Love Revenge

Love Revenge
Bab 95



"Aku sudah pernah bilang bukan jangan pernah permainkan dia Vier, jangan sakiti perasaan wanita sebaik Cyara, sekarang dia sudah pergi, dia pergi karena merasa kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta dengannya telah habis. Jadi biarkan dia, biarkan dia menjalani hidupnya, biarkan dia bahagia, karena selama bersamamu dia sudah menderita."


Mendengar perkataan Alno, Vier semakin terisak, dan baru kali ini seluruh keluarganya melihat Vier seperti itu. Dulu saat kehilangan Sheira karena menikah dengan orang lain, Vier tidak seterpuruk itu.


Jasmine mendekat dan membawa putranya dalam dekapan, dia tidak tahu harus mengatakan apa, semua adalah kesalahan putranya sendiri, berulang kali mereka mengingatkan Vier, tapi Vier tidak pernah mendengarkannya. Dan kini semua sudah terlambat, Cyara sudah menyerah, wanita itu sudah meninggalkan Vier dan tidak ada seorang pun yang tahu kemana wanita itu pergi. Bahkan tidak ada anggota keluarga yang ternyata bisa diharapkan tahu keberadaan Cyara.


Mereka kini semua tahu dari Vian, bahwa hubungan Cyara dan keluarganya tidak baik-baik saja, bahkan Ibu wanita itu tidak menganggap Cyara sebagai anaknya, tapi menganggap Cyara sebagai kesalahan karena apa yang telah ayah Cyara perbuat. Cyara punya satu kakak dengan Ibu yang berbeda, dan dia juga punya adik berbeda ayah. Kini semua orang tahu bahwa hubungan Cyara dan keluarganya sangatlah rumit. Ditambah saat itu pernikahan Cyara terpaksa dibatalkan karena keluarga dari kekasih wanita itu tahu jika Cyara tengah hamil, selain itu Cyara juga diusir dari keluarganya dan harus berjuang sendiri melahirkan dan membesarkan anaknya, untungnya saat itu pelayan yang memang dikirim oleh ayah Cyara setia mengikutinya kemanapun Cyara pergi.


"Apalagi...apalagi yang kau dapatkan Vian?" Tanya Vier menahan pedih di hatinya saat tahu bahwa masa lalu sang istri begitu menyakitkan.


Sungguh Vier tidak membayangkan betapa tersiksanya Cyara selama ini.


"Tidak ada, saat ini hanya itu yang aku temukan, jika Kak Vier mau, aku akan mencoba mencari tahu semuanya tentang Kak Cya," jawab Vian merasa iba melihat keadaan Vier saat ini, tapi itu semua adalah akibat dari perbuatan Vier sendiri.


"Apa sekarang kau menyesal ha? Kau menyesal karena Cyara meninggalkanmu, atau kau menyesal karena telah membalaskan dendammu pada orang yang tidak bersalah?"


Alno menarik kerah kemeja Vier agar pria itu mengangkat kepalanya dan menatap semua orang yang ada disana, "Bangun dan lihatlah kami semua yang sangat kecewa pada apa yang kamu lakukan Vier."


Alno kemudian menghela nafasnya panjang, "Aku pernah mengingatkanmu, tapi kau sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkanku, lihatlah sekarang! Kau menyesal kan? Tapi sayang penyesalanmu itu terlambat Vier. Kau menyia-nyiakan orang sebaik Cyara hanya untuk wanita seperti Sheira, bilang karena kau masih mencintai wanita itu? Kau bahkan tidak tahu dia wanita seperti apa."


Menyesal? 


Bahkan Vier merasa lebih dari kata menyesal. Jika dia merasakan hatinya sesak seperti ini. Lalu bagaimana dengan Cyara selama ini saat Vier memperlakukannya dengan buruk?


"Pukul aku Kak, pukul aku! Tapi tolong bawa Cya kembali padaku! Bawa dia kembali!"


Bug


Semua orang membelalakan matanya saat Alno menuruti begitu saja apa yang Vier katakan. 


Bug


Alno kembali mendaratkan kepalan tangannya di wajah Vier dan pria itu hanya pasrah.


"Sayang cukup tolong jangan seperti ini! Masalah tidak akan bisa selesai jika kalian malah ribut disini," ucap Jasmine yang mencegah Alno akan memukul Vier kembali.


Alno menarik nafas dan melepaskan tangannya dari kerah baju Vier.


Tubuh Vier kemudian meluruh ke lantai, dia menangis benar-benar menangis, bagaimana dia akan menjelaskan kepada anak-anak Cyara nanti, apa Vier sanggup mengatakan pada mereka jika maminya telah pergi, bahkan kepergian mami mereka adalah karena kesalahannya? Tidak, jawabannya Vier tidak akan sanggup melakukannya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Kak?"


