
Vier kini pulang dengan mata yang berkaca-kaca tapi senyum lebar yang menghiasi sudut bibirnya, tidak bisa dia sembunyikan. Empat bulan sudah dia mencari Cyara, dan akhirnya kini dia tahu dimana keberadaan wanita yang dicintainya itu.
Vier turun dari mobil, dia berlari ingin segera menyampaikan kabar bahagia ini, pencariannya selama ini tidaklah sia-sia. Dia yang pernah hampir putus asa kembali bangkit karena banyaknya dukungan dari keluarganya.
"Ma!" Vier langsung mencium punggung tangannya yang sedang menyuapi Rain dan Rey makan siang.
Jasmine bahkan sampai heran melihat putranya yang pulang siang ini, karena biasanya putranya itu akan pulang larut malam, Vier selalu menyibukkan diri, dengan alasan agar tidak larut dalam kesedihan karena tidak bisa menemukan Cyara.
"Papi kenapa?" Tanya Rain.
Ternyata bukan Jasmine saja yang merasa heran, tetapi cucunya yang masih kecil itu juga merasakannya.
Vier kini menghampiri putra dan putrinya dan berjongkok di antara keduanya.
"Papi punya kabar baik, Papi sudah tahu Mami ada dimana? Dan sekarang Papi akan segera menjemput Mami, jadi kalian di rumah sama Oma ya?" Ucap Vier dengan senyum yang terus mengembang menghiasi bibirnya.
"Apa kamu bilang sayang? Kamu sudah menemukan Cyara? Kamu sudah menemukan menantu Mama?" Tanya Jasmine dengan mata yang kini sudah berkaca-kaca.
"Iya Ma, Vier sudah menemukannya, Vier minta tolong sama Mama dan Papa buat jagain Rey dan Rain, Vier akan segera pergi menjemput Cyara."
"Iya sayang, pasti, Mama pasti akan menjaga cucu-cucu Mama, kamu segera jemput Cyara, dan bawa dia kembali pulang ya, bilang sama Cyara, Mama sangat merindukannya," kata Jasmine senang.
"Iya Ma, Vier pasti akan membawanya pulang," kata Vier yang kini tidak bisa menahan lagi air matanya.
"Kalian dirumah sama Oma ya?"
Rey dan Rain pun mengangguk.
"Papi harus janji bawa Mami pulang, biar kita bisa berkumpul lagi," kini Rey yang berbicara.
"Tentu sayang, kalian jangan nakal ya, Papi akan bersiap-siap dulu," ujar Vier kemudian mencium kening putra dan putrinya bergantian.
"Kak Rey, akhirnya kita bisa berkumpul lagi dengan Mami," kata Rain senang memeluk kakaknya, Rey hanya bisa membalas pelukan adiknya. Jujur dalam hati Rey dia masih menganggap bahwa dirinya adalah sebab kenapa maminya pergi.
"Sekarang kalian lanjutkan makannya dulu ya," ucap Jasmine dan keduanya pun menurut.
*
*
"Ada apa Ar?" Kenapa di depan…"
"Oh itu, ada tamu penting yang datang ke resort kita, nanti kamu temani aku untuk menemuinya ya," ucap Arga yang kini langsung mengelus perut buncit Nia.
"Apa kabar keponakan uncle?" Ucap pria itu yang kini sudah berjongkok.
"Sudah bangun, nanti ada orang yang melihat, tidak enak," ucap Nia.
"Iya, iya, ya sudah kamu mau tunggu disini apa kamu mau balik ke ruangan kamu dulu?"
"Memang berapa lama lagi?"
"Sekitar dua jam lagi," jawab Arga tanpa dosa sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Buk
Sebuah map mendarat di kepala Arga, siapa lagi pelakunya jika bukan Nia.
"Dua jam lagi masih lama Ar, dan kau menawarkan aku untuk menunggu disini?"
"Hehe, sory, sory Nia, kamu ini jadi orang galak banget, kan lagian aku tadi hanya bercanda."
"Sudah Ah aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu, besok kan juga mau libur, biar tidak numpuk, nanti kamu kabari aku saja jika tamunya datang."
