Love Revenge

Love Revenge
Bab 130



Vier terus mengusap bahu istrinya yang kini sudah tidak bergetar lagi seperti sebelumnya.


"Sayang!" Panggil Vier lirih, dan sama sekali tidak mendapat sahutan dari istrinya. 


Vier menunduk dan ternyata Cya kini tertidur, mungkin karena istrinya itu kelelahan, apalagi dari semalam mereka pulang dari rumah sakit, Cyara tidak henti-hentinya menangis, membuat Vier khawatir.


Vier dengan perlahan  mengangkat tubuh istrinya, membawanya keluar dari area pemakaman itu. Sopir segera membukakan pintu, memudahkan Vier membawa sang istri  masuk ke dalam mobil.


Sopir segera melajukan kendaraan, dan dua puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai di kediaman Stevano.


"Cya kenapa?" Tanya Jasmine yang berlari dari dalam saat mendengar deru mesin mobil, san betapa paniknya wanita itu, saat melihat Cyara dalam gendongan putranya.


"Cyara tidak apa-apa Ma, dia hanya ketiduran, dia pasti kelelahan, apalagi sejak semalam dia tidak berhenti menangis."


Jasmine mengangguk mengerti, kemudian mengikuti putranya, membantu membukakan pintu.


"Kamu harus bisa kuatkan Cyara," kata Jasmine yang melihat, kini menantunya sudah berbaring di ranjangnya.


"Iya Ma, bagaimana dengan Rey dan Rain?"


"Mereka tadi menangis ingin ikut, tapi Vira berhasil membujuknya, Sebenarnya apa yang terjadi Vier? Mama hanya mendengar dari Vian sedikit, karena  Vian bilang, bahwa kamu yang berhak bercerita," tanya Jasmine yang kini menatap putranya.


"Nanti Ma, setelah Cyara tenang, karena bagaimanapun Cyara  berhak tahu, apa yang terjadi sebenarnya." Ucap Vier yang kini duduk di sofa.


"Baiklah, Mama tinggal dulu, kamu jangan lupa sarapan, mama nanti akan menyuruh bibi untuk membawa makanan kesini, begitu Cyara bangun, kamu juga bujuk dia untuk makan ya, ingatkan kalau ada nyawa lain yang perlu dia jaga," ucap Jasmine dan Vier pun mengangguk.


Selepas mamanya pergi, Vier memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, mungkin karena dari semalam dia belum tidur sama sekali.  Vier memejamkan matanya, yang sudah tidak bisa dikompromi lagi, tak lama pria itu pun benar-benar tertidur.


*


*


Cyara menutup mata,  saat sebilah pisau berlari ke arah tubuhnya, wanita itu hanya pasrah, hingga tiba-tiba dia merasakan dekapan hangat dari seorang wanita yang dulu enggan memberinya pelukan.


"Ibu…" kata Cyara lirih saat tangannya penuh dengan cairan merah kental.


"Bu...Ibu… Bu…" tangan Cyara gemetar saat ibunya sama sekali tidak menjawab panggilannya, bahkan saat Cyara mencoba menggoyang-goyangkan tubuh wanita itu.


Tiba-tiba tangan ibu Cyara terkulai lemas.


"Bu, Ibu bangun Bu! Ibu!" Teriak Cyara segera bangun dari tidurnya dengan air mata yang bercucuran deras.


Vier bahkan sampai terbangun, saat mendengar teriakan istrinya, pria itu segera bangkit dan menghampiri Cyara.


Vier buru-buru memberikan segelas air putih pada istrinya. Dan Cyara langsung meneguknya hingga habis.


"Kenapa? Mimpi buruk?" Tanya Vier dan Cyara mengangguk cepat. 


Cyara kemudian turun dari ranjang, membuat Vier mengernyit heran, apalagi saat wanita itu mengambil tas nya.


"Vier, ayo antarkan  aku ke rumah sakit, aku malam ini akan menemani ibu saja, tadi aku bermimpi buruk, dan aku takut terjadi sesuatu sama ibu, apalagi mimpi itu terasa begitu nyata," jelas Cyara yang kemudian berjalan keluar lebih dulu.


"Sayang tunggu!" Teriak Vier, hingga semua anggota keluarganya yang masih ada di ruang keluarga langsung menatap wanita yang kini berjalan cepat melewati mereka.


