
"Kak Tony," panggilnya dengan lembut.
Tony Huo mengerutkan dahinya. Tanpa meminta ijin, Maureen Lee memanggilnya dengan sebutan kakak. Tony Huo hanya menatapnya dan tak berucap apa pun.
"Hum, maaf. Aku tidak meminta ijin untuk memanggilmu seperti itu, CEO Huo. Jadi apakah boleh aku memanggilmu 'Kak Tony'?" Maureen Lee meminta ijin Tony Huo seraya tersenyum manis pada pria itu.
Mereka baru pertama kali bertemu, namun Maureen Lee telah sejak lama mengagumi Tony Huo. Dia merupakan salah satu dari penggemar Tony Huo. Usianya memang masih cukup muda dibandingkan dengan Zelene Liang, akan tetapi kecantikan yang dimiliki Maureen Lee dapat disandingkan dengan Zelene Liang.
Makan siang kali ini, Maureen Lee secara khusus berdandan hanya untuk dilihat oleh Tony Huo, dan sengaja tidak sarapan agar gaun yang dia kenakan terlihat sempurna di tubuh langsingnya.
Tony Huo sebenarnya sangat malas jika harus berbincang dengan orang yang tak ia sukai. Meski begitu, ia tetap menjawab Maureen Lee, "Terserah." Ia tidak begitu peduli, dan menganggap Maureen Lee hanyalah seorang gadis remaja di matanya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memanggilmu, Kak Tony saja agar lebih akrab." Dia tertawa senang sembari menutupi bibirnya dengan telapak tangan, lantas kembali menyantap makan siangnya.
Akrab? Siapa yang ingin akrab denganmu? Tony Huo menggelengkan kepalanya dan berharap tidak akan bertemu lagi dengan Maureen Lee. Jika Zelene Liang melihat gadis ini juga mengejarnya, apa yang akan wanita itu katakan padanya nanti? Bisa-bisa Zelene Liang akan menertawakannya.
Memang saat ini, Maureen Lee masih diam, tapi dari gelagatnya dan panggilan untuk Tony Huo. Rasanya gadis ini akan sulit untuk dihentikan. Apalagi dukungan kuat dari kakeknya, dan dari mata Chairman Lee sudah tersirat sesuatu yang mungkin saja sudah dibayangkan oleh Tony Huo. Membayangkan saja membuat Tony Huo merinding.
Tony Huo menyelesaikan makan siangnya dan menyeka bibirnya. Ia berhenti ketika mendengar suara Maureen Lee.
"Kak Tony, ngomong-ngomong apa hobi, Kakak?"
Hobi? Apakah saat ini acara makan siang ini, sudah menjadi kencan buta? Dalam benaknya Tony Huo meronta ingin keluar dari sana.
"Bekerja."
"Oh." Sejak tadi hanya jawaban singkat yang didengar oleh Maureen Lee. Memang mengecewakan, tapi dia tahu kalau Tony Huo adalah pria yang sangat dingin. "Kapan-kapan bagaimana kalau kita makan siang berdua saja?" Maureen Lee masih belum menyerah dalam menggali topik pembicaraan.
Gadis ini sangat cepat dalam mengambil langkahnya. Dia tidak sungkan untuk mengajak Tony Huo makan siang bersama.
"Apakah kau mengajakku berkencan, Nona Lee?" sorot mata Tony Huo mengarah tidak percaya pada Maureen Lee.
"Haha," Maureen Lee terkekeh. Dia cukup senang dengan tanggapan Tony Huo. "Tentu saja tidak. Mengajak makan siang bersama, apakah itu dinamakan sebagai kencan? Hum ..., aku tidak pernah menawarkan pergi makan siang dengan seorang pria sebelumnya. Jadi, apakah tadi aku telah mengajak Kak Tony untuk pergi berkencan denganku?" tatapan mata polos dilemparkan pada Tony Huo.
"Tentu saja tidak. Siapa yang akan menganggap makan siang sebagai kencan? Tapi maaf, Nona Lee, aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Banyak wanita yang mengajakku makan siang bahkan makan malam. Tapi semuanya aku tolak karena aku sangat sibuk."
