My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Pria aneh!



Iblis! Pria ini memiliki ketampanan dari seorang iblis dan bukannya malaikat. Zelene dengan cepat mengalihkan tatapannya dari Tony Huo.


"Apa yang akan aku lakukan di sini?" tanya Zelene, malas.


"Kamu sudah memakai seragam gardener, mengapa bertanya lagi? Baiklah, akan kuberitahu, kamu harus membersihkan taman mawar ... sendirian." Ucapnya, santai.


Mata Zelene terbelalak dan mulutnya menganga. Membersihkan taman mawar sendirian? Taman itu sangat luas dan biasanya ada sekitar 10 orang gardener yang membersihkan taman tersebut, jika hanya Zelene seorang diri, maka akan memakan waktu hingga seharian.


Di taman yang kiranya seluas 100 meter persegi itu terdapat banyak jenis mawar seperti mawar Galica, mawar Bourbon, mawar Portland dan masih banyak jenis mawar lagi, juga harumnya pun semerbak karena mawar-mawar itu telah mekar sempurna.


"Kamu sudah gila? Taman ini begitu luas dan kamu menyuruhku untuk membersihkannya sendiri, hukuman macam apa ini?" tanya Zelene lagi.


Tentunya wanita itu tidak terima, jika harus membersihkan taman luas itu sendirian, apalagi taman tersebut dipenuhi oleh duri mawar.


Tony Huo bangkit dari duduknya dan menghela napas kecil, ia kemudian mengambil sarung tangan, topi dan alat potong seperti gunting yang ada di rak dalam rumah kaca. Setelah mengambil peralatan itu, ia menaruhnya di tangan Zelene.


"Pakai sarung tangan dan tanganmu tidak ada terkena duri. Pakai topi ini juga," Tony Huo, memakaikan topi di kepala Zelene. Ia kemudian memperhatikan gunting yang diberikannya pada Zelene, lalu berkata, "guntinglah daun-daun keringnya terlebih dahulu."


"Argh! Dari sekian banyak hukuman, apa hanya ini yang dapat kamu pikirkan?"


Tony Huo memijat pelipisnya, "Ini merupakan hukuman yang paling ringan untukmu dari segala hukuman yang aku pikirkan, contohnya ...."


"Sudah tidak perlu dijelaskan lagi, akan aku kerjakan." Zelene Liang menghentakkan kaki dan tidak bertanya lebih jauh karena kemungkinan saja, hukuman yang dipikirkan oleh pria itu bisa saja lebih buruk daripada tertusuk oleh duri mawar. Zelene melangkah ke arah dinding rumah kaca untuk memulai pekerjaannya dari sana.


Wanita itu memulai dengan tekun memotong daun-daun kering, meskipun masih terlihat kaku karena pertama kalinya melakukan pekerjaan seperti itu.


"Hei, Tony Huo ..., apakah kamu tidak pergi ke perusahaanmu?" tanya Zelene, ragu. Ia tahu dari butler Kim bahwa, pria itu sedang sakit, namun Zelene tetap bertanya untuk memastikan.


"Berkat seseorang, aku harus bekerja dari rumah." Sahutnya, santai.


Zelene menoleh ke Tony Huo. "Apa maksudmu? Bukankah kamu mengalami sakit kepala, lalu apa hubungannya denganku?"


Pria aneh!


Tony Huo sudah kembali duduk di kursinya dan mengambil cangkir tehnya, "butler Kim?"


"Iya, dia memberitahuku bahwa, kamu mengalami sakit kepala hebat tadi malam setelah pulang dari Kanada. Jadi, itu tidak ada urusannya denganku."


Tony Huo termenung dan menyesap tehnya lagi."Benar. Tidak ada urusannya denganmu, jadi, berhentilah bertanya dan kerjakan saja pekerjaanmu."


"Hmph!" Zelene mendengus kesal dan kembali melanjutkan pekerjaannya, memotong-motong daun kering pada dahan mawar yang berduri, ia memotongnya dengan pelan dan hati-hati agar duri-duri mawar tersebut tidak mengenai tangannya.


Tak lama kemudian, Duan Che tiba di rumah kaca dengan membawa berkas-berkas di tangannya. Pria itu memasuki rumah kaca dan memberi salam pada Tony Huo sebelum memberikan berkas-berkas yang ada di tangannya.


"Tuan, ini berkas-berkas yang harus Anda periksa hari ini, dan jika masih ada yang kurang, saya akan meminta sekretaris Yun untuk membawakan berkas lagi." Kata Duan Che sembari memperhatikan Tony Huo yang fokus melihat ke arah Zelene, dan Duan Che sendiri pun melirik ke arah yang sama.


Sekejap kemudian, Tony Huo beralih menatap berkas-berkas yang tertumpuk rapi di meja itu. Ia mengambil dokumen paling atas dan membacanya dengan saksama sebelum memberikan beberapa coretan tinta hitam pada halaman-halaman dokumen tersebut.


"Selamat pagi, Nyonya." Sapa Duan Che dari tempatnya berdiri yakni, di samping Tony Huo, jadi Zelene pasti mendengar sapaannya.


Zelene membalikkan badannya dan melihat ke Duan Che, lantas ia mengangguk dan membalas sapaan Duan Che. "Selamat pagi, apakah kamu asisten Duan?"


"Benar, Nyonya. Saya Duan Che, Anda bisa memanggil saya, asisten Duan."


"Oh, kalau begitu selamat bekerja, asisten Duan. Oh, iya, sudah berapa lama kamu bekerja sebagai asisten?"


