
“Tuan Muda Rin, Ayah Anda menginginkan agar Anda pulang ke rumah besar.” Kata seorang pria berbadan tinggi di sebelah Rin Kazuo—yang tengah menyesap rokok di tangannya dan gelas bir di tangan kirinya.
Rin Kazuo menjawab apatis, “Biarkan saja.” Pria itu menaruh gelas bir di atas meja mini bar miliknya, sedang perempuan berambut perak tadi masih tergelatak lemas di atas ranjangnya.
Pria berbadan tinggi itu, dengan jengah menatap ke arah ranjang yang mana perempuan tersebut hanya terbungkus oleh selimut.
“Ada lagi yang ingin kau katakan? Kalau tidak, pergilah.”
Tidak ada lagi yang ingin dikatakan oleh pria itu. Lantas dia menunduk, “Tidak ada lagi, Tuan Muda. Saya permisi.” Menunduk sedalam-dalamnya, sebelum dia melangkah pergi, sekali lagi dia menoleh ke arah perempuan berambut perak dengan pandangan jejap. Lantas keluar dari apartemen Rin Kazuo.
“Untuk apa pulang kalau aku bisa melakukan hal yang aku inginkan di sini, semauku.” Rin Kazuo menoleh ke atas ranjangnya, mendapati perempuan itu masih tertidur pulas karena kelelahan, “tidak berguna.” Gumamnya.
Rin Kazuo sangat ingin melenyapkan Zelene Liang, setelah mengetahui kalau wanita itu merupakan istri dari Tony Huo. Dia ingin melenyapkan orang yang paling disayangi oleh Tony Huo sesegera mungkin.
Dia juga telah menggali semua informasi mengenai Zelene Liang, tapi hanya sebagian kecil saja karena dia tahu kalau seseorang menyembunyikan sebagian informasi mengenai Zelene Liang. Oleh karena itu, Rin Kazuo bisa dibilang sangat berhati-hati ketika berurusan dengan Zelene Liang.
Julia Qin sudah tidak dapat diandalkan lagi. Jadi, wanita berambut perak itulah yang menjadi mainannya kali ini. Rin Kazuo memerintahkannya untuk menghabisi Zelene Liang ketika di rumah sakit. Namun, perempuan berambut perak malah melenyapkan Maureen Lee lantaran tidak mendapatkan kesempatan untuk berhadapan dengan Zelene Liang.
Keamanan Zelene Liang saat ini sudah diperketat, maka akan sulit baginya untuk mendapat kesempatan yang bagus. Dia harus menunggu beberapa waktu lagi, sampai Zelene Liang sembuh dan melakukan aktivitasnya seperti biasa dan disaat itulah, dia akan mengambil kesempatan melenyapkan wanita itu.
“Lira ….”
🍁🍁🍁
Mobil Tony Huo sudah tiba di Xue Garden. Ia melonggarkan dasinya dan tidak sabar untuk turun dari mobil tersebut. Hanya beberapa jam tidak melihat Zelene Liang dalam pandangan matanya telah membuat Tony Huo merasa tidak tenang. Apalagi setelah tidak mengangkat teleponnya tadi siang, Zelene Liang juga tidak menghubunginya balik.
Sedikit merasa kesal akan hal tersebut. Namun, tidak sampai membuatnya marah. Ia sendiri telah membuat Zelene Liang kesal tadi pagi. Jadi, setelah bertemu dengan wanita itu nanti, ia akan meminta maaf dan bertanya di mana letak kesalahannya.
Tony Huo bergegas turun dari mobil ketika Duan Che menghentikan mobil tersebut. Duan Che merasa terkejut karena Tony Huo sangat terburu-buru keluar sebelum butler Kim membukakan pintu mobil untuknya.
“Selamat sore, Tuan Muda.” Sapa butler Kim yang hanya mendapatkan anggukkan dari pria itu.
Bergerak cepat layaknya angin, Tony Huo masuk ke dalam mansion. Pandangannya berpendar di ruang depan. Zelene Liang tidak ada di sana. Berari wanita itu sedang berada di kamar mereka saat ini.
