
"Bu…, Cyara mendekat dan menggenggam tangan wanita itu.
Dan dapat Cyara lihat tubuh ibunya itu bergetar, Cyara langsung memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Bu, lihat aku Bu!" Pinta Cyara setelah dirasa ibunya sudah mulai tenang.
Dengan perlahan ibunya itu menoleh dan menatap Cyara, tapi tanpa sadar, air matanya lagi-lagi jatuh.
"Maafkan Ibu… maafkan Ibu...Ara," ucap wanita itu sesenggukan, sungguh dirinya merasa bersalah kepada putrinya itu, putri yang tidak pernah dianggap keberadaannya. Dia selama ini selalu membedakan kasih sayang Cyara dan Sheira, ia tidak menyukai Cyara karena dia benci dengan ayahnya. Padahal Cyara sama sekali tidak bersalah, jika disuruh memilih, Cyara pasti juga tidak ingin lahir karena sebuah kesalahan orang tuanya di masa lalu.
Cyara menyeka air mata itu dengan jari-jarinya, dia kira ibunya masih tidak menyukainya karena wanita itu memalingkan wajah. Tak disangka, ibunya melakukan itu karena menangis dan dia tidak ingin Cyara melihatnya.
"Ibu, Cyara sudah memaafkan ibu, Ibu jangan sedih lagi ya, dan juga Cyara berterima kasih, karena Ibu telah menyelamatkan anak-anak Cyara, terima kasih Bu."
"Mereka cucu-cucu Ibu, kamu tidak perlu berterima kasih Nak," ucap wanita itu lemah.
Menyebut cucu-cucu, wanita itu teringat dengan Keisha, anak Sheira, dia tidak menyangka jika Sheira tumbuh seperti dirinya. Hanya karena Keisha ada tanpa cinta, Sheira mengikuti jejaknya, dengan tidak menganggap anak itu. Apa itu hukuman untuknya? Melihat Keisha, dia akhirnya tahu bagaimana perasaan Cyara dulu. Putrinya itu pasti sangat menderita.
Cyara tidak bisa membunyikan rasa bahagianya, dia langsung saja memeluk ibunya lagi.
"Maafkan Sheira juga ya Ara?" Ucap ibu Cyara tiba-tiba.
Mata Cyara menyiratkan kekecewaan mendengar perkataan ibunya barusan. Cyara sontak saja melepaskan pelukan mereka. Tapi ibunya dengan cepat meraih tangan Cyara dan menggenggamnya.
"Maafkan Sheira karena mencoba melukai anak-anakmu," ucap wanita itu lirih.
"Ma...maksud ibu?" Tanya Cyara yang tidak mengerti maksud perkataan ibunya.
"Ka...kamu tidak tahu?" Ibu Cyara tampak terkejut, dia mengira jika Cyara sudah tahu tentang hal itu.
"Apa maksud Ibu?" Teriak Cyara tiba-tiba saat mengingat jika ibunya tadi mengatakan melukai anak-anaknya.
Vier yang memang duduk di ruang tunggu depan ruang rawat mertuanya, buru-buru masuk saat mendengar teriakan Cyara.
Jasmine dan Stevano yang baru saja kembali langsung menyusul Vier saat melihat putranya itu berlari masuk dengan wajah paniknya.
"Kenapa sayang?" Tanya Vier yang langsung memeluk Cyara yang kini menangis.
"Katakan padaku Vier! Apa maksud Ibu? Kenapa Ibu bilang Sheira mencoba melukai anak-anak kita?" Ucap Cyara menatap suaminya meminta penjelasan dari pria itu, yang Cyara yakin tahu tentang hal yang baru saja dikatakan ibunya.
"Cya itu…"
Vier tampak ragu memberitahu Cyara, bukan karena menutup-nutupi tentang apa yang Sheira lakukan, tapi lebih kepada memikirkan kesehatan Cyara dan bayinya, dia tidak ingin membuat istrinya banyak pikiran.
"Katakan Vier? Kenapa kamu tidak mau mengatakannya? Karena kamu masih mencintainya? Kamu juga akan terus membelanya seperti Ibu?"
"Tidak Cyara," Vier menggelengkan kepala, dia berani bersumpah bukan karena itu dia menyembunyikannya dari Cyara.
"Katakan Vier!" Cyara memukul dada pria itu, berharap Vier akan mengatakan sebenarnya, walaupun apa yang didengarnya mungkin akan melukai hatinya, tapi itu lebih baik karena Cyara mendengar penjelasan itu langsung dari mulut suaminya sendiri, bukan dari orang lain.
