
Vier menepuk-nepuk punggung Rain yang yang kini sudah mulai tenang, bahkan gadis kecil itu sudah terlelap. Vier kemudian menatap Rey yang duduk di depan. Anak itu sedari tadi bahkan hanya diam saja, ketika adiknya merengek.
"Rey kenapa?"
"Rey ingin pulang Pi, Rey harus minta maaf sama mami, Rey yang salah, Mami hanya meminta Rey untuk makan lebih dulu, tapi Rey ngotot mau menunggu Papi, dan saat mami akan menyuapi Rey, Rey justru menampik sendoknya, Rey yang bersalah Papi, jika Papi mau marah, Papi jangan marah sama mami, Papi juga jangan bentak Rain, Rain hanya mengikuti apa yang Rey katakan."
Rey menunduk benar-benar merasa bersalah, karena dirinya papi marah sama maminya, bahkan tadi papinya juga memarahi Rain.
Vier terdiam, dia sadar dia juga salah, dia hanya marah saat melihat Cyara bersama pria lain, hingga dia sampai lepas kendali dan melampiaskan amarahnya pada semua orang.
"Putar balik Pak," kata Vier pada sang supir, memutuskan kembali.
"Baik Tuan," ucap supir merasa lega. Dirinya tadi juga tidak tega melihat nyonya yang terus berlari dan terjatuh.
Tak lama mobil Vier pun sudah sampai di halaman rumah pria itu. Vier segera turun pelan-pelan agar tidak mengganggu mobil putrinya. Pelayan dengan sigap membukakan pintu untuknya.
Vier membawa Rain yang sudah tertidur ke kamar sedangkan Rey berjalan mengikutinya. Dengan perlahan dia membaringkan tubuh Rain di atas ranjang dan menyelimutinya. Kemudian menoleh ke arah putranya.
"Rey tidur ya sudah malam," kata Vier membujuk anak laki-laki itu.
"Rey mau ketemu mami," ucap Rey mendongak menatap Vier dengan pandangan memelas.
"Besok ketemu maminya, mami mungkin saja sudah tidur," kata Vier memberi alasan.
"Tidur ya," tambahnya kemudian merasa lega saat Rey kemudian mengangguk.
Vier segera membantu itu putranya berbaring menepuk-nepuknya hingga Rey kini memejamkan mata, di selimutinya tubuh Rey dan dikecupnya kening anak itu bergantian dengan Rain. Vier mengganti lampu utama dengan lampu tidur, dan dirinya pun keluar dari kamar mereka menuju kamarnya.
Ragu, Vier tampak ragu untuk membuka pintu kamarnya, dia seharusnya mendengarkan penjelasan Cyara padanya dulu, bukan malah melampiaskan amarahnya saat melihat Cyara bersama pria lain. Vier menarik dan menghembuskan nafas panjang, memantapkan diri untuk membuka pintu yang menjadi penghalangnya saat ini untuk menemui istrinya. Dipegangnya gagang pintu dan pelan-pelan membukanya.
"Tidak ada?" Kata Vier mengernyit karena tidak mendapati istrinya disana. Vier kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tapi Cyara juga tidak ada di sana. Langkah Vier kemudian berlanjut berjalan menuju walk in closet berharap istrinya ada disana. Tapi lagi-lagi, Cyara tidak ada disana.
"Cya kamu dimana?"
Vier yang langsung mengambil ponselnya, dihubunginya nomor Cyara, tersambung tapi hal itu justru membuat Vier frustasi, rupanya ponsel Cyara disana. Wanita itu meninggalkan ponselnya di atas meja. Vier mengambil ponsel sang istri kemudian dirinya pun keluar.
Vier berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga, dia berlari bertanya pada pelayan apa melihat istrinya, tapi jawaban pelayan membuat Vier shock. Cyara tidak kembali setelah mengejarnya, Cyara tidak kembali. Tubuh Vier limbung, bisa saja jatuh jika dia tidak berpegangan pada dinding.
Pikirannya berkecamuk, "Tidak, tidak mungkin, tidak mungkin Cyara meninggalkanku," ucap Vier lirih.
Pikiran Vier tertuju pada satu tempat, rumah Cyara, ya Vier segera berlari keluar menuju mobilnya dia harus segera ke rumah istrinya.
Tapi di depan pintu Vier terkejut melihat adiknya disana.
"Kau mau kemana Kak? Ada hal yang perlu aku bahas sekarang denganmu," ucapnya.
"Kita bahas nanti," ucap Vier yang terus melanjutkan langkahnya.
Vier berhenti kemudian berbalik menarik kerah baju adiknya itu.
"Aku bilang kita bahas nanti, aku harus mencari Cya sekarang!" Marah Vier.
"Apa maksudmu Kak?"
"Cya tidak ada di rumah ini dan aku harus segera mencarinya," kata Vier melepaskan tangannya dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Vian yang kini ikut berlari di belakangnya.
"Aku ikut," kata Vian begitu dirinya masuk ke dalam mobil Vier.
Dengan segera Vier melajukan mobilnya menuju ke rumah Cyara dengan kecepatan tinggi, dia berharap Cyara ada disana.
