
"Inikah kepentingan yang kau maksud Vier? Ternyata kau diam-diam bertemu dengannya," Cyara menahan rasa yang tiba-tiba muncul di hatinya.
Cyara mengambil ponselnya, mencari nomor ponsel seseorang dan menghubunginya. Dan dapat Cyara lihat jika pria yang kini sedang berdiri tidak jauh darinya yang sedang berpelukan dengan seorang wanita, melepaskan pelukannya dan mengambil ponsel lalu menempelkannya di telinga.
"Kamu dimana?" Tanya Cyara begitu panggilan itu terhubung.
"Aku sedang ada urusan di luar," jawab Vier.
"Oke."
"Kenapa?" Tanya Vier.
"Tidak apa-apa, ya sudah aku tutup teleponnya," ucap Cyara menggenggam erat ponsel yang dipegangnya.
"Kenapa Vier? Kenapa kau berbohong?" Kata Cyara yang tanpa sadar menjatuhkan air matanya, tapi dengan cepat Cyara menghapusnya.
Cyara bangkit dari duduknya bersamaan dengan seseorang yang baru datang dan terdengar orang itu memanggilnya hingga membuat Cyara menatapnya, bahkan kedua orang yang tidak jauh dari tempat duduk Cyara ikut menoleh.
"Cyara kamu mau kemana?" Tanya Martin yang baru keluar dari toilet.
Cyara tersenyum menatap Martin, sesekali melirik pria yang tak jauh darinya. "Aku mau ke toilet sebentar," ucapnya kemudian dan Martin pun mengangguk.
Sementara Vier, pria yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari tempat Cyara terlihat mengepalkan kedua tangannya erat.
"Cyara!" Ucap Vier dengan suara meninggi bahkan tatapan pria itu begitu tajam pada Cyara.
Vier berjalan terburu-buru menghampiri Cyara dan langsung menarik tangan wanita itu menjauh, meninggalkan restoran itu, meninggalkan dua orang yang kini terdiam sibuk dengan pikiran mereka sendiri, saat melihat dengan mata kepala mereka Vier membawa pergi Cyara.
"Vier apa yang kau lakukan? Lepaskan! Aku mau makan," kata Cyara memberontak melepaskan tangannya dari genggaman tangan Vier yang begitu erat.
Nyatanya Vier tidak peduli, dia terus menarik tangan Cyara menuju mobilnya, Vier membuka pintu dengan kasar dan mendorong Cyara agar masuk ke mobil kemudian Vier juga segera masuk.
"Vier buka pintunya! Vier!" Teriak Cyara yang tidak suka dengan sikap Vier yang tiba-tiba marah padanya, karena bukankah sebenarnya Cyara yang yang seharusnya marah? Vier bilang ada kepentingan ternyata dia bertemu dengan adiknya, tidak lebih tepatnya mantan kekasihnya.
Vier diam dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pria itu menulikan telinganya, dia sama sekali tidak menanggapi ucapan Cyara.
"Vier kau mau membawaku kemana? Vier jawab aku! Vier!"
"Diam Cyara!"
Cyara langsung terdiam, nyalinya tiba-tiba menghilang melihat tatapan Vier yang begitu menakutkan.
Mobil Vier berhenti di rumah pria itu, penjaga menyambutnya tapi sama sekali tidak membantu Cyara yang saat ini di tarik Vier masuk setelah turun dari mobil.
Vier menarik Cyara ke dalam dan membawanya ke sebuah kamar di lantai bawa.
Cyara melotot, "Tidak ini tidak boleh terjadi," ucap Cyara dalam hati.
"Vier apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau membawaku kesini?" Mata Cyara memerah, rasa marah dan takut, saat tiba-tiba Vier mendorongnya ke atas ranjang.
"Vier! Tolong hentikan!" Cyara yang tadi berteriak-teriak kini berucap dengan suara lirih.
"Apa ini yang kau lakukan Cyara?" Tanya Vier membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Vier!"
"Oh jadi kau tidak mengerti, atau kamu berpura-pura tidak mengerti?" Vier kini naik ke atas ranjang hingga membuat Cyara beringsut mundur.
"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa kau tiba-tiba marah."
"Kenapa? Aku hanya mau makan bersama Martin, apa itu salah?"
