
Kota T
Peninjauan lokasi di pedesaan telah dilakukan selama dua hari terakhir, sampai akhirnya pengambilan adegan pertama akan direkam pada sore hari ini. Zelene telah bersiap dengan dandanan melankolis ala Zhang Mei Lin yang masih polos—belum tersentuh oleh kata mafia.
Sebenarnya selain Kota T, syuting juga akan dilaksanakan di beberapa negara; seperti Jepang, Italia, Perancis, Rusia demikian pula dengan Swiss.
Film ini banyak menampilkan adegan aksi di dalamnya, sehingga Zelene harus ekstra hati-hati dalam peran yang ia lakoni, meskipun nantinya ia akan menggunakan stuntman untuk adegan-adegan yang cukup berbahaya.
Zelene berjalan melewati para kru dan menyapa mereka, meskipun terkadang Zelene menunjukkan keangkuhannya, akan tetapi ia tidak akan menunjukkan kesombongan pada orang-orang yang tidak menyinggungnya.
"Selamat sore, Sutradara Long." Zelene menyapa Sutradara Long.
Pria tambun itu sudah duduk di kursi kebesarannya memantau para kru yang masih sibuk dengan tugas mereka masing-masing, sesekali ia menatap ke layar monitor. Kepalanya terangkat saat mendengar sapaan dari Zelene; Sutradara Long lantas berdiri. "Selamat sore, Zelene. Hahaha, kau memang sangat ramah! Sangat berbeda dari gosip yang beredar. Mata mereka pasti sangat buta." Katanya dengan nada bercanda.
Zelene pun ikut terkekeh, ia menutup sebagian bibirnya dengan elegan. "Terkadang mereka memang ada benarnya, Sutradara Long."
"Selamat sore semuanya, aku Xie Yu Fan."
Suara hangat terdengar dari belakang punggung Zelene, ia membalikkan badannya untuk mendapati seorang pria tinggi berambut coklat gelap dengan senyum hangat terpasang di wajahnya.
Pria yang bernama Xie Yu Fan—tokoh utama pria dalam film garapan Sutradara Long. Pembawaan pria itu sangat halus ketika menyapa mereka barusan.
"Xie Yu Fan, kenapa kau datang hari ini? Adegan saat kau muncul masih lama, harusnya kau beristirahat saja." Ucap Sutradara Long perhatian, ia menepuk lengan atas Xie Yu Fan dengan sedikit tenaga.
"Aku ingin sekali berkunjung karena hari ini pengambilan adegan pertama." Sahutnya. Suara Xie Yu Fan sangat merdu di sore hari cerah, meskipun udara dingin melintasi mereka, tidak menjadi masalah ketika mendengar nada halus dari pria yang diberi julukan sebagai pangeran Imperial City. Sorot mata hangatnya di arahkan pada Zelene yang sejak tadi hanya diam di posisinya, "Selamat sore, Nona Liang, senang sekali bisa menjadi partner-mu dalam film kali ini." Xie Yu Fan menjulurkan tangannya yang segera dijabat oleh Zelene.
Bibir Zelene mengembangkan senyum yang dipaksakan. Ya, dipaksakan, bukan karena ia tidak menyukai Xie Yu Fan, melainkan tatapan akrab yang dilepaskan padanya. "Selamat sore, aku pun senang bisa bekerjasama denganmu." Zelene melepaskan tangannya dari tangan Xie Yu Fan.
Sesudah bercengkrama ria bersama para artis, Sutradara Long kembali ke kursi kebesarannya, sementara Zelene telah mengambil posisinya.
🍁🍁🍁
Syuting pertama berjalan dengan lancar diikuti dengan pengambilan adegan-adegan berbahaya yang melibatkan profesional bela diri sebagai stuntman.
Hari-hari syuting di Kota T selama beberapa minggu cukup melelahkan bagi Zelene. Ia dan agennya kembali ke hotel tempat mereka menginap, selama ini Zelene tidak ikut tinggal di tempat yang sudah di sediakan oleh rumah produksi bersama artis lainnya; ia lebih memilih untuk menginap di hotel dengan alasan kenyamanan, meskipun jaraknya terbilang cukup jauh dari lokasi syuting.
Zelene membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk berukan 2 meter persegi. "Ah, sangat melelahkan." Lirihnya.
Lirihan itu terdengar hingga ke telinga Hanna yang berada di kamar Zelene, ia sedang merapikan naskah di atas meja sofa. "Biasanya kau menyukai adegan yang menantang, baru sekarang kau merasa lelah?"
"Meskipun sudah menggunakan stuntman, tapi adegan aksi lainnya aku sendiri yang menyelesaikannya. Memang sangat menyenangkan karena aku merasa tertantang, tapi ternyata cukup melelahkan." Ia membenamkan wajahnya ke bantal di samping kirinya.
"Besok kita sudah harus berangkat ke Jepang. Lebih baik kau cepat tidur setelah membersihkan diri." Suruh Hanna. Ia kemudian melangkah keluar dari kamar Zelene.
