Love Revenge

Love Revenge
Bab 85



Vier dengan cepat mendorong Sheira, membuat tangan Sheira otomatis terlepas dari tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan ha?" Teriak Vier.


"Vier! Kenapa Vier? Kenapa kau menolakku? Apa karena Cyara?"


"Jangan bawa-bawa istriku!"


"Kau perlu tahu Vier, Dia sama seperti ayahnya, dulu ayahnya yang merebut ibu, dan sekarang...dia juga merebutmu dariku, tidak, ini tidak boleh terjadi, kau milikku Vier, hanya milikku, aku tidak akan membiarkan kau bersamanya."


"Kau gila Sheira, kau benar-benar gila, bukankah kamu yang awalnya meninggalkanku, dan sekarang kau bilang aku milikmu?"


"Sudahlah aku pergi, sepertinya kau butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua itu," ucap Vier yang kini berjalan pergi meninggalkan Sheira yang terus berteriak memanggil namanya.


*


*


Cyara masuk dan duduk di atas ranjang, Cyara terdiam menatap sebuah laci meja nakas. Dengan ragu Cyara membuka laci itu. Laci yang menyimpan banyak kenangan yang entah bisa disebut menyakitkan atau membahagiakan.


Diambilnya sebuah album foto, di saat dirinya masih kecil, entah kenapa, Cyara merasa menyesal, menyesal karena saat itu menanyakan ibunya dan bilang ingin tinggal dengannya. Membuat ayahnya memutuskan agar Cyara sungguh-sungguh tinggal bersama ibunya. Tapi setelah tinggal dengannya, Cyara sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang wanita itu, seluruh kasih sayang, ibunya berikan pada Sheira sang adik. Cyara melihat foto ibunya yang kadang diambilnya diam-diam.


Dimana di foto itu, ibunya tengah tersenyum dengan Sheira yang tidur di pangkuannya. Tapi Cyara tidak pernah merasakan itu. Cyara teringat saat dirinya sakit dan harus di rawat di rumah sakit. Sama sekali tidak ada yang menemaninya, jika saja dia tinggal bersama ayahnya, pasti ayahnya akan menjaga dengan sepenuh hati. 


Saat pulang dari rumah sakit, Cyara langsung berlari dan memeluk ibunya tapi ibunya menolak.


"Ibu," lirih Cyara menatap sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa Bu? Aku juga anak Ibu, kenapa Ibu hanya sayang sama Sheira? Aku juga ingin disayang Ibu, apa tidak boleh?" Tangis Cyara kecil kini terdengar.


Cyara menghapus air matanya yang tiba-tiba saja menetes saat bayangan-bayangan masa lalunya berputar seperti film yang sedang ditayangkan.


Jari Cyara berhenti pada sebuah foto, dimana foto itu diambil untuk yang terakhir kalinya, saat ayahnya di rawat di rumah sakit, dan hari itu bertepatan dengan Sheira yang melangsungkan pernikahan.


Saat itu disaat ayahnya kritis, Cyara mendatangi ibunya, berharap ibunya mau datang sebentar saja untuk menemui sang ayah, tapi ibunya justru menolak. Hingga di detik-detik terakhir ayahnya meninggal hanya Cyara yang ada di sana. Cyara begitu terpuruk, karena tidak cukup kehilangan ayahnya saja, dia juga harus kehilangan kakaknya. Bahkan perusahaan yang seharusnya milik Cyara, justru diambil alih oleh ayah Sheira. Ya Cyara dan Sheira memiliki ayah yang berbeda. Ayah Sheira adalah kekasih ibu Cyara sesungguhnya. Setelah ayah Cyara dan ibunya berpisah, tak lama, Ibu Cyara menikah kembali dengan kekasihnya hingga akhirnya memiliki Sheira.


