My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Dia menekan area pada lukaku



"Kita sudah sampai, sekretaris Yun. Tuan Muda ada di rumah kaca." Butler Kim sudah mengantarkan Yun Ruo Xi sampai ke taman mawar dan menunjuk pada rumah kaca yang ada di tengah-tengah taman tersebut.


"Terima kasih butler Kim, Anda bisa mengantar saya sampai di sini saja. Saya akan masuk sendiri."


"Baiklah kalau begitu, saya akan kembali ke dalam." Ucap butler Kim, lantas dia menundukkan kepala dan melangkah pergi menuju ke dalam mansion untuk melanjutkan pekerjaannya.


Setelah kepergian butler Kim, Yun Ruo Xi masih tetap berdiri di tempatnya, dia mengamati taman yang didominasi oleh warna merah, selain jenis mawar yang telah disebutkan sebelumnya. Taman mawar juga memiliki banyak bunga mawar berwarna merah, sehingga taman tersebut layaknya dunia kemerahan nan terang.


Yun Ruo Xi menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum melangkahkan hak tingginya menuju ke rumah kaca. Dia memperhatikan sekitarnya dan tidak menemukan satu pekerja pun di luar taman mawar dikarenakan Tony Huo menyuruh mereka libur hari ini. Hal itu disengaja dan semua pekerjaan mereka diambil alih oleh Zelene.


Kaki jenjang itu berhenti di depan pintu kaca, Yun Ruo Xi sedang membenahi penampilannya dari rambut hingga ujung kakinya diperhatikan terlebih dahulu sebelum dia mengetuk pintu rumah kaca.


Tidak lama kemudian, pintu rumah kaca pun terbuka dan Duan Che yang membukakan pintu tersebut, mempersilahkan Yun Ruo Xi untuk masuk.


"Kau sudah datang, sekretaris Yun, bagaimana dengan dokumennya?" tanya Duan Che tanpa basa-basi.


Yun Ruo Xi menunjukkan dokumen yang ada di tangannya dan berkata, "Divisi desain baru saja menyelesaikannya, maaf jika membuat kalian menunggu lama."


"Tidak apa-apa, ayo, Tuan Muda sudah menunggu." Kata Duan Che dengan nada datarnya.


Keduanya berjalan mendekat ke arah Tony Huo dan mengambil tempat duduk yang telah di sediakan sebelumnya. Yun Ruo Xi perlahan duduk dengan anggun di kursi sebelah kiri, setelah memberi salam dan meyerahkan dokumen itu pada Tony Huo. Sedang, Duan Che telah duduk di sisi kanan Tony Huo.


"Maaf atas keterlambatannya Tuan, karena saya harus menunggu divisi desain meyelesaikan laporan tersebut." Kata Yun Ruo Xi dengan nada lemah lembut, dia memperhatikan Tony Huo yang sedang fokus meninjau dokumen di tangannya. Yun Ruo Xi melihat kerutan di alis Tony Huo dan menyadari bahwa sakit kepalanya pasti belum hilang, jadi dia bertanya untuk memastikan, "umh ... apakah sakit kepala Anda belum hilang juga, Tuan?"


"Hm, kepalaku masih sakit." Jawabnya datar. Tony Huo bahkan tidak repot-repot menoleh pada Yun Ruo Xi.


Sementara itu, Zelene Liang masih sibuk dengan gunting di tangannya dan sesekali bernyanyi tidak jelas, jadi ia tidak terlalu memperhatikan kedatangan Yun Ruo Xi. Karena keasyikan bernyanyi, gunting di tangan Zelene tidak sengaja terjatuh dan hampir saja mengenai kakinya. Sehingga ia dengan spontan memindahkan kaki kanannya.


"Duh." Desahnya pelan.


Hal itu sontak membuat Tony Huo kaget dan berdiri dari duduknya untuk melihat keadaan wanita itu dan ia pun bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja! Huh, aku tidak sengaja menjatuhkan gunting karena aku salah potong ...." Zelene Liang menoleh pada dahan mawar yang tidak sengaja dipotongnya, lalu menatap ke arah tiga orang itu dan pada saat itulah, ia baru menyadari kehadiran Yun Ruo Xi.


"Kamu sangat ceroboh! Bekerjalah dengan benar."


Pria itu kembali duduk setelah menghela napas kecil dan memastikan bahwa, Zelene Liang baik-baik saja, lantas ia menyibukkan diri dengan dokumen di tangannya.


Sedangkan, Duan Che hanya memperhatikan dan melihat ada secercah rasa khawatir di wajah dingin Tony Huo. Sejak kapan atasannya itu memasang wajah khawatir, meski hanya sekejap saja? Apakah karena kejadian tadi malam? Duan Che bertanya-tanya dalam benaknya.


"Huh!" Zelene memutar bola matanya malas dan memanyunkan bibir mungilnya, ketika itu ia menoleh pada Yun Ruo Xi yang memperhatikan dirinya dan Zelene pun balik menatap Yun Ruo Xi berlama-lama.


