Love Revenge

Love Revenge
Bab 131



Cyara menangis mendengar rekaman suara  yang baru saja diputar oleh suaminya. Vier pun menceritakan kenapa dirinya bisa ada di lokasi kejadian saat itu.


Flashback


Saat itu, Vier sedang berbicara dengan Alno dan Alma, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia tidak tahu siapa yang menghubunginya, karena disana hanya tercantum nomornya saja, tidak dengan nama. Awalnya Vier mengabaikannya, Vier memang tidak akan menjawab telepon jika dia tidak mengenalnya. Satu kali, dua kali, sampai yang kelima kalinya Vier baru menjawab panggilan itu. Dan terkejutnya Vier bahwa ternyata yang menghubunginya adalah ibu mertuanya. Mertuanya itu bilang, jika ada yang ingin dibicarakan dan dia ingin bertemu dengan Vier dan mengatakan sesuatu, tidak bisa jika lewat telepon. Hingga Vier setuju dan memutuskan untuk datang ke rumah sakit untuk menemuinya.


Sesampainya di rumah sakit, Vier terkejut saat mertuanya tiba-tiba memberikan ponsel dan menyetel rekaman percakapan antara dirinya dan juga Sheira.


"Kalian mencari Sheira kan?" Tanya Ibu Cyara begitu rekaman itu sudah selesai diputar.


"Maksud Anda?"


"Aku akan menemuinya."


"Jadi, Anda tadi mengajak istriku untuk menemuinya, tidak aku tidak akan mengizinkannya, aku tidak mau membahayakan istri dan anakku sendiri," kata Vier menolak dengan tegas.


"Aku akan melindungi Cyara, dia anakku, dan sedang mengandung cucuku juga, aku tidak akan membiarkannya dalam bahaya, jadi Vier, tolong percayalah padaku, berikan aku kesempatan untuk membantu putriku, walau aku harus menyakiti putri yang lain. Bukankah kalian bilang, jika Sheira pantas mendapatkan hukuman atas apa yang di lakukannya, jadi kalian harus menangkapnya, rekaman ini mungkin saja bisa jadi bukti, dan ini, aku juga punya bukti bahwa mobil Sheira lah yang mencoba mencelakai Rey dan Rain, kalian tidak mau kan Sheira lolos lagi? Kalian tidak akan bisa menemukannya, karena Sheira sudah mengubah total penampilannya, dan inilah kesempatan untuk menangkapnya Vier, kita tidak punya cara lain, jika kali ini Sheira lolos lagi, aku tidak tahu, dia akan menyakiti siapa lagi. Dan perlu kamu tahu, Sheira punya gangguan pada kejiwaannya, jika dia ingin menyingkirkan seseorang, dia akan benar-benar melakukannya."


Ibu Cyara turun dari sofa yang didudukinya, kemudian bersimpuh di hadapan Vier.


"Ibu mohon! Biarkan Ibu menebus kesalahan Ibu pada Cyara, ibu janji, ibu akan memastikan jika Cyara pasti akan baik-baik saja, jadi Vier, cepatlah! Buat rencana untuk menangkap Sheira."


Vier menghela nafas dan mengacak rambutnya frustasi, hal ini sangat berbahaya, dia tidak mungkin mengorbankan istri dan anaknya juga ibu mertuanya sendiri, tapi Vier juga tidak ada cara lain untuk menangkap wanita itu, bahkan selama beberapa hari untuk melacaknya, mereka tidak menemukannya, Sheira seperti sudah tahu, jika dirinya selama ini tengah dikejar dan dipantau.


Vier kemudian menatap mertuanya yang menatapnya penuh permohonan. 


"Baiklah, tapi Ibu harus janji bukan cuma melindungi Cyara dan anakku, tapi Ibu juga harus melindungi diri Ibu sendiri, karena jika sampai terjadi sesuatu dengan Ibu, Cyara pasti akan menyalahkan dirinya sendiri."


Ibu Cyara tersenyum, "Ibu akan usahakan itu, tapi jika sesuatu buruk terjadi pada Ibu, tolong bilang ke Cyara, bahwa ini bukan salahnya, Ibu justru senang melakukan ini karena untuk pertama kalinya Ibu bisa menunjukkan kasih sayang Ibu terhadapnya, dan Vier, tolong jaga Cyara dan cucu Ibu, bahagiakan dia, karena dia berhak bahagia, dan ini," Ibu Cyara kemudian merogoh saku bajunya, dan memberikan sebuah kunci untuk Vier. "Di rumah, gudang lantai atas, ajaklah Cyara kesana nanti," tambahnya lagi.


