
“Kamu tidak ingin aku pergi?” bertanya manis seraya mencubit lembut dagu Zelene Liang serta tidak lupa memberi kecupan pada bibir mungilnya.
“Kamu selalu saja mengambil kesempatan!” Zelene Liang memberi jarak, menjauhkan badannya, dia kembali bersandar karena merasa tidak adil kalau Tony Huo selalu mengambil kesempatan darinya.
Tony Huo mengacak rambut Zelene Liang yang saat ini amat menggemaskan di matanya. Ia ingin sekali segera mendekap Zelene Liang dalam pelukannya. Namun Duan Che saat ini tengah menunggu di ruang belajar.
“Kamu bisa mengambil kesempatan dariku sebanyak yang kamu inginkan nanti.” Tony Huo melirik pada arlojinya, lalu mengelih pada Zelene Liang yang masih cemberut seperti bayi. “Aku akan segera kembali dan menemanimu kalau kamu begitu merindukanku. Aku pergi sekarang.”
Ia beranjak dari duduknya menuju ke pintu, menengok ke belakang sebelum membuka pintu kamar tersebut, dan memperhatikan Zelene Liang selama beberapa detik, wanita itu masih menatap lurus ke depan dengan wajah kesal khas Zelene Liang.
Sebenarnya ada rasa enggan untuk meninggalkan Zelene Liang sendiri di kamar mereka karena Tony Huo sudah biasa bersamanya sejak dua Minggu lalu hingga saat ini menjadi kebiasaan baginya.
Lalu bagaimana bila ia pergi ke kantor, maka akan meninggalkan Zelene Liang di rumah, apakah ia harus membawa Zelene Liang ke kantor bersamanya atau ia sendiri yang bekerja dari rumah? Tapi sudah terlalu lama ia tidak pergi ke kantor dan jarang menghadiri rapat.
Tony Huo mengesampingkan pikirannya. Kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar. Saat ini ada yang lebih penting harus ia urus, yaitu mencari tahu pelaku yang membunuh Maureen Lee dalam kamar mandi rumah sakit.
Ia melangkah menuju ruang belajarnya dan menemukan Duan Che telah berdiri di depan mejanya ketika ia membuka pintu ruang belajar.
“Bagaimana hasilnya?” tanpa berbasa-basi Tony Huo melemparkan pertanyaan pada Duan Che. Lantas ia duduk di kursinya.
“Kami sudah memeriksa seluruh CCTV di rumah sakit, tetapi tidak menemukan orang yang mencurigakan. Polisi telah mengambil alih kasus ini. Media juga telah mengetahui hal ini. Jadi pelaku pasti telah membaca berita daring tersebut. Saya juga kurang tahu mengapa Chairman Lee membiarkan media tahu kematian cucunya.” Terang Duan Che sembari memberikan sebuah flashdisk yang berisikan rekaman CCTV dari rumah sakit. “Orang-orang yang mungkin saja bisa jadi pelaku dari pembunuhan sudah dirangkum dalam rekaman itu.” Imbuhnya.
Tony Huo menyalakan laptop, menghubungkan flashdisk tersebut dan menonton rekaman CCTV. Setelahnya ia mendengar Duan Che kembali berbicara, Tony Huo berhenti menonton rekaman tersebut, dan menautkan kedua jemarinya.
“Chairman Lee bisa saja mengumpulkan beberapa keluarga besar di negara ini dengan koneksinya. Tapi apakah pemikirannya akan sesempit itu dan membalas dendam pada Anda?” Duan Che bertanya sangsi. Saat ini Chairman Lee memang kesal pada keluarga Huo bahkan sempat mengatakan tidak akan melepaskan Tony Huo atas kematian cucunya yang berarti kematian Maureen Lee memang dikaitkan pada Tony Huo.
“Perketat keamanan mansion, juga keamanan di kediaman keluarga Liang. Tambahkan beberapa pengawal disisi Zelene juga orang-orang yang dekat dengannya. Aku khawatir mereka akan mulai dari sana. Jika bukan Chairman Lee yang bergerak, maka kita juga perlu mewaspadai si pelaku pembunuhan karena motifnya membunuh Maureen Lee belum diketahui.”
“Baik, Tuan.” Duan Che mengangguk. Malam ini juga dia akan melaksanakan perintah Tony Huo. Memberikan beberapa pengawal keluarga Huo kepada keluarga Liang untuk melindungi mereka.
Setelah berkata demikian pada Duan Che, Tony Huo kembali menyimak video tersebut dengan saksama. Beberapa orang nampak mencurigakan ketika memasuki kamar mandi wanita, tapi mereka semua keluar beberapa saat kemudian. Sampai netra Tony Huo menangkap seorang perempuan berbusana merah dengan santai masuk ke dalam kamar mandi sembari menoleh pada kamera keamanan.
Jika orang normal pasti tidak akan peduli untuk sekadar menoleh pada kamera keamanan karena rumah sakit tidak mungkin memasang CCTV di dalam kamar mandi, melainkan di koridor.
Perempuan tinggi berbusana merah tersebut sangat asing. Tony Huo belum pernah melihat sebelumnya, tetapi ia merasakan ada sesuatu yang janggal dengan perempuan itu.
Ia memperhatikan dengan lebih saksama dan melihat perempuan itu menyeringai ke kamera keamanan. Hanya dalam 45 detik perempuan itu keluar dari dalam kamar mandi, dan 15 detik kemudian Maureen Lee masuk ke kamar mandi, jadi mereka berdua berpapasan sebelum Maureen Lee masuk ke kamar mandi.
“Cari tahu siapa perempuan ini.”
🍁Bersambung🍁