Love Revenge

Love Revenge
Bab 105



"Bagaimana dok?"


"Bayinya sehat, tapi ingat ibunya juga jangan terlalu lelah, dan juga jangan terlalu banyak pikiran karena itu bisa saja mempengaruhi kondisi kandungan Anda," jelas sang dokter.


"Iya dok," jawab Nia mengerti.


"Tuh Nia, dengarkan apa kata dokter," sahut Arga yang datang bersama dengan Nia.


Nia hanya mencebikan bibirnya, "Tiap hari aku juga sering mendengarkanmu."


Dokter hanya tersenyum melihat interaksi keduanya, kemudian melanjutkan perkataannya, "Baiklah kalau begitu saya akan resepkan vitamin, nanti bapak dan ibu bisa menebusnya. Untuk mual? Apa ibu merasakannya?" Tanya sang dokter yang langsung mendapatkan gelengan dari wanita itu.


"Baiklah memang masa kehamilan tiap orang berbeda-beda, apa ini kehamilan pertama Anda?" Tanya dokter lagi.


Lagi-lagi Nia hanya menggeleng, "Ini kehamilan kedua saya dok, dulu waktu kehamilan pertama, saya justru mengalami mual-mual sampai tidak ada makanan yang bisa masuk," kata Nia.


Dokter mengangguk mengerti, "Ini resepnya, dan ingat pesan dari saya tadi."


"Baik dok, terima kasih," ujar Nia dan Arga bersamaan.



"Aku antar kamu pulang!"


"Tidak Ar aku akan ikut ke kantor, pekerjaanku belum selesai."


"Kamu tidak ingat apa kata dokter tadi, aku tidak mau sampai keponakanku kenapa-napa, Nia."


"Aku janji aku tidak akan terlalu lelah, jadi kamu jangan khawatir, kalau aku lelah sedikit saja, aku pasti akan langsung istirahat, jika aku pulang sekarang, aku hanya akan bosan dan kamu  tahu nanti akan berakhir apa, kamu juga harus ingat apa kata dokter tadi, jika aku tidak boleh banyak pikiran, dan jika aku sendiri di rumah sudah jelas aku akan memikirkan semuanya, dan jika aku pergi bekerja setidaknya aku bisa menyibukkan diri. Please Ar, aku ikut ya!" Pinta Nia menatap Arga dengan tatapan memohon hingga Arga pun tidak bisa menolak jika Nia sudah seperti itu.


"Baiklah, tapi jika kamu lelah, kamu janji kamu harus segera istirahat, jika tidak Ian pasti akan memarahiku, dan bisa saja menganggapku tidak becus menjagamu."


Nia tersenyum, dan mengangguk cepat, "Ya aku janji dan kamu tidak perlu khawatir soal itu."


"Tapi sebelum kembali, kita makan dulu," ujar Arga dan Nia pun setuju karena jujur dirinya juga sudah lapar.


*


*


Vier menghela nafas melihat seorang wanita yang kini masuk ke ruangannya.


"Vier!"


"Aku sudah bilang, aku tidak mau bertemu denganmu, atau mungkin kamu tidak mengerti setiap kata peringatan yang aku ucapkan?"


"Bukan karena kasus perceraianmu yang menyebabkan karirmu hancur Sheira, tapi karena kamu sudah menyembunyikan anakmu sendiri, atau lebih tepatnya mungkin kamu tidak menganggapnya karena dia memiliki kekurangan?"


"Vier bukan seperti itu, bukan maksudku untuk menyembunyikannya tapi ini untuk keamanan dia sendiri," jawab Sheira.


"Oh ya, tapi sayangnya aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja Sheira, kau bisa membohongi yang lain, tapi kau tidak bisa membohongiku, kau sudah pernah sekali membohongiku, apa kau pikir kali ini aku akan percaya begitu saja? Itu hanya dalihmu saja, agar reputasimu tidak semakin buruk di hadapan publik. Sekarang tinggalkan tempat ini dan jangan pernah menggangguku lagi." 


"Kenapa kamu memperlakukan itu padaku Vier, aku sangat mencintaimu dan aku meminta berpisah dengannya karena bukti cintaku padamu, sedangkan wanita itu, dia bahkan kini meninggalkanmu? Itu jelas membuktikan jika dia tidak mencintaimu."