"Jelas salah, kau harus ingat statusmu Cyara! Kau adalah calon istriku dan harusnya kau tidak jalan dengan pria lain disaat tidak ada calon suamimu ini!" Kata Vier tegas, pria itu membuang kemejanya sembarangan setelah semua kancingnya telah terlepas.
"Oh ya, terus bagaimana denganmu Vier? Kau melarangku bersama dengan pria lain, terus bagaimana denganmu? Aku hanya ingin makan dengannya tapi kau? Kau bahkan berpelukan dengannya, terlebih itu di depan umum, bukan kau yang harusnya marah Vier, tapi aku!" Ucap Cyara dengan suara yang kembali meninggi.
"Cyara aku hanya…"
"Kau hanya apa Vier?"
"Aku hanya…"
"Hanya apa Vier? Kenapa kau diam saja? Kenapa? Sudahlah tidak perlu kau jawab, aku mengerti Vier, aku sangat mengerti, kau tidak ingin aku dekat-dekat dengan pria lain bukan? Oke akan aku lakukan, puas kau sekarang!" Cyara mendorong Vier dan segera turun dari ranjang, Cyara membuka pintu dan buru-buru keluar, tidak ingin kedua kalinya terjadi kesalahan.
"Nona biar saya antar!" Ucap seseorang keluar dari mobil dan datang menghampiri Cyara.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!"
"Tapi Nona, Tuan Vier meminta saya…"
Cyara membuka pintu mobil dan langsung duduk disana, hingga membuat wanita yang menghampiri Cyara tadi bernafas lega, karena Cyara mau bekerjasama, jika tidak pasti dia akan mendapatkan amukan dari Tuannya.
"Kita mau kemana Nona?" Tanya wanita itu.
"Pulang ke rumahku," Cyara pun menyebutkan alamat rumahnya membuat wanita itu mengangguk dan langsung melajukan mobilnya menuju alamat yang Cyara sebutkan tadi.
Sementara itu, Vier masih terdiam di tempatnya tadi setelah menelpon seseorang untuk mengantarkan Cyara.
Vier menatap ponselnya yang berdering, nama Sheira tertulis di sana. Vier hanya menatap lama dan tidak langsung menjawabnya.
Tak lama terdengar bunyi pesan masuk setelah dering ponselnya berhenti, dengan nama yang sama.
"Vier aku bisa jelaskan semua," bunyi pesan itulah yang Vier baca.
Setelah membaca, Vier meletakkan ponselnya, tapi tak lama ponselnya pun kembali berdering untuk beberapa kali, hingga Vier memutuskan untuk mengambilnya.
Sementara itu di tempat lain, Cyara terdiam sambil menatap keluar jendela. Entah kenapa dirinya begitu bimbang.
"Jika kamu tidak mencintaiku, lantas bagaimana hubungan pernikahan kita kedepannya, apakah harus bertahan ataukah aku harus mundur? Lalu bagaimana dengan Rey dan Rain? Apa yang harus aku jelaskan kepada mereka, mereka begitu menyayangimu Vier, apakah kamu tega menyakitinya? Tidak, kau tidak boleh menyerah Cyara, kalau kamu ingin mempermainkanku, kamu salah besar Vier, aku akan tetap bertahan mungkin hingga aku merasa benar-benar lelah."
"Nona!"
"Nona!"
"Nona Cyara!" Wanita yang mengantarkan Cyara pun memutuskan memegang tangan Cyara membuat Cyara tersentak.
"Maaf Nona, aku tadi sudah memanggil Anda berkali-kali tapi Anda tidak menyahut," kata wanita itu merasa tidak enak karena Cyara sampai terlonjak.
"Ah iya, aku yang minta maaf," kata Cyara karena merasa dirinyalah yang salah.
"Kenapa?" Tambahnya menatap pada wanita yang duduk di kursi kemudi.
"Sudah sampai Nona," ucap wanita itu.
Cyara menatap ke depan, dan benar saja, dirinya kini sudah tiba di depan rumahnya.
"Baiklah terima kasih," ucap Cyara yang langsung turun dari mobil setelah wanita yang mengantarnya tadi mengangguk. Cyara pun berjalan masuk tapi langkah Cyara terhenti saat melihat seorang wanita yang datang menghampirinya.