My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Siapa?



“Aku sepertinya harus pergi ke kamar mandi dulu.” Maureen Lee berucap gugup. Setelah lama berpikir hingga sampai di depan rumah sakit dan telah siap untuk memasuki mobil.


“Pergilah,” ucap Zelene Liang santai. Dia menoleh pada Xiao Xuan dan Xiao Juan yang berdiri di depan mobil. “Temani Nona Lee.” Pintanya kepada dua orang tersebut.


Xiao Xuan dan Xiao Juan saling memandang. Mereka diminta untuk menemani Maureen Lee yang seorang wanita? Sempat bergeming untuk beberapa saat sebelum suara renyah Zelene Liang kembali menyapa pendengaran mereka.


“Aku tidak menyuruh kalian untuk masuk ke kamar mandi wanita.” Dia menggeleng tidak percaya, seraya mendelik pada kedua orang itu. Tentu saja Zelene Liang akan menyuruh keduanya mengawasi Maureen Lee agar tidak kabur karena agaknya gadis itu telah menyadari sesuatu. Memang itulah yang diinginkan olehnya agar Maureen Lee merasa gentar. “Dasar bodoh.” Gumamnya.


Tony Huo terkekeh karena istrinya nampak kesal pada kedua pengawalnya. Pria itu mengukir senyum hangat untuk istrinya. Ia akan membiarkan Zelene Liang bermain dengan Maureen Lee sepuasnya. “Ayo kita masuk.” Tony Huo menggendong Zelene Liang, membawanya masuk ke dalam mobil mereka.


“Ah, tidak apa-apa, aku tidak perlu ditemani.” Tolak Maureen Lee. Dia sudah mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin. Awal memasuki rumah sakit, dia nampak percaya diri. Namun saat ini kepercayaan dirinya telah lenyap ditelan keringat dingin yang membasuh tubuhnya.


“Jangan khawatir Nona Lee, mereka akan menjagamu.” Zelene Liang berujar dari dalam mobil. “Kami akan menunggumu.”


“Silahkan, Nona Lee. Kita harus bergegas agar Tuan dan Nyonya tidak menunggu terlalu lama.”


Xiao Xuan dan Xiao Juan telah berdiri di samping Maureen Lee yang sudah tidak dapat mengelak lagi. Dia mengatakan akan pergi ke kamar untuk melarikan diri, namun rencananya telah gagal.


Gadis itu berjalan memasuki rumah sakit menuju sebuah koridor yang mengarah ke sebuah kamar mandi. Dia kembali berpapasan dengan Xie Yu Fan, namun senyum hangat yang terpampang di wajah pria itu telah lenyap.


Maureen Lee pun tidak menyapanya dan mempercepat langkahnya menuju kamar mandi, jika dia tidak bisa kabur, setidaknya dia bisa menghubungi kakeknya dan mencari bantuan.


“Kalian tunggu di luar.” Titahnya dengan nada dingin.


Siapa sangka gadis berpenampilan anggun dan sering mengeluarkan nada halus dapat begitu dingin? Kedua pengawal itu hanya dapat saling memandang satu sama lain.


Sementara Maureen Lee memasuki kamar mandi seorang diri. Dia mengecek setiap bilik dari kamar mandi tersebut dan tidak ada satu orang pun di sana. Jantungnya berdebar tak karuan karena sudah ketahuan menyabotase sepatu hak tinggi Zelene Liang.


Benar dia merupakan putri dari keluarga terpandang dan tidak kalah dari Zelene Liang, lalu apa yang harus dia takutkan jika mereka semua tahu perbuatannya? Toh, dia tidak akan masuk penjara karena keluarganya mempunyai koneksi dengan kepolisian Imperial City.


Yang membuatnya gentar saat ini bagaimana jika media mengetahui dan menghancurkan reputasinya sebagai gadis polos, bersih dan tak bersalah?


“Aku harus segera menghubungi kakek.”


Dengan gugup Maureen Lee mengambil smartphone-nya dan menekan nomor Chairman Lee. Sebelum panggilan tersebut mulai tersambung, sebuah tangan menyentuh pundak Maureen Lee.


Sontak hal tersebut membuat gadis berambut panjang itu mematung. “Siapa?” dia bertanya ragu. Padahal tadi dia sudah memeriksa seluruh bilik di dalam sana dan tidak menemukan siapa pun, tapi kali ini sebuah tangan telah mendarat di pundaknya, tidak mungkin hantu di siang hari. Ataupun Xiao Xuan dan Xiao Juan karena dia pasti akan langsung tahu kalau ada yang masuk melalui pintu depan.


Lalu siapa yang mendaratkan tangan, tapi tidak mengeluarkan suaranya?


Menelan salivanya dalam-dalam, Maureen Lee kembali bertanya, “Siapa?” nadanya lebih berani.


“Nona Lee,” suara seorang perempuan terdengar memanggilnya dari belakang. Suara itu sangat halus dan juga cukup manis untuk di dengar.


Maureen Lee menghela napas karena orang di belakangnya merupakan seorang perempuan, tetapi dari mana perempuan itu masuk adalah sebuah tanda tanya besar.


“Apakah kau perlu sesuatu dariku—” Maureen Lee membalikkan badannya dan mendapati seorang perempuan bertubuh tinggi langsing dengan tangan ramping yang masih mendarat di bahunya. Suara Maureen Lee tercekat ketika melihat sebuah pistol telah mengarah ke dahinya.


Belum sempat dia berteriak meminta pertolongan dari kedua pengawal yang berjaga di depan pintu. Pelatuk pada pistol tersebut telah ditarik membuat bunyi dor!


Peluru panas menembus dahi Maureen Lee. Tubuh gadis itu luruh dengan darah mengucur dari dahinya.


🍁Bersambung🍁