
Chairman Lee kembali ke kamar VIP dengan ekspresi jejap di wajahnya. Dia duduk di kursinya di bantu oleh asistennya.
"Kenapa kakek begitu lama?" Maureen Lee bertanya manja.
"Barusan aku menerima panggilan jadi agak lama. Ah, tadi juga aku bertemu dengan ... artis yang sedang dirumorkan itu. Siapa namanya aku lupa?" Chairman Lee mengingat wajah Zelene Liang dan Xie Yu Fan, namun dia dengan cepat melupakan nama mereka.
Alis Tony Huo terajut karena mendengar pasangan yang tengah di rumorkan membuatnya mengarahkan pikiran pada Zelene Liang dan Xie Yu Fan. Dia berniat untuk menghubungi Zelene Liang setelah makan siang mereka selesai. Akan tetapi Chairman Lee masih belum membicarakan masalah bisnis dan kini orang tua itu malah bergosip.
"Zelene Liang dan Xie Yu Fan." Ujar asisten berbusana hitam di sebelahnya mengingatkan nama keduanya.
Ketika mendengar kedua nama itu keluar dari mulut sang asisten. Darah dalam nadi Tony Huo seakan mendidih. Ternyata mereka sedang berada di restoran yang sama. Alisnya semakin terajut, ia sudah tidak memiliki keinginan untuk membicarakan bisnis apa pun karena saat ini Zelene Liang dan Xie Yu Fan yang tengah bersama memenuhi pikirannya.
Panas! Itulah yang dirasakan Tony Huo saat ini. Ubun-ubunnya terasa akan meledak mengetahui kedua orang itu sedang bersama. Untuk saat ini ia masih bisa bersabar dan tidak keluar dari kamar VIP tersebut untuk memergoki Zelene Liang. Tony Huo melonggarkan dasinya, tenggorokannya terasa amat kering dan AC dalam ruangan tersebut tak dapat mendinginkannya. Ia mengambil segelas air dan segera mengabiskannya.
"Ah, iya, benar. Aku bertemu mereka di depan kamar mandi wanita. Aku pikir selama ini rumor itu tidaklah benar. Namun nyatanya mereka berani sekali berpacaran di depan kamar mandi wanita. Sangat memalukan!" ucap Chairman Lee. Dia sama sekali tidak melihat wajah Tony Huo yang mulai menghitam.
Jemari Tony Huo terkepal di atas meja tersebut. Jika bisa ia akan mencekik leher lelaki tua itu karena telah mengatakan istrinya memalukan. Jantung Tony Huo telah berdetak kencang lantaran rasa geram yang ia rasakan saat ini. Belum ada kata-kata yang keluar dari bibir tipis itu.
"Apa? Benarkah kakek? Aku benar-benar tidak menyangka." Pertanyaan Maureen Lee malah menambah kekesalan Tony Huo.
"Tentu saja! Aku melihat mereka dengan mata kepalaku sendiri. Pria bernama Xie Yu Fan itu meletakkan kedua tangannya dia atas bahu perempuan itu. Memang terlihat mesra tapi mereka benar-benar tidak melihat tempat saat berpacaran. Beruntung kau gadis yang sangat anggun dan berpendidikan, Maureen."
"Kakek bisa saja."
Kekesalan Tony Huo sudah memuncak, wajahnya telah menghitam karena tak mampu lagi mendengar penghinaan terhadap istrinya. "Chairman Lee, jika Anda mengajakku kemari hanya untuk bergosip, maka lupakan saja! Aku akan pergi sekarang." Tony Huo berdiri dari duduknya, dia membenahi jas juga kancing manset pada pergelangan tangannya.
"CEO Huo mengapa buru-buru. Aku hanya—"
"Cukup!" Tony Huo beranjak dari sana daripada harus mendengarkan ocehan Chairman Lee mengenai istrinya.
Maureen Lee berdiri dan ingin mengejar Tony Huo. "Kak Tony!"
Tony Huo berhenti tepat di depan pintu, sedang Maureen Lee tersenyum puas karena panggilannya tidak diabaikan oleh Tony Huo.