"Cya kamu mau kemana sayang?" Jasmine langsung bangun dan menghampiri menantunya.


Dan mendengar perkataan Cyara, semua orang disana hanya bisa saling pandang.


"Sayang!"


Vier dengan nafas terengah-engah karena berlari mengejar istrinya kini berdiri di samping kedua wanita yang disayanginya itu.


"Ma, kita berangkat dulu ya, titip Rey dan Rain, maaf ya karena jadi ngrepotin mama terus," ucap Cyara lagi begitu melihat suaminya.


Saat Cyara akan berjalan keluar, Vier dengan cepat memeluk tubuh Cyara dari belakang.


"Aku mohon hentikan sayang! Jangan seperti ini! Aku mohon, kamu boleh sedih tapi jangan berlarut, ibu kamu sudah tenang disana, beliau juga akan sedih, jika melihat kamu terus seperti ini."


Tubuh Cyara tiba-tiba meluruh ke lantai, ya dia sekarang mengingatnya, jika mimpi tadi memanglah nyata, ibu Cyara telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Ibu!" Cyara kembali terisak.


Vier tidak tega, melihat istrinya terus seperti ini, hatinya ikut sakit, dadanya rasanya begitu  sesak.


"Ini semua gara-gara aku Vier, Ibu pergi karena aku! Ibu pergi karena menyelamatkanku!" 


Semua orang hanya diam mendengar tangis pilu Cyara, bahkan kini mereka tengah mengusap air matanya yang kini ikut jatuh begitu saja saat mendengar tangisan Cyara.


"Sayang berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, ini semua bukan salahmu, jodoh, rezeki, maut, Tuhan sudah mengatur semuanya. Jadi stop merasa bersalah atas kepergian ibu kamu, ibu kamu menyelamatkanmu, karena dia memang menyayangi  kamu, dan jika kamu terus menyalahkan diri kamu sendiri, ibu kamu pasti sedih," ucap Vier menenangkan istrinya.


"Sekarang menangislah sepuasmu, setelah ini, berhentilah, waktu terus berjalan, dan masih banyak hal yang harus kamu lakukan, daripada kamu menenggelamkan diri, dan terus larut dalam kesedihan."


"Sekarang kamu makan ya," bujuk Vier setelah istrinya kini mulai tenang.


Cyara menggeleng, dia kemudian dibantu Vier bangun dan memapahnya ke arah sofa dan duduk disana.


"Sayang!" Vier memberikan sesuap nasi pada Cyara yang baru saja diambilkan mamanya.


"Aku tidak mau, jadi please jangan paksa aku, karena aku belum begitu lapar," jawab Cyara mengalihkan pandangan.


"Apa kamu tidak sayang sama anak kita?"


Cyara yang tadinya menatap entah ke arah mana, kini menatap sang suami dengan kernyitan di dahinya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Jelas saja aku menyayangi mereka, sangat menyayangi malah," jawab Cyara yang tidak mengerti, kenapa suaminya bertanya seperti itu.


"Jika kamu sayang sama anak kita, harusnya kamu makan, kamu harus ingat, jika di dalam tubuhmu, ada nyawa lain yang perlu kamu perhatikan juga. Jika kamu saja tidak makan, dari mana anak kita bisa dapatkan makanannya?"


Cyara kemudian terdiam memikirkan ucapan suaminya. Dia menatap Vier, lalu akhirnya dia pun mengangguk.


Mendengar istrinya yang sudah setuju untuk makan, dengan segera Vier menyuapi istrinya, takut jika wanita itu, kembali berubah pikiran.


Vier menyuapkan makanan dengan semangat, hingga akhirnya makanan yang ada di piring itu habis tak tersisa. Vier lalu memberikan piring kosong kepada Bibi yang kebetulan lewat.


"Ada yang ingin aku katakan sayang, tapi kamu harus janji, kamu jangan sedih lagi," ucap Vier menatap istrinya.


Sebenarnya apa yang Vier katakan, bukan hanya untuk Cyara, tapi untuk seluruh keluarganya. Apalagi jika yang akan dirinya katakan adalah tentang kejadian yang menimpa ibu Cyara.


Semua orang terdiam, Vier mengedarkan pandangan dan saat melihat semua orang sudah berkumpul, Vier akhirnya mengeluarkan sebuah ponsel dan meletakkannya di atas meja, membuat orang yang ada di sana saling pandang dengan kernyitan di dahi mereka masing-masing.