
"Ini Non," Bibi menyerahkan selembar kertas berisi catatan yang perlu dibeli Cyara.
"Baiklah, ya sudah Bi aku berangkat dulu, oh ya Bibi tidak perlu masak untuk makan siang ya, nanti saya sekalian beli saja," ucap Cyara memfoto kertas tadi di ponselnya kemudian melipat kertas dan mengantonginya.
"Iya Non."
Cyara pun berjalan keluar dan masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke supermarket terdekat.
Untung jalanan tidak macet, hingga Cyara pun tidak perlu menghabiskan banyak waktu di jalanan. Cyara menghentikan mobilnya saat sudah di tempat tujuannya.
Cyara turun dan mengambil troli kemudian berkeliling mencari barang-barang yang dibutuhkannya.
"Kenapa tinggi sekali sih?" Gerutu Cyara yang tidak bisa mengambil sesuatu walau dirinya sudah berjinjit.
"Padahal sedikit lagi," tambahnya masih terus berusaha.
Kemudian di belakangnya, seseorang dengan mudah mengambil apa yang tadi cyara berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya.
"Hmm tol…"
"Ini."
Saat Cyara akan meminta tolong orang itu, justru orang itu tiba-tiba menyerahkan apa yang tadi diambilnya.
"Terima kasih," Cyara menoleh dan terkejut mendapati jika orang tadi adalah orang yang dikenalnya.
"Rayyan?"
Pria yang dipanggil Rayyan itu tersenyum, "Kenapa terkejut begitu?" Tanyanya yang kemudian merebut troli milik Cyara.
"Tidak usa," Cyara berusaha menahan trolinya tapi kalah tenaga dengan Rayyan yang kini sudah benar-benar berhasil merebutnya.
"Sudah biar aku saja, kamu ambil saja apa yang ingin kamu beli, biar aku yang mendorongnya."
"Tapi…" perkataan Cyara terpotong saat melihat Rayyan sudah melangkah lebih dulu meninggalkannya mendorong troli miliknya, sambil melihat-lihat sesuatu dan memasukkannya ke dalam troli miliknya.
"Rayyan berhenti!" Cyara berjalan cepat mengejar pria yang pernah mengisi memenuhi hatinya itu.
Rayyan terus berjalan tidak mengabaikan panggilan Cyara.
"Rayyan!" Cyara menarik kaos yang dikenakan pria itu.
"Kenapa?"
"Tidak jadi," Cyara kemudian mengalihkannya dengan melihat rak-rak dimana disana berjajar berbagai macam makanan ringan.
Rayyan kemudian mengedikan bahunya acuh, dan mengikuti kemanapun wanita yang masih dicintainya melangkah.
"Hmm sepertinya sudah semua," ucap Cyara saat melihat trolinya sudah penuh, apalagi ditambah dengan barang-barang milik Rayyan.
"Beneran? Tidak ada yang kelewat, coba cek lagi saja selagi masih ada disini," kata Rayyan dan Cyara pun menurutinya.
"Hmm iya benar kok sudah semua, ya sudah deh tinggal beli makanan saja, sini biar aku saja yang membawanya ke kasir," Cyara hendak membawa trolinya tapi Rayyan masih saja melarangnya.
"Sudah biar aku saja."
Cyara hanya bisa pasrah dan keduanya pun melangkah bersama menuju ke kasir.
"Apa kamu bahagia?"
Pertanyaan Rayyan barusan seketika membuat Cyara langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa, tapi ku rasa kamu memang bahagia, dia bisa melindungimu, tapi aku justru meninggalkanmu," ucap Rayyan sendu.
"Apa maksudmu?" Liora kini berbalik dan menatap Rayyan.
"Aku sudah dengar dari Daniel, selamat dan semoga kamu bahagia," ucap Rayyan tersenyum tulus.
"Terima kasih," jawab Cyara balas tersenyum setelah tahu maksud perkataan pria yang pernah ada dalam sebagian hidupnya.
"Dan semoga aku benar-benar bahagia bersamanya," tambah Cyara dalam hati penuh harap.
"Pakai ini saja," Rayyan menyerahkan kartunya kepada kasir bersamaan dengan Cyara yang menyerahkan kartu milik wanita itu sendiri.
"Ini saja," ucap Cyara.
"Tidak, pakai ini saja!"
Sang kasir sampai kebingungan dan menatap keduanya bergantian.
"Ini saja," ucap Rayyan dan Cyara bersamaan.
