
Tadi malam mereka tidur bersama di atas ranjang yang sama setelah Tony Huo menyelesaikan meninjau beberapa dokumen. Ketika Tony Huo mengajak Zelene Liang untuk berkencan, wanita itu tidak memberikan tanggapan apa pun padanya.
Pagi ini mereka bangun bersama, namun Zelene Liang membiarkan Tony Huo mandi terlebih dahulu dan dia sendiri masih bermalas-malasan di atas ranjang besar tersebut.
Suara pintu terbuka membuat Zelene Liang melirik ke arah asal suara, dia mendapati badan Tony Huo terbungkus mantel mandi berwarna putih, sedang mantel pada bagian dadanya sedikit terbuka, serta rambutnya yang setengah basah. Aroma dari shampoo yang digunakan oleh Tony Huo juga beraroma lemon, Zelene Liang dapat mencium aroma tersebut sangat mirip dengan shampoo yang dipakainya.
"Mandilah! Kita akan berangkat bersama."
Bangkit dari ranjang, Zelene Liang menghampiri Tony Huo. Dia meraih leher Tony Huo mengakibatkan mata pria itu membulat dan sedikit mengernyit.
Zelene Liang mengendus rambut Tony Huo dan benar saja shampoo yang digunakan oleh pria itu merupakan shampoo yang biasa digunakan olehnya. Perlahan Zelene Liang mulai melepaskan kedua tangannya dari leher Tony Huo. Akan tetapi pinggangnya segera dirangkul oleh pria itu.
"Ah! Kamu memakai shampooku, Tony Huo?"
Tadinya Tony Huo berpikir bahwa Zelene Liang akan mencium keningnya, namun siapa sangka dia mengendus bau shampoo yang digunakannya. "Hanya shampoo apa masalahnya? Aku salah mengambil benda itu dan karena sudah terlanjur jadi aku pakai saja." Ucapnya santai.
Tony Huo membenamkan wajahnya ke leher Zelene Liang, dan menggosok-gosokan hidungnya di sana, menyebabkan Zelene Liang sedikit menggelinjang karena merasa geli. Sementara itu tubuhnya dirangkul oleh kedua tangan besar milik pria itu, jadi dia tidak bisa melepaskan dirinya.
Tertawa geli, Zelene Liang memukul dada Tony Huo. "Tony Huo hentikan! Aku akan mandi. Aku akan mandi." Kesegaran dari tubuh Tony Huo dapat tercium dengan jelas oleh indra penciumnya. Rasanya Zelene Liang ingin berlama-lama berada dalam posisi saat ini.
"Heh," sebelum menarik wajahnya, tidak lupa Tony Huo menanamkan kecupan pada leher putih itu. Barulah ia membiarkan Zelene Liang lepas dari rangkulan kedua tangan besarnya. "Kamu masih bau dan bodohnya aku sudah memelukmu. Sepertinya aku harus mandi lagi. Masih ada cukup waktu sampai sarapan nanti." Ujung bibir kanannya terangkat dan mata Tony Huo memindai tubuh Zelene Liang yang terbalut dalam gaun tidur berwarna ungu.
Seperti dapat membaca pikiran Tony Huo; Zelene Liang berlari ke kamar mandi. Tangannya meraih gagang pintu, dia melirik Tony Huo tanpa membalikkan badannya. Seulas seringai muncul dari bibir mungil itu, "Tony Huo, rasanya kamu sudah terlalu banyak mengambil keuntungan dariku. Oh, iya, aku akan mulai meminta kompensasiku." Pintu dibuka, Zelene Liang segera masuk ke dalam tanpa menunggu tanggapan dari pria itu. Bam! Pintu kamar mandi tertutup rapat.
Tony Huo mengangkat kedua bahunya. Dia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Mengambil keuntungan darinya?" gumamnya. Ia berbalik menuju ke arah almarinya. Lagi-lagi ia harus menyiapkan keperluannya sendiri karena Zelene Liang tidak pernah berpikir untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya hari ini, apalagi hal sederhana seperti memilihkan dasi. Tony Huo menggeleng. "Aku akan mengambil lebih banyak keuntungan lagi dari wanita sombong itu. Tunggu saja!" gumamnya kesal.
