
Vier menatap wanita itu dari kejauhan, ya walaupun wanita itu kini tampil berbeda dari biasanya dan bahkan kini mengenakan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, tapi Vier masih sangat mengenali wanita yang pernah mempunyai hubungan dengannya dalam waktu yang cukup lama.
"Vier!"
Panggil wanita itu yang kini berjalan menghampiri Vier yang hanya diam tanpa bergerak sedikitpun. Wanita itu tersenyum sangat lebar saat melihat pujaan hatinya kini ada di depannya.
Wanita berambut panjang yang sengaja di curly dan dengan balutan gaun berwarna pink tanpa lengan itu kini menatap Vier intens saat dirinya sudah ada di hadapan pria itu.
"Vier, aku punya kabar ba…"
"Aku bilang nanti akan menemuimu, kenapa kau ada disini?"
"Hmm tadi aku menjenguk teman dan tidak menyangka aku melihatmu, aku kira aku salah, makanya aku mendekat dan aku senang karena ini ternyata beneran kamu. Sudahlah tidak perlu membahas hal itu, yang terpenting adalah aku ingin mengatakan sesuatu, dan aku sudah tidak sabar untuk memberitahumu, jadi ayo sekarang ikut aku, karena aku tidak mau membahas hal pribadi disini," ucap Sheira memegang lengan Vier hendak mengajaknya pergi.
Awalnya Vier ingin menolak dan mengatakan jika dirinya kesini untuk Rey, tapi dirinya pun akhirnya setuju menerima ajakan wanita itu.
"Kamu jalan saja, aku bisa jalan sendiri," ujar Vier dan Sheira pun tersenyum dan berjalan lebih dulu, sesekali wanita itu menoleh ke belakang memastikan jika Vier benar-benar mengikutinya.
Sheira kemudian mengajak Vier ke restoran terdekat dan Vier pun pasrah mengikutinya.
"Vier aku punya kabar ba..."
Belum juga Sheira menyelesaikannya ucapannya Vier buru-buru memotongnya.
"Sheira perlu aku tegaskan sama kamu, jika hubungan kita sudah selesai, dan aku sangat-sangat memohon padamu untuk tidak mengganggu hidupku lagi, kamu sudah punya kehidupan sendiri begitupun juga aku, jadi pergilah sejauh-jauhnya dari kehidupanku, aku juga akan memutuskan kontrak kerja denganmu, baik kamu yang sebagai model produk yang dibuat oleh perusahaanku, dan aku juga akan memutuskan kerjasama kita kemarin, kamu tolong sampaikan pada atasanmu, aku akan mengganti rugi semuanya atas pembatalan ini, dan kamu juga tidak perlu khawatir tidak diterima di perusahaan lain."
"Vier, tunggu Vier, apa maksudmu? Tidak...kenapa kamu melakukan ini? Vier aku datang ingin membicarakan bahwa aku dan Ken sudah berpisah, jadi kita bisa bersama lagi. Lalu kenapa? Apa yang kamu katakan tadi, kamu ingin aku menjauhimu? Kamu bahkan sengaja memutus semua hal yang berhubungan denganku? Vier aku…
"Cukup Sheira, sejak saat itu, tepatnya saat kamu memutuskan menikah dengan Ken, aku sudah melupakan semua tentangmu, lebih tepatnya, aku sudah menghapusmu dari hidupku."
"Tidak Vier, kau bohong!"
"Aku tidak bohong."
"Kamu bohong Vier, aku tahu kamu mencintaiku, dan kamu menikahi Cyara karena ingin membalasku, seperti itu kan? Aku tahu Vier."
"Iya, itu awalnya dan setelah bersama Cyara aku sadar bahwa hatiku sudah dimiliki olehnya. Aku menikahinya bukan karena apa yang kau katakan tadi, karena tanpa sadar aku sudah tertarik padanya dan ingin memilikinya, aku tidak rela jika dia bersama dengan orang lain."
"Tidak Vier, kau bohong, kau bohong!" Sheira berteriak hingga saat ini semua pengunjung restoran menatap ke arah mereka.
Tidak ingin mendengarkan Sheira lagi. Vier lalu segera pergi meninggal tempat itu tidak ingin jika ada gosip lagi yang menimpa dirinya.
"Cyara! Lagi-lagi Cyara, kenapa dia tidak henti-hentinya mengambil kebahagiaanku? Apa istimewanya dia hingga membuatmu tertarik?" gumam Sheira yang kini mengepalkan kedua tangannya erat.
*
*
Vier kemudian melajukan mobil ke rumah Mamanya. Mamanya tiba-tiba menelepon dan bilang jika Rain terus saja menangis dan memanggil-manggil maminya begitu terbangun dari tidurnya. Dan Vier pun akhirnya memutuskan menghubungi Vian dan meminta adiknya itu untuk menjaga Rey dan menenangkannya lebih dulu, Sementara itu Vier kini memutuskan untuk pulang lagi untuk menemui Rain yang saat ini pasti sangat merasa sedih. Walaupun Vier pun juga merasa demikian tapi dia harus tetap telihat baik-baik saja demi anak-anaknya, apalagi Cyara telah menitipkan anak-anak padanya, dan Vier akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga mereka.
