Love Revenge

Love Revenge
Bab 87



Vier menghela nafas kasar, menjatuhkan tubuhnya dan berbaring di samping Cyara memejamkan mata. Pria itu tampak menikmati hembusan angin yang terasa sejuk.


Cyara perlahan bangun, berjalan-jalan menikmati keindahan taman bunga itu, kemudian di tempat yang cukup jauh dari Vier, Cyara merebahkan dirinya di atas rerumputan.


Cyara tersenyum, merentangkan kedua tangannya.


"Nikmatnya…"


Cup


Cyara spontan membuka matanya dan terkejut saat melihat Vier yang ternyata sudah ada di dekatnya. 


"Sejak kapan?" Tanyanya dalam hati.


Cyara kelabakan saat kini Vier sudah melu*mat bibirnya tanpa aba-aba. Dia berusaha mendorong dada Vier. Tapi Vier kini justru menarik tangan Cyara dan menguncinya di atas kepala. Vier memperdalam ciumannya.


Cyara yang sedari tadi berusaha melepaskan ciuman suaminya, perlahan lemah dan berganti menyambut hangat ciuman dari pria itu.


Cyara menarik nafas dalam-dalam begitu ciuman itu berakhir. Tatapan keduanya bertemu. Wajah mereka begitu dekat, bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan. Cyara bahkan bisa merasakan hembusan hangat nafas Vier menerpa wajahnya. Cyara merasa debaran jantungnya saat ini semakin menggila, fia bahkan merasa jika saat ini suhu tubuhnya meningkat, dan Cyara yakin jika wajahnya sekarang pasti sudah memerah.


Tanpa sadar, Cyara mendekatkan wajahnya ke wajah Vier, mencium bibir pria itu bahkan kini sudah melu*matnya. Cyara terlihat kehilangan kendali atas dirinya.


Vier hanya menerima dan membalas ciuman Cyara yang masih begitu kaku, membuat Vier seperti sedang menikmati ciuman seorang gadis. Gadis? Saat terpikirkan kata itu, membuat Vier tiba-tiba teringat Rey dan Rain. Mendadak Vier merasa marah, rahangnya mengeras bahkan kedua tangannya mengepal erat.


Vier segera menghentikan ciuman Cyara, bangkit dan duduk lalu menarik Cyara agar duduk di pangkuannya.


"Dimana lagi pria itu pernah menyentuhmu?" 


"Menyentuh? Siapa?" Tanya Cyara mengernyitkan dahi bingung.


"Ayah Rey dan Rain, dimana lagi dia menyentuhmu?"


Cyara membelalakkan mata saat Vier tiba-tiba menanyakan hal itu.


Cyara terdiam, dia bahkan tidak mengingat jelas kejadian itu.


Melihat Cyara hanya diam, Vier tiba-tiba saja mencium bibir Cyra, turun ke leher bahkan tubuh Cyara tidak luput dari ciumannya seolah menghapus jejak pria yang telah membuat Cyara memiliki Rey dan Rain.


"Vier!" Cyara menahan Vier yang sudah terlalu jauh melakukannya, Cyara tidak akan menolak jika mereka ada di tempat yang tepat, bagaimanapun mereka sudah menjadi suami istri, tapi sekarang, mereka ada di tempat terbuka, bagaimana jika ada yang melihat. Itulah yang Cyara pikirkan saat ini.


"Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku, hanya aku Cyara dan kamu harus mengingat itu," kata Vier tegas menatap ke dalam mata Cyara.


Cyara diam menatap Vier, "Terus bagaimana dengan kamu sendiri Vier?"


"Aku juga tidak akan membiarkan siapapun menyentuhku," jawabnya.


"Apa kau jujur Vier? Jelas-jelas kemarin kamu memeluk Sheira," tambah Cyara dalam hati. 


Ya Cyara tahu jika kemarin Vier benar-benar menemui Sheira. Saat Cyara berada di rumahnya, saat akan memejamkan mata, Cyara tiba-tiba mendapat kiriman pesan dari nomor tak dikenal. Cyara awalnya tidak ingin melihatnya, karena mengira itu mungkin saja kiriman pesan iseng. Tapi tak lama, nomor itu tidak hanya mengirimi dirinya pesan, tapi juga menelponnya dan saat Cyara akan menjawabnya, telepon itu justru sudah mati, membuat Cyara penasaran. Dan saat membuka pesan itu, dia begitu terkejut, saat melihat sebuah foto, dimana Vier sedang memeluk seseorang yang sangat dikenalnya bersandar di belakang pintu. Ya walaupun sosok prianya terlihat dari belakang, tapi dia tahu jika pria itu adalah suaminya, dari postur tubuhnya juga kemeja yang di gunakan pria itu, Cyara sangat mengenalnya, karena kemeja yang dipakai Vier hari itu adalah kemeja yang dibelikannya. Sheira dia lah wanita yang ternyata mengirimi dirinya pesan. 