Semua orang menghela nafas berat, hingga mereka teralihkan pada ponsel Stevano yang berdering.


"Bagaimana Jason apa kau menemukannya?"


"Tidak Tuan, aku sudah mengecek seluruh penerbangan juga terminal, tapi sama sekali tidak ada nama Cyara," jawab orang di seberang telepon.


Semua orang menunduk sedih mendengar kabar yang baru saja Jason berikan, Stevano memang sengaja mengaktifkan speaker agar membuat mereka mendengarkan panggilan dirinya dan Jason.


"Kamu coba minta bantuan yang lain dan perluas pencarian."


"Baiklah Tuan, tapi coba saja hubungi orang terdekat Cyara juga, mencari tahu kemana saja biasanya dia pergi," kata Jason memberikan saran, kemudian dia segera mengakhiri panggilan telepon mereka.


"Bagaimana ini sayang?" Tanya Jasmine pada suaminya, dan Stevano memandang Vier penuh amarah, putranya itu mengulang kesalahan yang sama yang seperti dulu dirinya lakukan, tapi saat itu dia beruntung, karena Jasmine kembali padanya, tapi bagaimana jika menantunya itu tidak kembali, maka Stevano sangat-sangat merasa bersalah pada anak-anak yang tidak bersalah itu, dia membuat mereka harus ditinggalkan oleh ibu mereka karena apa yang telah diperbuat putranya.


Stevano segera pergi dari tempat itu, dirinya harus meredakan emosinya terlebih dulu.


"Sayang!" Jasmine kemudian berlari mengikuti suaminya. Lalu Alno dan Vian pun ikut menyusul orang tuanya meninggalkan Vier dalam penyesalan.


Bibi yang sedari tadi berdiri di balik dinding memberanikan diri untuk mendekat, saat mendengar bahwa Nonanya pergi.


"Tuan apa benar? Apa benar Nona Cyara pergi?" Tanya Bibi dan Vier hanya diam saja, dan dengan diamnya Vier itu membuat Bibi membenarkan apa yang tadi di dengarnya.


"Apa salah Non Cyara? Kenapa hidup Non Cyara selalu seperti ini?" Gumam Bibi yang berjalan gontai meninggalkan Vier.


"Cyara dimana kamu? Maafkan aku Cya, maafkan aku," Vier kemudian bangkit dia melangkah menaiki tangga menuju kamar Cyara.


Dibukanya pintu kamar itu, Vier mengelus lembut ranjang tempat tidur Cyara, seolah bahwa penghuninya ada disana. Dia kemudian berjalan menuju lemari, mengambil baju Cyara dan membawanya. Vier merebahkan diri sambil memeluk baju itu, baju yang masih meninggalkan wangi istrinya.


"Kenapa kau meninggalkanku Cya?" Air mata kembali turun dari kedua mata pria itu. 


Pandangan Vier kemudian tertuju pada foto di atas nakas, foto pernikahannya. Vier mengusap foto itu kemudian mendekat hingga memberikan ciuman penuh kelembutan pada Cyara di dalam foto.


Vier kemudian bangun, saat mengingat pesan paman Jason tadi untuk mencari tahu dari teman terdekat Cyara untuk mengetahui kemana saja biasanya istrinya pergi.


Vier mengingat ponsel istrinya, ponsel terkunci, Vier mencoba beberapa tanggal, tanggal lahir Cyara, Rey bahkan Rain tidak berhasil, tapi saat mencoba menekan tanggal pernikahannya akhirnya ponsel.


Cyara berhasil terbuka. Vier melihat kontak yang tersimpan, hanya ada keluarganya dan beberapa nomor klien mereka, juga Martin, tidak ada nomor siapapun baik keluarga atau mantan tunangan istrinya. Membuka pesan pun kebanyakan adalah chat dengannya kalau tidak mamanya dan satpam serta guru anak-anak.


"Sebenarnya kamu itu orang seperti apa Cya?" Gumam Vier setelah tahu, Cyara tidak banyak berhubungan dengan orang lain. Vier kemudian memeriksa galeri foto istrinya, disana banyak sekali foto Cyara sejak mengandung dan sampai anak-anaknya lahir dan yang terbaru  adalah foto dirinya yang sedang memotret anak-anak saat di pantai.


Air mata Vier kembali terjatuh, dia salah karena telah menyakiti Cyara, sungguh dia sangat merasa bersalah, hingga mungkin tidak ada hal yang begitu berharga pada dirinya untuk menebus rasa bersalahnya.