My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Aku ... akan ...ugh ... ugh



Entah mengapa hati Tony Huo diserbu oleh kehangatan dan ia memiliki keinginan untuk memeluk balik wanita di hadapannya, tetapi tangannya tak bergerak sama sekali. Ia memperhatikan pucuk kepala Zelene dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan. Aksi wanita itu memang membuatnya geram beberapa saat lalu, namun saat ini rasa geram itu telah tergantikan dengan kehangatan, ia membiarkan Zelene membenamkan wajahnya selama yang dia inginkan.


"Hangat," ucap Zelene lembut.


Napas wanita itu menggelitik dada Tony Huo dan senyum hangat tersungging samar di bibir tipisnya.


"Ngomong-ngomong ...," ucapan Tony Huo sengaja dipotong, ia menatap mata wanita yang saat ini mendongak menatapnya balik, lalu ia melanjutkan ucapannya, "kamu sangat dekat dengan Xie Yu Fan?"


"Hm ...? Xie Yu Fan?" Zelene mulai menjelajahi ingatannya di tengah badai alkohol yang diminumnya tadi, kemudian matanya bersinar seperti mengingat sesuatu, "oh, pria tampan itu! Ah, dia sangat baik padaku juga sangat tampan."


Senyum samar di bibir Tony Huo perlahan memudar dan kehangatan yang ia rasakan juga perlahan tenggelam karena mendengar pujian Zelene kepada pria lain, sedangkan ia sendiri merupakan suaminya.


"Mungkinkah kalian berkencan?" Tony Huo tanpa basa-basi melontarkan pertanyaan yang sejak tadi tertahan di ujung lidahnya.


Zelene Liang terdiam untuk beberapa saat, sebelum menjawab pertanyaan Tony Huo, "Apa aku berkencan dengannya? Dia baik padaku dan ...."


"... Dan apa?"


"Dan ... dan ... tidak ada lagi." Sahutnya terputus-putus sembari mengamati wajah pria di hadapannya itu, ia mengangkat tangan kanannya, kemudian menyentuh wajah muram Tony Huo, wajah itu kusut juga ada rasa sakit ditandai oleh aliasnya yang berkerut. Tangan Zelene Liang berselancar dari dahi hingga ke dagunya.


"Hanya itu saja?" tanya Tony Huo dengan nada menilik. Ia menangkap tangan Zelene yang membuat wajahnya agak geli.


"Iya! ... hanya itu saja. Lepaskan tanganku!"


Tony Huo menurun tangan Zelene, meskipun ia agak kesal dan ingin bertanya lebih, ia telah mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk bertanya besok saja. Ia sangat berharap bahwa, Zelene tidak akan mematahkan kepercayaannya karena selama ini, walaupun Tony Huo tidak pernah menghubungi Zelene Liang sekalipun, ia tetap mengetahui kabar Zelene dari Xiao Juan juga Xiao Xuan yang mengawasi Zelene dari kegelapan.


"Bersihkan dirimu, kamu sangat bau."


Tony Huo membalikkan badan, lantas melepas jasnya dengan kasar dan langsung melempar jas tersebut ke sofa yang ada di sebelahnya. Langkah kasarnya menuju ke arah almari besar miliknya. Ia membuka kancing kemejanya perlahan dengan ekspresi datar, namun tetap menampakkan wajah orang sakit.


"Aiya, kemejamu robat-rabit, akan kubukakan untukmu." Langkah gontai Zelene Liang berjalan pelan ke arah Tony Huo. "Biar aku saja."


Jemari lentik wanita itu membuka kancing kemeja Tony Huo dengan susah payah. Satu kancing berhasil terlepas dan, kini kancing ke dua membutuhkan waktu yang agak lama. Tony Huo kembali terdiam dan membiarkan wanita itu berbuat sesukanya, ia mengehela napas dan menatap lurus ke depan, tidak mempedulikan wanita yang asyik membuka kancing kemejanya satu per satu.


"Aish! Kenapa susah sekali?!" kesalnya.


Zelene masih berkutat dengan kancing kemeja Tony Huo—hingga membuat kesabarannya habis dan ... kresssttt! Kemeja yang sudah robak-rabik itu semakin sobek dan sebagian kancing yang masih terpasang—jatuh ke lantai.


"Opss! Aku tidak sengaja." Ucap Zelene dengan nada manja seraya mengamati dada kokoh pria itu.


"Minggir!" Tony Huo mendorong tubuh Zelene ke samping, saking kesalnya.


Semakin dinginnya angin malam yang berhembus melalui pintu balkon yang terbuka, semakin membuat Tony Huo Jengkel. Ia melepaskan kemeja robek itu, lalu membuka almari tersebut dan memilih sebuah kemeja putih, tetapi sebuah tangan ramping menghentikan pergerakannya.


"Jangan dipakai!" Sergah Zelene.


Gendang telinga Tony Huo seolah pecah karena suara Zelene Liang. Ia menatap jengkel pada wanita yang mengeratkan jemari pada pergelangan tangannya.


