Love Revenge

Love Revenge
Bab 76



Begitu sampai di dalam kamar, Cyara segera mengambil pakaian untuk Vier, dan kemudian berjalan menuju kamar mandi, mengisi bathup dengan air hangat. Saat Cyara berbalik, dirinya begitu terkejut dan spontan memegang dadanya saat tiba-tiba Vier sudah ada di belakangnya.


Cyara menarik nafas dan menghembuskan perlahan, "Pakaianmu sudah disiapkan, dan ini, aku juga sudah mengisi air hangat, apa ada yang kamu perlukan lagi?" Tanya Cyara tanpa menatap Vier.


Vier menggeleng dan Cyara pun mengangguk, "Baiklah jika tidak ada lagi," kata Cyara hendak berlalu, tapi dengan cepat Vier, menutup pintu kamar mandi  menarik Cyara dan memepetkannya di dinding, Vier menyalakan shower yang seketika membasahi tubuh keduanya.


Vier menarik tengkuk Cyara dan menyambar bibirnya, mencium secara ganas dan brutal membuat Cyara kesulitan bernafas.


Cyara berusaha mendorong dada Vier tapi tidak bisa karena Vier lebih dulu menahan tangannya di atas kepala, membuat gerakan Cyara terkunci.


Di bawah shower, air mata Cyara dan air shower kini bercampur jadi satu. Apalagi saat Vier menarik baju Cyara dengan kasar hingga robek dan terlepas dari tubuhnya.


"Kenapa? Kau istriku, jadi sudah seharusnya bukan kita melakukannya?" Ucap Vier yang kini langsung mencium setiap inci tubuh Cyara dari leher, dada sampai bagian tubuh yang terjangkau olehnya.


Cyara hanya diam tidak melakukan perlawanan lagi.


"Apa salahku Vier?" Ucap Cyara lirih.


Mendengar suara Cyara dan tahu wanita itu tidak melakukan perlawanan lagi, Vier menghentikan aksinya dan menatap Cyara dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Apa kau puas?" Teriak Cyara.


"Kau puas sudah mempermainkanku? Apa yang sebenarnya kau inginkan Vier? Bukankah kemarin malam kau yang menginginkan pernikahan kita berakhir? Tapi Apa tadi yang kau lakukan? Aku memang istrimu sekarang Vier, tapi kamu tidak berhak memperlakukan aku seperti ini! Kamu tahu Vier, aku lelah sekali," ucap Cyara mendorong tubuh Vier dan berlalu keluar dengan tubuhnya yang basah, meninggalkan Vier yang berdiri mematung.


*


*


Vier mengusap wajahnya kasar, tangannya mengepal dan dihantamkan ke kaca di atas wastafel.


Brak


Prang


Cyara yang melangkah menghentikan langkahnya mendengar suara yang begitu memekakan telinga. Cyara segera mengambil bathrobe untuk menutupi tubuh atasnya yang hanya memakai pakaian dalam saja dan buru-buru berbalik dan berlari menuju kamar mandi.


Brak


Pintu dibuka dengan kasar oleh Cyara. Dan terkejut melihat apa yang ada di depannya.


"Vier apa yang kau lakukan?" Teriak Cyara meraih tangan Vier yang keluar cairan berwarna merah di kepalan tangannya.


"Lepas!" Vier menarik kembali tangannya tapi Cyara seakan tidak mengizinkannya, wanita itu memegang tangan Vier cukup kuat.


Cyara dengan hati-hati menarik Vier dan mendudukan suami di atas closet. Vier hendak bangun, tapi Cyara justru mendorong pria itu hingga kembali terduduk.


"Diam disini!" Perintah Cyara dan wanita itu kembali keluar mengambil kotak p3k untuk mengobati luka Vier.


Vier hanya diam menatap setiap langkah dan gerakan Cyara yang kini tidak terlihat, tapi tak lama Cyara datang membawa handuk dan kotak obat, Cyara mendekat dan menyampirkan handuk di kedua bahu Vier agar pria itu tidak kedinginan.


"Akh!" Teriak Cyara saat tiba-tiba Vier menariknya hingga Cyara berakhir jatuh di pangkuan Vier.


"Vier!" Cyara mencoba bangun.


