Love Revenge

Love Revenge
Bab 70



"Vier buka! Vier!" Cyara terus saja menggedor kamar mandi.


Sejak satu jam yang lalu Vier berada di sana dan tidak kunjung keluar. Cyara berjalan mondar-mandir, pikirannya begitu cemas takut terjadi apa-apa pada pria yang kini menjadi suaminya.


"Vier!"


Cyara langsung mendekat ke arah Vier yang baru saja membuka pintu. Vier keluar dengan tubuh yang sudah basah kuyup.


"Vier!" 


Cyara buru-buru mengambil handuk, dan membungkus tubuh Vier dengan handuk itu.


"Aku ambilkan pakaian kamu dulu," kata Cyara buru-buru menuju dimana kopernya berada. 


Cyara membuka koper, mengacak isi di dalamnya untuk mengambil pakaian milik Vier.


"Pergilah!" 


Gerakan tangan Cyara terhenti. Cyara diam menunduk menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian bangun dan menghampiri Vier.


"Apa maksudmu?" Tanya Cyara setelah menguatkan hatinya, menatap Vier dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Pergilah Cyara! Aku melepasmu."


Jantung Cyara rasanya terhenti saat itu juga. Cyara mengepalkan kedua tangannya erat.


Hening


Cyara seolah masih mencerna apa yang baru saja Vier katakan.


"Apa maksudmu kau ingin kita berpisah di hari pertama kita menikah?" Ucap Cyara dengan suara yang bergetar.


"Aku melepaskan hidupmu Cyara!"


Cyara mengernyitkan dahinya, dia benar-benar bingung dengan ucapan Vier.


"Apa kau sedang mengigau Vier?" Katakan dengan jelas apa yang ingin kau ucapkan!"


Vier diam, tidak menjawab ucapan Cyara.


"Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kau datang tiba-tiba, mengacaukan hidupku, kau bahkan meminta aku menjadi istrimu, dan sekarang…" Cyara menarik nafasnya dalam-dalam, dadanya terasa sesak, seolah tidak ada lagi oksigen yang bisa dihirupnya.


"Sekarang kau menyuruhku pergi, kau melepaskan aku, kau memutuskan semuanya begitu saja! Kau pikir aku boneka yang bisa kau mainkan seenaknya!" Cyara menghapus air matanya kasar. Dia menumpahkan semua kekesalannya yang di pendam selama ini.


Vier hanya diam, dia sama sekali tidak terkejut melihat amarah yang Cyara tumpahkan saat ini padanya.


Lutut Cyara terasa lemas, tubuhnya meluruh begitu saja.


"Apa kau hanya ingin mempermainkanku saja? Apa kau menjadikan aku dan anak-anakku hanya sebagai leluconmu!" Ucap Cyara lirih dengan tangan yang mengepal erat.


Tanpa sadar bulir bening jatuh kembali dari sudut mata Cyara.


Cyara menunduk, apa yang akan terjadi dengan anak-anaknya jika sampai pernikahan ini berakhir begitu saja, bahkan sebelum Cyara memulainya. Cyara membayangkan wajah sedih anak-anaknya jika sampai hal itu benar-benar terjadi.


Cyara kembali nafas dalam, menghapus air mata dan mengangkat wajahnya agar bisa menatap Vier.


"Dugaanku benar, kau ternyata tidak benar-benar menyayangi anak-anakku. Kau hanya berniat menghancurkan kebahagiaan mereka, agar aku juga ikut hancur kan?" Cyara kembali menghapus air matanya yang terus saja mengalir.


"Kebahagian mereka?" Vier tersenyum menyeringai. 


"Apa hanya itu yang kau pikirkan?" Vier berjalan mendekat ke arah Cyara dengan langkah sempoyongan.


Vier menunduk mengangkat dagu Cyara agar menatapnya. Cyara bisa dengan jelas melihat wajah Vier yang terlihat pucat, karena pria itu sudah terlalu lama diguyur air.


Selain itu Cyara bisa melihat pandangan Vier begitu menusuk. 


"Kebahagian mereka bukan apa-apa Cyara, aku melepaskanmu untuk kebahagianmu, kenapa tidak pernah sekali saja kamu memikirkan dirimu sendiri?" Kata  Vier dengan suara dingin.


Cyara menautkan kedua alisnya tak lama wanita itu tertawa kencang.


