My Arrogant Wife

My Arrogant Wife
Tidak terlalu menyenangkan



Zelene yang sedang bermalas-malasan di atas ranjangnya sambil memisuh Tony Huo dalam batinnya, menerima panggilan telepon dari Nyonya Huo.


"Sayang, apa kau baik-baik saja? Berita itu ..., Mom, benar-benar minta maaf." Lirih Nyonya Huo, dalam suaranya terdengar rasa bersalah.


Zelene terperanjat mendengar permintaan maaf dari Nyonya Huo. Yang seharusnya meminta maaf adalah Tony Huo yang tidak berperasaan. "Mom, untuk apa minta maaf? Aku sudah sering melihat berita seperti itu, jadi, sungguh aku tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa, bagaimana? Aku harus memberi pelajaran pada berandal yang berani mengecewakan menantuku!" gerutu Nyonya Huo. Ia sangat kesal terhadap putranya, berani sekali meninggalkan menantu yang sangat dia sayangi. Nyonya Huo menghela napas, "dia bahkan tidak mengabariku ketika berangkat ke Kanada, aku berpikir, apakah dia benar putraku?"


"Haha ..., Mom, mungkin putramu tertukar di rumah sakit." Zelene tertawa nyaring mendengar ucapan Nyonya Huo.


"Andaikan dulu aku bisa menukarnya denganmu. Tapi, tanpa aku tukar pun sekarang kau menjadi putriku. Apa kau sungguh tidak apa-apa?" Nyonya Huo memastikan.


"Ah, aku hanya sedikit kecewa ..., setidaknya dia harus memberitahuku terlebih dahulu. Ternyata, dia juga tidak memberitahumu, Mom. Apalah artinya aku di matanya ...." Lirih Zelene yang sebernarnya sedang menyeringai. Dia mengungkapkan ke kecewaannya agar Nyonya Huo memarahi putranya habis-habisan.


🍁🍁🍁


Toronto, Ontario, Canada


Tony Huo sampai di Bandar Udara Internasional Pearson, Toronto, pukul 21:30 PM setelah berada di pesawat selama lebih dari 12 jam.


"Akhirnya sampai juga," Ling Ling meregangkan badannya.


"Nona Ling, apakah ada yang menjemputmu atau kau pulang bersama kami?" tanya Duan Che sembari membawa dua koper di tangan kiri dan kanannya.


"Aku dijemput oleh sopir. Kamu perhatian sekali!" Ling Ling menatap manis ke Duan Che.


"Bukan begitu, aku hanya takut kau merepotkan kami."


Ling Ling, "...."


Sopir dari kediaman Huo's di Toronto sudah menunggu untuk menjemput tuannya. Tony dan Duan Che segera memasuki mobil Marcedes Benz S-600 Pullman berwarna hitam metalik. Sementara, Ling Ling pulang ke kediaman Ling bersama sopir yang menjemputnya dan mereka berpisah di bandara.


Mobil hitam itu melaju meninggalkan bandara, menuju kediaman Huo yang terletak di Jalan St. Patrick.


🍁🍁🍁


Sesampainya di Huo's Villa, mereka disambut oleh butler Fu yang kebingungan. Seharusnya Tony Huo menetap di Negara C, namun ia kembali ke Kanada dalam beberapa hari.


Pria berambut putih panjang itu membungkukkan badan, memberi hormat pada Tony Huo. "Selamat datang, Tuan Muda, bagaimana perjalanan Anda?"


"Tidak begitu menyenangkan." Jawabnya datar, serupa wajahnya yang datar sejak menaiki pesawat dari Negara C. Kaki panjang Tony Huo melangkah meninggalkan Duan Che dan butler Fu, tanpa memedulikan kedua orang yang sibuk mengambil koper dari bagasi.


Butler Fu yang masih keheranan melihat ke arah Duan Che yang tidak memiliki ekspresi apa pun di wajahnya. Dia ingin bertanya, tapi terlalu malas setelah melihat wajah batu Duan Che.


Duan Che yang merasa diperhatikan oleh pria berambut putih itu, menoleh sejenak; kemudian tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia menyusul Tony Huo bersama koper di tangannya.


Pria berambut putih itu menggelengkan kepalanya dan bergegas menyusul mereka. Suasana hati Tuan Muda sedang buruk rupanya.


Butler Fu membantu melepaskan coat yang dipakai oleh Tony Huo, kemudian ia betanya, "Tuan Muda, apa Anda ingin makan malam di hidangkan sekarang? Anda pasti lapar setelah perjalanan yang cukup panjang. Anda kan tidak terlalu suka hidangan di dalam pesawat."


"Tidak perlu, aku tidak makan malam." Suara Tony Huo makin mendatar, pikirannya seperti tidak ada di kediaman itu dan melayang entah ke mana.


"Tapi, Tuan Muda ...,"


"Butler Fu, kau bisa menghidangkan makan malam untukku?!" pinta Duan Che yang raut mukanya sudah berubah ketika mendengar kata makan malam.


"Memangnya asisten Duan tidak makan malam di pesawat?"


"Apa aku tidak boleh makan di kediaman ini?" lirih Duan Che. Hatinya seperti tertelan ke dalam gelombang ombak, hanya karena makan malamnya dipetanyakan oleh Butler Fu. Apa Butler Fu tidak ingin repot menyajikan makan malam untuk Duan Che atau dia ingin Duan Che ikut merasakan tidur tanpa makan malam seperti Tony Huo?


