
Tony Huo merengkuh Zelene dalam pelukannya, namun wanita itu malah memukul-mukul wajah Tony Huo menggunakan jemari ramping miliknya. Sorot mata pria itu nampak jelas memperlihatkan bahwa, ia sangat jengkel dengan tingkah Zelene. Sedangkan Xie Yu Fan hanya bisa menatap kosong saat Zelene direbut darinya.
"Huh? Tuan Muda Huo ...."
Tentu saja, Xie Yu Fan ingin bertanya maksud dari Tony Huo, namun melihat kumpulan pengawal yang saat ini berjejer di samping kiri dan kanannya, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Iris hijaunya dengan khusyuk memperhatikan punggung Tony Huo yang berjalan menuju ke arah mobilnya.
"Pulanglah Xie Yu Fan, aku akan mengurus sisanya, dan ... kau tidak perlu mengkhawatirkan Zelene, dia akan aman, juga terima kasih untuk hari ini." Hanna menepuk bahu Xie Yu Fan.
Sementara itu, Tony Huo sudah masuk ke dalam mobilnya, ia menyuruh Duan Che mengemudikan mobil dan segera mobil itu melaju meninggalkan keramaian tersebut. Bau alkohol menguar di kursi belakang membuat Tony Huo membulatkan mata dan bertanya dalam benaknya, berapa botol alkohol yang dihabiskan oleh wanita ini? Sejak mereka memasuki mobil, Zelene Liang telah memperhatikan Tony Huo tanpa mengedipkan mata. Wanita itu memindai wajah tampan pria yang duduk di sampingnya dengan mata genit dan senyum puas.
"Tampan!"
Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Zelene. Wanita itu mengunci wajah Tony Huo menggunakan kedua tangannya, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah dingin pria itu. Aksi Zelene membuat Tony Huo mengerjapakan mata tidak percaya, apakah istrinya merupakan wanita yang agresif?
"Lepaskan tanganmu!" perintah Tony Huo dengan nada pelan.
"Hm ..., tidak mau, kamu lebih tampan dari pria itu."
Zelene tidak memedulikan perintah Tony Huo dan malah menekan pipi pria itu, hingga mulutnya mengerucut seperti bayi yang menggemaskan. Begitu juga dengan Zelene ikut mengerucutkan bibirnya, ia memejamkan mata dan mulutnya bergerak-gerak ingin mencium bibir Tony Huo. Akan tetapi, pria itu langsung menepisnya dan mendorong Zelene menjauh darinya.
"Zelene Liang! Apa kewarasanmu telah ditenggelamkan oleh alkohol?" tanya Tony Huo dengan nada tinggi.
Pria itu membenarkan posisi duduknya dan mendekatkan badannya ke arah pintu mobil. Ia melihat raut wajah Zelene menampakkan kekecewaan karena penolakannya. Tony Huo baru saja sampai di Imperial City dan langsung mendapatkan pemeriksaan, kini ia malah mendapati istrinya dalam keadaan mabuk berat, dan sakit kepalanya juga semakin bertambah.
"Pria tampan?" sesaat kemudian wajah kecewa Zelene telah berganti ke senyum cerah. Ia mendekatkan dirinya perlahan dan duduk tenang di samping Tony Huo sembari mendaratkan kepalanya di lengan kokoh pria itu.
"Sekarang apalagi yang ingin kamu lakukan?" Tony Huo geram dengan tingkah Zelene, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun pada orang mabuk, apalagi berbuat kasar pada Zelene Liang. Ia hanya bisa mengeluarkan kekesalannya melalui ucapan.
"Tampan, menikahlah denganku." Ucap Zelene, mendongakkan kepala, lalu menatap iris hitam Tony Huo—dengan binar mata yang tak dapat dijelaskan. Pria tampan yang duduk di sebelahnya memang sangat memikat sehingga Zelene pun melebarkan pupilnya hanya demi memandangi wajah pria itu.
"Kita sudah menikah!" Tony Huo menepuk dahinya, mengapa ia meladeni perkataan orang mabuk? Toh, Zelene akan lupa ketika bangun nanti, dan kenapa juga ia harus repot-repot menjemput wanita itu?
"Oh, benarkah? Kapan kita menikah? Kan, kita baru bertemu hari ini? Hm ..., kalau begitu cium aku?!" dengan nada manja, Zelene menggoyangkan lengan kokoh pria itu.
Tony Huo memutar bola mata jengah, pria itu malu melihat kelakuan istrinya. Ia menutupi matanya dengan tangan sembari menggeleng. Haruskah ia percaya bahwa, wanita di sampingnya ini adalah Zelene Liang?
"Kenapa malah geleng kepala? Kamu tidak mau menciumku?"
Zelene menghempaskan tangan kiri Tony Huo, kemudian berkacak pinggang dan matanya membulat, menatap Tony Huo dengan garang serta dadanya naik—turun karena napas yang menggebu. Wanita itu mengatupkan bibirnya, bersiap untuk mencabik Tony Huo menggunakan kuku-kuku panjangnya. Kemarahan Zelene pun memuncak dan akhirnya, ia mencakar dada Tony Huo dengan sekuat tenaga.
