
"Tentu saja boleh," ucap seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Cyara, Rey dan Rain langsung menoleh begitu mendengar suara Vier. Cyara memalingkan wajahnya saat melihat Vier hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, sedangkan tubuh bagian atas hanya bertelan*jang da*da.
"Papi!" Rey dan Rain langsung melepaskan genggaman tangan Cyara begitu saja, berlari menghampiri Vier dan langsung memeluk pria yang sekarang sudah resmi menjadi papinya.
Vier tersenyum, menggandeng anak-anaknya untuk duduk di sofa. Baik Rey dan Rain begitu menurut, tanpa membantah sama sekali.
"Kalian tunggu disini, Papi pakai baju dulu," kata Vier berpamitan pada anak-anaknya, berjalan menuju ranjang, dan mengambil pakaian yang tadi disiapkan oleh Cyara dan dengan segera membawanya ke kamar mandi, Vier tidak ingin anak-anaknya terlalu lama menunggu.
Cyara masih terdiam di tempatnya memandang apa yang Vier lakukan tadi dari Vier yang tersenyum menyambut anak-anaknya, Vier meminta mereka untuk duduk di sofa sampai Vier berjalan mendekat ke arah ranjang melewatinya begitu saja mengambil pakaian dan kemudian berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Mami kenapa melamun?" Tanya Rey menatap Maminya.
"Tidak, Mami tidak melamun kok," Cyara berjalan mendekat dan duduk bersama anak-anaknya.
Tak lama pintu terbuka, Vier keluar dengan memakai pakaian casual, berjalan mendekat ke arah Cyara dan anak-anaknya.
"Kalian sudah lapar kan? Ayo kita turun!" Ajak Vier mengangkat kedua anak-anak itu di sisi kanan dan kirinya.
"Ayo Mami!" Ajak Rain yang menghadap ke belakang dan melihat maminya justru masih di tempatnya tidak bergerak sama sekali.
Vier menoleh sebentar ke belakang, kemudian berjalan lebih dulu.
"Hah? oh iya, ayo!" Cyara bangun dan berjalan mengikuti Vier.
Cyara memperhatikan Vier yang bercanda bersama anak-anaknya.
"Apa senyummu itu tulus Vier?" Gumam Cyara menatap Vier yang saat ini tengah tersenyum pada Rey dan Rain.
Cyara teringat kejadian semalam, Vier melepaskan ciumannya, Vier menatap Cyara dan memeluknya.
"Rasanya sakit sekali Cya, sangat sakit, kenapa mereka melakukan ini padaku? Kenapa?" Ucap Vier begitu lirih.
Cyara tahu siapa mereka yang dimaksud Vier, Cyara sangat tahu, Cyara segera menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh membasahi pipi. Bukan waktunya menangis untuk saat ini walaupun rasanya begitu menyesakkan dada.
Cyara tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai, Cyara tahu bagaimana rasanya ditinggalkan, itulah yang mungkin Vier rasakan saat itu. Vier juga manusia biasa yang bisa merasakan sakit hingga bahkan menangis seperti ini. Ya Vier menangis, walaupun Vier menangis tanpa mengeluarkan suara, tapi Cyara dapat merasakan jika Vier memang menangis, apalagi bajunya kini basah banjir oleh air mata Vier.
Cyara hanya diam, berkomentar ataupun memberikan saran pada Vier juga rasanya percuma, semua sudah berlalu, dan Vier sudah menyimpan rasa sakitnya di dalam hati. Cyara tahu kenapa Vier akan membalas rasa sakit hatinya. Yang Cyara tidak tahu kenapa harus dirinya? Cyara bahkan tidak tahu apa-apa, tentang hubungan mereka, kenapa Vier membalaskan rasa sakit padanya? Apa Vier begitu mencintai Sheira sampai-sampai Vier tidak tega menyakitinya dan menjadikan Cyara sebagai pelampiasannya.
Cyara mengeratkan pelukannya, takut jika pelukan itu terlepas Cyara akan benar-benar kehilangan pria itu.
"Jika mereka meninggalkanmu, aku tetap disini Vier, aku akan menemanimu, aku tidak akan pergi Vier, aku akan bertahan dengan pernikahan ini walau aku tahu di dalam hatimu tidak mencintaiku," kata Cyara dalam hati.
"Vier!"
"Vier!"
Vier tertidur, Cyara tahu dari nafasnya yang terdengar teratur, mungkin Vier merasa lelah hingga membuat pria itu ketiduran di dalam pelukan Cyara.
