Love Revenge

Love Revenge
Bab 132



Beberapa bulan kemudian


Kini seluruh anggota Vier, berada di rumah sakit. Mereka sedang menunggu harap-harap cemas, ada yang berjalan mondar-mandir di depan ruangan, ada juga yang duduk diam tengah berdoa. Kekhawatiran kini lenyap sudah saat mendengar suara tangis bayi. Semua bersyukur kini anak Vier dan Cyara telah lahir ke dunia.


Vier keluar dengan wajah bahagianya tapi tak membuat surut air matanya. Dia langsung memeluk Jasmine, ibu yang telah melahirkannya. 


"Ma, anakku sudah lahir Ma, dia laki-laki," ucapnya serak.


Jasmine balas memeluk putranya, "Selamat ya sayang, Mama ikut bahagia, jadilah ayah yang terbaik untuk mereka, walaupun kamu sudah menjadi seorang ayah sebelumnya, tapi baru kali ini kamu merasakan jadi seorang ayah yang sebenarnya. Perjuanganmu untuk menjadi ayah dari anak kamu yang baru lahir masih panjang, karena menjadi ayah Rey dan Rain yang sudah besar berbeda dengan menjadi ayah dari anak kamu ini."


"Iya Ma, Vier akan berusaha untuk menjadi ayah yang terbaik untuk ketiga anak Vier."


Stevano mendekat dan menepuk bahu putranya, Vier melepaskan pelukan mamanya lalu memeluk sang ayah.


"Selamat Nak," ucap Stevano menepuk punggung putranya.


"Makasih Pa."


Kemudian Vier pun mendapat ucapan selamat dari kakak dan adiknya. Hingga pandangan mereka beralih ketika pintu kembali terbuka. Dimana perawat membawa anak Vier dan Cyara, untuk memindahkannya ke ruang rawat, Vier segera menghampiri sang istri dan menggenggam tangannya.


"Makasih sayang, makasih karena sudah membawa anak kita melihat indahnya dunia ini." Kata Vier yang tidak henti-hentinya berterima kasih pada sang istri.


Cyara hanya tersenyum dan mengangguk, kondisinya saat ini masih begitu lemah.



Sekitar dua jam yang lalu, satu persatu orang, berpamitan untuk pulang, dan kini tinggal Jasmine, Stevano dan juga Rain yang masih ada di sana.


"Mana Opa, Rain mau pangku adik Bryan!" Ujar Rain yang sangat antusias ingin memangku adiknya.


"Rain belum bisa sayang, nanti kalau adiknya jatuh bagaimana?"


Bibir Rain mengerucut beberapa senti mendengar perkataan opanya, dia turun dari sofa, kemudian menghampiri Oma nya yang baru saja masuk.


"Kenapa ini cucu Oma?" Tanya Jasmine berjongkok di depan gadis kecil itu.


"Rain ingin pangku adik Bryan Oma, tapi Opa tidak mengizinkannya," adu Rain.


Jasmine menatap Stevano lalu menggandeng cucunya itu menuntunnya untuk kembali duduk di sofa, kemudian mengambil alih Bryan dari pangkuan Stevano, dan pelan-pelan membiarkannya di pangkuan Rain, tapi tetap memeganginya dengan hati-hati.


"Tapi Rain tidak boleh seperti ini, jika tidak ada Oma ya," peringat Jasmine dan gadis kecil itu mengangguk.


'Bryan Dzaky Isaac Gottardo' ya itulah nama yang diberikan Vier untuk putranya. Bryan Dzaky Isaac yang memiliki arti kuat dan bertenaga yang cerdas serta membawa tawa dan kebahagian.


"Lihatlah putri kita sangat menyukai adiknya," kata Vier yang kini menatap Rain yang tampak asyik menciumi adiknya, yang kini sudah ada di pangkuan mamanya.


"Hmm iya, oh ya Rey kemana?" Tanya Cyara yang sedari tadi tidak melihat putranya.


"Rey tidur, dan Kak Alno tadi sudah membawanya pulang, kasihan sudah larut juga," ucap Vier dia kemudian melihat putrinya yang sama sekali belum mengantuk. Padahal biasanya Rain pasti sudah tidur lebih dulu, kehadiran adiknya membuatnya sangat antusias, hingga berjaga sampai saat ini.


"Kamu istirahat ya, aku samperin putri kita dulu," ucap Vier dan meminta sang istri untuk tidur, sebelum meninggalkan Cyara, Vier lebih dulu mengecup kening wanita yang dicintainya itu.


Vier melangkah mendekat ke sofa, lalu pria itu duduk di samping mamanya.


"Cyara sudah tidur?"


Vier mengangguk, kemudian menatap sang putra yang kini tampak memejamkan mata.