Wanita dalam busana merah itu agaknya terkejut karena melihat Zelene sebagai seorang gardener cantik. Apalagi dengan make up tipis yang diaplikasikan pada wajah Zelene, membuatnya terlihat lebih natural. Memang benar bahwa, Zelene memiliki kecantikan alami, meski mengenakan seragam gardener sekalipun. Yun Ruo Xi terus-menerus memperhatikan Zelene dan merasa bahwa, wajahnya tidak asing, tapi dia tidak memikirkan lebih jauh lagi dan mengakhiri tatapannya dengan senyum hangat yang dipaksakan.


Zelene tidak menggubris senyum yang dilemparkan oleh Yun Ruo Xi, ia malah memberikan tatapan malas pada wanita itu.


"Cantik juga. Ngengat akan selalu memakan kayu, sampai kayu itu berubah menjadi busuk." Gumamnya pelan lantas melanjutkan pekerjaannya yang tertunda akibat salah memotong dahan.


Setelah beberapa saat, Zelene pindah dari satu sisi ke sisi lainnya, namun tetap dalam lingkup di dalam rumah kaca. Ia merasa lelah—lebih melelahkan daripada berakting karena ia sesekali harus membungkukkan badannya juga berjongkok untuk memotong daun kering pada bunga mawar yang letaknya di lantai.


Di setiap sudut dan sisi dari rumah kaca itu dikelilingi oleh daun-daun kering yang lemparkan oleh Zelene sesuka hatinya. Jadi, daun-daun kering itu berserakan di atas lantai rumah kaca, dan ketika angin bertiup melewati jendela yang terbuka, maka beberapa daun kering akan berterbangan hingga ke meja Tony Huo, bahkan sampai ke dokumen yang dibacanya.


"Tutup jendelanya!" perintahnya pada Duan Che.


"Baik, Tuan." Duan Che segera berdiri dan menutup beberapa jendela yang awalnya terbuka.


Setelah membaca beberapa dokumen, Tony Huo merasa agak lelah. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dan jemarinya memijat lembut pada pelipisnya.


"Tuan, sepertinya Anda kelelahan, lebih baik Anda beristirahat sebentar. Bagaimana kalau saya pijat kepala Anda?" tawar Yun Ruo Xi, perhatian.


"Tidak perlu." Sahut Tony Huo dengan nada dingin. Ia tidak ingin kepalanya disentuh lagi, hal itu akan mengingatkannya pada Lana Wei yang tiba-tiba berada di ruangannya dan memijat kepalanya tanpa ijin beberapa hari lalu, saat ia masih di Kanada dan hal tersebut membuatnya sangat kesal.


Yun Ruo Xi tak berkata apa pun lagi dan hanya diam di tempat duduknya sembari mencuri tatap pada Tony Huo. Dirinya sangat mengagumi pria dingin itu, sejak dia menjadi sekretarisnya 5 tahun yang lalu dan berharap bisa menuliskan kisah seperti halnya di novel-novel yang dia baca.


"Ah!"


Teriakan Zelene membuat ketiga orang itu berpaling ke arah suara hanya untuk mendapati, Zelene, terduduk di lantai dengan jari berdarah.


"Ada apa?" Tony Huo bergegas menaruh berkasnya dan berlari menghampiri Zelene. Ia meraih tangan Zelene yang terluka dan mengamati keadaannya, dan ternyata jarinya hanya tertusuk duri mawar.


"Jariku berdarah," rengeknya dengan wajah sendu, "ini semua salahmu Tony Huo!" bentak Zelene, suaranya bisa terdengar hingga di luar rumah kaca.


"Hei! Kamu sangat kasar. Bagaimana mungkin tanganmu yang tertusuk duri dan kamu malah menyalahkan Tuan Muda?" Yun Ruo Xi geram ketika mendengar bentakan Zelene Liang. Apalagi yang dibentak adalah Tony Huo, dan tentu saja Yun Ruo Xi sendiri sedang mencari perhatian.


"Sekretaris Yun," Duan Che sebenernya ingin memperingati Yun Ruo Xi, akan tetapi dia mengurungkan niatnya setelah melihat bahwa, Yun Ruo Xi sedang menatap Zelene dengan sengit.


Cih! Tukang kebun saja berlagak dan Tuan Muda sendiri mau membantunya. Apa istimewanya dari tukang kebun ini? Yun Ruo Xi membatin.


Tiba-tiba Yun Ruo Xi mengeluarkan seringai tipis. "Tuan Muda, Anda tidak perlu repot-repot mengurus seorang tukang kebun. Biarkan saya yang membantu mengobati lukanya."


Tangan Zelene diraih oleh Yun Ruo Xi dan dengan sengaja wanita itu menekan area pada jari Zelene yang tertusuk oleh duri mawar barusan.


Zelene sangat tahu yang ada dipikiran wanita itu, jadi ia mendelik tajam pada Yun Ruo Xi dan mendorong tubuh molek wanita itu, hingga terjungkal ke belakang.


"Kya!" Yun Ruo Xi menopang badannya yang terjungkal menggunakan kedua tangannya dan sorot matanya dipenuhi api kemarahan yang di arahkan ke Zelene Liang.


"Berdirilah."


Bukan untuk membantu Yun Ruo Xi yang terjungkal melainkan, Tony Huo membantu Zelene dan sama sekali tidak memedulikan Yun Ruo Xi, hingga membuat wanita itu terheran.


"Dia menekan area pada lukaku." Lirih Zelene.


🍁 Bersambung🍁