Zelene menghela napas, ia mengambil smartphone-nya kemudian mencari berita tentang Tony Huo yang sudah berminggu-minggu tidak ada kabarnya. Apakah pria itu tertelan ke dalam Palung Mariana, sehingga tidak ada satu berita pun tentangnya?
Tangan Zelene berhenti mencari informasi mengenai Tony Huo, lantas smartphone itu dilemparnya mengarah ke bagian kakinya. Ia memukul-mukul bantal karena merasa kesal—tidak dihubungi oleh Tony Huo, sama sekali tidak ada!
"Harusnya kuikat kakinya pada saat itu, sehingga aku tidak akan meresa malu seperti ini, huh!" Zelene merasa sangat kesal, hingga ia tertidur tanpa menghapus riasannya. Mungkin kali ini akan menjadi kali terakhirnya ia mencari berita mengenai Tony Huo.
🍁🍁🍁
Sejak malam yang mengesalkan bagi Zelene di Kota T, ia tidak mau mengingatkan Tony Huo; ia menyibukkan dirinya dengan syuting dan syuting.
Zelene dan para kru film sudah berpindah-pindah negara selama 2 tahun ini, terkadang syuting mengalami kendala dan harus dihentikan untuk beberapa waktu karena adegan berbahaya yang memakan tenaga para aktornya khususnya; Xie Yu Fan yang tidak ingin menggunakan stuntman untuk menggantikannya.
Pria itu beberapa kali harus melakukan pengobatan karena cedera saat melakonkan adegan aksi, terkadang ia mengalami cedera kaki atau lengannya mengalami luka akibat terkena properti film.
Seperti halnya saat ini, mereka sedang syuting di lokasi terakhir yaitu, Marseille, Perancis. Tangan Xie Yu Fan kembali terkena pukulan dari lawan mainnya, namun kali ini hanya memar, ia tidak perlu dibawa ke rumah sakit.
"Ini sudah yang keberapa kalinya kau cedera? Bukankah aku sudah menyuruhmu menggunakan stuntman?!" tanya manajer Xie Yu Fan, merasa iba melihat aktornya cedera setiap kali, "kau sangat keras kepala." Bentaknya.
"Tidak apa-apa, Kak Qing, ini bukan apa-apa, sungguh!" Xie Yu Fan menyakinkan manajernya yaitu Qing Yuan, agar pria itu tetap tenang dan tidak memaksanya menggunakan stuntman.
Qing Yuan memutar bola matanya malas. "Teserah kau sajalah! Toh, itu bukan tubuhku!" seru Qing Yuan dengan nada merajuk.
"Bagaimana lukamu?" tanya Zelene yang menghampiri mereka dengan wajah cemas. Ia langsung duduk di samping Xie Yu Fan, meskipun awalnya ia canggung saat berhadapan dengan Xie Yu Fan, tetapi lama-kelamaan mereka menjadi akrab.
"Oh, Zelene, terima kasih sudah menanyakan keadaanku. Seperti yang kau lihat aku tidak apa-apa." Xie Yi Fan menunjukkan tangan kirinya.
Bola mata hitam Zelene mengamati tangan kiri Xie Yu Fan—ada memar biru di tangannya. Ia meraih tangan kiri Xie Yu Fan, kemudian mengambil kantong es yang dihempaskan oleh Qing Yuan karena kesal.
Xie Yu Fan menarik tangannya, sedikit terkejut dengan aksi Zelene. "Apa yang kau lakukan?"
"Sini tanganmu, akan aku kompres." Tangan Xie Yu Fan kembali diraih oleh Zelene, ia menempelkan kantong es perlahan ke tangan memar Xie Yu Fan—pria yang saat ini sedang mengamatinya dengan tatapan mata berbinar.
"Terima kasih, kau sangat baik." Entah mengapa hati Xie Yu Fan seperti dialiri gelombang air hangat? Ia melebarkan matanya agar dapat melihat Zelene dengan jelas.
"Aku tidak sebaik yang kau bayangkan." Kata Zelene sambil berhati-hati mengompres tangan kiri Xie Yu Fan.
Namun sedikit yang mereka ketahui, adegan itu tertangkap oleh kamera paparazi yang telah mengintai mereka sejak sampai di Marseille—bukan hanya di Marseille, melainkan negara lain yang menjadi tujuan syuting sebelumnya. Para paparazi bagai lalat pengintai—menajamkan pupil mereka untuk berita ekslusif seperti mengumpulkan foto-foto Zelene dan Xie Yu Fan ketika mereka hanya berdua.
🍁Bersambung🍁
🍁MINI DRAMA🍁
Zelene, "Hanya segini eps-nya? Terus kok cepat sekali 2 tahun? Kurang diksi?"
Maple, "Terus? Kamu mau seberapa panjang? Mau aku masukin eps 16 sekalian? Ya, karena memang begitu."
Zelene, "Iya! Alasan!"
Maple, "Besok saja kalau begitu."
Zelene, "Ya sudah, sekarang saja! Segini! Tidak apa-apa."