My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Hm, ternyata dia pria yang sangat sombong



Benci. Itulah yang dirasakan Xie Yu Fan pada Tony Huo. Awalnya pria itu menghormati Tony Huo, kini semua rasa hormat itu telah terhapuskan oleh kesombongan Tony Huo yang tidak mau menjabat tangannya. Apa masalahnya? Saat ini Xie Yu Fan sedang menebak-nebak. Wajahnya nampak gusar setelah keluar dari gedung Huo Enterprise.


Dirinya tidak berbincang lagi dengan Zelene dan memutuskan untuk masuk ke mobilnya, kemudian pergi mendahului Zelene. Mobil Xie Yu Fan tengah melaju di jalan menuju apartemennya. Qing Yuan sesekali mengamati artisnya karena mendapati bahwa, Xie Yu Fan tidak berkata apa pun setelah masuk ke dalam mobil.


"Yu Fan, kali ini apa yang membuatmu mengerutkan alis begitu kuat?" tanya Qing Yuan yang masih melirik pria berambut coklat itu dari kaca spion depan, namun dengan cepat dia meluruskan pandangan ke depan dan fokus melajukan mobilnya.


Tekanan kuat pada alis Xie Yu Fan perlahan dikendurkan, dia menarik napas pelan dan merilekskan wajahnya yang terasa agak kaku barusan. "Tony Huo."


"Ada apa dengan CEO Huo? Apa dia membuatmu tidak nyaman?"


"Hm, ternyata dia pria yang sangat sombong. Hahaha ...," Xie Yu Fan tertawa masam. Dia malu karena Tony Huo membiarkan dirinya menunggu setelah mengulurkan tangan sebagai jabat tangan di akhir pertemuan mereka. "Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang tidak menghargai kehadiranku, seperti Tony Huo." Seringai di bibirnya terangkat perlahan.


Qing Yuan sekilas menengok ke kursi belakang saat mobil mereka berhenti di depan lampu lalu lintas. "Yu Fan, dia hanya tidak ingin menjabat tanganmu. Mungkinkah kau akan ...." Qing Yuan sengaja menghentikan ucapannya.


"Dia tidak menghargaiku, Kak Qing, bukankah kau tahu bahwa orang-orang akan memandikanku dengan penghargaan. Aku sudah merasakan sesuatu yang aneh malam itu saat di Club." Dia menatap Qing Yuan melalui kaca spion saat mobil kembali melaju. "Zelene Liang dan Tony Huo sepertinya memang memiliki hubungan tersembunyi."


"Sudahkah kau memastikan hubungan antar keduanya?"


"Hanya praduga, tapi aku akan memastikannya lagi." Xie Yu Fan mengelus bibirnya ketika dia membayangkan bibir mungil Zelene saat berada di kantor Tony Huo barusan.


"Terserah kau saja. Tapi, jangan lupa siapa Zelene Liang." Ucap Qing Yuan mengingatkan Xie Yu Fan.


"Mana mungkin aku lupa. Kita akan mendapatkannya dikemudian hari setelah aku selesai bermain dengannya." Seringai di bibirnya makin tajam.


🍁🍁🍁


Hari sudah sore; Zelene diantarkan oleh agennya kembali ke kediaman Xue Garden. Meskipun Zelene bersama dengan agennya—kedua pengawal yang bertugas menjaganya tetap mengikutinya dari belakang. Selama di dalam mobil Zelene cemberut dan hanya diam hingga tiba di kediamannya, barulah ia membuka mulutnya.


"Apakah kalian berdua mau mampir sebelum pulang?" tanyanya pada kedua orang yang sudah ia anggap sebagai sahabat baiknya tersebut.


"Tidak, Lene, aku akan kembali ke apartemenku." Sahut Hanna.


"Aku juga akan pulang, hari ini aku merasa sangat lelah." Ucap Xu Mo saat memarkirkan mobil di depan pintu utama kediaman tersebut.


"Aku belum bertanya padamu, kenapa kamu cemberut sejak kita meninggalkan Huo Enterprise?" tanya Hanna, penasaran karena semenjak mereka keluar dari Huo Enterprise; wajah Zelene menunjukkan ketidaksenangan dan nampak lesu, serta ia terus saja cemberut tanpa berkata apa pun pada mereka.


"Hah," Zelene menghela napas, "Tony Huo membuatku kesal, dia mencariku dan masuk ke kamar mandi wanita."


"Apa—" pekik Xu Mo, namun dengan cepat dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat karena tidak percaya Tuan Muda Huo akan mendatangi istrinya ke kamar mandi wanita. Kamar mandi wanita! Tegas Xu Mo dalam pikirannya.


Demikian pula dengan Hanna yang memiliki wajah penasaran terpampang sangat jelas ketika dia memperhatikan Zelene dengan sorot antusias.


"Kalian berpikir aneh-aneh, 'kan?" Zelene bertanya pada keduanya karena ia yakin sekali mereka berpikir macam-macam. Ya, pikiran seperti yang Tony Huo lakukan padanya di dalam kamar mandi tersebut.


