
Vier menatap Cyara, senyum samar terlihat di sudut bibirnya, apalagi melihat wajah Cyara yang merona. Vier yakin jika istrinya itu merasa malu, tapi Vier tak peduli entah malu atau apapun itu yang jelas Vier suka melihat wajah Cyara yang seperti itu. Setelah cukup puas menatap sang istri yang belum mau menatapnya, Vier mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Cyara sekilas, kemudian bangkit.
"Ayo!"
Cyara mengernyitkan dahi bingung saat suaminya tiba-tiba mengulurkan tangan padanya.
"Ayo bangun!.Kamu lapar kan? Ya sudah ayo kita makan di luar, setelah itu bisa ketemu langsung dengan klien," ucap Vier yang seperti mengerti kebingungan sang istri.
"Ayo! Nanti cacing di perutmu kembali berdemo," tambah Vier yang membuat wajah Cyara kembali memerah.
Cyara mencebikkan bibir dan akhirnya dia menyambut uluran tangan Vier. Membuat Vier tersenyum. Cyara membenarkan pakaiannya, begitupun dengan Vier. Lalu keduanya bersama-sama melangkah keluar dari ruangan Vier, untuk mencari makan.
"Kita mau kemana?" Tanya Cyara menoleh menatap Vier saat kini mereka berdua sedang berada di dalam di lift.
"Kamu akan tahu nanti."
Cyara berdecak kesal, jika dia bertanya pada suaminya selalu tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Tidak perlu cemberut seperti itu, atau mungkin kau memberiku kode untuk menciummu disini dan saat ini juga," ucap Vier dengan seringaiannya.
Cyara refleks menjauhkan dirinya dari Vier takut jika suaminya itu, akan benar-benar menciumnya di dalam sana. Bisa-bisa…tidak,tidak, Cyara langsung menggelengkan kepala menepis pikiran itu.
"Kenapa? Apa kau sedang membayangkannya?" Bisik Vier yang kini tiba-tiba sudah berada di dekat Cyara.
Entah sejak kapan Vier ada di samping Cyara, karena bahkan Cyara tidak mendengar langkah pria itu. Dia spontan memegang dadanya terkesiap saat mendengar bisikan Vier.
"Vier!" Kata Cyara yang berusaha mendorong dada Vier saat pria itu wajah mereka begitu dekat.
Cyara melihat angka yang tertera di bagian atas lift, sebentar lagi mereka akan sampai dan bagaimana jika nanti pintu terbuka dan semua pekerja melihat apa yang mereka lakukan? Memikirkan saja membuat Cyara merasa malu.
"Diam dulu Cyara!" Kata Vier menahan tangan Cyara dengan satu tangannya. Sementara tangan yang lain melanjutkan apa yang tadi dilakukannya. Cyara reflek memejamkan mata.
"Nah ini dia," ucap Vier mengambil bulu mata yang jatuh, Cyara membuka mata dan merasa malu karena sudah terlalu percaya diri, mengira jika Vier akan menciumnya.
"Lihatlah lagi-lagi wajahmu memerah," ucap Vier terkekeh sambil menarik tubuhnya kembali bersamaan dengan pintu lift yang kini terbuka lebar. Dia begitu senang menggoda istrinya yang terlihat begitu menggemaskan.
Ting
Tak lama pintu lift terbuka, Cyara menyingkirkan secara halus, Vier dari hadapannya. Dan buru-buru keluar sesekali menengok ke belakang dimana saat ini Vier tengah mengejarnya.
Sambil berjalan mengejar Cyara, Vier hanya diam sama sekali tidak menanggapi karyawannya yang menyapa dirinya saat berpapasan.
Hingga akhirnya saat di parkiran, Vier berhasil menangkap Cyara.
"Kena kau!" Ucap Vier memeluk pinggang Cyara posesif dan mengajaknya melangkah bersama.
"Vier aku bisa sendiri," ujar Cyara menatap Vier berharap pria itu melepaskan tangan dari pinggangnya.
Tapi Vier sama sekali tidak mendengarkan Cyara, dia tetap dengan posisi seperti itu sampai ke mobil dan melepaskannya saat dia meminta Cyara untuk masuk ke dalam mobilnya.
