
"Kita mau kemana Mi?" Tanya Rain.
Sesampainya pulang tadi, Cyara langsung mengajak anak-anaknya berbelanja di supermarket, Cyara akan memasak lebih awal, karena dirinya harus pergi bersama bosnya yang suka seenaknya sendiri itu.
"Kita akan berbelanja, kalian mau es krim?" Tanya Cyara kepada anak-anaknya.
"Mau Mi," jawab Reynan dan Rain bersamaan.
"Mami yakin tidak apa-apa, kaki Mami kan masih sakit," ujar Reynan yang sempat melihat kondisi kaki maminya.
"Tidak apa-apa sayang, bentar lagi, kaki Mami juga sembuh, lagian Mami nanti malam harus pergi juga, jadi Mami sepulang belanja akan memasak dulu masakan kesukaan kalian."
"Yeah," teriak Rain senang. Berbeda dengan kakaknya Reynan yang khawatir akan kondisi maminya.
"Rey tidak senang?" Tanya Cyara menyadari raut wajah putranya.
"Mami masih sakit, tidak usah memasak saja, kita beli saja bagaimana dek?" Reynan menatap adiknya meminta persetujuan.
Rain mengerucutkan bibirnya. "Tapi Kak, aku ingin makan masakan Mami."
"Rey sayang, Mami tidak apa-apa kok, masih bisa memasak makanan kesukaan kalian, jadi Rey tidak usa khawatir ya," ucap Cyara meyakinkan putranya.
Reynan kemudian melihat adiknya yang masih menekuk wajahnya dan akhirnya Reynan pun mengangguk. "Tapi Mami jangan capek-capek, kalau Mami capek istirahat saja."
"Siap komandan," kata Cyara memberi hormat pada putranya.
Kemudian Reynan pun tersenyum, dan Cyara langsung memeluk kedua anaknya. "Makasih ya sayang, makasih sudah khawatir sama Mami, makasih karena jadi penguat Mami selama ini, tanpa kalian Mami tidak akan sanggup menjalani semua ini sendirian," kata Cyara dalam hatinya.
"Mami kenapa menangis?" Setelah melepas pelukan maminya, Reynan langsung menghapus air mata Cyara yang entah sejak kapan mulai menetes.
"Mami jangan nangis lagi, ada Rey dan adek yang akan selalu sama Mami," ucap Reynan kembali memeluk maminya, sedangkan Rain yang tidak mengerti apa-apa, ikut memeluk Cyara.
"Ya sudah ayo kita berangkat kenapa jadi terus berpeluk-pelukan," kata Cyara bangun dan mengulurkan kedua tangannya untuk menggandeng kedua tangannya.
Cyara kemudian membantu kedua anaknya ke mobil. Setelah mereka duduk dengan benar, barulah Cyara melajukan mobilnya.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya sampai. Cyara membantu putrinya turun karena Rey sudah bisa turun sendiri. Setelahnya kedua anak itu berlarian masuk ke dalam.
"Reynan, Rain, jangan lari-lari sayang!" Ujar Cyara mengingatkan.
Baru saja Cyara mengingatkan kedua anaknya, Rain justru menabrak seorang wanita yang baru keluar membawa belanjaannya hingga membuat belanjaan wanita itu berjatuhan.
"Maaf," kata Rey kemudian membantu mengambil barang-barang yang berjatuhan. Sementara Rain diam menunduk.
"Tidak apa-apa sayang," jawab wanita itu.
Cyara langsung berlari menghampiri anak-anaknya, untung saja kakinya sudah tidak terlalu sakit, Cyara harus berterima kasih pada atasannya yang sombong itu, yang sudah mengobati kaki Cyara.
"Maaf Bibi," kata Cyara yang membantu memunguti belanjaan wanita itu.
"Iya tidak apa-apa, terima kasih," ujar wanita itu begitu barang belanjaannya sudah diambil semua.
Rain menunduk merasa bersalah, "Maafkan Rain, Rain tidak sengaja," ucap gadis itu ketakutan.
"Mami tadi kan sudah bilang sayang, jangan lari-lari."
"Iya Mami maaf," Rain kini minta maaf kepada maminya.
"Maafkan Kakak juga Mam," Rey pun ikut minta maaf.
"Bibi saya benar-benar minta maaf atas kecerobohan anak-anak saya, belanjaan Bibi yang rusak biar saya ganti saja," ucap Cyara merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, lagian mereka juga tidak sengaja," wanita itu mengelus pipi Rey dan Rain bergantian.
