My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Sudah! Diam saja!



"Apakah kau takut sekarang, Nona Liang?" Yan Li mendesis di telinga kiri Zelene Liang. Tangan kanan wanita itu tengah menodongkan sebuah pistol di kepala belakang Zelene.


Terlihat dari pantulan cermin besar di depan mereka, mimik wajah Yan Li berubah sengit. Dia siap kapan saja menekan pelatuk pada pistol tersebut. Sementara Zelene Liang menanggapi hal tersebut dengan santai. Tidak ada rasa takut nampak dari wajahnya. Jantungnya berdetak normal, tak seperti kebanyakan orang pastinya sudah menggigil ketakutan karena peluru pada pistol itu bisa menembus kepala kapan saja tergantung suasana hati sang pemilik.


Zelene Liang bungkam. Dia menatap datar pada wajah bengis Yan Li melalui pantulan cermin di depannya. Setelah beberapa detik, Zelene Liang menampakkan senyum miring, lalu terkekeh garing. Hal itu membuat Yan Li cukup terkejut karena kebanyakan orang yang melihatnya akan merasa ketakutan setengah mati hingga meminta pengampunan darinya. Namun tidak dengan Zelene Liang yang malah menantangnya dengan tawa garing.


"Mungkinkah kau menertawakan kematianmu, Zelene Liang? Aku tanya sekali lagi, kenapa kau menyelamatkannya?" Yan Li bertanya geram. Perutnya seperti diaduk oleh tawa Zelene—seseorang yang akan menjadi korbannya. Berani sekali orang yang akan mati tertawa ketika sebuah peluru pada pistolnya bisa menembus kepalanya kapan saja. Meskipun demikian, Yan Li cukup senang dengan karakter pemberani dari Zelene Liang. Wanita itu seperti merasa tertantang dengan keberanian dari Zelene Liang. Ujung bibir kanannya terangkat, dia menurunkan pistolnya karena menurutnya tidak ada gunanya menakuti Zelene Liang.


"Aku tidak suka jika seseorang memberiku pertanyaan yang sama berulang kali." Pandangannya di arahkan ke kiri—tepatnya pada Yan Li. "Kau terlalu cerewet, Nona Yan. Sudah kujawab pertanyaanmu barusan. Aku sudah selesai membersihkan gaunku. Jadi ... bolehkah aku keluar sekarang?" senyum lebar Zelene Liang seketika berubah datar. Dia berbalik menuju ke arah pintu keluar.


Yan Li bertepuk tangan, dan seketika itu, Zelene Liang menghentikan langkahnya. "Jangan membuang waktumu denganku yang tidak mengetahui apa pun." Tambahnya.


"Aku suka karaktermu, Zelene Liang." Yan Li mendekat di belakang Zelene. Dia mendaratkan lengan kanannya di bahu Zelene Liang, sementara pistolnya berada pada tangan kirinya.


Zelene Liang melirik pada lengan Yan Li pada bahunya. Dia tidak merasa risi dengan hal tersebut, namun mimik wajahnya semakin datar. "Terima kasih."


Dengan sigap Yan Li membalikkan tubuh mereka ke arah cermin besar yang tadinya di belakang mereka. Yan Li menyentuh dagu Zelene Liang menggunakan ujung pistol di tangan kirinya. "Lihat wanita cantik itu!" mengelih pada Zelene Liang, kemudian kembali menatap pantulan mereka pada cermin besar. "Aku sangat ingin tahu darimana asal wanita cantik itu? Siapa sebenarnya dia? Apakah kau tahu sesuatu tentangnya?" ketiga pertanyaan tersebut tentu saja di arahkan pada Zelene Liang.


Maksud dari wanita cantik yang Yan Li tanyakan adalah Zelene Liang sendiri. Zelene Liang sudah cukup sabar menghadapi tingkah Yan Li, tetapi sekarang pertanyaan Yan Li membuat ubun-ubun Zelene Liang merasa panas.


"Bukankah kau sudah tahu siapa diriku ini? Seorang pencari nafkah menjadi seorang aktris karena bakatnya yang luar biasa. Juga seorang penduduk Imperial City yang harus menolong penduduk lain ketika bertemu langsung. Haruskah aku menelantarkannya di jalan ketika aku menemukan perempuan itu bersimbah darah di depan mobilku?"