Flashback off


Cyara menangis sesenggukan mendengar suara ibunya, dan dia baru tahu, jika ibunya sebenarnya sangat menyayanginya.


"Maafkan Cyara Ibu... maafkan Cyara…."


Vier langsung memeluk istrinya, dan menyampaikan apa yang pernah ibu Cyara katakan padanya.


"Jadi sayang, please jangan sedih lagi ya, demi anak kita," ucap Vier menenangkan.


Sementara yang lain juga tidak bisa untuk tidak meneteskan air matanya, mendengar tangis pilu Cyara.


"Vier, aku ingin ke rumah Ibu," ucapnya setelah mulai tenang.


Vier menatap kedua orang tuanya, melihat isyarat yang mereka berikan, Vier akhirnya setuju, dia kemudian bangkit dan membantu istrinya berdiri.


"Kamu ganti pakaian kamu dulu ya, setelah ini kita kesana," ucap Vier dan Cyara pun mengangguk. Dan keduanya kini pergi ke kamar, setelah berpamitan dengan anggota keluarga lainnya.


Jasmine menatap anak dan menantunya sendu, dan Stevano yang tahu itu, langsung merangkul sang istri seolah meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja nantinya, yang Cyara butuhkan hanya waktu, waktu yang membuat dirinya nanti akan lebih baik, ya walaupun ingatan tentang luka masih ada, tapi setidaknya, seiring berjalannya waktu, luka itu akan semakin membaik, meski bekasnya mungkin masih ada.


Setelah bersiap kini Cyara dan Vier memasuki mobil menuju kediaman orang tua Cyara. Lima belas menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga. Vier membantu istrinya turun, dan kedatangan mereka langsung di sambut para pekerja disana. Begitu masuk, para pelayan, menunduk hormat tahu siapa yang datang, dan pelayan senior yang selama ini selalu menemani disisi Ibu Cyara, langsung datang menghampirinya dan memeluk Cyara erat. Keduanya kini kembali menangis. Setelah menumpahkan kesedihan, Cyara pun mengatakan maksud kedatangannya kesana.


Wanita paruh baya itu, tersenyum, dan menunjukkan jalan pada Cyara. Cyara mengedarkan sekeliling, disana sama sekali tidak ada foto dirinya. Dan pelayan senior menjelaskan bahwa jika ada satu saja foto Cyara terpampang di dinding, Sheira akan marah dan langsung membantingnya, hingga Ibu Cyara memutuskan untuk mengambil foto-foto Cyara dan menyembunyikannya di suatu tempat, yang jarang Sheira injak, tepatnya di gudang. Cyara tersenyum miris mengingat itu, semua tentang dirinya di letakkan di gudang, tapi senyuman miris itu berubah jadi senyuman lebar bahkan sampai meneteskan air mata saat membuka ruangan yang disebut gudang itu, karena isinya sudah seperti galeri seni, semua barangnya, disusun begitu rapi disana.


"Kami semua memang menyebutnya gudang, atas perintah Nyonya, karena jika tahu semua ini Nyonya buat untuk Nona, Non Sheira pasti akan menghancurkannya. Dan Nona kemarilah!" Pelayan senior itu menuju ke rak buku, ya Cyara mengingat itu semua buku miliknya, pelayan itu menggeser satu buku dan ada sebuah tombol disana, dan begitu tombol itu terbuka. Rak itu bergeser layaknya pintu rahasia, pelayan senior masuk dan menunjukkan sesuatu pada Cyara dimana disana ada tumpukan kado serta kartu ucapan di masing-masing kado, Cyara mendekat dan membaca salah satunya, ternyata kado itu, ibunya siapkan sejak ulang tahunnya yang pertama hingga yang ke tiga puluh tahun, usianya tahun ini. Cyara mengambil salah satu kado itu memeluknya erat, dengan air mata yang bercucuran, tidak pernah menyangka, jika ibunya akan menyiapkan semua ini untuknya.