Love Revenge

Love Revenge
Bab 73



Hari ini begitu pulang dari hotel, Vier yang sudah masuk ke dalam kamarnya langsung menuju ke walk in closet, Cyara hanya diam memandangi sampai Vier benar-benar menghilang di balik dinding.


Cyara menarik kopernya dan koper Vier membongkar isi di dalamnya. Cyara menoleh saat pintu walk in closet terbuka, dan Cyara dapat melihat kini Vier sudah berpakaian rapi, dengan kemeja lengkap dengan setelan jasnya.


"Vier kau mau kemana?" Tanya Cyara yang bangun dan menghampiri Vier.


"Ke kantor," jawab Vier singkat.


"Tapi Vier!"


Vier menatap Cyara tajam dan berlalu begitu saja, Cyara hanya bisa menghela nafasnya, entah kenapa Cyara merasa Vier semakin dingin dan cuek padanya. Vier semakin menjauhinya dan Cyara tidak suka itu.


"Apakah secepat itu aku jatuh cinta padanya?" Tanya Cyara dalam hati.


Cyara mencoba menyangkal tapi kenyataannya memang seperti itu. Jika Cyara tidak mencintainya, Cyara tidak merasa sesakit ini saat Vier terus mengabaikannya.


Mungkin ini karena Sheira, Vier bisa berubah secepat itu mungkin saja karena wanita itu. Lantas apa yang harus Cyara lakukan? Cyara akan mencoba bicarakan hal ini baik-baik pada Vier setelah pria itu nanti pulang kerja. Cyara terdiam memikirkan apa yang harus dibicarakannya, tidak, lebih tepatnya apa yang ingin Cyara tanyakan sebab Vier mendiamkannya seperti ini.


Cyara ingin mempersiapkan dulu pertanyaannya, tidak tahu Vier nantinya akan menjawab atau tidak.


Lantas apa yang akan Cyara tanyakan?


Perasaan Vier pada Sheira? Bukankah tanpa bertanya pun semuanya terlihat jelas? Vier masih mencintainya, lebih tepatnya masih sangat mencintainya, terus apalagi yang perlu ditanyakan? Hubungan Vier dan Sheira? Apa Vier akan menjawab pertanyaan Cyara yang itu, namun jika sudah menjawabnya, apa yang harus Cyara lakukan setelahnya? Bagaimana jawaban Vier justru akan membuatnya semakin terluka, tubuh Cyara meluruh begitu saja di lantai dingin kamar itu, menekuk kedua lututnya, menumpukan dagu di atas kedua tangannya yang dilipat di atas lutut.


Sementara itu Vier melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor, bahkan Vier menyalip beberapa kendaraan yang dikira membuat langkah mobilnya terhalangi.


Tak lama mobil yang Vier kendarai pun kini telah sampai di pelataran kantornya. Vier memarkirkan mobilnya asal, segeralah pria itu turun dan masuk ke dalam gedung.


"Siang Tuan," sapa Martin yang ternyata sudah menunggu Vier di lobi.


"Hmm," Vier hanya menjawab dengan gumaman tetap melanjutkan langkahnya. 


"Apa ada rapat penting hari ini?" Tanyanya sambil terus berjalan.


"Tidak ada Tuan, semua rapat sudah dijadwalkan minggu depan," jawab Martin memegang tabnya mengecek jadwal Vier.


"Baiklah," Vier kemudian masuk ke dalam lift diikuti Martin.


"Tuan bukankah seharusnya Anda…"


"Ubah jadwal yang minggu depan ke besok," Vier dengan segera memotong ucapan Martin, tau apa yang akan pria itu ucapkan.


"Baik Tuan," jawab Martin bersamaan dengan pintu lift yang kini terbuka.


"Jangan ganggu aku dan jika ada tamu siapapun itu, bilang aku tidak ada di tempat," pesan Vier sebelum akhirnya pria itu menutup pintu, bahkan semua tirai, sepertinya Vier benar-benar tidak ingin diganggu.