Maureen Lee menunduk kecewa, dia mengepalkan tangannya karena penolakan Tony Huo. Maureen Lee banyak dikejar oleh para pria dan belum pernah ditolak sebelumnya. Saat ini satu-satunya pria yang dikaguminya telah menolaknya dengan alasan sibuk? Juga banyak wanita yang telah ditolak oleh Tony Huo dan Maureen Lee merupakan salah satu dari wanita yang ditolak oleh Tony Huo. Gadis itu merasa harga dirinya telah jatuh ke dasar laut.
"Tidak apa-apa, aku hanya senang bertemu denganmu Kak Tony, bukan berarti aku ingin menjadi salah satu dari kekasihmu. Kakak berpikir terlalu jauh, hehe." Dengan cepat Maureen Lee telah mengubah suasana hatinya. Dia merupakan orang yang tidak mau kalah dan tidak mudah dijatuhkan oleh kata-kata sarkas Tony Huo.
Begitukah? Aku berpikir terlalu jauh? Gadis ini cukup pintar dibandingkan para wanita diluar sana yang tergila-gila padaku.
๐๐๐
"Kenapa Kak Liang lama sekali?" Xu Mo resah sejak tadi dan tidak bisa fokus dengan makan siangnya. "Aku akan pergi mencarinya." Dia berdiri dari duduknya, namun dihentikan oleh Xie Yu Fan.
"Biar aku saja."
"Eh? Kau seorang pria, apakah kau akan masuk ke kamar mandi wanita?" tanya Hanna Gu terheran. Dia juga khawatir karena Zelene Liang sangat lama di kamar mandi.
"Kenapa kalian begitu khawatir? Bisa saja noda pada gaunnya susah dihilangkan atau dia mengalami sembelit."
Kalimat itu keluar dengan santai dari mulut Huang Fu Lie sembari memasukan makanan ke mulutnya. Dia mengangkat kepalanya dan memperhatikan ketiga orang itu melongo menatapnya.
"Ada apa?"
Ketiganya menggelengkan kepala secara bersamaan.
Huang Fu Lie melanjutkan melahap makan siangnya, tidak peduli dengan kekhawatiran mereka bertiga.
"Kalau begitu aku dan Xie Yu Fan akan menyusul Zelene. Ayo, Yu Fan." Ujar Hanna beranjak dari duduknya.
"Bagaimana denganku?" Xu Mo menatap Hanna Gu, lantas mengelih pada Huang Fu Lie. Dia tidak ingin berada di satu ruangan sendirian bersama dengan pria es itu.
"Duduk! Aku tidak akan menjadikanmu makan siangku." Ucapnya dengan dingin.
Xu Mo lantas terduduk. Dia meneguk air pada gelasnya. "Tidak apa-apa, kalian pergilah sebelum sesuatu terjadi pada Kak Liang."
Hanna Gu mengangguk. "Baiklah." Dia dan Xie Yu Fan meninggalkan kamar VIP tersebut yang hanya menyisakan Xu Mo dan Huang Fu Lie.
Mereka menuju ke kamar mandi, dan tidak melihat satu orang pun keluar ataupun masuk ke kamar mandi tersebut.
"Kak Hanna, aku akan ke kamar mandi pria sebentar. Aku tidak mungkin masuk ke kamar mandi wanita. Aku tidak akan lama dan menunggu kalian diluar."
"Hem,"
Mereka berpisah di depan kamar mandi wanita. Setelah Xie Yu Fan hilang dari pandangannya, Hanna Gu meraih gagang pintu kamar mandi tersebut, tetapi sebelum dia membuka pintu kamar mandi, seorang wanita menggunakan seragam cleaning servis berdiri di sebelahnya dan berkata, "Kamar mandi ini rusak. Jadi Nona tidak bisa menggunakannya. Pergilah ke lantai bawah."
"Oh, begitu rupanya. Terima kasih." Hanna Gu berbalik ke arah lain, namun sesuatu mengganggu pikirannya. Jadi dia ingin bertanya pada wanita itu. "Tapi kenapa tidak ada pemberitahuan di kamar manโ" dia menghentikan ucapannya karena wanita tadi sudah tidak ada di sana.
Hanna Gu merasa bingung. Dia kembali meraih gagang pintu itu lalu mencoba untuk membukanya, "Ternyata memang benar-benar rusak. Mungkin Zelene di kamar mandi lain jadinya agak lama. Aku juga tidak bisa meneleponnya karena dia tidak membawa smartphone."
๐Bersambung๐