My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Jangan menyentuhku sembarangan!



"Huh, tampaknya iblis itu marah karena tahu aku telah berbohong. Aku harus segera mengembalikan liontin ini pada Xie Yu Fan." Zelene Liang bergumam ketika keluar dari lift yang berhenti di lantai 15. Kantor Zelene Liang dan kantor Xie Yu Fan berada di lantai 15, namun tidak berdekatan.


Zelene Liang memutuskan untuk pergi ke kantor Xie Yu Fan terlebih dulu sebelum masuk ke kantornya. Dia merasa tidak enak jika harus berlama-lama membawa benda yang memang tidak dia harapkan. Akan lebih baik, jika dia kembalikan benda itu sekarang, walaupun Xie Yu Fan sebelumnya berkata tidak ingin menerima liontin pemberiannya kembali.


Berdiri di sana setelah mengetuk pintu kantor Xie Yu Fan beberapa kali, tetapi tidak ada suara dari dalam. Zelene Liang tahu Xie Yu Fan agaknya belum datang. Dia memutuskan untuk kembali ke kantornya dan mencari Xie Yu Fan saat jam makan siang nanti.


Baru beberapa langkah, pria tinggi berambut coklat yang dicarinya berjalan santai di koridor yang sama dengannya. Zelene Liang memperlambat langkahnya ketika sosok Xie Yu Fan terpantul di matanya.


Mata keduanya bersirobok dan langkah Zelene Liang terhenti di depan pria itu. Tanpa sungkan dia menyapa, "Selamat pagi, Xie Yu Fan."


Xie Yu Fan mengembangkan senyum seperti biasanya; hangat dan cerah begitulah topengnya yang dengan aman tidak lepas dari wajah tampannya. "Iya, selamat pagi, Zelene." Pandangan Xie Yu Fan mengarah pada kantornya yang mana Zelene Liang datang dari sana. "Apakah kau mencariku?"


"Hum," dia menjulurkan tangan yang menggenggam sebuah kotak hitam pada Xie Yu Fan. Zelene Liang tidak berbasa-basi lagi dan langsung menuju ke intinya, "maaf aku tidak bisa menerima ini. Aku kembalikan padamu dan terserah akan kau apakan benda ini. Maaf, Yu Fan." Lantaran Xie Yu Fan tidak menerima kotak itu, Zelene Liang meraih tangan Xie Yu Fan dan menaruhnya pada telapak tangan pria itu.


"Sudah kukatakan aku memberikanmu hadiah sebagai teman. Apa salahnya?" Meskipun Xie Yu Fan mengeluarkan nada santai, akan tetapi dia tersenyum masam.


Zelene Liang dapat merasakan kekecewaan dari senyum itu, tapi mau bagaimana lagi kalau dia tidak dapat menerima benda tersebut. Memang hanya sebuah liontin, akan tetapi liontin tersebut merupakan produk edisi terbatas dari Huo's Jewelry dan hal itu menguatkan tekad Zelene untuk tidak menerima pemberian Xie Yu Fan.


"Masalahnya sederhana saja. Aku tidak bisa menerima liontin itu." Melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, Zelene Liang mengulas senyum santai bagai tidak terjadi apa pun; dia berkata, "aku harus kembali ke kantorku." Tidak menunggu balasan dari Xie Yu Fan, langkah Zelene Liang meninggalkan pria yang masih mematung dengan telapak tangan menengadah.


"Huh?" Xie Yu Fan melirik kotak hitam pada tangannya. Sorot matanya berubah malas dan sekilas dia menengok ke belakang memperhatikan punggung Zelene Liang yang mulai menjauh. Dia kembali meluruskan pandangannya dan terkekeh kecut, setelahnya dia bungkam sembari melangkah ke kantornya.


Qing Yuan melirik pria itu dari ekor matanya dan enggan untuk bertanya karena dia tidak ingin tambah merusak mood Xie Yu Fan.


Sementara itu, Zelene Liang telah sampai di kantornya dan menemukan Hanna Gu dan Xu Mo telah duduk di sofa sembari memakan sarapan mereka.


"Kalian baru sarapan?"