"Bukan begitu! Tuan Muda saja tidak makan malam, kenapa kau hanya mengisi perutmu?" Ketus Butler Fu. Benar saja, dia ingin Duan Che mengikuti jejak tuannya yang tidak ingin makan malam.


"Tuan yang tidak makan, kenapa aku yang repot?" kacamata hitam Duan Che semakin ditinggikan.


"Hidangkan semua makanan yang ada. Aku akan ke kamar dan jangan menggangguku!" Tony Huo berjalan dengan malas ke kamarnya yang terletak di lantai dua kediaman tersebut.


"Baik, Tuan Muda." Butler Fu menengok ke Duan Che yang sudah melepas kacamata hitamnya.


Hidangan makan malam untuk Duan Che sudah dipersiapkan oleh para pelayan yang sibuk membawa makanan dari dapur menuju ruang makan. Si wajah batu sudah duduk dengan tenang di meja makan.


"Asisten Duan, bukankah hari ini Tuan Muda menikah? Mengapa dia kembali ke sini?" tanya Butler Fu penasaran.


Seluruh hidangan sudah tertata rapi di meja makan, Duan Che mengambil nasi dan beberapa lauk ke dalam mangkuknya sebelum menjawab pertanyaan butler Fu.


"Jadi, karena itu kau memasang kaca mata hitammu? Pffft." Butler Fu terkekeh di samping Duan Che.


Duan Che, "...."


"Apa Nona Ling Ling juga ikut bersama kalian?"


"Iya, perempuan itu selalu menempel pada Tuan Muda, seperti lintah!"


"Apa kau yakin, Nona Ling, menempel pada Tuan Muda?" butler Fu menaikkan kedua alisnya.


"Apa maksudmu?"


"Aku hanya ingin mengatakan, kau harus belajar menjadi orang yang peka." Butler Fu menggeleng pelan, memperhatikan si wajah batu yang hanya peka terhadap makanan. Dia kemudian menghela napas pelan, "apa mungkin, Nyonya Muda, bukan tipe ideal Tuan Muda?"


Duan Che menatap aneh pada butler Fu, ia melahap makannya dan tidak menjawab pertanyaan butler Fu.


🍁🍁🍁


Dalam kamar utama suara gemercik air bisa terdengar dari kamar mandi. Cucuran air seperti gerimis dikala senja mengucur membasahi rambut hitam pria yang bertubuh tegap itu, kemudian mengalir melewati dagu lancip pria dengan bibir tipis yang lembab dan memikat.


Jari-jari panjangnya menyisir rambut yang sudah sepenuhnya basah, dia tersenyum kecut, lantaran mengingat istri kecilnya yang ia tinggalkan dimalam pertama mereka.


"Aku tidak perlu membayangkan ekspresinya, dia pasti sudah mengutukku, 'kan? Atau mungkin juga dia tidak peduli sama sekali."


Plak! Tony Huo menepuk jidatnya karena memikirkan wanita yang menurutnya tidak penting itu. Membayangkan bagaimana reaksinya saat ditinggalkan tanpa menitipkan pesan ataupun pemberitahuan. Apa yang akan wanita itu lakukan ketika ia memutuskan untuk kembali suatu saat nanti dan kapan waktu itu akan tiba? Masihkah Zelene akan mengingatnya?


"Apa yang aku pikirkan? Ini sudah keputusan yang tepat!"


🍁🍁🍁


Angin berdesir dari pintu balkon yang terbuka membuat udara di kamar utama sesejuk pria yang telah selesai mandi, dia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk tipis.


Drrrttt!


Smartphone Tony Huo berdering menandakan panggilan masuk, dia segera mengambil smartphone yang tergeletak di atas ranjang dan mengangkat panggilan tersebut. "Adaβ€”" suara Tony tercekat.


"Tony Huo! Kau sudah gila, ya? Tidak bisakah kau pergi setelah malam pertamamu?! Begini caramu memperlakukan menantuku?" Nyonya Huo menjejal Tony dengan pertanyaan setelah panggilan itu diangkat olehnya.


"Bu, tenanglah! Aku buru-buru kembali ke Kanada karena urusanku di sini banyak." Sahut Tony dengan alasan yang klise.


"Urusan apa? Urusan dengan para kekasihmu yang belum selesai?" suara Nyonya Huo terdengar ngos-ngosan karena nada tinggi yang dikeluarkannya, "aku tidak ingin lagi mendengar berita tentangmu dan para kekasihmu. Kau dengar tidak?"


"Iya, aku dengar! Mereka bukan kekasihku." Bentakan dari Nan Si Yue membuat Tony menghela napas dalam.


"Baguslah jika kau mengerti, aku tidak ingin menantuku direbut oleh keluarga lain. Jadi cepatlah kembali!" hardiknya dengan nada tinggi.


Tootβ€”


Nyonya Huo mematikan panggilannya dengan kasar.


Tony Huo, "...."


Handuk tipis dan smartphone di tangannya terlempar ke atas ranjang. Tony Huk duduk di tepi ranjang, sikunya bertumpu di atas pahanya, lalu ia menutup wajah tampannya dengan kedua tangan besarnya.


🍁Bersambung🍁


🌬️MINI DRAMA🌫️


Red Maple, "Makanya Tony, dengerin kata emak! Pulang sana, nge-bucin!"


Tony Huo, "Huh? Nge-bucin? Mimpi kali!"


Zelene Liang, "Red Maple, ganti saja karakter Tony Huo dengan Derrick Qi, dia lebih tampan."


Tony Huo, "...."


Red Maple, "Bukan salah gue! Gue enggak ikut-ikutan! Bye!"


Red Maple kabur.