
Tony Huo meletakan smartphone tersebut ke telinga kanannya lantas menjawab, "Halo," nada datar keluar dari bibir pria itu. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Ia menatap lurus ke depan dan sorot matanya nampak sama datarnya seperti tidak ingin mengangkat panggilan tersebut. Namun tetap saja ia menjawab, mungkin rasa penasaran karena si penelepon tiba-tiba saja menghubunginya setelah ia kembali ke Imperial City.
"Aku berada di kedai kopi dekat kantormu. Datanglah, ada yang ingin aku bicarakan." Suara wanita dari seberang telepon sudah tidak asing di telinga Tony Huo.
Ia tidak menjawab tawaran wanita itu untuk beberapa detik dan tetap bungkam. Nampaknya Tony Huo sedang berpikir, haruskah mengiyakan atau menolaknya sekalian. Ia melihat pada arlojinya, kemudian kembali menatap lurus ke depan dan berkata, "10 menit saja." Nadanya tetap datar seperti sebelumnya.
"Hm, aku tunggu." Wanita itu langsung mematikan telepon. Dari nadanya jelas terdengar wanita itu agak kecewa lantaran Tony Huo hanya akan menemaninya selama 10 menit.
Smartphone tersebut segera di masukkan kembali ke saku jasnya dan Tony Huo menyuruh Duan Che agar berhenti di kedai kopi di dekat kantornya. Dalam benaknya Tony Huo bertanya mengapa wanita itu tiba-tiba berada di Imperial City dan ingin bertemu dengannya? Bukankah sudah pernah ia katakan sebelumnya bahwa tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi? Kini ia malah setuju untuk menemuinya, meskipun hanya sebentar saja.
Tidak lama kemudian mobil hitam tersebut telah sampai di depan kedai kopi yang dimaksudkan barusan. Duan Che membukakan pintu untuk Tony Huo. Pria dengan setelan suit berwarna dim gray tersebut keluar dari mobilnya lengkap dengan sepatu pantofel hitam mengkilap.
Ia melangkahkan kaki menuju ke dalam kedai, tidak perlu mencari keberadaan wanita yang ingin bertemu dengannya karena wanita itu sedari tadi telah duduk di depan dinding kaca.
Menampakkan senyum hangat ketika dia berdiri menyambut kedatangan Tony Huo yang semakin mendekati mejanya. Bak gadis remaja yamg sedang malu-malu dia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga serta sedikit menundukkan kepalanya.
"Kamu sudah tiba, duduklah." Ujarnya. Wanita itu duduk setelah Tony Huo mengambil tempat duduk di sebelahnya.
Pria itu kembali melirik arlojinya dan menatap serius ke depan tanpa menghiraukan wanita dengan balutan gaun hijau muda di sebelahnya itu. "10 menit. Aku tidak punya banyak waktu. Aku juga tidak peduli dengan urusanmu datang ke Imperial City, Lana Wei."
Lana Wei tersenyum masam setelah ucapan Tony Huo melewati gendang telinganya. Terasa sangat menusuk baginya. Namun mau bagaimana lagi, sejak Lana Wei masuk ke kantor Tony Huo tanpa permisi dan dengan berani memijat kepalanya, pria itu menjadi semakin dingin pada Lana Wei dan beruntung Tony Huo masih mau bertemu dengannya.
"Kamu masih marah padaku? Aku sudah minta maaf atas kesalahanku." Dia menyesap kopinya perlahan sembari meluruskan pandangan. Mata itu nampak sendu ketika dia beralih menatap Tony Huo. Lana Wei adalah wanita yang memiliki wajah melankolis dan nampak rapuh di mata para lelaki.
"Berhentilah basa-basi dan katakan saja apa maumu?! Sudah kukatakan aku cukup sibuk dan tidak ada waktu menemanimu mengobrol seharian, Nona Wei."