Rayyan kemudian merebut kartu milik Cyara dan memberikan kartunya pada kasir, dan setelah transaksi selesai dia mengembalikan milik Cyara.
"Rayyan tapi…"
"Cyara please jangan tolak pemberianku, ini bukan untukmu tapi untuk anak-anak."
Cyara menatap wajah memelas Rayyan, "Baiklah, terima kasih."
"Sini biar aku bantu bawa ke mobil! Kamu bawa yang itu saja," Rayyan merebut barang belanjaan Cyara, menunjuk barang yang ringan biar barang itu yang dibawa Cyara.
"Kamu nanti tunggu di depan saja, sini kunci mobilnya biar aku yang mengambil."
"Iya."
Dan begitu sampai di depan Rayyan menurunkan barang belanjaan dan meminta kunci mobil milik Cyara untuk diambilnya mobil milik wanita itu.
Cyara pun menyerahkan kunci mobilnya, mempercayakan Rayyan untuk mengambilnya.
Tak lama, pria itu datang dengan membawa mobil Cyara. Rayyan membantu Cyara memasukkan barang belanjaannya ke bagasi.
Tiba-tiba Cyara yang hendak masuk ke dalam mobil justru tiba-tiba saja tersandung dan hampir saja terjatuh jika saja Rayyan tidak segera menangkap tubuhnya.
*
*
*
"Bagaimana menurut Anda Tuan Vier?" Tanya salah satu dari pekerjanya setelah menyampaikan pendapatnya.
"Tuan!"
"Tuan!"
Martin melihat Vier terus saja melihat ponselnya, terlihat dengan jelas jika pikiran pria itu sedang tidak ada disini tapi di tempat lain.
"Tuan," Martin menyentuh bahu Vier.
"Kenapa? Oh itu cukup baik, tapi sepertinya konsep peluncurannya kurang cocok dan perlu dirubah, apa ada diantara kalian ada yang memiliki ide lain?" Tanya Vier menatap mereka satu persatu, walaupun pikirannya tidak ada disana, nyatanya masalah pekerjaan masih bisa jalan juga di otaknya.
Kemudian satu persatu mengemukakan pendapat mereka, dan kali ini Vier mendengarkan dengan seksama. Dia ingin secepat mungkin meetingnya selesai, karena dia harus menjemput Cyara dan anak-anaknya.
"Baiklah ide Nita kurasa bagus, baiklah Nita aku serahkan acara peluncuran ini padamu."
"Baik pak," jawab gadis yang bernama Nita.
"Baiklah kalau begitu, rapat hari ini cukup sampai disini," setelah mengatakan itu, Vier pun segera meninggalkan ruang khusus meeting itu.
"Tuan, Anda mau kemana? Satu jam lagi, Anda ada jadwal pertemuan dengan klien," ucap Martin yang mengejar langkah Vier yang buru-buru pergi.
"Kamu atur ulang jadwal hari ini, dan sekarang aku akan pulang cepat, ada urusan" ucap Vier lalu melangkah pergi.
"Tapi Tuan…"
Martin hanya bisa menghela nafasnya, saat melihat Vier sudah menjauh.
"Untung dia bosnya," guman Martin kemudian kembali ke meja kerjanya untuk melakukan pekerjaannya.
Sementara itu, Vier dengan cepat berjalan ke basement menuju ke tempat mobilnya berada, Vier melihat jam di pergelangan tangannya.
"Anak-anak belum waktunya pulang, lebih baik aku langsung jemput Cya saja deh biar nanti barengan saja jemput anak-anak," gumam Vier tapi langkahnya terhenti saat mengingat bahwa Cyara pergi dengan membawa mobilnya.
"Tunggu, Cyara kan bawa mobil, masa iya nanti jemput anak-anak pakai mobil masing-masing," gumamnya lagi kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu supir memintanya untuk mengantarkannya saja.
Tak butuh waktu lama sebuah mobil kini sudah menghampirinya. Dan Vier seger masuk.
"Mau langsung pulang Tuan?" Tanya sang sopir menoleh ke sampingnya dimana Vier duduk disana.
"Tidak," Vier kemudian menyebutkan alamat yang akan menjadi tujuannya dan sang supir pun mengangguk mengerti kemudian mulai melajukan mobilnya.
Tak lama, akhirnya mobilnya pun berhenti di depan tempat yang Vier maksud.
Vier segera turun, hingga kemudian.
"Cyara!" Panggil Vier dengan suara yang meninggi.