
"Akhir pekan aku ingin mengajak anak-anak liburan, bagaimana menurutmu?" Tanya Vier pada Cyara, mereka kini sedang makan malam di luar, setelah seharian Cyara dibuat lelah oleh Vier soal gaun pengantin.
"Terserah, hanya saja aku tidak mau kamu mengatakannya lebih dulu kepada anak-anak jika belum begitu pasti, aku tidak mau mereka terlalu berharap dan akhirnya akan kecewa," ucap Cyara meminum minuman menggunakan sedotan, "Aku tidak ingin anak-anakku mengalami apa yang pernah aku rasakan," tambahnya dalam hati dengan pandangannya menerawang jauh.
"Ayah, Ayah benar janji akan datang di acara sekolah Cya?" Kata Cya yang saat itu masih duduk di kelas 3 smp.
"Iya sayang, Ayah janji, Ayah akan pulang secepatnya bersama kakakmu, tidak lama kakakmu juga akan berulang tahun kan, kita sekalian merayakan bersama ya."
"Iya dan kamu harus siapkan hadiah untuk Kakak," tiba-tiba suara laki-laki yang lainnya berbicara.
"Iya Cya janji, akan selalu memberikan Kakak hadiah ulang tahun setiap tahunnya untuk Kakak, jadi Kakak jangan khawatir."
"Bi kenapa Ayah belum datang? Bukannya Ayah bilang akan datang tepat waktu. Tapi lihatlah Bi, bahkan sampai sekarang Ayah tidak datang hingga acara sudah selesai."
Tiba-tiba, ponsel Bibi berbunyi dan saat itu pula dunia Cyara seakan runtuh untuk kedua kalinya.
"Cyara!"
"Cyara!"
Vier menaik turunkan telapak tangannya saat melihat Cyara justru melamun.
"Ada apa?"
"Ayo kita pulang! Apa yang sedang kau lamunkan?" Tanya Vier menatap Cyara.
"Hmm tidak ada, ya sudah ayo!" Kata Cyara yang langsung bangkit dari duduknya.
"Kamu ke mobil dulu saja, aku akan membayar," ucap Vier dan Cyara pun mengangguk menuruti apa yang Vier perintahkan.
Cyara memegang dadanya, "Entah sampai kapan rasa sakit itu masih ada, Cyara selalu mencoba baik-baik saja, nyatanya semuanya masih sangat membekas di hatinya. Bagaimana dia tidak dianggap, bagaimana dia diabaikan, bagaimana dia harus kecewa dan merasa kehilangan, hingga akhirnya Tuhan kembali mengujinya, dengan mengirimkan dua malaikat kecil yang membuatnya kembali dicampakkan dan ditinggalkan, tapi Cyara tidak menyesali kehadiran malaikat-malaikat kecilnya, dia justru bersyukur, karenanya bisa menguatkan dirinya sehingga dia bisa bangkit dan berdiri di kakinya sendiri.
"Mama menelpon, katanya Rain dan Rey terus menanyakan kita," ucap Vier yang baru masuk ke dalam mobil, membuyarkan lamunan Cyara.
"Ya sudah kita pulang sekarang," ucap Cyara mengambil ponselnya yang dimasukkan ke dalam tas dan Cyara sama sekali belum mengeceknya lagi.
Dan benar saja, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Jasmine yang Cyara yakin pasti karena anak-anaknya.
"Kenapa?" Tanya Vier saat melihat wanita itu tengah serius menatap ponselnya.
"Tidak apa-apa, ternyata Mama tadi menghubungiku, banyak panggilan tak terjawab dari Mama," jawab Cyara jujur.
"Kita pulang sekarang!" Ucap Vier yang kemudian mulai melajukan mobilnya.
"Tempat apa yang anak-anak sukai?" Tanya Vier memecah keheningan.
"Pantai, gunung, semua tempat yang menenangkan dengan suasana alam yang menyejukkan hati, mereka sangat menyukainya," jawab Cyara tersenyum.
Vier mengangguk mengerti, "Baiklah," ucapnya kemudian membuat Cyara mengernyitkan dahinya.
