Love Revenge

Love Revenge
Bab 113



Cyara terkejut saat tiba-tiba Vier membuka mata dan menarik tengkuknya bahkan dengan cepat pria itu kini sudah menciumnya kembali. Cyara diam membeku, pikirannya mengatakan untuk menolak ciuman itu, tapi tidak dengan hatinya yang justru menikmati apa yang Vier lakukan saat ini.


Vier mencium Cyara penuh kelembutan, hingga tiba-tiba dia merasakan tangan Cyara mendorong dadanya, rupanya Cyara sudah tersadar bahwa apa yang dia lakukan salah.


"Hentikan Vier ini salah," ucap Cyara dengan nafas terengah-engah. Tangannya masih di dada pria itu, menahannya.


"Salah?" Vier mengernyitkan dahi bingung, tidak mengerti maksud perkataan Cyara.


"Iya ini salah, kita bahkan sudah bukan…"


"Kamu masih istriku Cyara, kemarin, sekarang atau nanti, kamu akan tetap menjadi istriku, hanya kamu," potong Vier cepat sambil menggenggam tangan Cyara.


Cyara diam, tapi terlihat jelas jika ekspresi wajahnya kini berubah, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap Vier dengan pandangan tak terbaca.


"Aku tidak berbohong, kita masih suami istri, aku sama sekali tidak menyentuh surat-surat itu, jadi Cyara izinkan aku untuk tidur disampingmu, sambil memeluk anak kita. Ijinkan aku merasakan peran seorang ayah. Dulu di saat kamu hamil Rey dan Rain aku tidak merasakannya, dan aku ingin merasakan bagaimana rasanya?" Ucap Vier dengan pandangan memelas.


"Aku janji tidak akan melakukan apa-apa," ucap Vier yang melihat tatapan ragu Cyara.


Cyara menghela nafas panjang, dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Vier yang melihat itu tersenyum senang, karena akhirnya Cyara menyetujui keinginannya.


Cyara berbaring menghadap Vier. Tatapan keduanya bertemu, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya, mereka seperti sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Baik Cyara maupun tidak ada yang memejamkan matanya, bahkan masih terbuka lebar.


Hingga akhirnya Cyara lebih dulu memejamkan mata, dan tak membutuhkan waktu yang lama, wanita itu pun kini sudah memejamkan matanya.


Vier pelan-pelan menyusuri wajah sang istri, dia kemudian memejamkan matanya hanya sesaat. Karena beberapa detik berlalu, Vier sudah kembali membuka matanya. Menatap wajah tenang Cyara yang tampak lelap dalam tidurnya.


Vier mengangkat sedikit kepala Cyara dan menjadikan lengannya sebagai  bantalan  istrinya. Dan Vier memeluk Cyara erat.


"Aku tahu aku salah, dan lebih baik kamu membenciku Cyara, itu justru lebih membuatku, tenang, daripada aku terus menyakitimu tapi kamu hanya diam, hal itu hanya membuat aku semakin tersiksa.


Air mata Vier mengalir, melonggarkan pelukannya, tangannya gemetar saat memegang perut istrinya. Istrinya hamil, ya Cyara sedang hamil anaknya, Vier yakin kini Cyara sedang mengandung anaknya.


Tangan Vier terangkat, menyingkirkan anak rambut Cyara yang menutupi wajah cantik istrinya.


"Aku tidak tahu bagaimana menderitanya kamu dulu, aku sendiri bahkan tidak bisa membayangkannya. Jadi Cya, apapun keputusanmu nanti, aku akan mendukungmu, apapun itu yang terpenting bagiku, kau bisa hidup bahagia, ucap Vier dalam hati.


"Terima kasih sayang, sudah menjaga mami disaat papi tidak ada di samping mami, terima kasih sudah hadir diantara kami, papi janji, papi akan menjaga dan melindungi kalian. Papi janji papi akan membahagiakan kalian," tambah Vier yang kemudian kembali memejamkan matanya dan tak lama, pria itu pun langsung tertidur.


Dia berharap agar malam ini tidak cepat berlalu, karena Vier tidak tahu apa yang akan terjadi besok dan kedepannya.