Pistol di dagu Zelene Liang diletakkan tepat di bawah dagunya. Kali ini, Yan Li kembali mengancam Zelene Liang. Sama seperti sebelumnya, tidak ada rasa takut yang nampak dari wajah Zelene Liang, membuat Yan Li semakin percaya kalau Zelene Liang bukanlah dari kalangan biasa. Bahkan para pejabat memiliki pengawal saja bisa merasakan takut ketika ditodongkan sebuah pistol. Tetapi Zelene Liang layaknya orang yang sudah terbiasa dengan pistol itu sendiri.


"Sudah dua kali kau menodongkan pistol padaku. Namun tak sekalipun kau berani menembakkan pistolmu. Apa yang kau takutkan?"


Yan Li mengerutkan kening. "Siapa kau sebenarnya?"


Dalam beberapa detik tanpa Yan Li sadari pistol di tangannya telah di arahkan tepat di jantungnya. Orang yang mengarahkan pistol tersebut tentu adalah Zelene Liang sendiri. Dia meraih pistol tersebut dengan kecepatan yang tak dapat diterka oleh Yan Li.


Zelene Liang berdiri di depan Yan Li. Sorot matanya ketika memegang pistol sudah berubah layaknya orang yang siap membunuh tanpa memikirkan konsekuensi yang akan dihadapinya nanti.


Yan Li sadar akan hal itu. Zelene Liang tidaklah main-main, dia siap menekan pelatuk pada pistol tersebut jika Yan Li membuatnya kesal.


"Hah, aku sudah menduga kalau kau bukanlah orang biasa. Kalau boleh tahu, sebenarnya Nona Liang dari klan mana?" mengubah ekspresinya dengan cepat. Terlihat santai ketika bertanya pada Zelene Liang, namun dia sangat berharap Zelene Liang akan menjawab pertanyaannya.


"Kau sudah bertanya dua kali. Terserah padaku, akan menjawab pertanyaanmu atau tidak. Tapi aku sarankan padamu agar tidak muncul di hadapanku lagi!" berucap dengan tegas, Zelene Liang perlahan menarik pelatuk pada pistol di tangannya tersebut.


Yan Li membelalakkan mata. Mungkinkah Zelene Liang benar-benar berani menembaknya di tempat itu?


"Zelene Liang, aku tidak peduli siapa dirimu. Tapi kau tidak dapat bermain dengan pistol itu. Jika kau membunuhku saat ini, maka seluruh klanku akan membuatmu dan seluruh keluargamu, mati segan hidup pun tak mau." Dengan berani Yan Li bertaruh, dia berjalan pelan ke arah Zelene Liang dengan niat merebut senjatanya. Sebenarnya Yan Li masih memiliki sebuah pisau diletakkan pada pahanya, namun akan terlambat jika dia mengambil pisau itu, Zelene Liang mungkin sudah menembaknya ketika dia bisa meraih pisaunya. Jadi akan lebih baik jika dia bertaruh merebut pistol itu dari Zelene karena dia percaya kemampuannya melebihi Zelene Liang dalam hal itu.


"Apakah kau takut, Nona Yan? Aku rasa Klan Yan akan sangat berterima kasih padaku karena telah menyingkirkan orang keras kepala sepertimu."


Yan Li terkejut karena Zelene Liang mengetahui Klan Yan—Klan keluarga Yan dari Negara M. "Kau—" sebelum Yan Li dapat menyelesaikan ucapannya, dia mencoba merebut kembali pistolnya dari Zelene Liang.


Dor! Suara tembakan menggema di kamar mandi tersebut.


🍁🍁🍁


Hanna Gu berjalan ke lantai bawah dan pada saat itu dia mendengar suara tembakan, namun suara itu tidaklah begitu keras. Meskipun kamar mandi tersebut kedap akan suara, namun suara dari pistol Yan Li sangat keras.


"Seperti suara tembakan." Hanna Gu merasakan ada sesuatu yang salah di kamar mandi tadi, jadi dia berbalik dan bergegas menuju ke sana. Pada saat itu dia bertemu Xie Yu Fan.


"Kak Hanna, di mana Zelene?"


"Aku belum menemukannya, tapi aku rasa ada sesuatu yang salah. Cepat ikut aku!" Hanna Gu menarik tangan Xie Yu Fan agar mengikutinya ke arah kamar mandi tersebut.


"Ada apa sebenarnya? Pelan-pelan saja, Kak!"


"Sudah! Diam saja!" teriaknya.


🍁Bersambung🍁