
Cyara terdiam, dia mencoba menarik nafas dengan dada yang begitu sesak. Air matanya terjatuh, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini.
Cyara menghapus air matanya, "Ku mohon jangan seperti ini Vier!"
"Cyara maafkan aku. Aku...
Cyara menghela nafas panjang, "Baiklah, tapi tolong beri aku waktu," ucap Cyara lirih mencoba lepas dari dekapan Vier, dia kemudian berbalik, Cyara tidak ingin terlihat lemah di hadapan Vier, dia tidak ingin Vier melihatnya menangis.
"Sekarang pulanglah!" Ucap Cyara menunjukkan Vier jalan keluar.
"Aku akan pulang, jaga diri baik-baik dan juga anak kita," ucap Vier mengelus lembut rambut Cyara sebelum akhirnya pria itu kini benar-benar melangkah pergi.
Cyara segera menutup pintu dan menguncinya. Dia sandarkan tubuhnya pada pintu, air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.
"Kenapa kau membuatku kembali menjadi wanita lemah Vier? Kenapa kau harus datang kesini dan menemukanku? Padahal aku berusaha melupakanmu?"
Tubuh Cyara merosot ke lantai perlahan, rasanya sesak, dia sangat merindukan pria itu, tapi dia takut hatinya akan kembali terluka.
***
Cyara tidak bisa memejamkan matanya, kata-kata Vier, ucapan pria itu, kini mulai mengganggu pikirannya.
Kembalilah Cyara
Anak-anak membutuhkanmu
Aku juga membutuhkanmu
Semua perkataan Vier sore tadi terngiang-ngiang di benaknya. Cyara mencoba bangun kemudian duduk bersandar pada headboard, dibukanya laci yang ada di samping tempat tidur. Foto seorang pria yang tersenyum sambil mengambil gambar anak-anaknya dengan senyuman yang tak kalah lebar. Di foto itu, ketiganya terlihat bahagia.
"Mami merindukan kalian sayang, sangat-sangat merindukan kalian." Gumam Cyara sambil mengelus gambar di foto itu.
"Maafkan Mami sayang, maafkan Mami karena sudah meninggalkan kalian, maafkan Mami sayang," Cyara mendekatkan foto itu pada wajahnya dan mencium foto itu lama.
Pancaran cahaya kilat, disertai dengan suara petir menyambar, serta kain gorden yang melayang-layang terbang membuat Cyara mengalihkan pikiran yang sedari tadi mengingat anak-anaknya, Cyara memutuskan untuk turun dari ranjang. Berjalan perlahan menuju jendela yang lupa dia tutup. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya membasahi bumi dan seisinya.
Saat akan menutup jendela, mata Cyara membelalak melihat Vier ternyata masih ada disana, pria itu kini tengah berdiri di depan pintu dengan tubuh yang basah kuyup. Kedua tangannya terlipat di depan dada, Cyara yakin jika pria itu kedinginan.
Cyara bergegas keluar dari kamar, "Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan Vier?" Gumamnya sepanjang jalan menuju pintu keluar.
Ceklek
Cyara membuka pintu dan langsung menatap tajam Vier yang kini tersenyum padanya.
"Kenapa keluar? Masuklah, hujan begitu deras," ucap Vier begitu melihat Cyara keluar.
"Apa yang kamu lakukan ha? Aku memintamu pulang, tapi kenapa malah hujan-hujanan seperti anak kecil saja?" Gerutu Cyara.
"Aku…"
"Cepat masuk!" Kata Cyara membuka pintu lebar-lebar agar Vier bisa masuk.
Vier tersenyum senang dan kemudian mengikuti Cyara.
...
Vier kemudian menatap pintu, ingin rasanya dia masuk, dan menemani istrinya di dalam, memeluknya penuh sayang sembari memberikan kehangatan di tengah dinginnya malam ini. Di saat dia sedang sibuk dengan lamunannya, tiba-tiba pintu terbuka dan Vier langsung tersenyum melihat siapa orang yang kini berdiri di hadapannya. Cyara keluar dengan tatapannya yang tajam, Vier berharap jika Cyara melakukan itu karena mengkhawatirkannya.
"Kenapa keluar? Masuklah, hujan begitu deras," ucapnya begitu melihat sang istri keluar.
