My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Mau ke mana?



Aku telah menurunkan egoku untuknya?


“Zelene Liang, egoku masih tetap sama dan tidak ada yang berubah. Mungkin hanya perasaanmu saja. Atau bisa jadi kamu sudah mulai jatuh cinta dan berharap padaku benar, ‘kan?” Tony Huo membalikkan keadaan.


Ia hampir saja mengeluarkan keringat, ada rasa malu-malu yang dirasakan saat ini. Apakah perasaannya untuk Zelene Liang begitu kentara sehingga ditangkap oleh wanita itu? Ataukah ia sendiri yang belum menyadari dan tidak ingin menyadarinya?


Tony Huo benar-benar tidak ingin memikirkan hal itu, toh, Zelene Liang adalah miliknya dan pria lain tidak mungkin dapat merebut darinya. Bersaing dengan Tony Huo sama saja dengan mengantar nyawa.


“Aku jatuh cinta padamu?” Zelene Liang meraih kepala Tony Huo, dia mendekatkan kepalanya dan membenturkan kepala mereka satu sama lain. “Akh! Rasanya sakit.”


“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”


Tony Huo segera mengusap dahi Zelene Liang, memindai dengan saksama apakah dahi wanita itu terluka karena dahinya sendiri cukup keras. Jadi, ia tidak merasakan sakit sama sekali.


“Rasanya sakit. Jadi tidak mungkin aku jatuh cinta padamu.” Zelene Liang kembali bersandar dan mengusap-usap dahinya menggunakan jemari tangan kanannya. Dia tidak melihat ekspresi Tony Huo yang sudah berubah.


Jadi dia belum memiliki perasaan padaku? Tony Huo bertanya dalam benaknya. Sedingin apa hati Zelene Liang sehingga ia masih belum juga bisa berada dalam hatinya. Sementara, ia sendiri tengah merasa kebingungan dengan perasaan yang menderanya. Apakah hanya dia sendiri yang merasakannya? Ataukah semua ini balasan karena telah menyia-nyiakan Zelene Liang?


Tony Huo beranjak dari ranjang, ia melangkah ke arah balkon yang membawa angin malam masuk ke dalam ruangan megah itu. Semilir angin sejuk di musim panas lebih menyegarkan daripada menggunakan mesin pendingin ruangan.


Netra Zelene Liang menangkap langkah malas Tony Huo menuju ke arah balkon. “Ada apa dengannya?” Zelene Liang mengelus perutnya, “aku merasa lapar.”


Sementara itu, lengan Tony Huo bertumpu pada pagar balkon, ia menatap taman luas di belakang kamar mereka. Pemandangan malam yang cukup asri di kediaman besar itu, serta cuaca cerah menambah kecantikan taman belakang ketika tertangkap netranya.


Tony Huo masih mengenakan mantel mandi, bukan karena ia lupa menggantinya, tapi ia sengaja membiarkannya tetap begitu. Ia bungkam dalam dilema, sejenak dia menoleh pada Zelene Liang di atas ranjang yang juga menoleh ke arahnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah aku ada salah bicara?” Zelene Liang menegakkan badannya menatap lekat pada wajah tampan itu.


Kesegaran aroma bunga yang dibawa masuk oleh angin tanpa ijin memasuki indra penciuman Zelene Liang layaknya aroma terapi tengah menyapa hidungnya. Dia ingin tidur dalam dekapan aroma ini, tetapi saat ini perutnya sangat lapar.


Namun, ia mengurungkan pertanyaan itu dan menelannya untuk dirinya sendiri. “Kamu tidak salah apa-apa, aku hanya memikirkan pekerjaanku. Apakah kamu lapar? Aku akan menyuruh Bibi Qin membuatkan bubur untukmu, kamu harus minum obat setelahnya.”


Zelene Liang mengangguk, kebetulan dia memang sedang lapar saat ini.


“Baiklah, aku akan ganti baju dulu. Bagaimana dengan pelayan bernama Sarah Wu itu, kamu tidak memberikannya hukuman? Padahal aku memberikannya padamu sebagai hiburan.” Tony Huo melangkah menuju almarinya mencari kemeja untuk dikenakan.


Menatap datar pada punggung Tony Huo, Zelene Liang melipat tangannya ke depan setelah merebahkan punggungnya. Lagi-lagi dia diingatkan akan pelayan bernama Sarah Wu yang pernah berharap menggoda Tony Huo.


Memberikan padanya sebagai hiburan? Pelayan itu hanya akan membuat Zelene kesal. Namun masih ada sesuatu yang aneh dengan Sarah Wu. Oleh karena itu Zelene Liang tidak memecat dan membiarkan Sarah Wu tetap tinggal sampai dia menemukan sesuatu yang salah tersebut.


Zelene Liang mendengus kesal, dia melengos ketika Tony Huo menggodanya dengan sengaja berganti pakaian di depannya. Akan tetapi sesekali ekor matanya melirik ke arah pria itu.


🍁🍁🍁


Setengah jam kemudian bubur yang telah disiapkan oleh Qin Zhuo An telah habis dicerna olehnya. Rasa laparnya telah lenyap dengan semangkuk bubur hangat dan yang membuatnya tambah berselera, dan Tony Huo sendiri menyuapinya.


“Minum obatmu, lalu tidurlah.” Tony Huo memberikan beberapa butir obat yang harus diminum oleh Zelene Liang juga segelas air putih.


“Pahit sekali.” Zelene Liang berucap tidak senang ketika dia telah selesai menelan satu per satu obatnya. Dia mengembalikan gelas tersebut pada Tony Huo.


Setelahnya Tony Huo beranjak dari tepi ranjang, tapi lengan kemejanya ditarik oleh Zelene Liang, “Mau ke mana?”


“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, tidurlah duluan.”


🍁Bersambung🍁