Vier mengacuhkan Cyara dan tiba-tiba dia merasa bersalah. Vier memikirkan apa sikapnya itu benar? Vier mengabaikan Cyara padahal waktu itu Vier sendiri yang berjalan ke arahnya, Vier sendiri yang memilihnya dan meninggalkan Sheira.


Vier menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. Tiba-tiba dia menyesal mengingat saat itu.


"Cyara apa yang harus aku lakukan padanya? Aku terlalu sering bersamanya hingga bisa tumbuh perasaan bo*doh yang hanya sesaat itu, yang membuatku akhirnya terjerat dengan pernikahan ini. Tidak, ini semua bukan salahku, aku sudah melepaskannya, aku sudah menyuruhnya pergi, tapi dia sendiri yang memilih bertahan hingga menjerat dirinya sendiri, ini semua salahnya dan aku tidak akan hal ini tetap terjadi, aku harus buat dia meninggalkanku," kata Vier meyakinkan dirinya sendiri dalam hati.


"Tunggu! Bukankah kemarin Sheira bilang, dia menikah dengan Ken karena terpaksa? Jadi jika benar, bukankah Sheira sebenarnya tidak salah? Aku harus minta penjelasannya sekarang juga," Vier mengambil kunci mobilnya yang tadi di letakkan di atas meja, dan buru-buru keluar dari ruangannya.


*


*


Cyara berjalan mondar-mandir sambil menatap jam dinding di ruang tamu, sudah pukul sepuluh malam dan Vier belum juga kembali. Cyara langsung berlari keluar saat mendengar suara mobil Vier. Dibukanya pintu, dan benar Vier lah yang datang, kemeja pria itu sudah tampak lecek, bahkan kancing kemeja bagian atasnya sudah terbuka, Vier juga sudah menggulung kemejanya sebatas siku. Tapi wajah Vier sudah tidak sedingin tadi pagi sebelum meninggalkannya.


"Duduklah!" Perintah Vier pada Cyara setelah pria itu sudah lebih dulu duduk di sofa.


Cyara mengernyitkan dahi, apa Vier juga berpikiran yang sama, ingin membicarakan bagaimana pernikahan mereka selanjutnya.


Cyara memutuskan untuk duduk, ingin tahu apa yang sebenarnya ingin Vier katakan.


"Tanda tangani ini!" Kata Vier menyerahkan map yang bisa diperkirakan berisi kertas.


"Apa ini?" Tanya Cyara ragu mengambil kertas itu dari tangan Vier. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.


"Kau akan tahu setelah membuka dan membacanya," ucap Vier yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa, menyilangkannya kakinya, dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Vier ini… tidak, maksudku apa maksudnya semua ini?" Tanya Cyara menatap kedua kertas yang dipegangnya.


"Kita menikah hanya satu tahun, dan kita akan bercerai setelah itu, aku akan memberikan kompensasi begitu nanti kita berpisah."


Perkataan Vier membuat tubuh Cyara lemas seketika, bahkan kedua kertas itu pun lepas dari pegangan Cyara. Hatinya begitu sakit, Cyara bertahan kemarin dan sekarang dia sudah mendapatkan rasa sakit yang teramat.


"Tapi Vier…"


"Kenapa lagi? Bukankah kau tahu tujuan aku menikahimu, lantas untuk apa kau masih bertahan bersamaku? Kau bahkan juga tahu jika aku masih mencintai Sheira, aku sudah tahu kenapa dia menikah dengan Ken, dan aku akan kembali mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku."


Cyara diam, berusaha menerima apa yang Vier katakan tadi, aku masih mencintai Sheira, kalimat Vier itu terasa menusuk ke dalam hatinya. 


Cyara menghembuskan nafas dalam, "Baiklah, sebelumnya aku bertanya-tanya kemana akan dibawa pernikahan kita ini, dan sekarang aku sudah tahu jawabannya, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan vier aku akan mengikuti apa maumu," ucapnya kemudian bangun dan meninggalkan Vier, air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.