Love Revenge

Love Revenge
Bab 133



Siang ini, Cyara sudah diizinkan pulang, Jasmine dan Stevano bahkan sudah ada di rumah sakit sejak pagi. 


"Sudah siap sayang?" Tanya Vier yang kini masih menimang-nimang putranya.


"Sudah, mama papa tadi kemana?" Tanya Cyara yang baru saja keluar dari kamar mandi dan tidak melihat mama dan papa mertuanya


"Lagi mengurus administrasi dulu. Sebentar lagi juga kembali," ujar Vier yang pandangannya sama sekali tidak beralih pada putranya.


Cyara kemudian berjalan mendekat, menghampiri dua orang yang sangat disayanginya itu. Cyara meraih tangan putranya yang begitu mungil.


"Sudah kenyang, jadi tidur lagi," ucap Vier.


"Mirip sama kamu," ucap Cyara yang kini mengusap pipi putranya yang merah.


"Banyak yang bilang seperti itu, kan jadi adil, Rey dan Rain sudah mirip kamu," jawab Vier dan Cyara pun mengangguk setuju, Cyara kemudian mencium kedua pipi putranya.


Keduanya menoleh ke arah pintu yang terbuka, Stevano dan Jasmine muncul dari sana.


"Sudah siap?" Tanya Jasmine pada keduanya.


"Sudah Ma," jawab Cyara mengambil alih Bryan dari gendongan suaminya.


Vier kemudian mengambil perlengkapan istri dan anaknya kemudian membawanya keluar.


Mereka kini berjalan menuju mobil, Vier duduk di belakang bersama istrinya, membiarkan papanya yang menyetir.


"Anak-anak, sudah pulang sekolah Ma?" Tanya Cyara yang merindukan Rey dan Rain, karena hari ini belum melihat bahkan berteleponan dengan mereka.


"Tadi Alno sudah berangkat menjemput mereka, mungkin sudah," jawab Jasmine yang tadi mendapat kabar dari Alno, bahwa pria itu yang akan menjemput anak-anak.


Cyara mengangguk mengerti, belakangan ini dia merasa tidak enak dengan kakak iparnya itu, yang terus mengurus anak-anak mereka, karena Jasmine dan Stevano selalu menemani Cyara.


"Oh ya Ma, apa benar jika Cinta akan menikah? Kata Bibi Lily, Cinta akan menikah bulan depan?"


"Iya, kapan Bibi Lily bilang sama kamu?" Jasmine menoleh ke belakang menatap Vier.


"Kemarin, sempat bertemu Bibi Lily dan Paman Jason," jawab Vier.


"Oh, tidak menyangka ya, padahal awalnya, Cinta yang akan jadi menantu Mama, tapi ya mungkin Cinta bukan jodohnya Vian," ucap Jasmine.


"Jangan sampai loh Mama bahas hal ini di depan Aulia, kita harus jaga perasaannya, lagian Cinta dan Vian tidak jadi menikah juga karena keinginan Cinta sendiri. Lagian sama saja mau Cinta, atau Aulia yang penting mereka sama-sama gadis yang baik, ya walaupun kepribadian mereka berbeda, toh keinginan Mama untuk besanan dengan sahabat mama juga kesampaian kan?" Ucap Stevano tanpa menoleh.


"Iya Pa, Mama hanya tidak menyangka saja, cuma itu, tidak ada maksud lain."


Cyara hanya mendengar percakapan ayah dan ibu mertuanya itu, baru tahu jika ternyata Vian sebenarnya akan menikah dengan Cinta. Terus apa yang terjadi, kenapa Vian berujung menikah dengan adiknya, tiba-tiba saja Cyara penasaran dengan kisah adik iparnya itu.


"Kenapa sayang?" Tanya Vier yang melihat istrinya melamun.


"Tidak apa-apa," Cyara menggeleng dan masih menyimak percakapan mertuanya itu.


Tak terasa, kini mobil mereka telah sampai di pelataran kediaman Stevano. Vier turun lebih dulu dan membantu istrinya. Disusul dengan Jasmine dan Stevano. Pelayan berlari tergopoh-gopoh menghampiri majikan mereka dan membantu membawa barang-barang Cyara.


"Letakkan di depan kamar saja Bi, nanti biar saya yang bereskan," ucap Cyara dan pelayan hanya mengangguk setuju.


"Memangnya kamu tidak lelah sayang?"


Cyara menggeleng, kemudian mengajak suaminya untuk masuk.