"Diam dan obati saja, jika tidak mau pergilah dan letakkan saja kotak itu disini, aku akan mengobati lukaku sendiri," ucapnya menahan pinggang Cyara.


"Baiklah tapi lepaskan tanganmu!"


"Tidak akan."


"Vier!" Kini Cyara mengangkat wajahnya, menatap Vier, kedua tatapan mereka bertemu. 


"Sudah, sekarang cepat kamu mandi, nanti masuk angin, dan ingat jangan sampai lukamu terkena air," kata Cyara mencoba bangun tapi Vier menahannya.


"Kamu juga basah, jadi lebih baik kita mandi bersama," ucap Vier melepaskan Cyara membiarkannya bangun.


"Tidak," tolak Cyara cepat.


"Bukankah katamu lukaku jangan sampai terkena air? Jadi kamu harus membantuku."


"Aku…itu pasti anak-anak," kata Cyara yang buru-buru keluar begitu mendengar gedoran pintu kamarnya.


Vier hanya terdiam melihat kepergian Cyara, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sementara itu di kamarnya, Cyara mengelus dada, menarik nafas lega, dia harus berterima kasih kepada anak-anaknya karena datang di waktu yang tepat. Cyara buru-buru berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Mami sama Papi kenapa lama?" Tanya Rain dengan bibir yang mengerucut, sepertinya, putri kecilnya itu sudah bosan menunggunya.


"Maafkan Mami ya sayang," Cyara bersalah kepada kedua anaknya itu.


"Terus papinya mana?"


"Papi lagi mandi sayang, belum selesai, hmm bagaimana kalau kalian tunggu papi di kamar? Atau mau tunggu sambil menonton televisi lagi?"


Keduanya tampak berpikir, kemudian berlari ke arah ranjang.


"Sayang pelan-pelan, lantainya licin," peringat Cyara karena tadi lantainya memang basah karenanya.


Keduanya langsung berhenti dan kemudian berjalan pelan-pelan dan itu membuat Cyara tersenyum.


"Mami, pinjam hp Mami," kata Rain meminta hp Cyara. Cyara berjalan ke atas nakas dan membuka tasnya kemudian mengambil hp nya dan memberikan kepada putrinya.


"Ya sudah kalian jangan nakal, jangan kemana-mana, tunggu papi selesai ya, mami tinggal dulu."


Rey dan Rain mengangguk sementara itu Cyara mengambil alat pel untuk membersihkan lantai, takut anak-anaknya jatuh terpeleset. Setelahnya, Cyara pergi ke kamar anak-anaknya untuk mandi disana.


*


*


Vier keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat anak-anaknya yang tampaknya sedang menonton video kesukaannya. Vier mendekat mengambil pakaian dan segera memakainya, kedua anak itu bahkan tidak menyadari jika Vier berdiri memperhatikannya.


Vier tersenyum jahil, berjalan semakin mendekat dan merebut ponsel yang sedang dipegang Rey.


"Mami!" Teriak keduanya mengira jika yang merebut ponselnya adalah Cyara.


"Eh Papi ternyata," ucap Rey.


"Fokus banget menontonnya, sampai tidak sadar Papi ada disini."


Keduanya hanya nyengir menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Mami mana?" Tanya Vier karena hanya ada mereka berdua dan tidak melihat keberadaan istrinya.


"Mami mandi, oh ya Papi hp mami, Rain mau pinjam lagi," kata Rain menengadahkan tangannya meminta hp maminya.


Vier melihat ponsel yang ada di tangannya, kemudian berjalan menuju meja kerjanya, dan mengambil ponselnya.


"Kalian pakai ini saja," kata Vier memberikan ponselnya sementara anak-anaknya yang sudah kembali fokus menonton, Vier naik ke atas ranjang, duduk bersandar di samping Rain dan membuka-buka ponsel milik Cyara. 


Sementara itu Cyara yang sudah selesai mandi buru-buru kembali ke kamar, karena baru mengingat jika ada sesuatu yang dilupakannya, Cyara berjalan cepat dan langsung masuk ke kamar karena memang pintunya masih terbuka lebar. Dan betapa gugupnya Cyara saat melihat ponselnya ada di tangan Vier. Cyara segera berjalan mendekat dan dengan cepat merebut ponselnya, spontan membuat Vier langsung menatapnya.