"Chairman Lee, seharusnya Anda tidak menggosipkan orang lain dengan mulut tajam Anda, apalagi membicarakan hal-hal buruk tentang orang tersebut. Anda sudah banyak pengalaman, tetapi Anda malah seperti wanita yang suka bergosip. Aku sangat tidak suka ketika membicarakan hal yang tidak ada hubungannya dengan bisnis atau membawa orang lain kepertemuan kita." Tony Huo menengok ke belakang sembari menyeringai. "Contohnya seperti cucu Anda." Dia berbalik dan melangkah meninggalkan kamar tersebut.
Maureen Lee sangat kecewa akan ucapan Tony Huo. Dia terhenyak di kursinya karena kakinya terasa lemah.
"Kakek kenapa bisa jadi seperti ini?"
"Tenang saja Maureen."
🍁🍁🍁
"Proyek? Bisnis? Lupakan saja! Aku tidak ingin bertemu dengan orang tua itu lagi." Ucapnya geram. Ia mengambil smartphone-nya dan mencari nama Zelene Liang.
Setelah menemukan nama kontak istrinya. Ia malah bimbang akan menghubunginya atau tidak.
Terdengar suara dari kamar VIP di sebelahnya. Suara itu dikenali oleh Tony Huo. Sangat mirip dengan suara Xu Mo—asisten Zelene Liang. Sepertinya mereka ada di sana saat ini.
Tony Huo melangkah ke depan pintu tersebut lantas menekan nomor Zelene Liang. Panggilan tersebut tersambung dan segera suara Zelene Liang menyapa dari seberang telepon.
"Keluar sekarang juga!" nada dingin Tony Huo menghujam telinga Zelene Liang. Bahkan Duan Che yang berdiri di sampingnya merasa kedinginan mendengar suara Tony Huo.
"Apa maksudmu? Aku sedang makan siang bersama rekan kerjaku."
"Aku bilang keluar sekarang atau aku yang masuk ke dalam sana!" Tony Huo tidaklah main-main dengan ucapannya. Jika Zelene Liang tidak keluar, ia sendiri yang akan masuk ke dalam.
"Kamu? Apakah saat ini kamu sedang mengancamku?" suara Zelene Liang amat kecil. Dia berusaha agar ucapannya tidak di dengar oleh yang lain.
"Masih tidak ingin keluar?! Baiklah—"
"Aku keluar sekarang! Jangan berani masuk kemari!" potong Zelene Liang, kemudian panggilan tersebut langsung dimatikan olehnya.
"Heh? Jangan berani masuk ke dalam sana?!" Tony Huo semakin geram akan hal itu. Ia ingin sekali masuk ke dalam sana dan menarik tangan Zelene Liang.
Beberapa saat kemudian, pintu tersebut terbuka dan Zelene Liang keluar dari sana. Mata mereka bersirobok membuat Zelene Liang agak kaget menemukan Tony Huo berada di depannya. Namun hal itu sudah bisa dia duga sebelumnya, ketika Tony Huo mengancam akan masuk ke dalam kamar VIP tadi.
"Kamu juga makan siang di sini? Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku di sini?"
"Jangan banyak bertanya dan ikut aku!" Tony Huo meraih pergelangan tangan Zelene Liang dan menarik wanita itu membawanya ke dalam lift menuju lantai 1.
Duan Che terbengong karena ditinggal sendirian, setelahnya dia sadar menunggu lift berikutnya. Dia baru saja ingat kalau Tony Huo telah meminta kunci mobil darinya. Jika dia tidak segera bergegas menyusul mereka, maka dia akan ditinggalkan.
"Tunggu! Tuan dan Nyonya sepertinya ingin berduaan. Hah, mengapa aku harus mengejar mereka?" Duan Che menggelengkan kepala, dia mengurungkan niatnya untuk menyusul pasangan itu.
Sementara itu, Tony Huo menarik Zelene Liang menuju tempat parkir.
"Tony Huo! Sejak tadi kamu menyeretku, sebenarnya apa masalahmu?"
"Masuk ke mobil!" perintahnya.
Zelene Liang berdecak kesal. Dia masuk ke dalam mobil karena di luar begitu panas. Di dalam mobil nanti terserah padanya akan melakukan apa pun pada Tony Huo.
🍁Bersambung🍁