Love Revenge

Love Revenge
Bab 55



"Biar Rey nanti aku yang gendong," ucap Vier yang kemudian keluar dari mobil.


Kemudian membuka pintu mobil belakang, dan mengangkat tubuh Rey membawanya masuk.


"Kenapa?" Tanya Vier karena Cyara tidak juga beranjak.


"Nanti dulu, lenganku terasa kebas, kamu masuk saja," ucap Cyara karena memang tadi kedua tangannya terlalu lama merangkul pundak Rey dan Rain sekaligus menjadi bantalan keduanya agar kepala anak- anaknya tidak terbentur.


"Ya sudah, nanti biar aku yang gendong Rain juga setelah menidurkan Rey," ucap Vier dan segera pergi menuju ke kamar kedua anak itu.


Cyara yang merasa tangannya sudah membaik memutuskan untuk mengangkat tubuh putrinya, tapi sebelum itu, Cyara mendengar putrinya mengigau.


"Tidak tante bohong, Om Pir tetap akan jadi Papi Rain, Om Pir sayang sama aku dan Kakak sayang juga sama mami," setelah mengatakan itu dalam tidurnya terdengar Rain menangis tersedu-sedu.


"Sayang kenapa? Sayang?" Cyara langsung memeluk putrinya yang matanya masih terpejam.


"Sheira apa yang sebenarnya kamu katakan kepada anakku?" Gumam Cyara sambil menenangkan putrinya dalam dekapan.


"Sayang apa hubunganmu sama Sheira baik?" Pertanyaan Jasmine tiba-tiba teringat dibenaknya.


"Aku sendiri tidak tahu bagaimana hubungan kita, bisa dikatakan baik atau tidak," ucap Cyara tiba-tiba saat mengingat semua apa yang Sheira lakukan padanya.


"Kak! Kalungku jatuh di kolam, aku tidak bisa berenang, kakak bisa ambilkan untukku? Nanti Mama sedih jika kalung pemberiannya hilang," ucap gadis kecil yang berusia 4 tahun itu, gadis yang usianya lebih mudah 2 tahun darinya.


"Tapi She, Kakak tidak bisa juga," ucap sang kakak.


"Ya sudah kalau kakak tidak mau, biar aku ambil sendiri saja," tampaknya gadis kecil yang dipanggil She itu kesal karena kakaknya menolak permintaan tolongnya.


"She, jangan bahaya! Kita panggil Bibi saja, minta tolong padanya," kata sang kakak menahan tangan adiknya.


Tiba-tiba


Byur


Keduanya masuk ke dalam kolam yang cukup dalam untuk anak seusia mereka.


"Tolong!" Teriak kedua anak kakak beradik itu.


"Sheira!" Teriak seorang wanita dewasa, dan wanita itu buru-buru menyelamatkan gadis kecil yang dipanggilnya, dan meninggalkan gadis kecil yang satunya.


"Mami!" Panggilan Rain membuyarkan lamunan Cyara.


"Sayang, sudah bangun." Kata Cyara melonggarkan pelukan dan menatap putri kecilnya, menghapus sisa air mata yang tertinggal di wajah cantiknya.


Gadis kecil itu kini sudah sepenuhnya membuka matanya yang terlihat sembab. 


"Mami, Mami Om Pir tetap akan jadi papi Rain kan? Tante itu bohongkan Mi, tante itu bilang jika Om Pir tidak sayang sama kita, tante itu juga bilang kalau Om Pir bahkan ninggalin kita seperti daddy, yang dikatakan tante itu tidak benar kan Mi?" Tanya gadis kecil itu yang kini sudah kembali menjatuhkan air matanya.


Cyara kembali memeluk putrinya dan menepuk-nepuk punggung Rain menenangkannya. Dirinya juga tidak bisa menjawab pertanyaan sang putri.


Loh  Rain sudah bangun?" Vier tiba-tiba sudah berada disana.


"Rain kenapa?" Tanya Vier saat melihat gadis  kecil itu menangis.


"Tidak apa-apa, hanya mimpi buruk tadi," jawab Cyara yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Rain ayo sini sama Papi," kata Vier meminta gadis kecil itu masuk ke dalam bersamanya.


"Mi…" Rain melepaskan pelukan maminya dan menatap sang Mami.


Cyara tersenyum dan mengangguk, kemudian berbisik pada putrinya. Rain berbalik dan menatap Vier, lalu mengulurkan kedua tangannya meminta pria itu menggendongnya.


"Aku masuk dulu ya, mau memasak buat makan siang, karena Bibi pasti tidak memasak," ucap Cyara karena sebelumnya dia memang mengatakan Bibi untuk tidak memasak, karena awalnya Cyara kira dia hanya akan belanja dan menjemput putrinya, lalu langsung pulang, tapi ternyata semua tidak berjalan sesuai perkiraannya, dan akhirnya disinilah Cyara, tengah berkutat dengan alat-alat dapur.