Cyara mencoba menepis bahwa yang di foto bukanlah Vier. Dia buru-buru bangun dan turun dari ranjang, keluar mencari taxi dan pulang ke rumah suaminya. Dan sesampainya di sana, ternyata Vier tidak ada di rumah membuat Cyara percaya tidak percaya, bahwa pria itu memanglah Vier. Saat mendengar suara langkah kaki mendekat, Cyara buru-buru merebahkan diri dan memejamkan matanya berpura-pura tidur. Dan untungnya Vier tidak tahu itu.


Cyara bangun dan berdiri. "Hmm ngomong-ngomong kapan kita pulang?"


Vier ikut berdiri, "Kita akan menginap disini."


"Tapi anak-anak?"


"Tapi Vier aku takut nanti justru akan merepot…"


"Kamu tenang saja, Bibi Lily paling suka anak-anak dan dia pasti sama sekali tidak merasa direpotkan."


"Tap…"


"Sstt!" Vier menempelkan jari telunjuknya di bibir Cyara.


"Aku tidak ingin berdebat hanya karena masalah sepele," tambahnya membuat Cyara terdiam.


Yang dikatakan suaminya benar, harusnya Cyara tidak membuang-buang waktunya di saat Vier sedang dalam mode ini, mode menjadi pria yang begitu perhatian dan sayang padanya, harusnya Cyara memanfaatkan sebaik-baiknya momen ini dan tidak menyia-nyiakannya, karena barangkali besok Vier akan berubah menjadi sosok dirinya yang lain.


Cyara kemudian mengangguk, Vier pun tersenyum melihat itu. 


"Sebaiknya kita mandi, lihatlah pakaianmu begitu kotor seperti ini," Vier membantu membersihkan pakaian Cyara yang kotor.


"Tapi aku tidak membawa baju ganti," jawab Cyara karena memang dia tidak membawa perlengkapan apapun karena mengira Vier hanya mengajaknya keluar saja, bukan malah menginap seperti sekarang.


"Kamu bisa memakai pakaian Mama dulu, aku rasa muat, ya walaupun mungkin nanti kependekan di kamu, karena kamu kan tahu sendiri kamu lebih tinggi dari Mama," ucap Vier mengamati tubuh Cyara.


"Ya sudah," jawab Cyara. 


"Oh ini, lihatlah pakaianmu juga kotor, pakai acara ngomongin orang lagi, sendirinya tidak sadar," ucap Cyara mencibir.


Keduanya pun tertawa bersama kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan taman.


Vier menggandeng tangan Cyara dan menggenggamnya erat, seakan takut terlepas.


"Apa kita harus mandi bersama?" Tanya Vier dan Cyara langsung melotot mendengarnya.


Saat ini mereka sudah berada di kamar yang sudah disiapkan oleh pelayan. Bahkan semua keperluan mereka pun sudah tersedia begitu keduanya masuk ke kamar.


"Tidak, tidak, lebih baik kamu dulu saja," kata Cyara, dan Vier pun hanya terkekeh.


"Kamu dulu saja," ucap Vier kemudian.


"Baiklah, aku dulu." 


Cyara langsung mengambil handuk dan pakaian ganti dan segera masuk ke kamar mandi.


Vier mengganti bajunya dan merebahkan diri diatas ranjang memejamkan mata.



Cyara keluar dari kamar mandi, menggosok rambutnya yang basah dengan handuk yang tadi dipakainya. Dia hendak membangunkan suaminya, tapi tidak jadi saat melihat Vier yang tampaknya kini telah tertidur lelap.


Cyara mendekat, menatap Vier yang terlihat tenang dalam tidurnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh pria itu hingga sebatas dada.


Cyara kemudian berjalan menuju meja rias, dia mengambil ponselnya dan tersenyum saat membuka pesan dari Rey, mengirimkan beberapa foto, Rey, Rain dan Aira serta Bibi Lily dan Paman Jason yang sedang makan, Cyara bahagia saat melihat senyum merekah dari kedua anaknya, Cyara bahagia, karena banyak yang tulus menyayangi kedua buah hatinya itu.


Saat sedang fokus menatap foto-foto itu, pandangan Cyara tertuju pada ponsel suaminya yang berbunyi.


Sheira, nama yang kini menghubungi suaminya. Cyara hanya menatap membiarkan ponsel itu berakhir. Dan mata Cyara memanas saat panggilan itu berakhir di layar ponsel suaminya, terdapat foto keduanya, dimana mereka sedang berciuman dan saling memeluk. Foto itu masih ada, dan itu menandakan jika Vier memang masih menempatkan adiknya di dalam lubuk hati pria itu yang terdalam.


Dada Cyara mendadak merasa sesak, ingin rasanya dia menangis saat ini. Tapi Cyara terus berusaha menahannya, hingga tiba-tiba dirinya berlari ke kamar mandi dan menumpahkan rasa sesak dadanya di sana dengan menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar oleh Vier.