"Kamu ingin agar aku kedinginan? Kepalaku sangat sakit, dan berhentilah menggangguku."


"Tidak mau! Aku belum puas melihatnya, juga belum sempat meraba." Kata Zelene, tidak tahu malu.


"Kamu tidak diijinkan untuk menyentuh apa pun. Tanganmu juga sudah menyentuh pria itu. Cepat cuci sana!" ya, sebelum Tony Huo meraih Zelene dari pelukan Xie Yu Fan, wanita yang bersikap manja di depannya ini, juga bergelayutan dengan senang hati pada leher Xie Yu Fan.


"Dasar pelit." Zelene tidak mengindahkan perkataan pria itu, dan tetap menempelkan tangan kirinya ke salah satu roti sobek Tony Huo, sementara tangan kanannya masih mengikat tangan Tony Huo. Perut six pack pria itu menjadikan mata Zelene lebih jernih lagi, sejernih mata air di pegunungan.


"Zelene Liang, aku memberimu peringatan, ingat ini baik-baik di kepalamu. Kamu tidak diijinkan lagi untuk minum alkohol, apalagi sampai mabuk di hadapan pria lain karena jika saat itu terjadi, aku tidak akan segan mematahkan kedua kakimu. Jika sekali lagi aku melihatmu bertengger di leher pria lain saat itu, aku akan mematahkan lenganmu." Jelas Tony Huo panjang lebar.


Zelene hanya mengangguk dan tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena ia fokus dengan apa yang dilakukannya saat ini.


Hal tersebut membuat Tony Huo mengeraskan rahangnya. "Pergilah mandi dan jangan ganggu aku. Melihat wajah buruk rupamu hanya membuatku makin jengkel." Hardiknya dengan nada keras.


Rupa Zelene saat ini, masih sama seperti sebelumnya, acak-acakan. Bibir wanita itu agak dimanyunkan karena ucapan Tony Huo, agaknya telah melukai perasaannya. Zelene Liang yang sedang mabuk, sepertinya rentan dengan ucapan yang mengejek rupa cantiknya.


"Aku tidak jelek." Pernyataan itu keluar dari mulutnya dan sorot tajam menukik mata hitam Tony Huo. Cengkraman di pergelangan tangan besar milik Tony Huo, semakin dikeratkan.


"Ada apa dengan matamu itu, ha?" Tony Huo bertanya dengan santai.


Bibir Zelene Liang tengah bungkam, sekejap kemudian ia melepaskan cengkramannya dan menggores dada Tony Huo menggunakan kuku panjangnya. Kuku panjang, cantik dan terawat itu memiliki darah di setiap ujungnya.


Bekas goresan dari kuku Zelene dengan cepat membuat dada Tony Huo mengeluarkan bulir-bulir darah. Kali ini, kemarahan Tony Huo berada di puncaknya, pria itu menarik lengan Zelene Liang dan membawanya ke arah kamar mandi.


"Aku mau di bawa kemana lagi?" pekik Zelene.


Sejak tadi ditarik dari tangga sudah membuat badannya terombang-ambing, kini hal tersebut terjadi lagi hingga membuat kakinya semakin gontai dan akhirnya ia pun luruh.


"Huhuhu ... sakit sekali." Ia jatuh ke lantai dan tangannya masih ditarik, jadi, badannya sedikit terseret.


Tony Huo menghentikan langkahnya dan buru-buru melepaskan tangan wanita itu. Ia berjongkok untuk memeriksa keadaan Zelene, dan dilihatnya lutut Zelene agak merah akibat membentur lantai.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan.


"Huuuu ...." Zelene menangis, namun tidak mengeluarkan air mata. Bukan hanya lututnya yang sakit, tetapi tubuhnya yang terseret juga lebih sakit lagi. Ia menatap pria kejam yang menarik lengannya tanpa perasaan dan terbesit rasa ingin balas dendam di matanya. Zelene melihat sebuah kesempatan ketika Tony Huo menunduk untuk memeriksa kakinya. Ia segera menyergap pria tersebut dan menjatuhkannya ke belakang.


Sontak hal tersebut membuat Tony Huo kaget, punggungnya menyentuh lantai dingin dan di atas tubuhnya bertengger seorang wanita urakan.


"Aku menangkapmu." Sorot mata wanita itu bagaikan api yang melalap sebuah hutan.


Tony Huo, "...."


Zelene Liang mendekatkan wajahnya dan bau alkohol semakin tercium ketika mulutnya setengah terbuka, "Aku ... akan ...ugh ... ugh ...."


"Hei!" Tony Huo ingin bangkit dari posisi tersebut, namun tangan Zelene menahan lengannya, dan hal tak diinginkan pun, akhirnya terjadi ...


"Hueeeeek ...."


"Zelene Liang!" Tony Huo mati rasa karena dadanya disiram oleh muntahan Zelene Liang.


🍁 Bersambung🍁