"Sebenarnya aku sudah sarapan, tapi Xu Mo berhenti di toko kue jadi aku tidak bisa menahan diri dan ingin sarapan lagi." Jawab Hanna sambil mengunyah sepotong donat bertabur kacang.


"Kak Liang kemarilah, coba ini sangat enak." Tawar Xu Mo mengangkat sebuah donat di tangan kirinya.


"Kalian makan saja." Ucap Zelene dengan nada malas. Dia menghempaskan dirinya di sebelah Hanna Gu lantas bertanya, "bagaimana dengan urusan mengenai Julia Qin?"


"Hanya permintaan maaf secara pribadi? Tidak ada permintaan maaf melalui pers? Apa-apaan ini?!" Zelene Liang bangkit dari duduknya, dahinya berkerut tanda ketidaksetujuannya.


Mana mungkin Zelene Liang hanya akan menerima sebuah permintaan maaf melalui kata-kata semata. Dia menginginkan permintaan maaf melalui tindakan nyata.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sedangkan di depan gedung Huo Enterprise; Tony Huo turun dari mobilnya dengan wajah yang masih kesal. Ia memandang lurus ke depan tanpa menghiraukan para karyawan yang berlalu lalang menyapanya.


Aura yang terpancar dari pria itu membuat suasana di lobi yang ia lewati menjadi berawan. Bahkan Yun Ruo Xi sengaja menunggunya di depan lift, namun tidak terlihat oleh mata Tony Huo.


"Selamat pagi, Pak CEO."


Tony Huo berlalu masuk ke dalam lift meninggalkan Yun Ruo Xi berdiri di tempatnya. Wanita itu ingin masuk namun langkahnya terhenti lantaran pintu lift telah tertutup. Barulah saat itu Tony Huo melihat wanita berbusana merah dengan wajah terheran-heran menetap ke dalam lift.


Tetap saja pria itu tidak peduli.


Setelah pintu lift tertutup dan hanya dirinya saja berada di dalam sana. Tony Huo menarik dasi yang mengikat lehernya, pikirannya sama sekali tidak tenang bagaikan panasnya api membakar ubun-ubunnya.


"Apakah Xie Yu Fan?" sorot mata Tony Huo sangat dingin, dia menghantam dinding lift dengan kepalan tangannya. Suara dari lift yang terbuka menyadarkan Tony Huo dan ketika pintu telah terbuka sepenuhnya, mata hitam itu melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya berdiri di depan lift.


"Sedang apa kau di sini?" pertanyaan itu terlontar dari bibir Tony Huo dengan nada dinginnya. Tatapan dingin dari mata hitam itu masih terpasang di kedua bola matanya. Tony Huo membenarkan dasinya dan keluar dari dalam lift. Ia berhenti di sebelah sosok itu. "Kalau tidak ada yang penting lebih baik kau cepat pergi dari sini."


"Kakak, sejak kapan kau menjadi sedingin ini padaku dan mengapa aku tidak boleh berada di sini?" wanita itu balik bertanya pada Tony Huo. Dia melirik Tony Huo dan mengangkat ujung bibir kanannya memperlihatkan seulas seringai halus. "Kita bicara saja di kantor Kakak. Ayo!" dia membalikkan badan, kemudian memegang lengan kanan Tony Huo.


Tony Huo menampik tangan wanita itu dan mengejeling ke arahnya. Dalam benaknya pria itu tidak ingin melihat wanita dalam balutan mini dress berwarna toska dengan motif polos. Rambut wanita itu memiliki model kuncir kuda, nampak indah dan halus. Rambut panjang itu jatuh hingga ke pinggangnya.


"Jangan menyentuhku sembarangan!" ujar Tony Huo masih dengan nada dingin yang sama seperti sebelumnya. Ia melangkahkan kaki menuju ke kantornya diikuti oleh wanita itu.


"Apakah ada sesuatu yang mengganggumu, Kak?" wanita itu mempercepat langkahnya sehingga dapat berjalan beriringan dengan Tony Huo. Dia mampu merasakan sesuatu hal telah membuat Tony Huo merasa tidak tenang pagi ini. Menundukkan kepala seraya mengukir senyum dingin disertai ejekan; beberapa detik kemudian wanita itu tersenyum manis sembari menghadang langkah Tony Huo.


๐Ÿ Bersambung๐Ÿ