My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Ayo pulang dan makan malam bersama



"Siapa mereka?" sosok dengan tubuh berisi duduk di kursi penumpang melihat ke rombongan Zelene Liang yang memberikan pertolongan pada gadis itu. Matanya memicing dan nampaknya dia mengenali sosok jenjang Zelene Liang yang sudah tidak asing di mata publik. "Zelene Liang ...," gumamnya.


"Bos, perlukah kita melenyapkan saksi?" pria dengan busana hitam di kursi pengemudi sudah siap dengan pistol di tangannya. Namun gerakannya segera dihentikan oleh wanita di sebelahnya.


Sekitar empat orang berada di dalam mobil tersebut dan orang mencegah pria di kursi pengemudi adalah seorang wanita dengan tato harimau di pelipis kanannya. Wanita yang sekiranya berusia 30 tahunan itu mendelik tajam pada pria di kursi pengemudi. Seketika pria itu bungkam dan kembali menaruh pistolnya.


"Bertindak gegabah sekali lagi, kuhancurkan kepalamu!" wanita itu berseru dengan gigi terkatup serta matanya makin tajam, ada kilatan menakutkan dari bola mata hitam milik wanita itu.


"Baik, Nona Yan." Pria itu mengangguk takut-takut. Selain pria dengan badan berisi di kursi penumpang agaknya wanita yang disebut sebagai Nona Yan lebih menyeramkan dari pria itu.


"Yan Li, bagaimana menurutmu?" pria itu bertanya sembari mengarahkan pandangannya pada petugas ambulan yang telah mengangkat tubuh gadis itu.


"Ayo pergi! Membereskan gadis itu bukanlah masalah besar." Ucap Yan Li dengan santai. Dia mengambil pisau yang telah dia gunakan untuk menusuk perut gadis itu. "Tisu!"


Pria di kursi penumpang mengambilkan sekotak tisu untuk Yan Li. Mengambil beberapa lembar tisu Yan Li mulai menyeka pisau dengan gagang merah di tangannya. Matanya berbinar kala memandang pisau tersebut serupa memandang sebuah bongkahan berlian.


Mobil hitam dengan empat orang di dalamnya tersebut segera melaju, menembus keramaian jalan dan dengan sengaja melewati mobil van Zelene Liang.


Kedua bola mata hitam itu bersirobok ketika Zelene Liang menoleh pada mobil yang melaju dengan kecepatan pelan itu. Yan Li memberikan senyum penuh arti pada Zelene Liang, akan tetapi wajah datar Zelene Liang tak terganggu sama sekali.


🍁🍁🍁


Sesampainya di rumah sakit Zelene Liang beserta agennya dan kedua pengawal tersebut mengurus administrasi untuk gadis itu.


"Kak Liang semuanya sudah beres. Kita bisa pulang sekarang." Ujar Xu Mo. Dia dan Hanna Gu yang telah membereskan biaya administrasi rumah sakit untuk gadis itu, sementara pihak rumah sendiri yang menghubungi keluarga gadis itu.


Dari apa yang dikatakan oleh dokter ketika selesai menangani gadis dengan rambut panjang sepinggang itu—gadis itu tidak memiliki luka dalam yang cukup serius.


"Ayo. Ngomong-ngomong siapa nama gadis itu?" mulai melangkah meninggalkan unit gawat darurat, Zelene bertanya karena agaknya dia penasaran apalagi setelah mengingat mobil hitam yang melewati mereka dan senyum penuh arti dari wanita di dalam mobil tersebut. Sekiranya dia telah menebak-nebak ada sesuatu berhubungan dengan gadis dan wanita di dalam mobil.


"Laura Ji." Jawab Xu Mo singkat. Beberapa saat kemudian dia kembali berucap, "dia seorang mahasiswi begitu yang tertera di tanda pengenalnya. Dia memiliki seorang wali bernama David Ji. Sebentar lagi pria bernama David Ji akan sampai di sini, jadi kita tidak perlu menunggu lagi."


