Love Revenge

Love Revenge
Bab 112



Karena begitu senangnya, Vier sampai lupa pada ponselnya, padahal dia butuh ponsel untuk melancarkan rencananya agar bisa tidur bersama sang istri.


Vier pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan mengambil ponsel yang tertinggal di wastafel kamar mandi. Dilihat ponselnya dimana disana ada gambar istrinya yang masih memejamkan mata. Vier tersenyum, bersenandung dan kembali keluar dari kamar itu.


Vier mengetuk pintu kamar Cyara.


Tok


Tok


"Cya, buka pintunya!"


"Cya please!" Ucap Vier tapi wanita di dalam kamar tidak juga membukanya.


Tok


Tok


Ceklek


Tak lama, Cyara pun keluar dari kamar, wanita itu sudah mengenakan pakaian tidurnya yang tampak sexy di mata Vier, apalagi dengan tubuh istrinya yang kini terlihat lebih berisi.


"Kenapa? Mengganggu saja, kalau mau tidur, tidur aja di kamar tadi, kalau tidak mau ya sudah sana pulang," ucap Cyara yang akan kembali menutup pintu.


"Mami berantem ya sama Papi."


"Rain…" 


Dada Cyara rasanya mau meledak, mendengar suara putrinya yang begitu dia rindukan. Ada rasa senang, sedih dan menyesal, juga rindu, semuanya bercampur menjadi satu.


Vier kemudian menunjukkan ponselnya dimana di layar itu ada Rain yang sedang duduk dengan buku-buku yang berserakan. Cyara yakin jika putrinya itu sedang belajar.


Tanpa Cyara sadari, air matanya pun kini sudah lolos dari kedua matanya.


"Ra...Rain sayang…," ucap Cyara dengan nafas tercekat, ingin rasanya Cyara memeluk putrinya saat itu juga.


Rain tersenyum dan melambaikan tangannya. 


"Halo Mami, Mami tahu, Rain pikir Papi berbohong saat bilang sedang sama Mami," kata Rain membahas hal lain, tidak ingin maminya sedih.


"Tuh, papi itu tidak bohong, masa Mam, Rain tidak percaya saat bilang jika Papi lagi sama Mami," ucap Vier mengadu pada Cyara.


"Hehe, maaf Papi, Rain kira Papi bohong," ucap Rain menunjukkan deretan giginya.


"Mami Rain kangen sama Mami, kapan Mami pulang?" Tanya Rain yang memang sudah tidak sabar ingin kembali berkumpul lagi dengan mami dan papinya.


"Oh ya Kak Rey mana?" Tanya Cyara yang sukses bisa mengalihkan perhatian putrinya dan Vier hanya menghela nafas karena putrinya mudah teralihkan dan tidak kembali menanyakan kapan maminya itu akan pulang, padahal Vier sudah mengatakan kepada putrinya untuk membantu dirinya membujuk maminya.


"Kak Rey sedang ambil minum," jawab Rain dan pandangan gadis itu kini menatap ke arah lain.


Hingga tiba-tiba anak yang tadi Cyara tanyakan kini tampak juga di layar ponsel Vier.


"Kita duduk saja," ajak Vier pada Cyara menuju ranjang wanita itu.


Dan Cyara yang kini tampak senang karena bisa melihat anak-anaknya pun hanya bisa menuruti Vier.


Vier yang sudah selesai kini menggeser ponselnya yang dipegang Cyara agar memperlihatkan wajahnya juga.


"Kalian tahu tidak, Papi punya kabar gembira buat kalian," ucap Vier pada kedua anaknya.


"Kabar apa Pi? Apa Papi akan mengajak Rey dan Rain kesana?" Tanya Rey dengan wajah berbinar.


"Hmm apa ya?" Vier tampak berpikir.


Membuat anak-anaknya, semakin penasaran dan Cyara tersenyum merasa gemas melihat ekspresi kedua anaknya saat ini.


"Papi lama," jawab Rain dengan bibir yang mengerucut, tidak sabar mendengar jawaban papinya.


"Apa Mami kabar gembiranya, malas ah nungguin papi," jawab Rain yang sepertinya ngambek.


Cyara tersenyum kemudian sedikit menjauhkan ponselnya. 


"Sebentar lagi, Rey dan Rain akan memiliki adik," ucap Cyara memperlihatkan perutnya yang membesar.


Tiba-tiba terdengar suara orang berlari dan Cyara kini bisa melihat wajah mertuanya.