"Apa yang kamu lakukan ha? Aku memintamu pulang, tapi kenapa malah hujan-hujanan seperti anak kecil saja?"
Terdengar Cyara mengomelinya, tapi Vier justru senang mendengar itu.
"Aku…" Vier ingin membalas ucapannya tapi dengan cepat Cyara justru memotong ucapannya.
"Cepat masuk!"
Dilihatnya kini Cyara semakin membuka pintu lebar-lebar agar dirinya bisa masuk. Dan tentu saja hal itu dengan senang hati Vier lakukan, karena itu memang yang ingin Vier lakukan sedari tadi.
Vier kemudian melihat Cyara meninggalkannya, tapi tak lama wanita itu pun datang dengan membawa handuk dan memberikannya pada Vier.
"Kenapa sih pake hujan-hujanan segala, bagaimana jika sakit?"
"Kenapa memangnya kalau sakit? apa kamu khawatir?" Tanya Vier.
"Tidak, siapa juga yang khawatir," jawab Cyara berkilah.
"Mandilah di kamar itu, di dalam lemari ada pakaian kamu pakai saja, aku tidak mau kamu sampai sakit disini, tidak ada yang mengurus," jawab Cyara ketus.
"Kan ada kamu," jawab Vier menatap Cyara lekat.
"Aku bukan dokter."
"Tau, tapi jika aku sakit aku pasti sembuh kalau kamu yang mengurus," jawab Vier mengulum senyum melihat istrinya yang sepertinya sudah kehabisan kata-kata.
"Vier cukup! Sudah sana mandi lagi!"
"Kamu tidak mau menemaniku?"
Mata Cyara melotot, kemudian dia memilih pergi meninggalkan Vier dan masuk ke dalam kamarnya. Dan Vier tergelak melihat itu.
Tapi tawanya berhenti tiba-tiba dan berganti dengan senyum kecut saat kini pandangannya menatap kepergian Cyara, dia bertekad bahwa dia harus terus berjuang untu mendapatkan maaf dan kepercayaan istrinya. Dia ingin Cyara menjadikan dirinya tempat untuk mendengar keluh kesahnya. Vier tahu jika dia salah dan dia akan memperbaiki kesalahannya.
Vier masuk ke dalam kamar yang dimaksud Cyara. Dia berjalan menuju ke sebuah lemari, begitu membuka lemari, dirinya begitu terkejut, banyak pakaian pria disana.
"Pakaian siapa ini? Apa selama ini Cya…?" Vier mengambil salah satu pakaian dan berjalan keluar, di saat tangannya sebentar lagi akan menggapai pegangan pintu, Vier berubah pikiran, dia tidak jadi membuka pintu itu.
"Tidak, aku harus percaya sama Cya, dia pasti tidak akan mengkhianatiku," ucap Vier meyakinkan dirinya sendiri.
Vier terdiam mengamati pakaian-pakaian itu, dia baru mengingat jika di rumah Cyara juga banyak pakaian pria, bahkan ada lemari khusus untuknya, Vier juga tahu jika Cya ternyata belum pernah menikah sebelum bersamanya. Lalu Vier pun bertanya-tanya dalam hati sebenarnya siapa pemilik semua ini. Vier akan menanyakannya, tapi nanti, setelah dia mendapatkan maaf dari Cyara dan mendapatkan kepercayaan dari wanitanya, bahwa Vier bisa dijadikan Cyara tempat mencurahkan isi hati wanita itu dan juga sandarannya.
Vier kemudian berjalan ke kamar mandi, menuruti apa yang istrinya perintahkan.
Setelah mandi, Vier mondar-mandir di kamar itu, dia saat ini sedang mencari cara agar bisa masuk ke kamar Cyara. Dia sangat merindukan wanita itu, ingin mengobrol, bercanda, tidur dengan saling berpelukan, ya Vier sangat-sangat merindukan moment itu.
Vier berhenti dan tersenyum kemudian menjentikan jarinya, dia akhirnya memiliki alasan agar malam ini bisa satu kamar dengan Cyara. Dengan perasaan senang Vier berjalan keluar dari kamar itu dan melangkah cepat menuju kamar Cyara.