"Haha kau lucu sekali Tuan Vier, kau bilang kebahagiaan anak-anakku bukan apa-apa! Kau salah, kebahagiaan mereka adalah segalanya untukku, karena mereka anak-anakku, dan kau tidak akan pernah mengerti itu," teriak Cyara marah dirinya bangun dan Vier pun ikut menegakkan badannya.


Cyara merasa sedih saat Vier menyuruhnya pergi, hatinya begitu sakit ketika Vier bilang akan melepaskannya.


"Perlahan Vier melepaskan tangannya dari wajah Cyara dan berbalik.


"Pergilah Cyara! Tinggalkan aku!" Kata Vier dengan suara yang tercekat.


Cyara memeluk Vier dari belakang "Aku tidak akan pergi Vier, aku akan tetap disini dan tidak akan-akan kemana."


Vier berbalik menarik tengkuk Cyara dan menciumnya.


*


*


Cyara menatap Vier yang kini sudah terlelap. Dipandangi wajah Vier yang tenang dalam tidurnya. Diangkat tangannya, dan ditelusurinya wajah Vier.


"Kau tidak tahu apa yang sudah kami lalui. Aku tidak peduli orang lain menganggapku bo*doh atau apa karena bertahan denganmu walaupun aku tahu kamu berniat akan menyakitiku. Tapi Vier yang perlu kau tahu, Rey dan Rain adalah separuh nyawaku, disaat semua orang membuangku, mereka hadir dalam hidupku memberikan cahaya dalam gelapnya jalan yang aku lalui. Kehadiran mereka membuatku bisa berdiri di kakiku sendiri. Baru kali ini, aku melihat mereka bahagia saat bersamamu, sebelumnya mereka tidak pernah mendapatkan apa yang seharusnya anak pada umumnya dapatkan, apa aku salah jika kali ini aku memenuhi satu saja permintaan mereka?" 


Cyara perlahan menggeser tubuhnya mendekat ke arah Vier mengecup kening pria itu dan memejamkan matanya menyusul Vier ke alam mimpi.


*


*


"Kamu mau kemana?" Tanya Vier mengucek matanya, pria itu baru saja bangun dan melihat Cyara sudah tampak rapi.


Cyara yang sedang menyisir rambutnya menoleh dan tersenyum, "Sudah bangun? Ayo cepat siap-siap, Mama, Papa dan yang lainnya sudah menunggu di bawah untuk sarapan" ucapnya menghampiri Vier.


"Aku mandi dulu," kata Vier menyibak selimutnya, turun dari ranjang dan berlalu menuju kamar mandi. 


Cyara berjalan ke arah dimana kopernya di letakkan mengambil pakaian Vier dan meletakkannya di atas ranjang. Cyara terdiam menatap pakaian itu.


Ting tong


Ting tong


Bel berbunyi membuyarkan lamunan Cyara.


Cyara berjalan menuju pintu hotel tempatnya menginap lalu membukanya.


"Mami!" Teriak kedua anaknya yang langsung memeluk kaki Cyara.


Cyara menunduk meraih tangan mungil anak-anaknya menggandeng di kanan dan kirinya.


"Maaf Kak, tadi mereka menanyakan kakak terus, ya sudah aku antar kesini, aku tidak mengganggu kakak kan?" Tanya Zeline merasa tidak enak.


Cyara tersenyum dan menggeleng, "Mau masuk?" Tawar Cyara tapi Zeline menggeleng cepat.


"Aku tunggu di bawah saja Kak."


"Baiklah, Kakak akan menyusul nanti setelah Vier selesai mandi," ucap Cyara.


"Iya nanti aku sampaikan sama yang lain," kata Zeline kemudian berpamitan pada Cyara untuk turun lebih dulu.


Setelah melihat kepergian Zeline, Cyara pun menunduk menatap anak-anaknya yang sedari tadi menarik-narik tangannya.


"Kenapa sayang?"


"Papi mana Mi?" Tanya Rain.


"Papi sedang mandi, oh ya Bagaimana tidurnya kakak dan adik semalam? Nyenyak?" Cyara balik bertanya sambil mengajak anak-anaknya masuk.


"Rey nanti malam mau tidur sama Mami dan Papi saja," kini giliran Rey yang berbicara.


"Iya Mi, Rain juga mau tidur sama Mami dan Papi," sahut Rain mengikuti ucapan kakaknya.


"Bolehkan Mi?" Tanya gadis kecil itu menatap Cyara penuh harap.