"Diam She! Kau tidak tahu apapun tentangnya!" Vier bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Sheira agar keluar dari ruangannya. 


Sheira dengan sekuat tenaga menepis tangan Vier.


"Aku tahu semuanya, dia bahkan melahirkan bayinya tanpa Ayah, dia bukan wanita baik-baik, kenapa Vier? Kenapa kamu membelanya? Apa kamu menyukainya? Kamu menyukai wanita seperti dirinya? Kau tahu, dia dan ayahnya sama saja, dia sudah merebut kebahagiaanku dan ayahku," Teriak Sheira tidak suka saat mendengar Vier membela Cyara.


"Aku tidak menyukainya, tapi aku mencintainya, dan tidak ada wanita yang lebih baik darinya bagiku. Bukan dia yang merebutku darimu, tapi kau sendiri yang membuangku. Dan asal kau tahu, bayi yang kau maksud tadi dia punya Ayah dan aku adalah Ayah kandungnya, jadi jangan pernah kau berbicara seperti itu lagi, sekarang pergi! Aku tidak ingin melihatmu lagi."


Tubuh Sheira limbung saat mendengar ucapan Vier tadi.


"Apa maksudnya Vier? Kenapa mereka anakmu? Tidak, kenapa kamu mengatakan jika kamu ayah kandungnya? Itu tidak benar kan Vier?" Sheira mendekat dan menarik kerah kemeja Vier.


"Katakan Vier itu tidak benar kan! Kamu tidak berselingkuh dengannya kan Vier? Kamu tidak mengkhianatiku kan? Jawab Vier! Jawab!" Sheira memukul-mukul dada pria itu hingga melemah dan meluruhlah sudah tubuh Sheira ke lantai, dirinya kini terisak. Tidak menyangka jika semua akan berakhir seperti ini.


"Martin!" Teriak Vier.


Martin yang memang sedari tadi di luar mendengar panggilan Vier, segera berlari tergopoh-gopoh untuk masuk ke dalam ruangan bosnya itu yang semakin kesini, terlihat semakin menyeramkan. Bahkan jika ada kesalahan sekecil apapun, pria itu tidak akan mudah untuk memberinya maaf. Semenjak Cyara pergi, Vier benar-benar menjadi pribadi yang semakin dingin.


"Iya Tuan!"


"Seret wanita itu keluar dan sampaikan pada pihak keamanan agar tidak memberikannya izin masuk, jika sampai ada yang melanggar perintahku, di detik itu juga mereka harus angkat kaki dari perusahaan ini. Ingat itu baik-baik," ucap Vier yang kini berjalan menjauh dan berhenti menatap keluar jendela besar di ruangannya yang menampilkan gedung-gedung tinggi lainnya.


Martin terlihat ragu, dan menatap iba wanita yang wajahnya belakangan ini menjadi sorotan karena kasus perceraiannya. Bahkan dia juga langsung dikeluarkan dari agensinya saat itu juga, saat ketahuan menyembunyikan fakta bahwa dirinya pernah melahirkan dan memiliki seorang putri.


"Tunggu apalagi? Apa kau ingin aku memecatmu?" Ucap Vier datar melihat Martin yang diam saja tidak segera menuruti perintahnya.


"Ba...baik Tuan, ayo Nona!" Martin mencoba membantu Sheira untuk bangun tapi dengan keras Sheira menepis bantuan Martin, dia bangkit dan menatap Vier dengan pandangan sendu. 


"Mari Nona," kata Martin yang hendak menarik tangan wanita itu.


"Aku bisa sendiri!," dengan kasar lagi-lagi Sheira menghempaskan tangan Martin. Dan Martin hanya menghela nafasnya.


"Sabar, sabar," batinnya kemudian ikut keluar ruangan Vier, tidak mau jika dia kembali menjadi pelampiasan amarah bosnya itu.


Vier mengepalkan kedua tangannya erat setelah kepergian kedua orang itu. Melihat Sheira, membuat dirinya sangat marah, karena wanita itu mengingatkan bagaimana dia selama ini menyakiti Cyara.