Begitu di ruang keluarga, Cyara melihat Ken dan putrinya juga ada disana, Cyara tidak menyangka, jika gadis kecil yang ditemuinya dulu adalah anak Ken. Ken berdiri dan langsung memeluk Vier dan mengucapkan selamat pada sepupunya itu. Melihat interaksi keduanya, Cyara tersenyum, akhirnya kini mereka berbaikan setelah berselisih enam tahun lamanya.


Keisha yang tadi fokus pada televisi di pangkuan Meisya, begitu melihat Cyara dia langsung meminta turun, dan segera berlari ke arah Cyara dan langsung memeluk kaki wanita itu.


"Mami! Isha merindukan Mami."


Begitu Keisha bisa melihat lagi, setelah mendapat donor mata dari neneknya, dia langsung bisa mengenali Cyara dan ikut memanggilnya Mami seperti Rey dan Rain. Bahkan gadis kecil itu, dengan polosnya meminta Cyara untuk menjadi maminya dan tinggal bersama dengannya dan juga sang ayah yang membuat Vier saat itu sangat kesal, bahkan Vier lupa jika yang mengatakan itu hanya anak kecil yang tidak tahu tentang maksud perkataannya sendiri.


"Mami juga merindukan Isha," jawab Cyara menunduk menatap anak kecil yang begitu erat memeluknya.


Ken yang melihat itu, berinisiatif mengambil alih Bryan dari gendongan Cyara, agar putrinya bisa bersama Cyara karena sejak dua hari yang lalu, putrinya selalu menanyakan Cyara dan ingin menemuinya.


"Boleh peluk-peluk Mami, tapi tidak boleh meminta Mami untuk bersama Ayah Isha, karena Mami sudah jadi milik Papi," ucap Vier mengingatkan, dia tidak mau jika keponakannya itu kembali meminta istrinya.


Cyara mencubit Vier hingga membuat pria itu mengadu kesakitan. Sementara Cyara hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Vier yang belakangan ini selalu menanggapi apa yang Keisha ucapkan.


Keisha menatap Vier tidak suka, hingga tatapan tajam itu berubah teduh saat pandangannya beralih pada wanita yang kini meraih tangannya. Keisha tersenyum senang, kemudian menarik tangan Cyara agar duduk.


"Tante minggir!"


Kini ketiga orang disana menatap Keisha yang berbicara ketus pada seorang gadis yang sudah beberapa bulan ini menjadi pengasuhnya.


Meisya memaksakan senyumnya saat menatap Keisha, gadis kecil itu selalu menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan.


"Isha tidak boleh seperti itu dong sama tante Meisya," tegur Cyara.


Tapi Keisha hanya diam dan memalingkan wajahnya.


"Hmm tidak apa-apa Nyonya, oh ya silahkan duduk!" Gadis itu kemudian bangun dan membiarkan Cyara untuk duduk di tempatnya tadi. 


"Terima kasih," ucap Cyara tulus.


"Iya Nyonya," jawab Meisya yang kini berdiri di samping Cyara.


"Jangan panggil saya Nyonya, saya bukan Nyonya kamu, panggil Cyara saja," ucap Cyara yang sudah sering beberapa kali bertemu dengan Meisya tapi belum sempat mengobrol dengan gadis itu.


"Saya tidak enak jika hanya memanggil nama, bagaimana kalau Kak Cyara saja," ucapnya kemudian.


"Lebih baik, lagian sepertinya aku lebih tua darimu," jawab Cyara.


"Tidak kok, Kak Cyara terlihat masih muda," jujur Meisya.


"Tante jangan banyak bicara sama Mami, tidak sopan!" Keisha menyela ucapan keduanya, dan Meisya hanya menghembuskan nafasnya berat.


"Oh ya Kak Cya, saya permisi dulu," pamit Meisya kemudian berlalu pergi, dia ingin menuju dapur untuk mengambil minuman.


"Gadis kecil itu benar-benar, tidak anak, tidak bapaknya, sama saja," gerutu Meisya kemudian langsung meneguk air dingin yang baru saja diambilnya, menghadapi Ken dan Keisha membuat mood nya terus saja buruk.


"Lama-lama aku bisa darah tinggi," tampaknya gadis itu masih saja ngedumel tidak jelas.


"Awas saja nanti aku akan…"


"Akan apa?" Tanya seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Meisya, membuat gadis itu terlonjak kaget, dan tiba-tiba nyalinya menciut saat melihat siapa orang itu.