Hanya memerlukan beberapa menit saja hingga akhirnya mobil yang Vier kendarai sampai di kediaman orang tuanya.
Begitu sampai, mereka berdua langsung disambut oleh Rey dan Rain.
"Mami kenapa lama sekali?" Tanya Rain yang kini sudah ada dalam pelukan Cyara.
Cyara yang berjongkok saat menyambut putrinya yang tadi berlari, kini melonggarkan pelukannya, diusapnya rambut panjang sang putri dengan lembut.
"Mami sibuk terus sekarang," ucap Rain cemberut.
"Teman-teman sering di jemput mami dan papinya tapi tidak dengan Rain dan Kakak, tapi Rain dan Kakak tidak sedih karena masih ada Mami yang jemput, tapi sekarang Mami malah jarang jemput juga," kata gadis kecil itu mengutarakan apa yang dirasakannya.
Cyara kembali memeluk putrinya, "Mami benar-benar minta maaf sayang, tapi Mami bakal usahain agar tiap hari bisa jemput Rain dan Kakak, Rain mau kan maafin Mami," ucap Cyara tanpa melepas pelukannya.
Melihat itu, Vier jadi merasa bersalah, dirinya tidak menyangka jika hal sepele itu membuat anak-anak yang lucu itu bersedih.
"Bagaimana untuk menebus kesalahan Papi dan Mami, hari minggu nanti kita jalan-jalan," kata Vier dan Cyara menatap tajam Vier.
"Aku sudah bilang, jangan janjikan sesuatu sama anak-anak, jika kamu belum memastikannya," seperti itu arti tatapan Cyara.
Mendapat tatapan tajam Cyara Vier hanya mengedikan bahunya.
Rain melepaskan pelukan Cyara dan menatap maminya itu dengan pandangan berbinar.
"Benar Mami apa yang Papi katakan?" Tanyanya penuh harap.
Cyara menatap Vier, Rey yang ada dalam gendongan pria itu, dengan menyembunyikan wajahnya di leher Vier, hingga beralih pada gadis kecilnya, dan akhirnya Cyara pun mengangguk menyetujui.
"Yey," teriak Rain senang.
"Tuh adik senang, Rey tidak senang?" Tanya Vier kepada Rey.
"Rey, Rey sayang," panggil Vier tapi Rey juga tidak menyahut.
"Kenapa?" Tanya Cyara yang langsung berdiri dan menggandeng tangan Rain berjalan mendekat ke arah Vier.
"Sepertinya Rey tertidur, coba kamu lihat!" Vier membalikkan badannya agar Cyara bisa melihat wajah putranya.
"Iya, dia tertidur. Ya sudah lebih baik aku pulang sekarang saja," kata Cyara menatap putrinya.
"Oma di dalam?" Tanyanya.
"Iya lagi sama Opa menonton televisi."
"Ya udah aku pamit dulu sama Mama sama Papa," kata Cyara dan Vier pun mengikuti di belakangnya.
Cyara menoleh ke belakang, melihat ke arah Vier.
"Aku juga mau berpamitan pada Mama dan Papa," ucap pria itu dan membuat Cyara kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah orang tua Vier.
"Kemana? Tidak ada," tanya Cyara entah pada siapa begitu sampai di ruang keluarga.
"Mungkin sudah masuk ke dalam kamar," jawab Vier.
Cyara menatap Vier, "Terus bagaimana? Tidak mungkin kan jika kita tidak berpamitan," kata Cyara tapi tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada dapur.
Mereka mendengar suara benda jatuh dari arah dapur, "Sepertinya ada disana," ucap Vier dan Cyara bersamaan menunjuk ke arah dapur yang memang tidak terlalu jauh dari ruang keluarga.
"Untung Rey tidak terbangun," gumam Vier menepuk punggung putra Cyara yang tadi sempat menggeliat mendengar suara benda jatuh.
Hingga kemudian, mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan ke arah dapur, karena yakin bahwa Jasmine dan Stevano memang ada disana.
Begitu sampai di dapur, Cyara langsung menutup kedua mata putrinya, bahkan Cyara pun sampai memalingkan wajahnya yang mungkin saja sudah memerah melihat pemandangan di depannya.