"Benar sayang? Kamu sedang hamil saat ini?" Tanya Jasmine dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipi tapi senyumannya terukir lebar, tidak membohongi jika dirinya begitu bahagia saat ini, mendengar kabar baik yang terus berdatangan. Pertama dia mendengar jika Vier mendapat kabar tentang keberadaan Cyara, kedua Vier kini sudah bersama Cyara dan bahkan dia mendapat kabar bahwa Cyara saat ini sedang hamil, Jasmine akan memiliki cucu lagi dari putranya yang selama ini dikira belum mempunyai anak tapi anaknya justru sudah sebesar anak putri pertamanya.


"Iya Ma," jawab Cyara yang juga tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, dia juga tidak menyangka jika dia hamil disaat dia kira menghadapi semuanya sendiri. Dulu kehadiran Rey dan Rain yang menemaninya disaat dia dicampakkan oleh keluarganya. Dan sekarang kehadiran kembali anaknya disaat dia memilih menjauh karena luka yang tidak sanggup lagi dia tahan.


"Selamat ya sayang, Mama sangat senang mendapatkan kabar bahagia ini, jaga diri kamu baik-baik, oh ya Mama akan sampaikan kabar ini sama Papa, kalian lanjutkan mengobrolnya saja," ucap Jasmine yang kemudian menyerahkan kembali ponsel kepada cucu-cucunya dan dia keluar kamar, dengan segera melangkahkan kakinya menghampiri suaminya yang saat ini ada di ruang kerja, tidak sabar untuk memberitahu kabar gembira itu kepada Stevano.


Cyara kemudian melanjutkan mengobrol dengan anak-anaknya sampai lupa waktu. Dia terkejut saat melihat jam di dinding menunjukkan hampir pukul 11 malam.


"Sudah malam sayang, lebih baik kalian tidur ya," ucap Cyara dan kedua anak itu pun mengangguk merasa jika mereka juga sudah mengantuk.


"Iya Mami, selamat malam," ucap Rey dan Rain bersamaan sambil menguap dan Cyara tersenyum melihat itu.


"Malam sayang, mimpi indah," ucap Cyara.


"Mami sangat merindukan kalian sayang," tambahnya, lalu Cyara pun mengakhiri panggilan saat melihat kedua anaknya kini sudah memejamkan mata.


"Ini Vier maka…" ucapan Cyara terhenti saat melihat Vier kini sudah memejamkan matanya, nafasnya terdengar teratur menandakan jika pria itu kini tertidur.


Cyara membenarkan selimut Vier dan menariknya sebatas dada.


Cyara kemudian melihat ponsel yang ada dalam genggamannya, tiba-tiba rasa penasaran menelusup ke dalam hatinya.


Cyara pun menyalakan ponsel itu, tapi sayangnya terkunci, Cyara mencoba membukanya, dimulai dari ulang tahun pria itu, tanggal pernikahan mereka, juga tanggal lahir Rey dan Rain, tapi tidak ada yang berhasil, dan iseng Cyara membuka dengan tanggal lahirnya, dia begitu terkejut hingga rasanya hampir pingsan. Kunci ponsel Vier akhirnya terbuka. Dan Cyara lagi-lagi dibuat terkejut, saat mendapati fotonya itu dijadikan walpaper. Dan yang lebih parahnya, fotonya sedang terlelap di bawah selimut dan Cyara yakin jika itu foto dimana dirinya tidak mengenakan apapun.


Arah pandang Cyara kini beralih pada pria yang kini tidur di sampingnya.


"Vier kapan kau mengambil foto ini?" Tanyanya, tapi hanya sia-sia saja karena dapat dipastikan jika Vier tidak bisa menjawab bahkan mungkin tidak mendengar pertanyaan Cyara itu, karena lelapnya pria itu saat ini,


Cyara yang masih penasaran pun melanjutkan melihat ponsel Vier, tapi di sana banyak sekali fotonya dan Cyara yakin jika Vier mengambil foto-fotonya secara diam-diam.


Cyara menatap Vier tidak percaya, dia benar-benar tidak menyangka, Vier memiliki banyak sekali fotonya. Cyara tersenyum kemudian mendekat wajahnya ke wajah pria itu dan beberapa detik saja berlalu, kini bibir Cyara sudah mendarat di bibir Vier, tapi tak lama Cyara kembali menarik diri, saat mengingat jika dirinya sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu.