My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Kamu mengerjaiku, Tony Huo!



Senyum puas terpasang di bibir tipisnya, dari ujung matanya ia melirik wajah wanita muda dalam pangkuannya tersebut. Wajah yang dilihatnya merasa geli, lucu juga tak berdaya, apalagi tangan wanita itu mencengkeram erat lengan kemejanya. Senyumannya semakin lebar memperlihatkan wajahnya yang semakin tampan, nampaknya hati Tony Huo menjadi senang melihat istrinya tak berani berkutik. Kalau ia tahu dengan cara seperti itu akan membungkam Zelene Liang, pasti sudah ia lakukan sejak awal.


"Hahaha~" Tony Huo tertawa nyaring dan seisi kamar utama dipenuhi oleh tawanya. Napas hangatnya saat tertawa masih menyengat leher Zelene.


Akhirnya, setelah mendengar tawa pria itu, Zelene Liang membuka mata perlahan-lahan dan mendapati wajah tampan Tony Huo dengan tawa lebarnya. Alisnya segera membentuk benang kusut, dia merasa seperti dipermainkan oleh pria itu.


"Zelene Liang, lihatlah wajahmu barusan sangat lucu. Hahaha~" ucapnya dengan tawa yang tak henti. Tony Huo benar-benar merasa puas bisa mengerjai Zelene Liang. Walaupun awalnya ia tidak ada keinginan untuk melakukan hal tersebut karena spontan menarik Zelene ke dalam pangkuannya. Namun, ketika melihat keangkuhan Zelene Liang berubah menjadi rasa takut, membuatnya ingin menggoda wanita itu.


"Kamu mengerjaiku, Tony Huo!" dengan sorot mata penuh amarah di arahkan langsung pada pria itu. Zelene Liang semakin kuat mencengkeram lengan kemeja Tony Huo hingga lengan pria itu ikut tercekal dalam tangan ramping miliknya. "Dasar tak tahu malu, biarkan aku turun."


"Tak tahu malu katamu? Lihatlah wajahmu barusan sangat ketakutan. Kamu pikir, aku akan melakukan apa?"


Zelene Liang sempat dipenuhi oleh amarah beberapa saat lalu, kini dia terkekeh sejenak seperti amarahnya telah raib dihempaskan oleh angin yang memasuki kamar utama tanpa seizin si pemilik. Meskipun demikian, dengan cepat eskpresinya berubah dingin, Zelene sudah tidak tahan dengan pria sombong itu. Dia mendekatkan wajahnya ke bahu Tony Huo dan membuka mulutnya lebar-lebar lantas menggigit bahu yang tertutup oleh kemeja tersebut.


"Ah—" sontak rangkulan tangan Tony Huo pada pinggang Zelene—telah terlepas. "Zelene Liang!" bentaknya. Gigitan pada bahunya lumayan keras karena Zelene memberikan kekuatan penuh saat menggigit bahunya.


Dengan begitu, Zelene Liang turun dari pangkuan pria itu dan tidak lupa menginjak kakinya sebelum beranjak melangkah keluar dari kamar utama. Bam! Suara pintu tertutup. Zelene Liang bersandar pada pintu tersebut dan mengelus dadanya yang berdebar. Berkat amarah yang sempat dirasakannya rasa malu lantaran ejekan Tony Huo dapat dibenamkan olehnya.


Zelene Liang menghela napas, kemudian berjalan santai menuju tangga seperti tidak terjadi apa pun beberapa menit yang lalu, namun jika dia mengingat kembali bagaimana Tony Huo mengerjainya, dia sangat geram.


Kenapa juga aku malah memejamkan mata, seperti takut dan di saat bersamaan aku seperti menginginkannya juga. Apakah otakku sudah terkontaminasi oleh radiasi yang dibawa oleh Tony Huo? Batin Zelene.


🍁🍁🍁


Perlahan Tony Huo membuka kemejanya dan memperhatikan luka pada bahunya. Ia berpikir hal itu merupakan sebuah karma karena ia sendiri sempat menggigit bahu mulus Zelene Liang. Memang luka pada bahunya tidaklah terlalu sakit, namun cukup untuk membuatnya sadar akan apa yang telah ia lakukan barusan.


Tony Huo menyadari dirinya semakin dekat dengan Zelene Liang, meskipun ia baru saja pulang dan bertemu kembali dengan wanita bertubuh jenjang itu. Dalam benaknya, Zelene Liang memang sangat manis dan wajah ketakutannya pun cukup mengenaskan, walaupun Zelene Liang memiliki kepribadian angkuh. Tony Huo mengetahui hal tersebut dan entah ia mulai terbiasa saling membalas berucap angkuh, ya, karena ia sendiri memang pria yang dianggap cukup sombong dikalangan para pebisnis, juga kalangan kelas atas.


"Harusnya aku lanjutkan saja agar dia makin ketakutan. Tapi, bukan hanya takut, aku merasa dia geli saat napasku menyapu lehernya—" gumaman Tony Huo tercekat kala ia teringat kembali akan leher halus milik istrinya tersebut. Kembali rasa aneh menyeruak masuk ke dalam dadanya, serta debaran jantungnya meningkat seiring dengan ingatan akan leher putih milik Zelene Liang.


"Aku belum gila, sehingga jantungku berdebar untuk wanita itu." Tony Huo segera masuk ke kamar mandi. Ia tidak ingin mengakui bahwa Zelene Liang telah mendebarkan jantungnya yang selama ini berdetak normal ketika berhadapan dengan wanita-wanita yang pernah mengganggunya.


Plak! Dinding kamar mandi tersebut di hantam oleh kepalan tangan besarnya. Ia melupakan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan, yaitu tidak menggoda dan tidak memberi harapan apa pun yang menyangkut perasaan pada Zelene Liang.


"Tony Huo! Dasar tidak berguna! Sejak kapan kamu menjadi hangat dan tertawa riang bersama seorang wanita?" pekiknya pada dirinya sendiri.


🍁🍁🍁


Beberapa menit kemudian Tony Huo dengan wajah dinginnya menuruni tangga seraya melipat kedua lengan kemejanya secara bergantian. Dirinya melangkah ke ruang makan diiringi oleh tatapan lembut dari seorang pelayan yang bersembunyi di balik tiang penyangga. Tony Huo sadar akan tatapan tersebut, namun sengaja mengabaikannya karena menurutnya tidak terlalu penting. Ia sampai di ruang makan dan mendapati Zelene Liang masih memakan makan malamnya seperti siput, pelan dan pelan.


Kursi utama telah ditarik untuknya oleh butler Kim. "Silahkan, Tuan Muda."


Tony Huo hanya mengangguk lantas duduk di kursi tersebut, ia sama sekali tidak memperhatikan Zelene Liang, sedang atmosfer dalam ruang makan berubah total setelah kedatangan Tony Huo. Semula hangat, kini dingin dan semakin dingin karena Tony Huo tidak mengeluarkan suaranya.


Pria itu dengan elegan memotong steak di mejanya, tanpa menghiraukan wanita manis di sebelahnya.


Zelene Liang mengamati Tony Huo lantaran merasa ada sesuatu yang berbeda dengan pria di sebelah kanannya itu. Zelene sudah makan sejak tadi dan tidak ada maksud untuk menunggu Tony Huo, jadi ketika steak dalam piringnya telah habis. Dirinya beranjak dari kursi tanpa berucap.


Butler Kim sendiri juga merasakan keanehan pada pasangan tersebut. Seperti ada rasa canggung atau mencoba menghindari sesuatu dan agaknya tuannya sendiri yang sedang bermasalah di sini.


Tony Huo menaruh garpunya, lalu berucap. "Aku akan tidur di ruang belajar. Kamu bisa tidur di kamar utama malam ini."


Zelene Liang berhenti sejenak dan memalingkan tubuhnya menghadap pria itu, dia kembali duduk di kursinya dan mempertanyakan maksud dari Tony Huo. "Kamu membiarkan aku tidur di kamar utama? Bukankah semalam kamu mengusirku begitu saja, apakah kamu kasihan padaku?"


Mendengar percakapan yang akan berujung pada pertengkaran, butler Kim menyuruh para pelayan agar keluar dari ruang makan bersama dirinya; membiarkan pasangan itu memiliki ruang untuk berkomunikasi secara empat mata.


Ruang makan menjadi hening, Tony Huo meraih saputangan dan menyeka bibirnya. Pandangannya terarah pada Zelene, bukan pandangan hangat yang menggoda seperti tadi, melainkan tatapan dingin dari seorang Tony Huo. "Pekerjaanku banyak malam ini dan aku sudah memberimu ruang di kamar utama untukmu sendiri hanya malam ini saja. Besok aku akan menyuruh butler Kim menyiapkan kamar yang sama nyamannya dengan kamar utama."


"Jadi, kamu menyuruhku untuk tidur di kamar lain setelah dua tahun aku beradaptasi dengan kamar baru?! Kamu saja yang pindah! Sekalian pindah dari mansion ini!" pinta Zelene Liang dengan nada tinggi. Brak! Dia menggebrak meja membuat Tony Huo agak tersentak oleh sikapnya tersebut. Setelahnya, Zelene Liang meninggalkan ruang makan dengan marah.


🍁 Bersambung🍁