πππ
Keduanya telah selesai sarapan dan bersiap memasuki mobil. Hari ini mereka berangkat bersama lagi. Duan Che telah membukakan pintu untuk mereka, dia mengedarkan pandangannya dan melihat bahwa langit hari ini cukup cerah, lalu mengelih pada pasangan yang saat ini berjalan ke arah mobil. Suasana nampak harmonis. Duan Che berharap tidak ada lagi benda jatuh dari tas Zelene Liang seperti kemarin. Atau wajah pria itu akan kembali kelam dan dia bisa mendapatkan tekanan batin karena hal itu.
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Beberapa detik kemudian mobil melaju meninggalkan kediaman Xue Garden. Atmosfer di dalam mobil nampak hangat, meski Zelene Liang memperlihatkan wajah cuek.
Tangan Zelene Liang terlipat di depan dadanya, dia menyandarkan punggungnya dan salah satu kakinya bertumpu dengan kaki yang lain. Dia mulai menampakkan senyum miring, serta sorot matanya di arahkan pada Tony Huo. "Aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau. Tapi sekarang aku berubah pikiran, daripada menggunakan uangku sendiri akan lebih baik menggunakan milik suamiku, 'kan? Hm ..., selama dua tahun kamu memang memberiku uang bulanan dan semua itu belum aku gunakan sama sekali." Dia meluruskan pandangannya.
"Lantas apa yang kamu inginkan?"
Zelene Liang menengadahkan tangannya. "Kartu hitam." Ucapnya singkat.
"Hanya itu saja?" Tony Huo segera merogoh dompetnya dan mengambil kartu hitam miliknya. Kartu tersebut memiliki jumlah pengeluaran tak terbatas dan yang memiliki kartu hitam pun adalah orang-orang tertentu saja. "Bukankah kamu juga punya?" tanyanya lagi. Nampaknya Zelene Liang tidak ingin menggunakan kartu hitam miliknya dan ingin menghabiskan uang milik Tony Huo.
"Aku ingin gunakan milikmu. Tidakkah kamu lihat kukuku masih rusak? Bagaimana jadinya besok kalau kukuku masih belum cantik."
Melihat pada kuku-kuku yang pernah digunakan mencakar dadanya terlihat kuku itu seperti kuku tak terawat sama sekali. "Kamu belum memperbaiki kukumu? Padahal insiden malam itu sudah lama sekali terjadi. Harusnya kamu buru-buru ke salon dan mempercantik kukumu. Tapi tetap saja itu salahmu, aku tidak pernah menyuruhmu untuk menggilai dadaku hingga air liurmu keluar dan mencakar dadaku."
Cengkeraman Zelene Liang pada kartu hitam di telapak tangannya tersebut semakin erat. Matanya spontan membulat di arahkan pada Tony Huo. Dia ingin memakan pria itu hidup-hidup atau menendangnya keluar dari mobil.
Nampak dari kaca spion, ujung-ujung pada bibir Duan Che terangkat. Pasangan itu sangat lucu di matanya. Dia sendiri merasa terhibur dengan atmosfer di dalam mobil saat ini. Zelene Liang terkenal dengan keangkuhannya, namun saat ini Tony Huo sedang menjatuhkan kesombongan wanita itu.
"Tony Huo, aku akan membunuhmu!" menggeram, Zelene Liang melengos begitu saja. Kedua jemari tangannya masih terkepal.
πππ
Sementara itu, sebuah mobil van hitam berada di belakang mereka. Mobil itu sedari tadi telah mengikuti arah mobil Tony Huo.
Kedua pria yang berada di dalam mobil terus mengawasi mobil Roll Royce Phantom yang dikendarai oleh Duan Che.
"Kak Qing, kita akan tiba pada waktu yang sama di LC Entertainment dengan mereka. Kita tidak boleh membiarkan kesempatan ini terbuang sia-sia." Pria berambut cokelat itu berujar antusias.
π Bersambungπ