*
*
Saat ini mereka sudah ada di sebuah restoran yang jaraknya cukup dekat dengan kantor Vier.
Sebelumnya Cyara sempat protes pada Vier karena banyaknya makanan yang terhidang di atas meja sedangkan mereka hanya makan berdua, dan sekarang ditambah dengan pria itu yang kini bermaksud menyuapinya membuat mata Cyara melotot atas apa yang pria itu lakukan, dirinya menengok kanan kiri, banyak pengunjung dan restoran itu, dan mereka tadi hampir saja menjadi pusat perhatian, jika saja Cyara tidak menatap mereka satu persatu yang langsung mengalihkan pandangannya.
"Vier apa yang kau lakukan? Aku bisa sendiri," ucap Cyara dengan suara yang teramat pelan, takut jika suaranya kembali menarik perhatian orang-orang. Dia mencoba merebut sendok dari tangan Vier.
Vier menjauhkannya dan menahan tangan Cyara.
"Ayo buka mulutmu!" Perintah Vier tapi Cyara tidak juga menurutinya. Jika menunggumu makan sendiri, bisa-bisa tahun depan baru selesai," ucap Vier yang tetap memaksa agar Cyara membuka mulut, menerima suapan darinya.
"Ta…" Cyara terkejut saat tiba-tiba sesuap makanan masuk ke dalam mulutnya.
Dan Vier tersenyum saat berhasil menyuapi Cyara. Tidak ingin berdebat lagi, akhirnya Cyara pun menerima makanan yang disuapkan pria itu.
Dering ponsel Cyara berbunyi dan buru-buru wanita itu menjawabnya, karena saat ini yang menghubunginya adalah asisten dari klien yang akan bertemu dengannya jam 2 nanti.
Vier hanya mengernyitkan dahi begitu mendengar ucapan formal istrinya yang menandakan bahwa penelpon, bukan mama ataupun anak-anaknya.
"Kenapa?" Tanya Vier kepada Cyara, begitu istrinya itu selesai dengan panggilan teleponnya. Dia yang sedari tadi menahan rasa penasarannya, kini akhirnya diungkapkan juga.
"Oh, ini asisten dari perusahaan DMC company menghubungiku, katanya mereka ingin memajukan rapat 1 jam lebih cepat, dikarenakan atasan mereka akan terbang ke Singapura sore ini, bagaimana menurutmu?"
Vier melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, seperti sedang memikirkan permintaan kliennya. Jam menunjukkan pukul 12.45 dan berarti mereka hanya memiliki waktu 15 menit.
"Baiklah, kau hubungi dan bilang kita bertemu disini," ucap Vier dan Cyara pun mengangguk mengerti.
Cyara menghubungi kliennya, sementara Vier menghubungi Martin untuk membawakan dokumen yang diperlukan untuk kepentingan kerja sama dengan perusahaan DMC company. Tak butuh waktu lama, Martin pun sudah sampai saja, membawakan apa yang Vier minta, setelah memberikannya pada Vier, Martin langsung berpamitan.
Cyara dan Vier menunggu sembari menghabiskan makanannya. Tak lama yang ditunggu-tunggu pun tiba, seorang pria tinggi dan dengan kulitnya yang putih mendatangi Vier dan Cyara.
"Selamat siang Tuan Vier," ucapnya yang menghampiri meja Vier.
"Selamat siang Tuan Damian, silahkan duduk," ucap Vier mempersilahkan.
Mereka saling berjabat tangan, begitupun dengan Cyara yang kini sudah berperan kembali menjadi sekretaris Vier.
Pandangan keduanya bertemu, sesaat mereka terpaku. Damian menggelengkan kepalanya. Kemudian pandangannya beralih pada Vier.
"Terima kasih, maaf bisakah kita menunggu sebentar, sekretaris saya sedang ke toilet," ucap pria itu sedikit tidak enak karena sudah membuat Vier menunggu.
"Tidak masalah," ucap Vier yang kemudian menoleh ke arah istrinya yang kini sibuk mengecek dokumen yang ada di tangannya.
Vier tersenyum kemudian hendak menyelipkan anak rambut Cyara yang menutupi wajahnya. Tapi Vier mengurungkan niatnya saat dirinya mendengar suara seseorang yang datang menyapa mereka.