Love Revenge

Love Revenge
Bab 99



"Kenapa melamun? Kamu merindukan mereka? Jika iya, Kakak akan menjemput mereka dan membawanya kemari," kata seorang pria yang kemudian ikut duduk di samping wanita itu.


"Entahlah Kak, dari tadi pagi perasaanku tidak enak, aku terus kepikiran anak-anakku. Apa mereka baik-baik saja, apa mereka sudah makan dan tadi berangkat sekolah, atau apa mereka sekarang merindukanku," ucap wanita itu lirih.


"Bukankah kamu bilang jika dia pasti akan menjaga anak-anakmu dengan baik? Dan juga Cya, mereka pasti merindukanmu, karena bagaimanapun kamu adalah ibunya, walaupun saat ini mereka sedang bersama ayah kandungnya, tapi selama ini mereka hidup bersamamu, kamu yang membesarkan mereka sendiri."


"Iya Kak kau benar," ucap Cyara yang tersenyum menatap pria yang kini duduk di sampingnya.Pria yang saat itu tiba-tiba datang dan mengangkat tubuhnya saat dirinya kesakitan waktu itu. Pria yang tak lain adalah kakaknya.


"Ayo sekarang kamu makan, sejak siang kamu belum makan, kamu harus pikirkan anak dalam kandunganmu juga, dia juga butuh makan."


"Baiklah," Cyara kemudian melangkah dan mengikuti pria itu.


"Kak Dami!"


"Hmm, kenapa? Apa kamu tidak suka makanannya?" Tanya pria yang Cyara panggil Dami.


Cyara mengangguk merasa tidak enak.


"Tapi ini makanan kesukaanmu, dan lagi ini juga yang seperti biasanya kamu makan, kamu masih tidak bisa makan sembarangan kan?" Tanya  Dami lagi.


Cyara lagi-lagi mengangguk, lalu dia menyebutkan makanan apa yang diinginkannya membuat Dami mengernyit dan pria itu pun kemudian tersenyum.


"Jadi ini keinginan keponakan uncle? Baiklah, kamu tunggu disini! Kakak akan menyuruh pengawal untuk membelikan makanan yang kamu inginkan," ucap pria itu terlihat senang, karena kali ini terlibat dalam masa kehamilan Cyara.


"Tunggu Kak!"


Langkah Dami terhenti, dia kemudian berbalik.


"Ada lagi yang kamu inginkan?"


Cyara pun mengangguk, dan menyebutkan semua yang diinginkannya, membuat Dami hanya terperangah, karena ada 8 jenis makanan yang adiknya inginkan dan mau semuanya saat itu juga.


"Cya kamu tidak salah me…"


"Apa Kakak tidak mau? Kalau tidak mau ya sudah," ucap Cyara dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah murung.


"Bukan seperti itu...hmm baiklah, kamu tunggu disini," ucap Dami kembali hendak melangkah, tapi lagi-lagi Cyara menghentikannya.


"Kenapa?"


"Aku mau Kak Dami sendiri yang membelikannya," ucap Cyara dan Dami hanya menghela nafas dan mengangguk pasrah, bagaimanapun ini moment pertamanya menuruti apa yang keponakannya inginkan.


"Terima kasih," ucap Cyara tersenyum yang melihat kakaknya pergi untuk membelikan semua makanan yang diinginkannya.


*


*


Vier sama sekali tidak peduli dengan ponselnya yang terus berdering, panggilan dengan nama yang sama Sheira.


"Kenapa tidak dijawab, mungkin saja penting Kak, dari orang suruhan Kakak yang mencari Kak Cya," ucap Vian karena Vier masih saja fokus dengan laptop di pangkuannya.


Vier kemudian menoleh ke samping dimana Rey sudah kembali terlelap. Vier saat ini memang berada di atas brankar Rey, putranya itu tidak mau ditinggalkan walau hanya sebentar saja. Dia bilang takut papinya pergi saat dia tidur.