"Aku sungguh panik barusan. Siapa yang dengan teganya telah menikam gadis itu? Mungkinkah dia di rampok? Seharusnya kita melaporkan hal ini kepada polisi, mengapa David Ji tidak membolehkannya?" pertanyaan Hanna Gu keluar bertubi-tubi dari bibirnya. Dia panik juga merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu? Gadis sesuainya ditikam pada sore hari dan tanpa sengaja melintas di depan mobil mereka.


"Itu urusan keluarga mereka, Kak Hanna, kita tidak perlu ikut campur. Setidaknya dia tidak memiliki luka yang cukup parah. Dia beruntung telah bertemu dengan kita." Entah apa yang ada dalam pikiran Zelene Liang, dia hanya merasa bahwa gadis itu cukup beruntung bisa mereka selamatkan dengan tepat waktu. Pikirannya juga saat ini mulai terganggu dengan kehadiran wanita di dalam mobil hitam tadi. Jika memang insiden ini ada hubungannya dengan wanita itu, maka mereka kemungkinan akan berada dalam masalah. Bagi dirinya sendiri dan Xu Mo pasti bisa mengatasi hal tersebut. Tapi bagaimana dengan Hanna Gu?


"Zelene Liang."


Menoleh ke asal suara yang tidak jauh di depannya, mata cantik Zelene Liang bertemu dengan mata dalam milik Tony Huo. Mereka saling memandang untuk beberapa saat. Zelene Liang menghentikan langkahnya, sementara Tony Huo terus melangkah hingga langkah besar pria itu terhenti tepat di depan Zelene Liang.


Tony Huo memindai Zelene Liang dari atas sampai bawah dan tidak menemukan goresan luka apa pun. Tony Huo menghela napas lega.


"Mengapa kamu bisa ada di sini?" bertanya penasaran seraya mengedarkan pandangan pada beberapa pengawal yang berdiri di belakang Tony Huo. Dia kembali bertanya, "mengapa membawa begitu banyak pengawal bersamamu, apakah kamu sakit, Tony Huo?"


Sebelum Tony Huo menjawab pertanyaan Zelene Liang, Xiao Xuan melangkah maju dan berdiri di samping keduanya dengan kepala tertunduk. "Maafkan saya, Nyonya karena tidak memberitahu Anda kalau saya telah menghubungi Tuan Muda. Saya khawatir Nyonya merasa takut dengan insiden ini."


Mengalihkan pandangannya pada Xiao Xuan, Zelene Liang mengangguk. "Begitu rupanya." Baru saja Zelene Liang memiliki pikiran bahwa Tony Huo mungkin sakit, namun jika pria itu sakit dia hanya perlu memanggil dokter keluarga tanpa perlu repot-repot datang ke rumah sakit, jika bukan sakit yang parah, 'kan?


Ternyata dia ke sini untukku? Apakah aku harus mengatakan bahwa dia cukup baik atau manis?


"Ayo pulang dan makan malam bersama."


Tony Huo menarik tangan Zelene Liang lantas berlalu meninggalkan para pengawal dan agen Zelene Liang. Karena insiden ini cukup mencurigakan setelah mendengar penjelasan dari Xiao Xuan, Tony Huo memutuskan untuk menjemput Zelene Liang ke rumah sakit bersama beberapa pengawal karena ia takut orang-orang yang telah melukai gadis itu, akan mencari Zelene Liang dan agennya.


Sosok pria tambun tergopoh-gopoh dengan wajah penuh kekhawatiran dan tidak sengaja menabrak lengan Zelene Liang. Segera Tony Huo mengambil tindakan menarik Zelene Liang ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak apa-apa?"


Zelene Liang menggeleng sembari menatap pria yang baru saja menabrak bahunya. "Tidak apa-apa."


"Maafkan saya, Nona." Spontan pria itu meminta maaf dengan menundukkan kepalanya beberapa kali, sebelum beberapa pengawal mengelilinginya dan bersiap untuk membekuk pria itu. Namun, Tony Huo memberikan isyarat agar mereka tidak melakukan apa pun.


Pria tambun itu mendongak, sesaat matanya membeliak kaget melihat pria tinggi nan tampan di hadapannya tersebut. Beberapa detik kemudian dia membenahi sorot matanya dan bergumam, "Tony Huo."


"Kau mengenalku?" Tony Huo bertanya karena ia bisa mendengar gumaman pria itu.


🍁 Bersambung🍁