"Siapa nama kalian sayang?" Tanya wanita itu kepada kedua anak-anak Cyara.
"Tidak apa-apa, Oma baik-baik saja, jangan takut seperti itu," ujar wanita itu membuat Rain mendongak.
"Boleh Oma peluk kalian?"
Kedua bocah itu pun mengangguk senang. Wanita itu dengan senang hati memeluk Rey dan Rain.
"Nama kamu siapa sayang?" Kini wanita itu bertanya pada Cyara.
"Nama saya Cyara Bi, Hmm Bibi yakin belanjaan tadi yang rusak tidak perlu diganti?"
Wanita itu tersenyum, "Namaku Jasmine, hmm daripada mengganti belanjaan Bibi, bagaimana kalau kita makan es krim sama-sama sambil mengobrol, di ujung jalan sana, ada toko es krim," kata Jasmine menunjuk toko es krim yang ada di ujung jalan.
"Setuju!" Kata Rey dan Rain menyetujui Jasmine.
Cyara setelah menimbang-nimbang, akhirnya mau.
"Kamu belanja dulu saja, biar anak-anak kamu Bibi yang jaga," ujar Jasmine menawarkan diri.
"Tapi Bi…"
"Kamu takut anak-anak imut ini Bibi culik?" Tanya Jasmine bercanda.
"Bu..bukan seperti itu Bi, hanya saja takut merepotkan Bibi."
"Sama sekali tidak repot, sudah sana buruan belanja keburu malam loh nanti.
Cyara pun akhirnya setuju, dia masuk berbelanja, sedangkan anak-anaknya dia tinggal bersama Jasmine.
Setelah selesai berbelanja, Cyara bersama Jasmine dan anak-anaknya pergi ke toko es krim seperti yang ditunjukkan Jasmine.
*
*
Saat ini Vier sudah berada di depan rumah Cyara, sudah 10 menit Vier menunggu Cyara, tapi Cyara belum juga keluar.
Tring
Vier melihat pesan yang sedari tadi masuk ke nomornya. "Semua orang sudah menunggu dan lihatlah, lagi-lagi sepertinya gadis itu kembali ingin menguji kesabaranku," gerutunya merasa kesal.
Tak lama, mata Vier dibuat tidak berkedip saat menatap gadis yang baru saja keluar. Cyara, dia terlihat cantik dengan gaun yang Vier kirimkan.
"Saya kira kamu akan memilih gaun yang berwarna merah," kata Vier saat dia sudah masuk ke dalam mobil.
Cyara menatap Vier dengan tatapan yang tidak Vier tahu apa artinya.
"Anda ingin aku memakai pakaian kurang barang itu? Tidak sudi," ucap Cyara ketus kemudian dia memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela. Mereka sama sekali tidak berbicara apapun di perjalanan.
Butuh waktu 30 menit untuk sampai di kediaman orang tua Vier. Dan sesampainya di depan rumah. Vier segera turun dan menghampiri pintu di samping Cyara membukakan pintu itu membiarkan Cyara turun.
"Ayo masuk!" Katanya mengajak Cyara.
Tetapi Cyara malah tidak bergerak sama sekali, hingga Vier yang tidak sabar, menarik pinggang Cyara. Cyara mencoba melepas tangan Vier dari pinggangnya, tapi sayangnya tenaga Vier lebih kuat darinya hingga terpaksa Cyara pun berjalan beriringan dengan Vier mengikuti kemana Vier membawanya.
Mama Vier langsung keluar begitu mendengar suara mobil untuk menyambut kedatangan Vier.
Vier tersenyum dan memeluk mamanya. Sementara tubuh Cyara seperti membeku saat ini, jika bisa kekuatan menghilang, Cyara akan memilih menghilang saat ini, ditambah dengan wanita yang tadi dipeluk Vier menatapnya dari atas sampai bawah.
"Cyara? Ini kamu sayang?" Ucap mama Vier membuat Vier mengernyitkan dahi, menatap mamanya dan Cyara bergantian. Sementara Cyara, kini keringat dingin sudah tampak membasahi pelipisnya saat ternyata wanita itu masih mengenalinya.
Vier terus saja menatap keduanya, "Mama dan Cyara saling mengenal?" Dalam hatinya terus bertanya-tanya.