Sesampai di depan rumah Cyara, Vier menghentikan mobilnya asal dan berjalan cepat menuju rumah itu. Berulang kali Vier menekan bel hingga kemudian pintu terbuka. Vier buru-buru menerobos masuk mencari-cari keberadaan Cyara di sana, dan tubuhnya terasa lemas saat tidak mendapati Cyara dimanapun di rumah itu.
Vier kemudian berjalan menemui Bibi yang tadi membukakan pintu bertanya pada wanita paruh baya itu, tentang Cyara.
Dan jawaban Bibi lagi-lagi membuatnya terkejut.
"Nona Cya tadi memang kembali, tapi sepuluh menit yang lalu dia pergi lagi, tapi Tuan apa Anda yakin Nona Cya tidak kembali ke rumah Anda? Karena jelas-jelas tadi Nona bilang dia akan pulang," kata Bibi dan itu membuat tubuh Vier merosot ke lantai.
Cya pergi...Cyara pergi meninggalkannya?
Tak hanya Vier, Vian bahkan sangat terkejut mendengar itu, kemudian pandangannya beralih pada Vier yang kembali menaiki anak tangga.
"Kak!" Vian mengejar Vier yang terlihat jelas tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Vier berlari menuju kamarnya, kemudian berjalan ke arah ranjang mereka, tapi pandangan Vier tertuju pada kertas di bawah foto pernikahan mereka. Sebuah surat yang Vier yakin Cyara buat untuknya. Sebuah surat yang menghilangkan kekuatannya seketika. Membuat tulangnya terasa lemas bahkan jantungnya seakan terlepas dari tempatnya.
Untuk Vier suamiku, hmm bolehkah aku mengatakan itu untuk yang terakhir kalinya. Hmm kurasa tidak apa-apa, karena setelah ini mungkin semua akan berbeda.
Maafkan aku Vier, aku harus pergi, aku sudah mencoba bertahan dengan sebuah harapan jika suatu saat mungkin kamu bisa mencintaiku. Tapi ternyata aku salah, aku melihat jika cintamu tetap miliknya. Kita memang hidup bersama, tapi aku merasa kau begitu jauh hingga aku sulit untuk menggapaimu. Aku pergi bukan karena aku membencimu tapi aku pergi karena aku sudah benar-benar tidak punya harapan lagi. Maaf sementara ini aku mohon biarkan anak-anak bersamamu, bukan karena aku ingin mentelantarkan mereka, tapi karena sepertinya mereka sangat menyayangimu dan tidak bisa lepas darimu, mungkin kamu keberatan karena bagaimanapun mereka bukanlah anak kandungmu, tapi aku mohon aku tidak bisa membiarkan mereka kecewa. Selama ini dia ingin merasakan sosok seorang ayah yang belum pernah mereka dapatkan dan hanya padamu Vier aku melihat anak-anakku hanya menginginkan kamu sebagai ayahnya. Jadi mohon biarkan mereka merasakan itu walau hanya sebentar saja. Suatu saat setelah aku sudah baik-baik saja, aku pasti akan membawa mereka bersamaku. Berbahagialah Vier dengan orang yang kamu cintai, aku melepasmu, karena aku tahu bahwa ternyata bukan akulah sumber kebahagiaanmu.
Kamu tahu Vier aku selalu berdoa agar Tuhan mentakdirkan kita bersama, tapi lihatlah! Bahkan sampai akhir perjuanganku, ternyata kamu bukanlah takdirku, sampai kapanpun kita tidak bisa bersama. Oh ya aku juga minta maaf, maaf karena aku hanya bisa berbicara lewat surat ini, aku ingin mengatakannya secara langsung, tapi aku takut goyah jika aku melihat wajahmu, aku takut jika aku akan luluh dan tidak rela untuk pergi.
Soal perceraian, kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah menandatangani surat perceraian kita. Aku tidak meminta apapun, aku hanya minta satu hal padamu, tolong jaga Rey dan Rain seperti anak kandungmu sendiri. Tolong sayangilah mereka dengan tulus, sampai aku bisa membenahi hatiku dan punya keberanian untuk mengambil mereka darimu, sampaikan maafku pada Mama dan Papa, terima kasih karena sudah menyayangiku dan anak-anak, dan terima kasih juga untukmu Vier, karena kamu memberi kesempatan padaku dengan melihat anak-anak tersenyum karena sosok ayah yang mereka inginkan dan satu lagi yang perlu kamu tahu, aku mencintaimu Vier, sangat mencintaimu.
Selamat tinggal
Cyara
Dunia terasa terbalik saat Vier membaca surat dari Cyara. Hatinya terasa hancur saat tahu jika Cyara meninggalkannya, Cyara telah pergi dan dialah alasan utama yang membuat Cyara melakukan itu.
"Maafkan aku Cya, maafkan aku," air mata Vier terjatuh saat mengatakan itu, dipandanginya sebuah amplop besar di atas meja yang Vier yakin berisi surat cerai. Di sana juga terdapat sebuah kartu dan sebuah tulisan.
"Apa yang sudah aku lakukan?" Vier meremas rambutnya kuat, tangannya mengepal memukul lantai berkali-kali hingga Vian yang melihat itu mencoba menahannya. Vier terisak dengan kepala menunduk, dia menyesal, dia menyesal karena sudah menyakiti Cyara.