"Baiklah," jawab Arga dan begitu Nia keluar bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi, Arga buru-buru menjawab panggilan dari Ian sepupunya, lebih tepatnya Kakak Nia.
"Bagaimana sudah kamu persiapkan?"
"Sudah kamu tidak perlu khawatir, memangnya siapa sih tamunya?" Tanya Arga penasaran karena sepupunya itu harus repot-repot menyiapkan segala keperluan tamunya selama disana.
Sebelumnya Arga memang mendengar jika yang akan datang kali ini adalah klien penting, dan sering menjadi incaran para pebisnis agar bisa bekerjasama dengan perusahaan miliknya. Dan salah satunya adalah Ian, terlebih Ian beruntung karena akhirnya dia bisa bekerja sama dengan perusahaan mereka.
"Sudah nanti kamu juga tahu, oh ya bagaimana keadaannya?" Tanya pria dari seberang telepon.
Dan Arga pun langsung tahu siapa yang dimaksud oleh Ian. Nia baik-baik saja, kandungannya juga baik-baik saja. Tapi Ian sampai saat ini kamu belum menjelaskan apa-apa padaku? Oke aku percaya Nia adikmu, karena kalian sedikit mirip jika diperhatikan baik-baik, tapi kamu tidak pernah mengatakan kehidupan dia sebelumnya, bahkan aku pun tidak tahu siapa suaminya, dan lagi, Nia bilang ke dokter, jika ini adalah kehamilan keduanya, berarti Nia sudah punya anak sebelumnya? Terus kemana anaknya itu? Kamu tahu aku selalu bertanya-tanya tentang itu semua tapi aku tidak pernah mendapatkan jawabannya.
"Sudahlah kamu tidak perlu berpikir macam-macam, dan aku akan menjelaskannya nanti, atau mungkin adikku sendiri yang akan menjelaskannya padamu, tapi mungkin dia masih butuh waktu, yang perlu kamu tahu dia wanita baik-baik, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak, aku yakin juga, adikku pasti sudah mengatakan padamu bukan, jika dia hamil karena memang dia sudah menikah, dan aku yakin dia juga sudah menunjukkan surat nikahnya, bahkan cincin pernikahannya juga masih terpasang di jari manisnya. Hanya saja dia butuh ruang pribadi, dan dia punya alasan kenapa belum mengatakannya padamu, jadi kamu tunggu saja sampai dia menjelaskan semuanya sendiri, jadi kamu jangan banyak bertanya tentang kehidupan pribadinya," jelas Ian dari seberang telepon panjang lebar.
"Baiklah-baiklah, bahkan bertanya padamu pun aku tidak juga mendapatkan jawaban," jawab Arga kecewa, karena lagi-lagi bukan jawaban yang dia inginkan yang selalu dia dengar.
"Sudahlah aku matikan, aku harus bersiap untuk mempersiapkan kedatangannya," ucap Arga akhirnya.
"Lavenia sebenarnya dia itu orang seperti apa? Aku percaya dia adalah wanita baik, tapi aku hanya penasaran saja, apa itu salah? Ah sudahlah, mungkin benar apa yang Ian katakan, mungkin Nia memang hanya perlu waktu dan nanti dia juga akan menjelaskan semuanya," pikir Arga yang kemudian keluar untuk mengecek kembali persiapan untuk menyambut kedatangan tamunya.
Setelah berkeliling, Arga pun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, tidak menyangka jika waktu berlalu begitu cepat. Arga langsung ke depan untuk bersiap menyambut tamunya.
"Ya, ampun Nia, kenapa aku bisa lupa. Arga mengedarkan pandangan, mencari seseorang untuk memanggil Nia, tapi tampaknya semua orang begitu sibuk hari ini untuk mempersiapkan proyek yang menyewa resortnya untuk anniversary pernikahan yang akan diadakan besok.
"Ponselku ketinggalan lagi, ya sudahlah, nanti aku telpon Nia saja jika sudah sampai di ruanganku," gumam Arga dan kemudian arah pandangnya tertuju pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan resortnya.