*


*


"Tidak, tidak, Cyara jangan tinggalkan aku! Aku mohon Cyara! Tidak!" Vier tersentak dari tidurnya, keringat dingin membasahi seluruh wajah, dirabanya ranjang di sebelahnya, kosong, Vier buru-buru turun, dia takut jika apa yang terjadi semalam, saat dia memeluk Cyara hanya mimpi saja. Dicarinya Cyara ke seisi rumah itu, tidak ada, Vier begitu panik. Hari yang masih gelap, tapi Cyara sudah tidak ada di sampingnya. Bagaimana hal itu tidak membuatnya ketakutan?


"Kamu dimana sayang? Cya kamu tidak akan meninggalkanku lagi kan," gumam Vier yang kini sudah menjatuhkan air matanya.


Sepertinya kepergian Cyara saat itu menjadi mimpi buruk bagi Vier hingga dia selalu merasa ketakutan setiap harinya, takut jika Cyara pergi dan tidak akan kembali padanya.


"Kenapa?" Tanya Cyara mengernyitkan dahi bingung, karena tiba-tiba Vier memeluk erat, sangat erat malah, bahkan Cyara dapat merasakan baju yang dipakainya basah, Vier menangis.


"Vier kenapa? Tidak terjadi apa-apa kan?" Tanya Cyara khawatir.


Tangan wanita itu mencoba melepaskan pelukan Vier tapi tidak bisa, Vier terlalu kuat memeluknya.


"Vier!"


"Kenapa pergi? Kenapa meninggalkanku sendiri? Kenapa tidak memberitahuku?" Bukannya menjawab justru rentetan pertanyaan keluar darinya.


"Aku hanya pergi membeli makanan, aku sangat lapar, dan kamu sedang tidur nyenyak, ya sudah aku pergi sendiri, aku tahu kamu pasti lelah, dan aku tidak memberitahumu karena aku tidak mau mengganggumu," jelas Cyara.


"Tapi ini masih terlalu pagi, lihatlah bahkan matahari belum muncul, tapi kau tiba-tiba menghilang dan membuatku ketakutan."


"Ketakutan? Hei tenang saja disini tidak ada hantu, kenapa kamu harus takut," ucap Cyara.


Vier langsung melepaskan pelukan dan menatap Cyara tak percaya. Tapi yang ditatap hanya memalingkan wajahnya.


"Aku ketakutan bukan karena seperti yang kau maksud, aku takut jika kamu pergi meninggalkanku lagi. Aku takut kejadian semalam hanya mimpi. Itu yang aku takutkan Cyara," ucap Vier.


Cyara memberanikan diri untuk menatap mata pria itu, mencari adakah kebohongan di matanya? Tapi tidak ada, Cyara tidak menemukannya, lantas bolehkan Cyara merasa senang saat ini? Merasa senang karena dia sudah seperti orang yang sangat dicintai dan diharapkan?


"Aku tidak kemana-mana, lagian ini rumahku, untuk apa aku pergi dari sini, jika pun pergi aku pasti akan membawa semua barang-barangku," ucap Cyara kemudian berjalan masuk meninggalkan Vier. Dan pria itu justru berjalan mengekori Cyara kemanapun wanita itu pergi.


"Cya!"


"Duduklah, temani aku makan, aku sudah sangat lapar," jawab Cyara sambil memindahkan makanan yang dibelinya ke dalam piring.


Vier hanya menurut, jujur dirinya juga sangat lapar, Vier menarik kursi dan duduk tepat di depan Cyara.


Dan hening, keduanya sama-sama terdiam. Hingga Cyara mencoba memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Bagaimana enak kan?" Tanyanya meminta pendapat Vier.


"Enak, sangat enak," jawab Vier lagi-lagi air matanya jatuh begitu saja, dia masih tidak menyangka jika dia akan bisa lagi makan bersama istri yang dia cintai itu.


Cyara memalingkan wajahnya kemanapun, asal tidak menatap Vier, karena dia akan mudah luluh jika sudah melihat tatapan pria itu.


"Baguslah jika kamu suka, jadi makanlah yang banyak," Cyara menambahkan makanan ke dalam piring.


"Setelah ini, aku akan bersiap kerja," beritahu Cyara, dan Vier hanya diam.


"Dan satu lagi, aku akan ikut kamu pulang," tambah Cyara 


Vier berhenti dan menatap Cyara, memastikan jika apa yang tadi di dengarnya tidak salah.