Sejak saat itu, Cyara tidak diterima lagi di rumahnya sendiri. Hingga Cyara yang sudah tidak memiliki apa-apa, terpaksa bekerja di sebuah club malam dan hingga terjadilah malam naas itu, Cyara di jebak, dia yang tidak pernah minum, di paksa minum, hingga dia kehilangan kesadaran. Dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi saat dirinya terbangun, tepat di sampingnya seorang pria tidur membelakanginya. Cyara terkejut saat menyingkap selimutnya. Dia buru-buru mengambil pakaiannya yang berserakan lalu segera pergi dari tempat itu, walau dengan langkahnya yang tertatih-tatih.


Tangan Cyara kembali membuka lembar demi lembar album foto itu, hingga dia melihat foto dirinya yang tengah tersenyum dengan seorang pria. Pria yang tak lain adalah cinta pertamanya Rayyan. Pria yang begitu baik dengannya, dan sangat menyayanginya hingga hari itu, Cyara benar-benar hancur, saat ternyata dirinya ternyata hamil, dan Rayyan memutuskan untuk meninggalkannya.


Dada Cyara terasa sesak saat mengingat itu semua, ingatan demi ingatan menyakitkan kini kembali muncul di pikirannya. Cyara menutup album itu, rasanya dia tidak sanggup mengingat itu lagi, diambilnya foto dirinya bersama dengan kedua anaknya. 


Diusapnya dengan lembut foto itu dan diciumnya lama.


"Tapi yang perlu kalian tahu sayang, Mami tidak menyesal dengan kehadiran kalian, dulu Mami pernah menyesal, bahkan Mami pernah sempat akan menyerah, tapi kalian… kalian yang menguatkan Mami, membuat Mami bertahan hingga saat ini, jika tidak ada kalian, Mami tidak tahu apa Mami masih bisa bernafas, apa Mami sanggup menjalani hidup Mami seorang diri, makasih sayang, karena kalian hadir di tengah kesepian Mami, terima kasih karena hadir menguatkan Mami di saat Mami benar-benar terpuruk saat itu, Mami sangat menyayangi kalian, dan Mami akan melakukan apapun untuk kebahagian kalian, walaupun mungkin Mami harus mengorbankan kebahagian Mami, karena kebahagian Mami bukan apa-apa dibandingkan dengan Mami yang hidup tanpa senyum kalian." Cyara menghapus air matanya yang terus saja mengalir, seakan air mata Cyara tidak ada habisnya, di peluknya erat foto itu, dan Cyara perlahan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.



Vier memasuki rumahnya yang tampak begitu sepi, bahkan semua lampu sudah dimatikan. Vier berjalan menaiki anak tangga, bermaksud untuk melihat anak-anaknya. Tapi begitu sampai di kamar anak-anak, Vier sama sekali tidak menemukan keberadaan mereka. Vier menutup pintu dan kini langkahnya langsung tertuju pada kamarnya, Vier membuka pintu dan begitu terbuka, hanya kata gelap yang pertama kali Vier dapati. Perlahan Vier berjalan dan menyalakan saklar, entah kenapa Vier merasa lega, lega karena dia melihat Cyara berbaring di atas ranjang sedang tertidur lelap. Vier mendekat dan duduk di sisi ranjang yang kosong. Dia amati wajah Cyara yang tampak lelap dalam tidurnya. Vier mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah Cyara, tapi dengan cepat, Vier kembali menarik tangannya saat melihat Cyara yang kini menggeliat, dan tak lama, dapat Vier lihat, Cyara kini sudah membuka kedua matanya lebar membuat pandangan keduanya bertemu.


"Maaf sudah membangunkanmu," ucap Vier yang kini tampak salah tingkah.


"Oh iya, tadi gelap, makanya aku nyalakan lampunya," Vier menunjuk ke atas dimana disana ada banyak lampu.


"Lebih baik kau lanjutkan saja tidurmu, aku tidak akan mengganggu lagi, ya sudah aku mau mandi dulu," tambahnya kemudian segera bangkit dari duduknya. 


Tapi belum juga melangkah, Cyara sudah lebih dulu menarik tangan Vier hingga pria itu kini terjatuh di atas tubuh Cyara.