My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Berani sekali kau kecewa padaku!



Zelene Liang akhirnya terbangun pukul 10 pagi, tubuhnya terasa remuk bagaikan sedang memainkan adegan perang melawan dua puluh prajurit berbadan gagah. Dia mengurungkan niatnya ketika ingin bangkit dari tempat tidur dan memilih untuk tetap berbaring di sana.


"Tony Huo, dasar iblis bermuka dua! Aku akan memakan pria itu hidup-hidup. Selama ini dia mencoba melakukan tarik ulur denganku. Ah! Aku terlalu bodoh karena terbuai oleh ketampanan iblis itu." Zelene menggerutu sembari menggertakkan gigi-gigi putihnya.


Matanya melotot tajam pada foto Tony Huo yang terpaku di dinding kamar tersebut. Semua makian dan kutukan untuk pria itu, dilontarkan pada foto yang terpaku di sana melalui sorotan matanya layaknya sebilah pisau dengan ujung runcing pun tajam menancap pada foto tersebut.


"Apakah aku terlalu bodoh hingga termakan oleh godaan manis dari iblis itu? Mulai hari ini aku akan memanggilnya iblis manis." Ucapnya dengan nada mencekam seraya mengepalkan kesepuluh jemari tangannya. "Aw! Badanku rasanya seperti hancur berkeping-keping."


Sungguh Zelene Liang tidak menyangka bahwa pria itu bisa menjadi sangat ganas bahkan lebih mengerikan daripada Tony Huo marah padanya. Semalam mereka sempat bertengkar dan Tony Huo menjadi sangat dingin padanya, namun pria itu datang ke kamarnya tengah malam juga meminta malam pertama mereka. Benarkah hanya untuk memberikan seorang cucu pada kedua orang tuanya, ataukah ada motif tersembunyi yang Zelene tak ketahui?


"Nyonya, apakah Anda sudah bangun?" Qin Zhuo An bertanya setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali karena Zelene tidak menyahut sebelumnya.


Lantaran Zelene tengah mengutuk Tony Huo dengan berbagai macam kutukan yang bisa dia ingat, jadi ketukan pada pintu kamarnya tidak terdengar olehnya.


"Hm, Bibi Qin, begini ...," sahutnya terbata.


"Nyonya, Anda harus segera turun dan sarapan." Ucap Qin Zhuo An dari balik pintu, dia tidak berani membuka pintu karena takut Zelene akan merasa tidak nyaman dengan tindakannya.


"Bisakah aku langsung makan siang saja nanti?" suara Zelene agak lemah karena dirinya masih merasa kelelahan.


"Nyonya Huo sudah menunggu Anda di bawah. Maka, Anda harus segera turun, Nyonya Muda. Apakah perlu saya masuk dan membantu Anda ...?" wanita paruh baya itu menawari bantuan pada Zelene Liang dan dari nada suaranya terdengar sedikit tawa senang. Agaknya di balik pintu kamar tersebut, Qin Zhuo An sedang tersenyum bahagia.


"Tidak usah, Bibi Qin, aku bisa sendiri. Tolong minta Mom untuk menungguku, aku akan segera turun."


"Baiklah, kalau begitu akan saya sampaikan pada Nyonya Huo."


🍁🍁🍁


Setengah jam kemudian dengan kaki lemah Zelene Liang menuruni tangga satu per satu. Dia melangkah pelan dan hati-hati diiringi oleh tatapan dari para pelayan. Mereka tersenyum sumringah dan hal itu membuat pipi Zelene memiliki rona merah. Pipinya terasa panas karena dia merasa malu, entah malu karena adegan semalam atau malu karena cara berjalannya tidak seperti biasa.


Dia menghentikan langkahnya dan melihat ke arah para pelayan dengan ekspresinya yang seperti biasa setelah membenamkan rasa malunya sesaat yang lalu. Bisa dibilang Zelene Liang mengganti ekspresinya dengan cepat karena dia merupakan seorang aktris dan saat ini pula agaknya dia sedang berakting. Dia mulai membenahi caranya berjalan, meskipun badannya  masih terasa sakit dan kakinya lemah pula.


"Sayang!"


Suara manis dan hangat menyambut Zelene Liang di dasar tangga ketika Nan Si Yue tiba-tiba muncul di sana. Nampaknya Nan Si Yue tidak bisa menutupi rasa bahagianya saat ini lantaran senyumnya dan semakin lebar ketika melihat menantunya.


"Mom, ada apa pagi-pagi kemari?"


"Turunlah perlahan-lahan. Bibi Qin mengatakan karena kau bangun terlambat, mungkin saja kau sedang tidak enak badan, jadi, aku membawakanmu sarapan juga beberapa tonic." Ucap Nan Si Yue menyamarkan arti tersembunyi dalam ucapannya tersebut.