Sementara itu di ruang keluarga, tepatnya di depan televisi dimana disana terbentang karpet yang luas, Rain, putri kecil Cyara sedang menggambar di temani oleh Vier.


"Tadi Mami berbisik apa sama Rain?" Tanya Vier dengan suara yang pelan setelah dirinya dan Rain hanya tinggal berdua saja.


"Papi kesini!" Rain menyuruh Vier mendekat kemudian berbisik di telinga pria yang sebentar lagi akan menjadi ayahnya itu.


"Rahasia," bisiknya kemudian kembali melanjutkan menggambarnya.


"Papi stop papi geli, Papi ampun!" Teriak Rain berguling-guling di atas karpet.


"Papi berhenti, Papi!" Suara gadis kecil itu hampir habis karena sudah tidak kuat lagi menahan geli.


Vier yang merasa kasihan pun berhenti dan memeluknya.


"Rain sayang sama Papi," ucap gadis kecil itu tiba-tiba dan mencium pipi Vier.


Vier pun tersenyum dan balas mengecupi seluruh bagian wajah Rain.


"Papi juga sayang banget sama Rain," ucap Vier dan kembali memeluk gadis kecil itu.


*


*


"Sayang, makanannya sudah matang," ucapan Cyara terhenti saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Rain dan Vier kini tertidur, tangan mungil putrinya melingkar di pinggang Vier sementara Vier menjadikan tubuh putri kecilnya, seperti guling dan herannya putrinya nampak nyaman dengan tidur seperti itu.


Cyara mengamati wajah keduanya, "Kenapa jika diperhatikan wajah keduanya lama-lama hampir mirip ya," gumam Cyara kemudian Cyara menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini ada-ada saja Cyara," tambahnya kemudian. 


Cyara kemudian menatap Vier yang tampak tenang dalam tidurnya. "Lebih baik kan kalau kamu tertidur seperti ini, jika tidak tidur kau itu sangat menyebalkan," gumam Cyara saat memperhatikan wajah pria itu.


"Mami!" Rain mengucek kedua matanya dan mengerjapkannya perlahan, lama-lama matanya pun terbuka lebar.


"Mami, Rain lapar," ucap gadis itu sambil memegang perutnya.


Cyara tersenyum, rupanya putrinya itu bangun karena merasa lapar.


"Ya sudah, Rain cuci muka dulu, habis itu kita makan ya, ayo sekalian kita bangunin Kakak!" Cyara mengulurkan tangannya membantu putrinya bangun.


Rain menyambut uluran tangan Cyara dan kini gadis kecil itu sudah berdiri.


"Biar Rain yang bangunin Kakak, Mami bangunin Papi saja ya, Rain juga kok bisa cuci muka sendiri," tambah Rain yang langsung berjalan meninggalkan maminya bahkan sebelum maminya itu menyetujui apa yang Rain katakan.


Cyara menatap Vier, ragu untuk membangunkan pria itu, tapi kemudian menghela nafas dan memutuskan untuk membangunkan Vier.


"Vier bangun, makanannya sudah siap," ucap Cyara.


Tapi sayangnya pria itu tidak juga membuka matanya.


Cyara pun berjongkok dan menggoyang-goyangkan tubuh pria itu, "Bangun Vier, makanannya sudah siap," ucapnya lagi.


Tak lama pria itu membuka kedua matanya, "Nanti saja, aku masih mengantuk," ucapnya kemudian kembali menutup matanya.


"Vier bangun dan makan dulu, nanti makanannya dingin, kasihan juga anak-anak sudah kelaparan," ucap Cyara yang membuat Vier langsung membuka matanya mendengar kata anak-anak.


"Bangunin!" Kata Vier mengulurkan kedua tangannya, meminta Cyara untuk menariknya.


"Bangun sendiri jangan seperti Rey dan Rain deh!" Kata Cyara yang kini justru menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Makanan keburu dingin, kasihan juga anak-anak sudah kelaparan," ucap Vier mengatakan apa yang baru saja Cyara katakan. 


Cyara menatap kesal ke arah Vier yang tersenyum smirk karena bisa membalikkan ucapan Cyara menjadi jawabannya.


"Ayo cepat!" 


Dan dengan terpaksa, Cyara pun akhirnya menarik tangan pria itu yang terulur ke atas.


"Dasar manja!" Gerutu Cyara, tapi Vier sama sekali tidak menggubris ucapan wanita itu.


Bug


Aww


Teriak Cyara terkejut, karena bukannya Vier yang bangun, tapi  justru dirinya lah yang kini jatuh di atas tubuh Vier.