"Dia mirip sekali sama kamu," ujar Jasmine sambil mengusap wajah Bryan lembut.


"Iya sayang kau benar, kalau Rey itu perpaduan antara Cyara dan Vier, tapi wajah Cyara lebih mendominasi, sedangkan Rain benar-benar mirip seperti Cya, dan sekarang Bryan barulah mirip dengan Vier," ujar Stevano menyahuti ucapan istrinya.


"Rain tidak tidur?" Tanya Vier kemudian pada putrinya.


"Mmm Rain belum mengantuk Papi," jawabnya sambil menguap.


Vier, Stevano dan Jasmine tertawa melihat tingkah cucunya itu. 


"Belum ngantuk tapi menguap," goda Vier pada putrinya yang kini mengucek kedua matanya.


"Jangan sayang, nanti mata kamu merah," tegur Stevano dan Rain langsung menghentikannya. 


Gadis kecil itu menguap dan kepalanya bersandar pada lengan opanya, tak lama, Rain sudah tertidur saja.


"Mama sama Papa pulang saja, biar Vier yang jaga Cya sama Bryan, Vier juga titip Rain ya Ma, Pa."


"Ya sudah, kalau ada apa-apa hubungi Mama atau Papa segera ya," jawab Jasmine dan Vier pun mengangguk.


Vier kemudian mengambil alih Bryan, membiarkan mama dan papanya pulang membawa Rain yang kini sudah terlelap.


"Maaf ya Ma, Pa, tidak bisa mengantar ke depan."


"Tidak apa-apa, kamu jaga menantu dan cucu mama saja," kata Jasmine mengelus lembut lengan putranya.


"Mama tidak perlu khawatir soal itu," jawab Vier tersenyum.


Stevano dan Jasmine kemudian berpamitan dan segera keluar dari ruang rawat menantunya.


Vier mengecup kening putranya, merasa bersyukur, terlalu banyak ujian yang harus mereka lewati hingga akhirnya putranya bisa hadir di tengah-tengah mereka.


Vier berjalan menuju box bayi, lalu menidurkan putranya disana. Kemudian dia melangkah menghampiri sang istri. Mengecup kening Cyara lama.


"Makasih sayang, sudah berjuang untuk melahirkan anak-anak kita, makasih sudah menjadikanku seorang papi sejak enam tahun lalu tanpa aku ketahui, terima kasih karena sudah menjaga anak-anak kita, walau tanpaku, kamu ibu yang hebat sayang, aku beruntung bisa memiliki istri sepertimu juga menjadi ibu dari anak-anakku."


Vier meraih tangan Cyara dan mengecup berkali-kali punggung wanita yang dicintainya itu. Dia tidak bosan untuk mengungkapkan  rasa terima kasihnya kepada sang istri, walau harus melewati masa-masa sulit sebelumnya, tapi kini kebahagiaan datang menghampiri mereka, perjuangan serta pengorbanan yang telah mereka lakukan, semua tidaklah sia-sia.


Vier hendak beranjak, tapi tiba-tiba tangannya ditahan, dan begitu menoleh ternyata sang istri yang kini sudah membuka matanya.


"Mau kemana?" Tanyanya dengan suara parau.


"Aku akan tidur di sofa," ucap Vier menunjuk sofa dengan dagunya.


Cyara menggeser tubuhnya, kemudian menepuk ranjang sampingnya.


"Tidur disini saja," ucapnya.


"Tapi sayang, ini sempit," jawab Vier tidak tega melihat istrinya jika dia juga harus tidur disana.


"Ya sudah, terserah," kata Cyara yang kini memalingkan wajahnya.


Melihat istrinya yang ngambek, Vier pun segera membaringkan tubuhnya di samping tubuh Cyara. Kemudian memeluk sang istri.


"Agar kamu tidak jatuh, aku akan memeluk sepanjang malam," bisik Vier.


Cyara kini menghadap ke arah suaminya kemudian balas memeluknya sambil tersenyum.


Melihat senyum Cyara kembali, membuat Vier ikut tersenyum, apalagi beberapa bulan sepeninggal ibunya, Cyara larut dalam kesedihan dan jarang tersenyum, Vier harus berterima kasih pada anak-anaknya, karena mereka terus menghibur mami mereka, hingga akhirnya Cyara bisa bangkit dari kesedihannya, dan bisa kembali tersenyum. Ditambah sekarang malaikat kecil mereka kini kembali hadir di tengah-tengah mereka.


Vier mengelus punggung sang istri dan terus mengecup puncak kepalanya, menyalurkan kebahagian yang saat ini mereka rasakan, hingga akhirnya keduanya pun sama-sama pergi menuju ke alam mimpi.