Tak lama mobil yang Vier kendarai sudah sampai di halaman kediaman orang tuanya. Vier turun, melangkah dan menarik nafas panjang, sebelum membuka pintu. Dia menarik sudut bibirnya ke atas, dirinya tidak boleh sedih jika mau menemui putrinya.
Pintu terbuka, Vier berjalan masuk dan langsung menuju kamar anaknya.
"Tidak, aku harus kuat, jika aku kuat anak-anak juga pasti akan kuat," kata Vier meyakinkan dirinya, menghapus air matanya dan memaksakan senyuman kemudian menghampiri Rain dan duduk di sebelah gadis kecil itu.
"Rain!" ucap Vier lirih.
"Papi!" isak gadis kecil itu
Vier mengambil alih Rain dari gendongan mamanya. Dan gadis kecil itu pun langsung memeluk leher Vier erat.
"Papi, Rain ingin bertemu Mami, ayo Papi! Ayo kita pergi cari Mami! Ayo kita ajak Mami pulang! Ayo Papi!" Tangis Rain kembali pecah di pelukan papinya.
Bulir bening kembali mengalir dari kedua mata Vier saat mendengar tangis pilu gadis kecilnya.
"Maafkan Papi sayang, maafkan Papi, ini semua salah Papi, ini salah Papi," ucap Vier dengan suara lirih. Dia tidak sanggup lagi melihat putrinya seperti ini. Dan ini semua memang karena keegoisannya, karena tak hanya Cyara yang terluka tapi juga kedua anaknya.
*
*
"Cya ini makanan yang kamu…" Dami berhenti saat melihat meja makan kini sudah pergi, bahkan makanan yang tadi dia masakkan untuk Cyara kini tidak ada lagi, tapi adiknya itu sudah tidak ada di sana. Cyara entah dimana dia sekarang. Dami berjalan cepat menuju kamar yang dipakai Cyara dua hari ini, dan wanita itu tidak ada disana. Dami melangkah, mencari Cyara di setiap ruangan di rumah itu, tapi dia tidak menemukannya, Dami benar-benar panik, dia takut Cyara pergi padahal adiknya itu tidak begitu mengenal tempat yang sekarang mereka singgahi, karena Damian membawa tempat yang berada jauh dari kota.
Buru-buru Damian keluar dan menanyakan pada pengawal yang memang dia tugaskan untuk berjaga. Dan dia bernafas lega karena satu diantara dua orang yang dia perintahkan tahu bahkan menemani Cyara pergi.
Damian buru-buru berlari untuk menemui adiknya, dan benar Cyara sedang duduk di pinggiran pantai, dia sedang menatap matahari yang sebentar lagi akan kembali ke peraduannya.
Damian yang tadi berlari kini berjalan pelan, tersenyum ternyata adiknya masih saja menyukai pantai. Dan Damian tidak salah mengajak Cyara ke tempat ini.
Damian melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Cyara membuat wanita itu terkesiap. Cyara kembali menatap ke depan saat tahu siapa orang yang membuatnya terkejut. Damian tersenyum dan duduk di samping Cyara, sambil terus memperhatikan adiknya.
"Lihatlah jika sudah waktunya, matahari itu pun kini menghilang. Apa aku juga sama sepertinya, aku pun kini memilih pergi disaat aku sudah lelah mencoba menjadi sinar untuknya."
Damian merangkul Cyara dan menyandarkan kepala adiknya itu di bahunya.
"Matahari memang sekarang sudah menghilang, tapi dia tidak pernah berhenti untuk selalu bersinar. Sekarang katakan pada Kakak kenapa kamu disini saat Kakak sedang pergi? Kamu tahu Kakak tadi sangat mengkhawatirkanmu,"
Cyara mendongak menatap kakaknya, "Maaf," hanya kata itu yang bisa Cyara ucapkan.
"Kak!"
"Hmm."
"Kak, aku ingin tahu kabar anak-anakku, apa Kakak bisa mencari tahunya? Aku selalu kepikiran mereka terus, aku hanya ingin memastikan jika mereka baik-baik saja," ucap Cyara yang awalnya ragu untuk meminta bantuan Damian, tapi dirinya benar-benar cemas memikirkan Rey dan Rain hingga Cya pun memutuskan untuk meminta tolong pada Kakaknya.
"Tentu saja, Kakak akan mencari tahu tentang mereka," ucap Damian yang kemudian dirinya merogoh ponsel yang ada di kantong celananya untuk menghubungi seseorang.
Sebenarnya tanpa diminta pun, tadi pagi Damian memang sudah menyuruh orang untuk mencari kabar terbaru Rey dan Rain, tapi Damian belum juga mendapatkan laporannya sampai saat ini, hingga kini Damian memilih untuk menghubunginya lebih dulu.
"Kalian sudah mendapatkan kabar mereka?" Tanya Damian.
Dan Cyara yang mendengar itu meminta Davian untuk mengaktifkan speaker, agar dirinya juga bisa mendengarnya. Tiba-tiba Cyara menangis saat mendapat kabar dari orang suruhan Damian yang mengatakan bahwa Rey mengalami kecelakaan dan kini dirawat di rumah sakit.