
Seulas senyum manis nan hangat tengah menyapa dari ambang pintu ketika Duan Che membukakan pintu bangsal barusan. Di sana berdiri gadis anggun mengenakan gaun hijau tua dengan rambut panjang lurus tergerai jatuh hingga ke pinggangnya. Kedua tangannya membawa keranjang buah yang cukup besar sebagai oleh-oleh untuk Zelene Liang.
“Tuan, Nona Lee memaksa ingin ikut dengan saya. Jadi saya mengajaknya kemari.” Duan Che kembali menutup pintu bangsal tersebut, meninggalkan ketiganya di dalam sana, sementara para orang tua tengah mempersiapkan kepulangan Zelene Liang di luar sana.
Tony Huo menatap nanar pada gadis yang tengah tersenyum polos seperti bayi yang tidak berdosa sama sekali. Padahal ia tahu pelaku di balik insiden sabotase dari sepatu hak tinggi Zelene Liang. Sejak mengetahuinya, ia ingin menjebloskan Maureen Lee ke penjara, namun Chairman Lee meminta belas kasihan darinya. Untuk saat ini Maureen Lee masih belum tahu kalau dirinya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Tony Huo.
Gadis itu tidak diberitahu oleh kakeknya karena takut menyakiti hatinya.
Kebetulan sekali Maureen Lee datang setelah ini ia bisa memberikan segala keputusan di tangan Zelene Liang.
“Apakah kau baik-baik saja, Nona Liang?”
Berjalan mendekat ke arah ranjang rumah sakit, Maureen Lee menunduk seraya menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.
“Sudah lebih baik,” Zelene Liang memperhatikan Maureen Lee yang semakin mendekat. Dia telah diberitahukan oleh Tony Huo kalau pelaku yang menyabotase sepatunya adalah Maureen Lee sebagai dalangnya. Sementara kru beranam Song Xi hanyalah bidak catur yang digunakan Oleh gadis itu tanpa perasaan.
“Zele,” Tony Huo menggenggam tangan Zelene Liang.
“Jangan khawatir.” Kecupan manis mendarat di pipi Tony Huo untuk menenangkan pria itu.
Mereka cukup manis belakang ini, namun tetap saja masih belum ada kejelasan mengenai hati dari keduanya. Tidak ada yang mengucapkan kata cinta di antara keduanya. Akan tetapi terlihat jelas bahwa mereka saling menyayangi dan saling memperhatikan satu sama lain, meski mereka enggan untuk mengakuinya.
Maureen Lee merasa ubun-ubunnya menjadi panas karena melihat Zelene Liang memberikan kecupan pada pipi Tony Huo. Gadis itu merasa bahwa Zelene Liang tidak tahu malu dan mengutuknya dalam hati. Tidak lupa dia mengepalkan jemari tangannya.
“Oh, ya, Nona Lee, bisakah kau ikut kami ke mansion?” Zelene Liang sudah begitu sopan bertanya pada Maureen Lee. “Kakekmu juga akan ada di sana.”
Tercengang mendengar ucapan Zelene Liang, Maureen Lee mematung sejenak. Dia cukup senang karena Zelene Liang mengundangnya ke Xue Garden meski alasannya belum jelas karena sejak lama Maureen Lee sangat ingin melihat keindahan mansion Xue Garden. Tetapi untuk apa kakeknya juga akan berada di mansion Tony Huo? Maureen Lee bertanya-tanya dalam hatinya dan ingin segera menghubungi kakeknya.
“Tentu saja, tapi mengapa kakekku juga akan berada di sana?”
🍁🍁🍁
Dokter telah selesai memeriksa keadaan Zelene Liang, namun dia harus duduk di kursi roda untuk beberapa Minggu lagi sebelum dia bisa berjalan kembali. Tapi akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan terapi sampai dia benar-benar bisa berjalan dan melakukan aktivitasnya kembali.
Selama itu pula, dia akan berdiam di rumah dan membatalkan seluruh jadwalnya sebagai aktris. Hanna Gu dan Xu Mo telah mengurus semua untuknya, dia hanya perlu memulihkan diri. Sementara para wartawan tidak bisa mendekatinya karena kekuatan dari keluarga Huo menjadi perisai untuknya.
“Hati-hati.” Tony Huo merangkul Zelene Liang dan mendudukkannya di kursi roda. Ia merawat Zelene Liang dengan penuh perhatian. Kedua manik mata Tony Huo masih menatap Zelene Liang yang telah duduk nyaman di atas kursi roda.
Mereka siap meninggalkan rumah sakit. Tony Huo mendorong kursi roda tersebut dengan perlahan-lahan keluar dari bangsal rumah sakit. Sedang Maureen Lee berjalan di sebelah Tony Huo dengan sengaja.
“CEO Huo, biar saya saja yang mendorong kursi roda untuk Nona Liang.” Berucap tulus menawari bantuan mendorong kursi roda Zelene Liang. Sedari tadi kedua bola mata Maureen Lee telah mengawasi Zelene Liang dan rencana yang kiranya sedang dipikirkan oleh wanita itu dengan mengajak dirinya singgah ke mansion Xue Garden. Mansion yang sangat sulit untuk dimasuki.
“Tidak perlu.” Tolaknya tanpa basa-basi.
Gadis itu dengan sengaja menyabotase sepatu Zelene Liang mengakibatkannya cedera sampai harus vakum dari dunia entertainment. Sekarang gadis itu ingin mendorong kursi roda untuk Zelene Liang?
Bermimpi!
Tony Huo tidak mungkin membiarkannya menyentuh istrinya, bahkan helaian rambutnya tak akan ia biarkan di sentuh oleh gadis itu.
“Tidak apa-apa, biarkan saja. Kamu sudah cukup lelah merawatku selama dua Minggu ini.”
Mata pasangan itu bertemu. Ada rasa khawatir dan penolokkan dari kedua manik hitam Tony Huo. Ia enggan membiarkan Zelene Liang bersama gadis itu, meski hanya mendorong kursi rodanya sampai di depan rumah sakit. Tony Huo menggeleng tanda ketidaksetujuannya. Sementara Zelene Liang memberikan anggukan meyakinkan. Akhirnya Tony Huo menyerah dengan kekerasan kepalaan Zelene Liang.
“Baiklah, aku menyerah.”
🍁Bersambung🍁