Vier mencoba turun dari ranjang dengan perlahan, kemudian mengambil ponselnya, dan berlalu keluar menjauh dari Rey, sebelumnya dia memberi isyarat pada Vian untuk menjaganya sebentar, sesampainya di luar, Vier menutup pintu lalu dirinya menatap ponsel yang kembali berdering setelah dering tersebut mati beberapa detik yang lalu, Vier pun kini memutuskan untuk menggeser ikon berwarna hijau, menjawab panggilan tersebut.


"Halo!"


"Halo Vier, akhirnya kamu menjawab panggilanku juga, Vier, aku punya berita baik untukmu," ujar Sheira dengan nada suara yang terdengar jika dia saat ini tengah bahagia.


"Baiklah, kita ketemu nanti malam, aku akan kirimkan alamatnya," ucap Vier.


Dan hal itu membuat Sheira begitu senang, "Oke, aku pasti akan datang dan berdandan cantik untukmu, i love you Vier," jawab Sheira.


"Halo, halo Vier," Sheira menatap ponselnya dan ternyata Vier sudah mengakhiri panggilan mereka sepihak.


Sementara itu, setelah panggilan berakhir, Vier pun menghubungi orang suruhannya mencari tahu kabar terbaru istrinya.


"Halo bagaimana?" kata Vier langsung bahkan pria itu tak berbasa-basi sama sekali.


"Maaf Tuan, kami sudah mencarinya kemanapun, tapi kami belum berhasil menemukannya."


"Apa yang kalian lakukan ha? Hanya mencari satu orang saja kalian tidak bisa? Aku tidak mau tahu, kalian harus segera menemukannya, kalau perlu kalian tidak perlu berhenti," marah Vier dan pria itu pun segera memutuskan panggilan sepihak.


"Kenapa Kak?" Tanya Zeline yang baru saja datang dan mendengar kakaknya marah-marah.


Bukannya menjawab, Vier hanya menatap Zeline sekilas dan kemudian berlalu masuk. Dan Zeline hanya bisa menghela nafasnya, kemudian mengikuti Vier di belakangnya.


Vier tanpa banyak kata, kembali berbaring di samping Rey dan memeluk anak laki-laki itu erat.


"Bagaimana keadaan Rey?" ucap Zeline dengan berbisik melihat kakaknya yang kini memejamkan mata, dia merasa sedih melihat Rey dengan kepala yang dibalut perban. Ingin rasanya Zeline memeluk keponakannya itu, tapi diurungkannya karena melihatnya yang saat ini masih terlelap.


"Sudah lebih baik," Vian pun menjawab dengan ikut berbisik.


"Aku dengar Kak Vier yang mendonorkan darahnya," ucap Zeline dan Vian pun mengangguk.


"Bukannya Kak Vier…"


"Hmm iya benar, golongan darah mereka sama," ucap Vian dan keduanya kini hanya saling melempar pandang.


Vier hanya membiarkan kedua adiknya tetap disana, sebenarnya pria itu tidak tidur, tapi dia hanya ingin memejamkan matanya saja, sebenarnya perasaan Vier gelisah, sudah dua hari dan istrinya belum juga di temukan.


"Kamu dimana Cya? Kau tahu saat ini Rey dan Rain sangat membutuhkanmu, aku juga membutuhkanmu, jika kamu marah, cukup hukum aku saja, jangan hukum anak-anak juga, pulanglah Cya, kami sangat merindukanmu," ucap Vier dalam hati dan kin air matanya kembali menetes dan tanpa sengaja jatuh di pipi Rey.


Mata Rey mengerjap merasakan sesuatu yang basah menyentuh kulitnya, kemudian tangan mungil itu terangkat dan mengusap wajah Vier, tepatnya menyeka air mata papinya yang sudah membasahi pipi.


"Kenapa Papi menangis?" Tanya Rey polos.


Dan mendengar suara Rey, Vian dan Zeline bangun, bisa mereka lihat jika saat ini Vier kembali menangis.


"Papi jangan menangis," ucap Rey dan Vier hanya memeluknya semakin erat, tidak mengatakan sepatah katapun.


Rasanya lidahnya kelu, sampai dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Maafkan Papi sayang, maaf…" hanya kalimat itu yang akhirnya keluar dari mulut Vier yang kini menangis tersedu-sedu, apalagi saat membayangkan betapa sakitnya perasaan Cyara selama ini.