika dia berbalik dan menemukan seulas senyum miring dari wanita yang dilihatnya kemarin. Zelene Liang belum berucap lantaran sibuk memperhatikan wanita tersebut. Benar! Dialah orang yang memberikan Zelene Liang senyum penuh arti ketika mobil wanita itu lewat di seberangnya.


Senyum miring tersebut telah berubah menjadi senyum lebar nan cantik. Yan Li berdiri berhadapan dengan Zelene Liang. Wanita itu mengenakan jumpsuit mewah berwarna putih serta blazer yang menutupi bahunya. Penampilannya tidak sama seperti kemarin, hari ini Yan Li nampak elegan.


"Bisakah kita bicara sebentar? Kau belum menjawabku, Nona Liang." Nada ramah dilontarkan oleh Yan Li. Dia melangkah lebih dekat ke arah Zelene Liang.


Sebelumnya karena kaget, Zelene Liang membelalakkan matanya. Kini, ekspresi datar telah menguasai wajahnya. Dia tidak peduli akan wanita tinggi yang berjalan ke arahnya tersebut. Namun wanita itu tentu ada hubungannya dengan perempuan yang dia selamatkan kemarin.


"Aku tidak mengenalmu." Nada angkuh terdengar dari ucapan singkat Zelene Liang. Dia tak mau berbicara dengan Yan Li—wanita asing di mata Zelene Liang. Sementara, saat ini dia sedang kesal dan harus membersihkan noda pada gaunnya. "Aku harus segera ke kamar mandi. Seperti yang bisa kau lihat, gaunku agak kotor." Dia berbalik meninggalkan Yan Li. Seperti tidak peduli dengan keramahan wanita itu.


"Kalau begitu, aku juga mau ke kamar mandi untuk memperbaiki make up-ku." Tubuh Yan Li lebih tinggi dari Zelene Liang. Sekiranya dia memiliki tinggi 185 cm, ditambah dengan hak tinggi berwarna merah yang dia kenakan. Langkah santainya bisa mengimbangi langkah Zelene Liang yang telah berjalan lebih dulu di depannya. "Mari bicara di sana saja." Melirik ke samping dengan senyum ramah.


Terserah. Itulah kata yang ada di benak Zelene Liang. Dia tidak peduli akan apa yang dilakukan oleh Yan Li di kamar mandi nanti atau apa pun yang akan wanita itu tanyakan padanya, namun dia dapat menebak dengan mudah, Yan Li pasti akan bertanya tentang perempuan yang telah ditolong olehnya.


Mereka berdua tengah berada di kamar mandi.


Sedari tadi Zelene Liang tidak berbicara apa pun lagi pada Yan Li, jadi wanita itu mulai merasa diabaikan oleh sikap dingin Zelene Liang.


"Aku belum memperkenalkan diriku." Yan Li mengulurkan tangan kanannya, "Yan Li. Salam kenal Nona Liang."


"Karena kau sudah tahu namaku, jadi tidak ada gunanya jika aku menjabat tanganmu, 'kan?" sembari membersihkan noda pada gaunnya, Zelene Liang meninggikan ujung bibir kanannya. "Lebih baik tanyakan apa yang ingin kau ketahui atau katakan yang ingin kau katakan."


"Heh," Yan Li terkekeh. Dia menyukai karakter Zelene Liang yang angkuh dan dingin karena mengingatkan akan dirinya ketika masih seusia dengan Zelene Liang. Kini wanita itu telah berusia 36 tahun, namun tetap terlihat bak gadis 20 tahun.


Yan Li melirik ke arah bilik kamar mandi dan memeriksa satu persatu bilik di sana, tidak ada orang—hanya ada mereka berdua. "Sepertinya kita hanya berdua saja. Jadi aku tidak akan sungkan." Dia berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu kamar mandi tersebut. Sehingga tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam sana.


Mata Yan Li berbinar ketika menatap wajah Zelene Liang yang terpantul di cermin besar, senyumnya telah berubah menakutkan sama persis ketika pertama kali dia melihat Zelene Liang. Sementara Zelene Liang sendiri membalas dengan tatapan datar.