"Hm, sudah lama sekali, ya, kamu orang yang sangat setia karena bisa bekerja di bawah pria seperti suamiku." Kata Zelene. Dalam nadanya terdengar sebuah ejekan yang hanya diketahui oleh Zelene sendiri.


"Ya ...? Itu karena saya menyukai pekerjaan ini dan gajinya lumayan tinggi." Tutur Duan Che, santai dan tidak menanyakan, mengapa Nyonya Muda dari keluarga Huo memotong daun kering di pagi hari?


Tony Huo mendengarkan percakapan mereka dan menoleh pada Zelene saat wanita itu menyebut kata 'suamiku', kemudian ia mendelik tajam pada Duan Che—tidak percaya mendengar tutur santai Duan Che yang setia bekerja untuknya karena gajinya lumayan tinggi, dan bukannya kagum terhadapnya. Mengapa Tony Huo merasa seperti ditindas oleh dua orang tersebut?


Tony Huo akhirnya membuka mulutnya, "Suruh mereka melakukan revisi." Pintanya pada Duan Che ketika menyodorkan dokumen itu ke pria yang berdiri seperti patung di sampingnya.


"Baik, Tuan."


Rumah kaca itu hening kembali, sementara Tony Huo sibuk dengan tumpukan berkas yang dibawa oleh Duan Che, lain halnya dengan Zelene Liang yang sesekali menoleh ke arah Tony Huo. Mata wanita itu sibuk memperhatikan dari mawar di depannya ke Tony Huo yang duduk tidak jauh di belakangnya.


Zelene bergumam ringan, "Jelek! Tapi, tampan seperti iblis." Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Berkas di atas meja teh itu, di acak oleh Tony Huo, tetapi ia tidak mendapatkan berkas yang diinginkannya sehingga ia bertanya pada Duan Che, "Di mana berkas mengenai Huo's Jewelry? Bukankah kita akan mengeluarkan produk terbaru?"


"Sepertinya masih dikerjakan oleh divisi desain. Akan saya tanyakan pada sekretaris Yun dan menyuruhnya untuk membawa berkasnya kemari." Jawab Duan Che dengan cepat. Dia merogoh smartphone-nya dan menelepon Yun Ruo Xi, meminta wanita yang ikut bersama mereka ke Negara C tersebut, agar membawa berkas yang diinginkan oleh Tony Huo.


Sebenarnya, Yun Ruo Xi menjadi sekretaris Tony Huo di Kanada selama beberapa tahun, akan tetapi setelah Tony Huo memutuskan untuk kembali ke Negara C. Yun Ruo Xi pun meminta agar dirinya juga dipindahkan ke Negara C.


Saat ini, salah satu anak perusahaan dari Huo Enterprise yaitu, Huo's Jewelry yang ditangani langsung oleh Tony Huo, di Kanada maupun di Negara C—akan mengeluarkan produk perhiasan terbaru mereka. Oleh karena itu, Tony Huo meminta berkas tentang perkembangan dari rancangan produk terbaru mereka berupa kalung berlian hitam.


🍁🍁🍁


Yun Ruo Xi sudah sampai di kediaman Xue Garden dan untuk pertama kalinya pula, wanita yang sering mengenakan busana merah itu menginjakan kakinya di mansion bergaya Eropa tersebut. Dia benar-benar terkesima sesaat setelah dia turun dari mobilnya, matanya bahkan tak mengerjap hanya untuk memperhatikan bagian depan mansion. Yun Ruo Xi menyadari dirinya terpesona dengan keindahan dari kediaman Tony Huo dan merasa dirinya agak norak, jadi dia cepat-cepat mengubah ekspresi kagumnya.


Wanita dalam balutan atasan blouses berpita dengan warna merah itu, melangkahkan kakinya perlahan menuju ke pintu depan dan sebelum dia memencet bel, butler Kim sudah terlebih dahulu membukakan pintu untuknya. Jadi, Yun Ruo Xi sedikit terkejut dan merasa dirinya telah disambut dengan hangat di kediaman tersebut.


"Apakah Anda adalah sekretaris Yun?" tanya butler Kim.


"Iya, saya Yun Ruo Xi, sekretarisnya Pak CEO." Sahutnya lembut dengan senyum merekah.


"Selamat datang, sekretaris Yun. Tuan Muda sudah menunggu Anda sejak tadi, mari saya antarkan menemui Tuan Muda." Ajak butler Kim, mempersilahkan wanita itu agar memasuki kediaman.


"Terima kasih, tapi, bagaimana saya memanggil Anda?"


"Panggil saja saya, butler Kim." Sahut butler Kim memberitahu.


Mereka berjalan menyusuri bagian dalam mansion, dan Yun Ruo Xi pun makin terkesan dengan interior bergaya Victoria. Mata wanita itu menjelajahi setiap sudut yang yang dilaluinya dan hal itu pun tertangkap oleh mata butler Kim.


"Ini merupakan pertama kalinya, Anda berkunjung, 'kan?" tanya butler Kim, tiba-tiba.


"Ah, iya, saya tinggal di Kanada untuk waktu yang lama dan memutuskan untuk mengikuti Pak CEO kemari." Sahut Yun Ruo Xi, menghilangkan kekagumannya.


Kedua orang itu telah berjalan hingga ke bagian belakang mansion dan Yun Ruo Xi penasaran mengapa dirinya dibawa ke belakang mansion, bukannya ke ruang belajar Tony Huo? Dia pun bertanya, "Butler Kim, mengapa kita ke taman belakang?"


"Oh, saya lupa memberitahu Anda, bahwa Tuan Muda ada di taman mawar."


Taman mawar ... kedengarannya sangat romantis, pikirnya.


🍁 Bersambung🍁