"Aku dengar perusahaanmu telah meluncurkan produk terbaru dan modelnya juga sudah ditentukan. Bukankah syuting akan dilaksanakan besok." Lana Wei mengawali percakapan singkat yang akan berjalan selama 10 menit. Dia menatap wajah samping Tony Huo, kemudian kembali melanjutkan, "beberapa hari yang lalu seseorang dari perusahaanmu mencoba untuk menghubungi manajerku ... dia sepertinya menginginkan aku menjadi duta dari produk terbaru perusahaanmu." Lana Wei menerangkan dengan santai maksud dari pertemuan singkat ini. Meskipun demikian tujuan utamanya hanya ingin melihat Tony Huo.
Tony Huo sudah dapat menduga bahwa ketiga orang yang telah diusirnya dari perusahaan telah merencanakan sesuatu di balik punggungnya. Bahkan model yang mereka hubungi tidaklah tanggung-tanggung yakni model internasional; Lana Wei. Lana Wei sendiri sudah pernah menjadi duta perhiasan dari Huo's Jewelry dua tahun lalu karena itulah penjualan produk Huo's Jewelry saat itu sangat pesat. Namun Tony Huo tidak peduli akan hal itu sekarang. Tidak ada yang bisa menggantikan Zelene Liang menjadi duta perhiasan Hou's Jewelry kali ini, walaupun Zelene Liang akan berpasangan dengan pria yang tidak disukai oleh Tony Huo.
"Hanya itu saja? Aku telah mengusir mereka dan kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Model iklan dan duta perusahaanku tidak akan berubah hanya karena kehadiranmu di Imperial City." Ucapnya dingin. Tony Huo masih memandang lurus melewati dinding kaca di depannya. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menatap wanita di sebelahnya tersebut. Ia bahkan tidak ingin tahu ekspresi sendu dari mata Lana Wei.
Saat ini Lana Wei sangat ingin menumpahkan air matanya. Pelupuk matanya telah basah dan genangan tersebut siap tumpah kapan saja. Dia mencoba untuk mengalihkan pandangannya ke atas langit-langit kedai tersebut. Setelah beberapa detik dia menurunkan pandangannya dan mengambil cangkirnya, kemudian menyesap sisa kopi di dalam cangkir itu.
Dia meletakkan cangkir itu kembali, namun tanganya masih memegang cangkir tersebut sembari mengetuk-ngetuk badan cangkir yang terbuat dari keramik putih. "Aku tahu akan hal itu. Aku hanya sedikit khawatir dan ingin bertanya langsung padamu. Ternyata orang-orang itu malah merencanakan sesuatu di balik punggungmu. Ah, aku juga dengar bahwa kamu ingin mengganti model prianya?"
"Aku tidak perlu mengatakan urusan perusahaanku padamu, Nona Wei." Tony Huo kembali melirik arlojinya dan menghitung tiap menit yang dihabiskannya duduk di sana dan mendengarkan omong kosong dari Lana Wei. Bagi Tony Huo semua ini sama sekali tidak penting. "Sudah 9 menit. Masih tersisa 1 menit lagi."
Lana Wei menghela napasnya dan memegang cangkir tersebut dengan erat. Dia perlahan mengarahkan pandangannya ke wajah samping Tony Huo. Wajah pria itu nampak bersinar, meski tidak ada kehangatan yang nampak dari wajahnya. Hal itu cukup membuat hati Lana Wei lebih teriris lagi.
"Aku mendengar kabar bahwa kamu ... menolong seorang wanita di klub dan wanita itu sendiri adalah Zelene Liang. Ehm ..., sejak kapan kamu mengenal Zelene Liang?"
Tony Huo agak terkejut dengan pertanyaan Lana Wei, namun ia masih setenang sebelumnya. Ia tidak peduli darimana atau dari siapa Lana Wei mendengar berita tersebut. Pertanyaan itu tentu tidak ingin dijawab oleh Tony Huo. Ia berdiri dari duduknya karena 10 menit telah berlalu. "Sudah 10 menit. Aku harus pergi."
Tanpa berpikir panjang Lana Wei memeluk Tony Huo dari belakang ketika pria itu berbalik.
๐ Bersambung๐
Maafkan author karena baru update. Author sedang merayakan hari raya dan juga kurang enak badan. Mohon maaf ๐๐๐