🍁🍁🍁


Di waktu yang sama, Tony Huo sedang menyantap makan siangnya. Beberapa hidangan mewah telah dipesan oleh Maureen Lee. Gadis itu nampak sangat senang karena bisa bertemu serta makan siang dengan Tony Huo.


"Mari bicarakan urusan bisnis saja." Tony Huo langsung menuju ke pokok pembahasan. Berbicara dengan Chairman Lee sangat berbelit-belit dan selalu di arahkan pada cucunya. Ia amat mengerti akan maksud dari orang tua itu.


"Ah, santai saja CEO Huo. Saat sedang makan pembicaraan santai lebih bagus diperbincangkan ketimbang pembicaraan berat akan merusak kenikmatan makanan."


Tony Huo berhenti memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia menurunkan tangannya dan samar-samar memberikan tatapan malas pada Chairman Lee. Pembicaraan membosankan mereka membuat Tony Huo lebih tidak nyaman lagi. Mungkin sebentar lagi, selera makannya akan hilang. Ia ke sini untuk membicarakan mengenai bisnis dan sampai sekarang Chairman Lee malah mengulur waktu guna memperlama dirinya berada di dalam restoran tersebut.


Jika bukan karena Huo Tian, ia tidak akan mau menanggapi orang tua ini. Chairman Lee penuh akan dirinya sendiri, dan ingin semaunya. Mungkin itulah yang menyebabkan Huo Tian lebih memilih untuk piknik bersama istrinya ketimbang makan siang dengan Chairman Lee.


Tersenyum sinis Tony Huo berucap, "Masih banyak orang yang ingin bekerja sama dengan Huo Enterprise." Ucapan itu menyiratkan bahwa Tony Huo tidak ingin ada basa-basi ketika menjalankan bisnis seperti saat ini.


Chairman Lee mengerti akan ucapan tersebut, dia hanya berdehem pelan layaknya ucapan tersebut hanyalah sebuah kata-kata kosong belaka. Namun mimik wajah Maureen Lee agaknya berubah. Gadis itu merasa kalau Tony Huo bukanlah orang yang mudah diganggu dengan hal sepele. Dia semakin penasaran dengan Tony Huo.


Tony Huo melonggarkan dasinya dan sedikit menghela napas. Ia ingin sekali kabur dari sana secepat mungkin. Mengambil gelas di sebelahnya tanpa sengaja punggung tangannya bersentuhan dengan punggung tangan Maureen Lee.


Tony Huo mengalihkan pandangannya sembari membawa gelas itu ke bibirnya, seperti tidak terjadi apa pun barusan. Ia meneguk air dalam gelasnya, kemudian mengambil tisu basah guna mengelap tangannya yang bersentuhan dengan Maureen Lee barusan—diam-diam sehingga tidak ada dari mereka yang mengetahuinya.


Setelahnya, Tony Huo melirik Maureen Lee yang tersipu. Tony Huo memiliki tatapan miris untuk gadis itu. Sedang, Maureen Lee menyentuh tangannya dan jika bisa—gadis itu pasti sudah mencium tangannya yang telah bersentuhan dengan kulit Tony Huo. Namun dia tidak tahu hal itu membuat Tony Huo amat risi sehingga dengan segera mengelap tangannya.


"Ehem." Chairman Lee melihat hal tersebut sebagai sebuah kesempatan. Dia mengambil serbet dan menyeka mulutnya. "Aku harus ke kamar mandi sebentar. Kalian lanjutkan saja." Tersenyum hangat, Chairman Lee berdiri dari duduknya di bantu oleh Maureen Lee.


"Hati-hati, Kakek. Apa perlu aku antar?"


"Hahaha, cucuku memang yang terbaik. Temani saja CEO Huo. Untuk apa kau menemani orang tua ini ke kamar mandi? Ada-ada saja." Chairman Lee mengambil langkah keluar dari kamar VIP.


Saat ini, hanya dua orang yang tersisa di kamar tersebut. Hening. Tony Huo tahu kalau Chairman Lee sengaja memberikan mereka kesempatan berduaan. Ia merasa lebih miris lagi ketika melihat Maureen Lee yang meliriknya malu-malu.


"Kak Tony," panggilnya dengan suara lembut.


🍁Bersambung🍁