Tidak menunggu lagi, Tony Huo sudah menaiki anak tangga menuju lantai dua dan berhenti di depan pintu kamar utama.
“Zele, apa kamu di dalam?” agak ragu untuk membuka pintu lantaran tidak yakin kalau Zelene Liang berada di dalam sana, dan Tony Huo lebih tidak yakin lagi kalau Zelene Liang mau melihatnya karena tadi pertanyaan bodohnya tadi pagi, wanita itu telah mengusirnya supaya berangkat kerja.
Tidak ada suara dari dalam kamar utama. Jadi, Tony Huo memutuskan untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Ia tidak menemukan Zelene Liang di dalam sana ketika pintu itu telah terbuka. Dahi Tony Huo berkerut dan ia segera kembali menuruni tangga, merasa khawatir tidak menemukan Zelene Liang.
Harusnya ia bertanya lebih dulu pada butler Kim sebelum mencari Zelene Liang.
“Butler Kim!” Tony Huo sudah sampai di lantai bawah dengan kecepatan yang sama ketika ia memasuki mansion tadi.
“Di mana dia?”
Butler langsung tahu siapa yang Tony Huo tanyakan, dia segera menjawab, “Nyonya Muda masih bersama dengan Nyonya Huo. Mereka ada di dapur—”
Sebelum butler Kim dapat menuntaskan perkataannya, Tony Huo sudah melesat melangkah menuju dapur.
“ … Saat ini.” Lanjut butler Kim seraya melihat punggung Tony Huo yang menuju ke arah dapur. “Begitulah kalau orang sedang jatuh cinta.”
Sementara itu, Tony Huo sampai di dapur, “Zele,” panggilnya.
Zelene Liang menengok ke asal suara, “Kamu pulang cepat hari ini? Bukankah pekerjaanmu sangat banyak?”
Tony Huo tidak menjawab pertanyaan Zelene Liang. Ia berjalan cepat dan seketika itu juga memeluk Zelene Liang, membuat wanita itu terperanjat akan aksi tiba-tiba dari Tony Huo.
...🍁Bersambung🍁...
...Ketika aku sedang kesal dan kamu tidak dapat menenangkanku, akan lebih baik kalau kamu diam dan tidak muncul di hadapanku. Meskipun aku merindukanmu dengan sangat. — Red Maple...
Judul : Waktu Bersamamu
Genre : Roman
Author : Red Maple
Bab : 13 bab ongoing
Platform : Novel*e
jangan lupa subscribe dan review, aku tunggu kalian di sana reader tercinta ❤️
Spoiler
"Aku cemburu!" dua kata itu terlontar dari bibirku begitu saja, dan lebih parahnya lagi aku mengatakan hal itu pada sahabatku sendiri. Perasaan yang seharusnya tidak boleh ada untuknya malah tertuang dalam rasa cemburu yang telah membakarku beberapa saat lalu.
Iya, aku cemburu melihatnya dekat dengan gadis lain, tapi aku sadar aku hanyalah temannya yang tidak memiliki hak untuk cemburu.
"Kenapa?" satu kata berupa pertanyaan keluar dari bibirnya serupa tiupan seruling lembut dan tenang tak terdengar getaran apa pun dalam nadanya, namun ketenangan itu malah membuat aliran darah dalam nadiku mulai menyempit. Rasa sesak menghimpit paru-paruku, aku mencoba menenangkan diriku sendiri dengan menekan kuat telapak tanganku.
Pemuda di hadapanku nampak sangat santai, raut mukanya setenang langit biru yang tak terganggu meski kehadiran awan menghalangi kecantikannya. Sementara di dalam diriku porak-poranda layaknya gelombang air laut menelan semua kewarasanku.
Aku telah melakukan tindakan bodoh karena cemburu buta beberapa saat yang lalu. Sehingga seseorang yang tak memiliki salah apa pun menjadi tumbal dari keganasanku.