"Sheira yang mencoba melukai anak-anak kita," ucap Vier yang langsung menarik Cyara ke dalam dekapan saat melihat wanitanya itu menangis semakin kencang.
"Kenapa? Kenapa dia melakukan itu? Apa salah anak-anakku?" Kata Cyara di tengah isakannya.
"Sayang."
"Ara, Ibu mohon maafkan Sheira, jangan hukum dia, bagaimanapun Keisha...keponakanmu masih butuh ibunya, Ibu tidak mau nasib Keisha, seperti kamu Nak," ucap Ibu Cyara lagi.
Cyara mencoba lepas dari pelukan suaminya, menatap dengan nanar ibunya itu.
"Lagian, anak-anak kamu juga baik-baik saja kan? Ibu sudah menyelamatkannya, jadi kamu…"
"Apa Ibu menyelamatkan anak-anakku untuk melindungi Sheira? Apa ibu rela mempertaruhkan nyawa Ibu hanya untuk Sheira agar bebas dari hukumannya? Kenapa Bu? Kenapa? Kenapa selalu Sheira? Tidakkah Ibu memikirkanku juga? Bagaimana perasaan Ibu jika anak Ibu dalam bahaya? Ibu khawatir, Ibu marah? Iya kan Bu? Seperti 23 tahun yang lalu, saat kami hampir saja tenggelam, Ibu marah karena takut terjadi sesuatu pada Sheira, ibu bahkan menyalahkanku? Padahal saat itu aku juga sama-sama terluka, Ibu marah tanpa mau mendengarkan penjelasanku, apa yang sebenarnya terjadi. Ya, aku sadar, aku bukan anak yang Ibu harapkan, tapi bagaimanapun aku anak Ibu, tidak adakah sedikit saja, rasa sayang ibu untukku? Tidak cuma Sheira yang membutuhkannya, aku juga Bu! Aku selalu menjadi kakak yang terbaik untuk Sheira, aku mengorbankan semuanya demi dia, bahkan saat Sheira menginginkan apa yang aku miliki, aku memberikannya, aku hanya berharap, Ibu bisa melihat kasih sayangku yang tulus, aku hanya berharap ibu memandang ke arahku walau sebentar saja. Tapi rasanya aku mengharap sesuatu yang sia-sia, karena di mata Ibu hanya Sheira, Sheira dan Sheira," ucap Cyara mengutarakan semua yang dipendamnya selama ini, Cyara kini kembali menangis, tapi begitu menyesakkan hati Vier, melihat tangis istrinya tanpa suara. Yang bisa Vier lakukan, hanya memberi dekapan hangat, menepuk-nepuk pelan punggung wanitanya, berharap bisa sedikit menenangkan sang istri.
Air mata Vier tanpa sadar ikut terjatuh, sungguh dia tidak tahu, jika wanita yang kini menangis di pelukannya, menyimpan banyak luka di hatinya, dan Vier, dia juga ikut berperan di dalamnya, dia adalah salah satu pembuat luka di hati Cyara, dan Vier sangat menyesali hal itu.
"Cyara!"
"Cukup! Lebih baik Anda diam!" Ucap Vier yang tidak ingin wanita itu kembali berbicara yang hanya akan menyakiti perasaan Cyara.
"Vier, bawa aku pergi dari sini!" Ucap Cyara dan Vier pun mengangguk.
Vier langsung membawa Cyara keluar dari ruang rawat ibunya.
"Aku ingin bertemu dengannya Vier," ucap Cyara begitu mereka sudah sampai di luar.
Tanpa menyebutkan nama, Vier tahu jelas siapa yang Cyara maksud.
"Baiklah, besok kita akan menemuinya," ucap Vier.
"Ya sudah, ayo kembali ke ruangan mu," ajak Vier agar istrinya bisa beristirahat.
"Aku ingin pulang."
"Tapi sayang…"
"Aku mohon!"
Vier menghela nafas berat, "Baiklah, aku akan temui dokternya dulu, dan kamu ke ruangan mu dulu ya, tunggu aku di sana dan jangan kemana-mana sampai aku kembali," pesan Vier pada istrinya.
"Iya," jawab Cyara setuju.
Keduanya pun masuk ke dalam ruang rawat Cyara, Vier membantu Cyara berbaring, setelah itu Vier pergi meninggalkannya untuk menemui dokter membicarakan tentang kepulangan istrinya.