Tentunya Nan Si Yue sudah mendapatkan kabar dari Qin Zhuo An, maka dari itu dia bergegas membuatkan sarapan bergizi juga membawa beberapa tonic ke kediaman Xue Garden. Ketika Nan Si Yue mendapatkan kabar tersebut dari Qin Zhuo An, dia sangat kegirangan sampai-sampai melompat-lompat layaknya anak kecil mendapatkan sebuah mainan baru. Betapa senangnya karena harapan yang dia jaga selama dua tahun akhirnya terwujud. Putra dan menantunya sudah sangat dekat dan dirinya tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hubungan keduanya.


"Mom, tidak perlu repot-repot membawakan sarapan. Mom harusnya istirahat saja di rumah. Aku hanya ... kurang enak badan saja sejak semalam." Kata Zelene Liang. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa, meskipun dirinya sudah tahu kedatangan Nan Si Yue kemari pasti ada hubungannya dengan malam pertama.


"Terima kasih, Mom."


Mereka berdua berjalan pelan menuju ruang makan. Sesampainya di sana, mata Zelene Liang membulat sebab berbagai hidangan memenuhi meja makan dan semuanya nampak sangat bergizi. Dia menatap Nan Si Yue dengan ekspresi heran di wajahnya.


"Mom, kenapa banyak sekali membawakan sarapan untukku?"


"Duduklah dan makan saja. Menantuku sedang tidak enak badan, jadi aku tidak bisa hanya diam saja, 'kan?" Nan Si Yue mengambil bubur dan memasukkannya ke dalam mangkuk, lantas menaruhnya di meja Zelene. "Makanlah, agar cucu-cucuku nanti lahir dengan sehat."


"Mom—"


Nan Si Yue menutup bibirnya karena sudah berkata secara terang-terangan. Dia menyiapkan sarapan sehat bukan hanya demi Zelene, namun juga demi cucu-cucu yang bahkan belum menjadi embrio.


🍁🍁🍁


Duan Che sejak tadi memaparkan laporan produk terbaru perusahaan yakni, produk kalung berlian hitam yang akan diiklankan oleh Zelene Liang dan Xie Yu Fan. Sesekali dia melirik Tony Huo melalui ekor matanya. Atasnya terlihat sangat hangat sejak pagi tadi, bahkan membalas salam dari karyawan—tidak sebelum-sebelumnya—Tony Huo hanya akan mengangguk atau mengabaikan mereka begitu saja.


Saat ini, Duan Che telah selesai memberikan laporannya, namun tidak ada tanggapan dari pria yang duduk di balik meja tersebut. Duan Che kini menatap Tony Huo dengan kedua bola mata hitamnya.


"Tuan, laporan saya sudah selesai."


Tidak ada jawaban dari Tony Huo, menyebabkan Duan Che harus mengulang ucapannya dengan lantang, "Tuan, saya sudah selesai memaparkan laporan mengenai produk terbaru Huo jewelry."


"Berisik sekali! Kalau sudah selesai kau taruh saja dokumennya di atas mejaku, kemudian keluarlah."


Suara lantang Duan Che membuat Tony Huo merasa agak jengkel karena fantasinya yang tertuju pada wajah istrinya tadi pagi sedang memenuhi pikirannya. Pemaparan Duan Che barusan bahkan tidak ia perhatikan.


"Saya kecewa."


Ketika dua kata itu terlontar dari mulut Duan Che, Tony Huo segera mengalihkan pandangannya ke arah pria yang tengah memasang kacamata hitam untuk menutupi kedua matanya.


"Kecewa? Apa maksudmu, asisten Duan?" Tony Huo tahu, jika Duan Che memasang kacamata hitam yang artinya, pria itu pasti kesal padanya, namun saat ini dia berkata kecewa padanya. Duan Che merupakan bawahnya yang paling setia dan paling lama berada di sisinya. Pria itu tidak pernah berucap kecewa padanya, tetapi hari ini ....


"Saya kecewa karena Anda lebih memilih melamun daripada mendengarkan pemaparan saya. Anda sendiri yang menyuruh saya memberikan laporan, tapi Anda sendiri yang mengabaikan laporan tersebut." Ujar Duan Che tanpa rasa takut pada atasannya.


Jleb! Jantung Tony Huo rasanya tertusuk oleh sembilu. Bawahan setianya berujar tanpa getir di hadapannya sendiri, ia tidak bisa menghilangkan Zelene Liang dari pikirannya oleh karena itu, ia tidak fokus ketika Duan Che memberikan laporan bahkan sama sekali tidak mendengarkan.


"Berani sekali kau kecewa padaku!"


"Apakah seseorang bawahan tidak boleh kecewa pada atasannya?" Duan Che bertanya dengan nada datar.


🍁 bersambung🍁