Kekerasan dalam rumah pun terjadi dalam mobil itu, yang mana seorang istri telah menganiaya suaminya yang sedang sakit. Adegan itu pun disaksikan oleh asisten si suami. Duan Che fokus mengemudikan mobil, matanya sesekali melirik kaca spion. Alhasil, kekejaman Zelene Liang membuat Duan Che menahan tawa. Lucu! Sungguh lucu, atasannya merupakan pria ber-aura dingin dan tak pernah kalah dalam sebuah perkelahian, tetapi saat ini, pria dingin itu terlihat seperti orang konyol yang menerima cakaran dari istrinya.
"Zelene Liang!" Tony Huo berteriak sangat keras, hingga mobil dipenuhi oleh suaranya yang menggelegar. Ia menangkap kedua tangan Zelene dan mengikat tangan tersebut dengan tangan besar miliknya.
"Huhu ..., lepaskan ...." Lirihnya.
Tony Huo menarik napas dan saat itu kepalanya berdenyut kencang. Ia menyandarkan kepalanya sejenak, kemudian melihat suit yang ia kenakan sudah compang-camping akibat cakaran dari Zelene Liang.
"Mungkinkah kamu selalu seperti ini ketika mabuk? Aku akan membunuhmu ketika sampai di rumah." Tony Huo mendesis sembari mengatupkan giginya. Benar adanya, bahwa wanita itu menambah sakit kepalanya.
"Kalau begitu bunuh saja aku sekarang!" tantang Zelene dengan sorot mata berani.
Zelene, "...."
"Pfffttt!" Dun Che menyemburkan tawa, dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Melihat pertengkaran pasangan di kursi belakang sangat menghibur bagi si wajah batu.
"Tertawa lebih keras lagi." Tony Huo melirik Duan Che dari kaca spion depan, ia melepaskan tatapan menghunus.
Tatapan itu, tentu membuat Duan Che menghentikan tawanya dalam sekejap, ia kembali ke mode wajah batu. Tetapi, dalam hatinya meronta ingin tertawa lepas.
Pandangan Tony Huo beralih ke Zelene, penampilan wanita di depannya itu laksana bulan yang ditenggelamkan, pekat tanpa cahaya. Rambut hitamnya berantakan seperti diterjang angin kencang, sementara eyeliner-nya meleleh hingga ke tulang pipinya.
"Lepaskan ... sakit ...." Lirih Zelene sekali lagi. Ia memasang wajah cemberut nan imut.
Akhirnya, Tony Huo merasa sedikit iba dan melepaskan tangan Zelene. "Diam dan duduk dengan benar, kalau tidak aku akan mengikatmu."
Angguk Zelene, kemudian ia menundukkan kepala dan duduk dengan tenang. Akan tetapi, yang namanya orang mabuk, akankah benar-benar mau mendengarkan ucapan Tony Huo? Zelene Liang sesekali menjeling ke arah Tony Huo di sampingnya—pria tampan itu sedang mengatur napas dan memijat pelipisnya, wajahnya pun memperlihatkan ekspresi kesakitan, kemungkinan sakit kepalanya sudah naik level gara-gara tingkah Zelene Liang barusan.
"Kapan kita akan sampai?" tanya Tony Huo pada Duan Che.
Duan Che menjawab dengan cepat, "Sekitar 10 menit lagi, Tuan. Apakah sakit kepala Anda bertambah parah?"
"Begitulah."
"Tampan, kamu sakit kepala?" Zelene mendadak menempelkan punggung tangannya ke dahi Tony Huo, lalu berkata, "tidak panas."
"Aku sakit kepala, bukannya demam." Tony Huo menepis tangan Zelene.
"Aku ... bisa mengobati sakit kepalamu." Ujar Zelene seraya menaikan kaki ke atas kursi mobil, kini ia dalam posisi bersimpuh.
"Hei! Turunkan kakimu. Sudah kukatakan duduk yang benar, mau kuikat?"
"Aku hanya ingin mengobatimu, pria tampan." Zelene membawa bibirnya ke kepala Tony Huo, lantas meniup pelipis pria itu dengan napas lembut.
Tony Huo, "...."
Duan Che, "...."
Mereka tidak pernah melihat pengobatan semacam ini sebelumnya, meniup pelipis orang yang sedang sakit kepala, hanya Zelene Liang yang memiliki ide seperti itu dalam keadaan mabuk. Tiupan lembut Zelene membuat wajah Tony Huo menjadi panas karena bibir wanita itu begitu dekat, napasnya mengeluarkan bau anggur merah dari Pinot Noir. Tony Huo menatap bibir itu, tangannya bergerak ingin menyentuh bibir mungil yang sibuk meniup pelipisnya, namun dengan cepat ia mengurungkan niatnya.
"Sudah selesai?" tanya Tony Huo dengan nada pelan.
"Masih ... sakit, tidak?"
"Sudah tidak sakit lagi," ia berbohong, "kamu bisa turun sekarang."
"Baiklah, hm ...," Zelene memperhatikan suit yang dikenakan oleh Tony Huo, lantas ia terkekeh melihat karya agung yang dibuat oleh cakaran kukunya, "aiya! Biar aku jahitkan kemejamu." Zelene meraba-raba kemeja Tony Huo—lebih tepatnya meraba dada bidang pria itu.
"Zelene Liang! Benar-benar tidak ada kapoknya!"
🍁 Bersambung🍁