"Pikiran aneh apa yang mungkin kami pikirkan, Lene? Aku sedang memperhatikan bibir merah jambumu, kenapa tidak ada lipstik di sana?" perhatian Hanna tertuju pada bibir mungil Zelene Liang.


Zelene Liang menyentuh bibirnya sendiri menggunakan tangan kanannya. "Ah, aku menghapusnya ketika di kamar mandi karena lipstiknya sudah agak pudar, sekalian saja aku hapus."


"Sudahlah, tidak usah dipertanyakan lagi. Yang perlu kalian ketahui, tidak ada apa pun yang terjadi. Aku kesal padanya juga karena dia tidak membalas jabat tangan Xie Yu Fan dan langsung mengusir kami keluar dari kantornya."


"Ah, jadi begitu. Hm, kami akan pulang sekarang. Sebaiknya kamu tidak mencari masalah dengan suamimu hanya karena kamu kesal padanya."


"Baiklah, Kak Hanna—aku mengerti—kalian hati-hati di jalan." Zelene lantas keluar dari mobilnya ketika pintu mobil itu dibuka secara otomatis.


Setelah Zelene turun dari mobil tersebut, tanpa berlama-lama mobil yang dikendarai oleh Xu Mo langsung menuju pintu gerbang utama dan meninggalkan kediaman Xue Garden.


"Anda sudah tiba, Nyonya." Sapa butler Kim.


Pria berambut perak itu sudah berada di depan pintu mansion sebelum Zelene bisa membunyikan bel. Dia tahu Nyonya rumahnya sudah pulang terlihat dari kamera keamanan, jadi siapa pun yang memasuki mansion, butler Kim pasti akan tahu.


"Perlukah saya membuatkan teh untuk Anda?" butler Kim bertanya seraya mengikuti Zelene yang memasuki mansion dengan langkah santai.


Zelene menghentikan langkahnya ketika ia melihat Sarah Wu serta para pelayan lainnya sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Dari menata ruang tamu, mengganti vas bunga yang dilakukan dua kali dalam sehari. Ia mengamati perempuan yang kiranya seusia dengannya. Baru kemarin Sarah Wu dibawa ke rumah sakit akibat tertumpah oleh sup panas, kini dia sudah bisa bekerja, namun Zelene bisa melihat bahwa perempuan itu melakukan kegiatannya dengan pelan. Agaknya rasa melepuh pada kulitnya masih terasa.


"Butler Kim," Zelene menoleh ke arah butler Kim. "Siapa nama pelayan yang tertumpah sup kemarin?"


Butler Kim menyahut dengan cepat, "Sarah Wu, Nyonya. Apakah Anda perlu sesuatu dengan pelayan itu?"


"Kenapa dia sudah bekerja, bukankah seharusnya dia beristirahat?" tanyanya sembari perhatiannya tetap mengarah pada Sarah Wu yang sedang menata bantal pada ruang tamu megah—mansion tersebut.


Butler Kim ikut memperhatikan Sarah Wu, kemudian pandangannya dialihkan kembali pada Zelene, dan berkata, "Dia berkata sudah baik-baik saja dan ingin bekerja kembali. Jadi, saya mengijinkannya."


"Begitu rupanya. Aku akan ke atas sekarang." Zelene mengambil langkah pelan menuju tangga diiringi oleh tundukkan kepala dari para pelayan memberikan hormat padanya. Ekor matanya sesekali melirik Sarah Wu yang juga menjeling ke arahnya. Zelene tersenyum berkat tingkah perempuan itu. Sudah jelas sekali Sarah Wu memiliki perasaan tidak senang padanya dan bisa mengarah ke rasa benci, namun mengapa?


Apakah aku harus mencari tahu penyebabnya? Sorot mata perempuan itu sungguh membuatku risi.


Ia geleng kepala dan segera menaiki tangga.


🍁🍁🍁


2 jam kemudian Tony Huo tiba di kediamannya dengan langkah dipercepat. Ia bahkan tidak memedulikan butler Kim yang menyapanya dan langsung menuju ke lantai dua.


Setelah Zelene dan Xie Yu Fan keluar dari ruangannya beberapa jam yang lalu, mood Tony Huo menjadi buruk karena menyaksikan mereka keluar dan berjalan beriringan layaknya pasangan kekasih. Itulah mengapa hati Tony Huo terasa gusar.


Ia sudah sampai di lantai dua—tepatnya di depan kamarnya, lantas membuka pintu kamar utama hanya untuk mendapati Zelene yang baru keluar dari kamar mandi. Wanita muda berusia 26 tahun itu hanya mengenakan jas mandi berwarna putih.


"Tony Huo," Zelene kaget ketika menemukan Tony Huo berdiri di ambang pintu.


Pria itu menatap Zelene sejak dirinya membuka pintu dan tidak ada niat untuk masuk, namun hanya memandangi saja tanpa mengucap kata apa pun. Sejenak kemudian Tony Huo tersadar lantas memalingkan muka ke arah luar.


"Aku akan pergi ke ruang belajar!" serunya. Bam! Tony Huo menutup pintu tersebut dengan grogi.


🍁 Bersambung🍁