Cyara perlahan berjalan ke arah ranjang dengan Vier yang masih berada di pelukannya, meskipun kesulitan akhirnya Cyara berhasil. Dengan perlahan, Cyara melepaskan tangan Vier yang memeluknya, tapi Cyara tetap menahan tubuh Vier agar tidak terjatuh. Direbahkannya pelan-pelan Vier di atas ranjang yang penuh dengan taburan kelopak mawar yang membentuk tanda hati.
Pucat
Wajah Vier begitu pucat bahkan bibirnya sudah membiru. Cyara buru-buru mengambil pakaian ganti untuk Vier. Cyara berusaha menggantinya dengan susah payah dan akhirnya berhasil, Cyara melemparkan pakaian Vier yang basah sembarangan, fokusnya hanya pada Vier yang kini kedinginan, Cyara mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Vier yang menggigil. Hanya selimut nyatanya tidak berhasil, hingga Cyara memutuskan untuk memeluk pria itu memberi kehangatan dan mencium bibir yang pucat hingga kembali berwarna merah, tidak ada salahnya bukan Cyara melakukan itu, walaupun Vier tidak mencintainya Vier tetaplah suaminya dan Cyara berhak melakukan apapun pada suaminya sendiri.
Tenang
Vier kini sudah tidur dengan tenang, tidak gelisah seperti sebelumnya. Cyara memutuskan untuk turun dari ranjang, membereskan pakaian Vier yang tadi dilemparnya asal dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor. Setelah itu Cyara mengganti bajunya yang juga basah.
Cyara berjalan mendekat ke arah Vier yang tertidur lelap. Cyara menggenggam tangan itu erat seolah takut terlepas. Cyara duduk di lantai samping ranjang, memeluk lututnya dengan satu tangan yang bebas dan menumpukan dagunya di sana, dengan wajah menghadap ke arah Vier, mengamati pria itu dalam diam.
"Awas!" Seorang pria menarik Cyara yang akan menabrak pot besar.
Vier yang berjalan di depannya, langsung berbalik dan melihat apa yang terjadi, apalagi saat melihat teriakan seorang pria.
Cyara mengatur nafasnya yang tidak beraturan merasa terkejut.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya pria itu sambil mengecek tubuh Cyara takut jika Cyara terluka.
Cyara menggeleng, "Aku tidak apa-apa," jawab Cyara yang sepertinya masih sedikit shock.
"Lain kali jangan berjalan sambil melamun," ucap pria itu mengingatkan.
"Iya, makasih tadi," jawab Cyara dan pria itu hanya mengangguk.
Pria itu mengangkat tangannya dan mendekatkan ke arah wajah Cyara membuat Cyara langsung mundur. Tapi dengan cepat pria itu menahan tubuh Cyara. Pria itu menyentuh pipi Cyara, tidak, lebih tepatnya ternyata pria itu menghapus air mata Cyara yang tidak tahu sejak kapan air mata itu terjatuh.
"Jangan menangis!" Ucap pria itu dan Cyara buru-buru menjauhkan dirinya.
"Ah aku tidak menangis, ini tadi sepertinya kelilipan saja," jawab Cyara mengelak.
"Terima kasih sebelumnya," tambah Cyara lagi.
"Kelilipan? Kalau begitu biar aku tiup," kata pria itu mendekat lagi pada Cyara tapi seseorang langsung menarik Cyara dan menyembunyikan di belakangnya.
"Vier!"
Cyara melihat siapa orang yang menariknya. Rupanya Vier menurunkan kedua anaknya tadi dan langsung menghampirinya. Kini anak-anak Cyara langsung berlari dan memeluk Cyara erat, takut melihat tatapan Vier saat ini yang penuh dengan amarah. Cyara bersimpuh dan memeluk anak-anaknya menyembunyikan wajah mereka ke belakang bahkan menutup telinga mereka agar tidak melihat dan mendengar kejadian di depannya.
"Jangan sentuh-sentuh istriku! Sekali lagi kau melakukan itu, akan aku buat hidupmu hancur," ucap Vier memperingati pria itu kemudian berbalik.
Vier segera menggendong Rey, "Gendong Rain!" Ucap Vier pada Cyara dan Cyara dengan segera menurutinya. Setelah melihat Rain sudah ada dalam gendongan Cyara, Vier buru-buru menarik tangan Cyara pergi dari sana.